NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Kembalinya Sang Tuan Muda Sampah

​Pintu kayu oak kamarku berderit pelan. Elara melangkah masuk dengan kepala tertunduk dalam-dalam, tangannya gemetar menahan nampan perak berisi seragam Akademi Solaria yang telah disetrika rapi. Di belakangnya, mengekor seorang pria paruh baya berkacamata tebal—tabib keluarga yang sepertinya diseret paksa dari tempat tidurnya pagi-pagi buta.

​"T-Tuan Muda," cicit Elara tanpa berani menatapku. "Tabib Hoffman sudah tiba untuk memeriksa... memeriksa..."

​Kata-katanya terhenti di tenggorokan saat ia akhirnya mendongak. Nampan perak di tangannya nyaris terjatuh. Tabib Hoffman di belakangnya bahkan sampai membetulkan letak kacamatanya, mengira matanya bermasalah.

​Aku sedang berdiri bersandar di ambang jendela, menikmati secangkir teh hitam panas. Tidak ada perban. Tidak ada erangan kesakitan. Tubuhku berdiri tegak dengan postur sempurna, memancarkan aura yang membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.

​"Memeriksa apa?" tanyaku dengan nada datar, menyesap tehku pelan.

​"T-Tapi... tulang rusuk Anda... tabib bilang butuh setidaknya dua bulan untuk bisa berjalan normal, Tuan Muda," ucap Tabib Hoffman terbata-bata. Matanya membelalak menatap dadaku yang kini terbalut kemeja putih bersih.

​Aku meletakkan cangkir tehku di atas meja dengan bunyi clink yang membuat keduanya berjengit kaget. "Seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja. Ramuan penyembuh rahasia keluarga Pendelton ternyata bekerja lebih baik dari diagnosis amatiranmu, Tabib. Kau boleh pergi. Dan Elara, tinggalkan seragam itu di kasur, lalu siapkan keretaku."

​"B-Baik, Tuan Muda!" Keduanya membungkuk hormat hampir bersamaan dan bergegas keluar dari kamarku seolah sedang dikejar monster.

​Aku menghela napas tipis. Reputasi Arthur yang asli benar-benar buruk. Sekadar bicara dengan nada normal saja sudah membuat pelayan ketakutan. Tapi, ini bagus. Rasa takut jauh lebih mudah dikendalikan daripada rasa hormat palsu.

​Sepuluh menit kemudian, aku sudah mengenakan seragam Akademi Sihir Solaria. Jas putih gading dengan sulaman benang emas di kerah dan lambang pedang bersilang di dada kiri. Seragam ini didesain khusus untuk bangsawan tingkat tinggi. Di akademi, status sosial adalah segalanya, kecuali kau adalah sang protagonis yang memiliki plot armor.

​Di dalam kereta kuda berukir lambang keluarga Pendelton yang membawaku membelah jalanan ibukota, aku menutup mata dan memusatkan pikiran pada Mana Core baruku.

​Kujulurkan jari telunjuk kananku. Perlahan, gumpalan energi hitam pekat yang meliuk-liuk seperti api tanpa panas muncul di ujung jariku. Itu tidak memancarkan cahaya, melainkan seolah menyedot cahaya di sekitarnya.

​"Menarik," gumamku.

​Di kehidupanku sebelumnya, aku terbiasa menganalisis data dan memecahkan kode program. Kini, sihir adalah kode baruku. Dari yang kurasakan, elemen kegelapan ini bukanlah sihir penghancur masif seperti api atau petir. Ini adalah sihir 'Penelan'. Ia bisa menyerap, menetralisir, dan mengurai mana lain. Singkatnya, ini adalah mimpi buruk bagi para penyihir berelemen murni.

​Kereta kuda tiba-tiba berhenti, membuyarkan konsentrasiku. Aku mengepalkan tangan, menghilangkan api hitam itu kembali ke dalam tubuhku.

​"Tuan Muda, kita sudah sampai di Akademi Solaria," suara kusir terdengar dari luar.

​Aku mendorong pintu kereta dan melangkah turun. Gerbang besi raksasa menjulang di hadapanku, dihiasi kristal mana yang bersinar terang. Ratusan murid berseragam putih dan biru berhamburan melintasi halaman utama.

​Namun, begitu kakiku menyentuh tanah, suasana di sekitarku mendadak hening.

​Seolah ada yang menekan tombol mute, percakapan di radius sepuluh meter dariku berhenti. Puluhan pasang mata menoleh ke arahku. Tatapan mereka campur aduk; ada yang terkejut, jijik, dan mencemooh. Bisik-bisik mulai terdengar seperti dengungan lebah.

