Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Caping
"Tidak ada, Kisanak." Kepala desa menggeleng pelan, "Di desa ini cuma ada petani dan penyadap nira. Kalau ada yang tubuhnya bisa bercahaya, sudah lama kami suruh dia menggantikan obor."
Beberapa warga tertawa, terlalu cepat dan terlalu nyaring. Tangan kepala desa yang memegang tongkat gemetar, dan ia buru-buru menyembunyikannya di balik punggung.
Lelaki tinggi itu ikut tersenyum. Ia memutar capingnya di ujung jari, lalu matanya berhenti di dekat tangga pendopo, pada anak lelaki yang tadi menoleh.
"Anak-anak tidak pandai berbohong, Ki," katanya, "Tadi anak itu menoleh ke sana." Ia menunjuk meja panjang di tengah pendopo dengan capingnya, "Ke meja itu."
Ia berjalan ke tengah pendopo dengan langkah santai. Warga yang duduk di lantai bergeser mundur dan memberinya jalan. Di depan meja panjang itu, ia berhenti dan menendang ujungnya.
Brakk!
Meja jati sepanjang tiga depa itu terangkat, terbalik di udara, dan menghantam tiang pendopo sampai tiang itu retak. Piring tanah liat pecah berhamburan, kuah gulai menyiram lantai, dan tulang-tulang kambing berserakan sampai ke tangga. Satrio dan Ratna terjengkang ke belakang bersama bangku mereka. Bahu kiri Satrio membentur lantai, dan nyerinya menyentak sampai ke leher. Kantong perak di pangkuannya terlepas, dan isinya berceceran di antara pecahan piring.
Satrio langsung mendongak ke balok di atas tungku. Ikatan Sukmajati itu berayun-ayun, tapi masih tergantung di tempatnya. Di dekat tangga, anak buah yang paling muda terkekeh melihat keping-keping perak itu bergulir ke kakinya. Ia memungut sekeping dan menggigitnya.
Lelaki itu berbalik ke tangga dan mencengkeram leher anak Mbok Rondo dengan tangan kanannya. Anak itu terangkat sampai kakinya menggantung sejengkal dari lantai.
"Tole!" jerit Mbok Rondo.
Ia merangkak ke arah tangga, tapi dua perempuan di sebelahnya menahan lengannya dan menariknya kembali.
"Kisanak, dia cuma anak kecil!" Kepala desa melangkah maju dengan tongkatnya, "Ambil kambingku. Ambil berasku. Lima karung masih ada di lumbung, perak juga..."
"Kambing tidak bisa memancarkan cahaya merah, Ki." Lelaki itu menoleh ke anak di tangannya, dan suaranya kembali lembut, "Tunjuk orangnya, Nak. Nanti kulepaskan."
Anak itu menggeleng. Air matanya mengalir, dan wajahnya mulai memerah, tapi kepalanya terus menggeleng.
"Ti... tidak tahu," katanya tersendat, "Aku tidak tahu..."
"Kau berbohong, Nak." Jari-jari lelaki itu mengencang, dan suara anak itu putus jadi bunyi tercekik.
Peronda bertubuh pendek yang menjemput Satrio di gardu malam itu menyambar tombak bambunya dan menerjang dari samping.
"Lepaskan dia!"
Lelaki bercaping itu mengibaskan tangan kirinya ke samping, bahkan tanpa menoleh. Tombak bambu itu patah di tengah, dan si peronda terpental menghantam tiang.
Bugh!
"Arghh!"
Dua pemuda desa yang ikut bangkit dengan tombak di tangan langsung membeku di tempat. Kepala desa mengacungkan tongkatnya ke arah mereka, "Jangan!"
Kibasan tadi membuat kain hitam di pergelangan kiri lelaki itu melorot. Kulit di bawahnya bergurat hitam, penuh sisik kecil yang timbul dan berjajar rapat seperti sisik ular. Satrio pernah melihat tanda yang sama persis, waktu Guru mengupas kain hangus di pergelangan jasad pemburu bercaping itu dengan ujung pisau. Kata Guru waktu itu, kalau melihat tanda ini di pergelangan seseorang, jangan ajak dia bicara. Pulang.
Kristal di telapak tangan kanan Satrio mendadak panas, menyengat sampai ke siku.
"Pertapa," desis Eyang, "Lihat napasnya. Dia baru menendang meja jati dan melempar orang, tapi dadanya naik turun sepelan orang tidur. Dua ranah di atasmu, bocah."
'Dua ranah...'
"Ingat pesanku. Kalau kau mencium bau ini, jangan menunggu. Pergi."
Satrio menatap anak di tangan lelaki itu. Kaki kecil itu menendang-nendang udara, dan kain bersih yang membalut betisnya mulai bernoda merah lagi.
'Kalau aku pergi, anak itu mati,' batin Satrio, 'Sesudah itu seisi desa.'
Eyang menghela napas panjang di dalam kepalanya.
"Panasmu cuma cukup untuk satu Geni Sewu," katanya, "Jangan kau buang untuk orang itu. Pertapa membungkus kulitnya dengan cakra, dan seribu baramu cuma akan jadi kunang-kunang di depannya. Pakai untuk anak buahnya yang paling dekat, supaya ada celah."
'Lalu dia?'
"Dia urusan nanti. Kalau kau masih hidup."
Mata Satrio bergerak cepat ke sekeliling pendopo. Empat anak buah lelaki itu masih berdiri di tangga dengan tangan di gagang golok. Tungku di sudut masih menyala di bawah balok tempat Sukmajati diasapi, dan di sebelahnya ada tempayan air setinggi pinggang. Anak Mbok Rondo tergantung tujuh langkah dari tempatnya terjengkang.
