NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 Saat Sari Memilih

"Bawa Johan."

Dua kata itu keluar dari mulut Sari dengan sangat pelan, hampir hilang tertiup angin padang sabana.

Pak Paulus mengernyitkan dahi, memastikan ia tidak salah dengar.

"Apa, Sari? Kau bilang apa? Bawa siapa?"

Sari mengangkat wajahnya yang penuh air mata, darah, dan lumpur. Matanya menatap Pak Paulus dengan tatapan yang tidak pernah Pak Paulus lihat sebelumnya dari perempuan Kolorai mana pun. Tatapan yang sangat lelah, tapi sangat tegas.

"Bawa Johan ke Waingapu dulu, Pak. Tolong."

Warga yang mengerumuni tempat kecelakaan itu langsung heboh.

"APA?!"

"Gila kau, Sari! Anakmu yang sekarat di Puskesmas!"

"Kau masih bela suami yang mau jual tanahmu itu?!"

Bahkan Mama Leni yang baru datang menyusul dengan napas terengah-engah dari Puskesmas, langsung menjerit, "SARI! KAU SUDAH GILA! BINTANG BUTUH AMBULANS ITU! DIA BISA MATI LAGI!"

Sari tahu semua orang akan marah. Sari tahu keputusannya terlihat bodoh. Bodoh sekali.

Tapi Sari tidak bodoh. Sari sedang berpikir sebagai seorang Ibu.

Ia menatap Johan yang masih koma di pangkuannya, darahnya masih mengalir dari kepala.

"Kalau Johan mati di sini, siapa yang akan tanda tangan surat yayasan Bintang, Ma?" kata Sari, suaranya gemetar tapi logis, membuat Mama Leni terdiam. "Dokter Anya bilang, tanpa tanda tangan ayah kandung, yayasan tidak mau operasi Bintang gratis. Kalau Johan mati, Bintang cacat selamanya. Kalau Bintang berangkat sekarang tanpa Johan, sampai Waingapu pun dia akan ditolak dan dipulangkan lagi cacat."

Sari mengelus perutnya yang masih perih habis melahirkan, lalu melanjutkan dengan air mata yang mengalir deras.

"Jadi aku harus selamatkan Johan dulu. Bukan karena aku masih cinta dia sebagai suami. Tapi karena Bintang butuh tanda tangan bapaknya untuk bisa punya kaki normal. Aku selamatkan dia karena anakku."

Penjelasan Sari itu membuat semua warga yang tadinya mau marah, langsung terdiam. Masuk akal. Sakit, tapi masuk akal.

Inilah cinta tanpa syarat yang pertama. Mencintai dan menyelamatkan orang yang sudah menyakitimu, bukan untuk orang itu, tapi untuk anakmu.

Perawat ambulans tidak punya waktu untuk debat. Ia dan Pak Paulus langsung mengangkat tubuh Johan yang berat dan berlumuran darah itu ke atas bak ambulans. Sari ikut naik, duduk di samping Johan, terus menekan luka di kepala Johan dengan kain sarung yang sudah merah total.

"Bawa dia secepatnya ke RSUD Waingapu! Kami susul pakai motor garam!" teriak Pak Paulus pada sopir.

Ambulans itu pun melaju kencang, meninggalkan debu tebal di padang sabana, menuju Waingapu yang jaraknya 3 jam perjalanan hancur-hancuran.

Di bak ambulans yang berguncang-guncang hebat, Sari memeluk tubuh Johan yang koma. Surat tanah 50 juta itu masih ia genggam erat di tangannya yang berdarah. Surat bukti pengkhianatan suaminya.

"Johan, kau tidak boleh mati," bisik Sari di telinga Johan di tengah guncangan ambulans. "Kau tidak boleh mati sebelum kau tanda tangan kaki anakmu. Setelah itu, kau mau pergi dengan Lina, kau mau jual tanah ini, terserah. Tapi selamatkan dulu kaki anakmu."

Tiga jam perjalanan itu adalah neraka. Jalan tanah berlubang, ambulans melompat-lompat, darah Johan terus keluar. Sari beberapa kali hampir terjatuh dari bak. Tapi ia tidak melepas tekanan di kepala Johan.