​"Itu Arthur Pendelton? Bukankah dia baru kemarin dihajar habis-habisan oleh Leon?"

"Aku dengar tulang rusuknya patah, kenapa dia sudah bisa berjalan?"

"Dasar tidak tahu malu. Kalau aku jadi dia, aku akan mengurung diri di rumah karena kalah dari rakyat jelata."

​Telingaku menangkap setiap cibiran itu dengan jelas. Jika ini adalah Arthur yang asli, dia pasti sudah mengamuk, meneriakkan nama ayahnya, dan menyuruh penjaga memukuli murid-murid itu.

​Tapi aku bukan orang bodoh yang gila hormat. Aku hanya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangku dan berjalan melewati mereka dengan wajah datar dan tatapan lurus ke depan. Mengabaikan keberadaan mereka seolah mereka hanyalah kerikil di pinggir jalan.

​Reaksiku yang di luar dugaan membuat bisik-bisik itu seketika mereda. Beberapa murid bahkan tanpa sadar menyingkir, memberiku jalan saat merasakan hawa dingin yang menguar dari tatapanku.

​"Arthur! Hei, Sahabatku!"

​Sebuah suara nyaring dan mengganggu memanggil dari arah koridor. Aku menghentikan langkah. Seorang pemuda berambut pirang klimis dengan senyum licik berlari menghampiriku.

​Cedric Vance. Anak dari keluarga Baron yang selalu mengekor pada Arthur asli. Di dalam novel, Cedric ini adalah parasit penjilat. Dialah yang selalu memanas-manasi Arthur untuk merundung murid lain, membiarkan Arthur yang mengambil risiko, sementara dia sendiri bersembunyi di balik nama keluarga Pendelton.

​Bahkan, ide menyewa pembunuh bayaran untuk Leon sebenarnya berasal dari bisikan beracun Cedric.

​"Syukurlah kau sudah sembuh!" Cedric menepuk bahuku sok akrab, meski kulihat kilat kekecewaan sesaat di matanya saat menyadari aku tidak cacat. "Aku sudah menyiapkan rencana hebat. Si udik Leon itu sedang ada di kelas alkimia. Kita bisa menyabotase tungkunya dan mempermalukannya di depan Profesor! Bagaimana?"

​Aku menoleh, menatap tangan Cedric yang menempel di bahuku.

​Dulu, Arthur akan tertawa arogan dan langsung setuju. Tapi sekarang, aku hanya menatap tangan itu dengan pandangan sedingin es.

​"Singkirkan tanganmu," ucapku pelan, namun suaraku cukup berat untuk membuat udara di sekitar kami menegang.

​Cedric berkedip bingung, tertawa canggung. "A-Ayolah, Arthur. Jangan bercanda. Kau masih marah karena kekalahan kemarin? Tenang saja, pembalasan dendam dari Guild Obsidian pasti—"

​Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk ditangkap mata Cedric, aku mencengkeram pergelangan tangannya dan meremasnya kuat-kuat. Cedric memekik kaget, lututnya sedikit menekuk karena rasa sakit.

​"Dengarkan aku baik-baik, Cedric," desisku, mencondongkan wajahku ke dekat telinganya. Gumpalan mana hitam secara rahasia mengalir ke ujung jariku, memberikan sensasi beku yang menusuk langsung ke tulang nadinya. "Mulai detik ini, jika kau berani menyebut nama 'Obsidian' atau mencoba mempengaruhiku dengan ide-ide sampahmu lagi... aku tidak akan segan-segan memotong lidahmu dan menjadikannya pakan anjing liar. Mengerti?"

​Wajah Cedric memucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari dahinya. Bibirnya bergetar hebat saat merasakan hawa kematian yang pekat dari cengkeramanku, sesuatu yang belum pernah dimiliki Arthur sebelumnya.

​"M-Mengerti, Tuan Muda! S-Saya mengerti!" rintihnya ketakutan.

​Aku melepaskan tangannya dengan kasar seolah membuang sampah, lalu mengeluarkan sapu tangan sutra dari sakuku, mengelap tanganku perlahan, dan menjatuhkannya ke lantai.

​"Bagus," ucapku datar, berbalik meninggalkannya yang masih gemetar di tengah koridor.

​Tidak ada waktu untuk mengurus kroco kelas teri. Setelah kelas pagi selesai, aku harus segera pergi ke distrik bawah tanah kota untuk membatalkan kontrak dengan Guild Obsidian. Batas waktunya sebelum matahari terbenam, atau nasib leherku benar-benar akan tamat.

1
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!