Satrio teringat permintaannya sendiri pada Guru, jangan mati sebelum aku pulang, dan janjinya pada Sekar di gerbang. Sebelum purnama.
Lututnya terasa lemas. Semalam taring siluman masih menancap di bahunya, dan yang berdiri di tangga itu sekarang dua ranah di atasnya.
Satrio bangkit juga. Jari-jari yang dingin langsung mencengkeram pergelangan kirinya.
"Mau ke mana kau?" bisik Ratna. Wajahnya pucat.
"Begitu aku membuat keributan," bisik Satrio tanpa menoleh, "Ambil anak itu."
"Kau gila? Dia Pertapa. Empat orang di tangga itu Olah Batin, setingkat denganku. Bahumu baru semalam bolong."
"Kau sendiri yang bilang, orang bodoh selalu maju duluan."
"Itu bukan..." Cengkeraman Ratna mengeras, "Syaratku tadi!"
"Aku belum bilang setuju." Satrio menoleh sekilas, "Kalau aku mati, ramuan Guru kau yang antar ke Geni Wening, ya?"
"Antar sendiri," desis Ratna. Cengkeramannya mengendur sedikit, dan Satrio memutar pergelangannya pelan sampai terlepas.
"Paman!"
Seisi pendopo menoleh. Satrio melangkah keluar dari antara serakan piring dan tulang kambing, sampai ke tengah pendopo yang kosong.
"Yang kau cari itu aku," katanya, "Lepaskan anak itu. Dia cuma tahu aku pernah bau got."
"Nak, jangan..." bisik kepala desa.
Anak Mbok Rondo berhenti meronta. Matanya yang basah menatap Satrio. Satrio mengedipkan sebelah mata padanya, seperti sedang mengajaknya bermain petak umpet.
"Bocah bodoh," gumam Eyang pelan. Suaranya terdengar lebih bangga daripada marah.
Lelaki itu menoleh perlahan. Matanya turun dari wajah Satrio ke tangan kanan yang tersembunyi di balik lengan baju lurik.
"Kurus, kampungan, dan tangan kanannya selalu disembunyikan." Senyumnya melebar, "Persis seperti kata orangku."
"Lepaskan dia dulu."
"Tunjukkan dulu tanganmu."
Satrio mengeluarkan tangan kanannya dari lengan baju dan mengepalkannya kuat-kuat. Cahaya merah langsung merembes dari sela jari-jarinya dan dari balik kain balutan, menerangi lantai yang basah oleh kuah gulai.
Warga di sekeliling pendopo terbelalak. Mbok Rondo menutup mulutnya dengan kedua tangan. Di belakang Satrio, Ratna menahan napas. Dari tangga, anak Mbok Rondo memanggil dengan suara serak, "Kakang..."
Lelaki itu melempar anak Mbok Rondo ke anak buahnya yang berdiri paling dekat di tangga, seperti orang melempar karung.
"Pegang."
Anak buah itu menangkap si anak dan mengunci lehernya dengan lengan. Lelaki tinggi itu memakai capingnya kembali, lalu membetulkan kain hitam di pergelangannya sampai tanda sisik itu tertutup lagi.
"Orang memanggilku Branjang," katanya, "Ki Lowo yang kau bakar di jalan setapak itu dulu sering minum tuak denganku. Sejak dia mati, harga kristalmu naik sepuluh kali lipat." Ia terkekeh pelan, "Jadi aku harus berterima kasih padamu."
"Sama-sama," jawab Satrio, "Nanti capingmu kubuat bolong juga, biar sama dengan punya temanmu."
Kepalan tangan kanannya makin terang. Branjang tertawa, dan matanya tertuju pada kepalan itu.
"Kata orangku, batu itu tertanam di telapak tanganmu," katanya, "Tidak apa-apa. Tangan bisa dipotong."
Di dalam kepala Satrio, Eyang menggeram rendah, seperti harimau tua yang ekornya diinjak orang.
Branjang memandang berkeliling, ke wajah-wajah warga yang pucat di bawah cahaya obor, "Satu desa melihat cahaya itu semalam. Terlalu banyak mulut."
Ia mengangkat dua jarinya. Tiga anak buahnya yang lain turun dari tangga dan menyebar ke sudut-sudut pendopo, memotong setiap jalan keluar dari balai desa itu. Yang paling muda, yang masih menggenggam sekeping perak milik Satrio, berhenti di sudut terdekat, empat langkah di sebelah kiri Satrio. Yang memegang anak Mbok Rondo tetap di tangga, lengannya yang tebal masih mengunci leher anak itu.
"Kristalnya untuk Ki Branjang," kata si muda sambil melempar-lempar keping perak itu di telapak tangannya, "Peraknya untukku."
"Bawa kristalnya," kata Branjang, masih tersenyum, "Bunuh yang lain."
Jeritan pecah dari segala sudut pendopo. Para ibu memeluk anak-anak mereka, dan kepala desa mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi seperti tombak.
"Tidak ada yang menyentuh wargaku!" serunya. Suaranya pecah, tapi tongkatnya tetap teracung.
Satrio merendahkan kuda-kudanya. Di bawah kulit lengannya, panas yang tinggal separuh itu mulai berkumpul.
Tiga golok keluar dari sarungnya hampir bersamaan. Di pinggang Ratna, sumbat bumbung bambu itu sudah terlepas.