Sementara itu, di Puskesmas Kecamatan, Bintang menangis terus. Demamnya naik lagi. Tanpa Sari di sampingnya, tanpa dekapan ibunya, Bintang gelisah. Dokter Anya berusaha menenangkannya dengan oksigen, tapi Bintang mencari bau ibunya.

Mama Leni yang menjaga Bintang hanya bisa berdoa di samping ranjang, "Tuhan, selamatkan Johan, supaya kaki Bintang bisa sembuh. Tolong..."

Jam 2 siang, ambulans akhirnya sampai di RSUD Waingapu. RSUD yang besar, ramai, berbeda 180 derajat dengan Puskesmas Kolorai.

Johan langsung didorong masuk ke IGD. Dokter UGD berteriak, "Pendarahan otak ringan! Butuh CT Scan segera! Keluarga siapa?!"

"Saya istrinya!" teriak Sari.

"Biaya CT Scan 2,5 juta, Bu! BPJS-nya tidak aktif! Harus bayar dulu!"

Sari mematung. 2,5 juta. Ia tidak punya uang sama sekali. Uang Johan yang 6 juta tadi sudah ia lempar dan dibawa Lina pergi lagi.

Sari dengan tangan gemetar mengeluarkan surat tanah 50 juta itu. "Dok, saya punya tanah... bisa... bisa jadi jaminan?"

Dokter UGD menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Bu. Ini RSUD. Harus cash."

Saat Sari hampir putus asa dan hendak berlutut lagi di lantai RSUD yang bersih itu, sebuah suara perempuan yang sangat ia kenal, suara yang ia benci pagi ini, terdengar dari belakang.

"Berapa? 2,5 juta? Saya bayar."

Semua orang menoleh.

Lina berdiri di sana. Masih menggendong Kevin yang sempurna itu. Wajahnya tidak lagi sombong seperti di Kolorai tadi. Wajahnya lelah dan panik.

"Johan tidak boleh mati. Dia bapaknya Kevin," kata Lina, lalu menatap Sari dengan tatapan aneh. "Aku bayar CT Scan-nya. Tapi dengan satu syarat lagi, Sari."

Sari menatap Lina, sudah muak dengan kata syarat.

Lina mengeluarkan HP-nya, menunjukkan sebuah foto. Foto surat yang sama, surat tanah Sari.

"Aku sudah foto surat itu tadi pagi sebelum kau ambil. Aku tahu Johan mau jual tanahmu. Aku bayar 2,5 juta ini, tapi kau tanda tangan surat jual tanah itu ke aku. 50 juta itu nanti aku yang atur. Johan butuh uang untuk buka bengkel di sini. Kau kan tidak butuh tanah itu lagi, kau kan mau hidup miskin sama anak cacatmu itu."

Jadi, Lina bukan menolong karena cinta pada Johan. Lina menolong karena masih mengincar tanah Sari.

Sari menatap Johan yang sudah di atas brankar, yang akan didorong masuk ruang CT Scan, yang pendarahannya harus dihentikan sekarang juga kalau tidak mau mati.

Di sisi lain, di Puskesmas 3 jam jauhnya, Bintang demam tinggi lagi dan butuh tanda tangan Johan untuk operasi gratisnya.

Sekarang, untuk menyelamatkan nyawa Johan agar bisa dapat tanda tangannya untuk Bintang, Sari harus menjual satu-satunya harta peninggalan orang tuanya, satu-satunya jaminan hidupnya dan Bintang di masa depan, kepada perempuan yang merebut suaminya.

Jika Sari tanda tangan, Johan selamat, Bintang bisa dapat tanda tangan, tapi Sari dan Bintang akan menjadi gelandangan tanpa tanah.

Jika Sari menolak, Johan mati di depan matanya, Bintang tidak akan pernah dapat tanda tangan dan akan cacat selamanya.

Di depan ruang IGD RSUD Waingapu yang dingin dan ber-AC, dengan bayi cacatnya yang sedang sekarat di desa ujung pulau, Sari memegang pulpen yang disodorkan Lina.

Tangannya gemetar hebat.

Apakah Sari akan tanda tangan surat jual tanah itu?

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!