Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Kembali Di Ambang Pintu
Sore beranjak, Alea tidak menemukan Azka di rumah. Kontrakan kecil berukuran empat kali empat meter itu terasa begitu sepi dan dingin. Pintu depan yang biasanya dikunci dari dalam oleh ibu pemilik tempat penitipan saat Azka beristirahat, kini justru sudah berderit terbuka tanpa ada sepatu kecil Azka di ambang pintu. Tas sekolah anaknya pun tidak ada di sudut tempat tidur.
Hati Alea seketika mencelos. Kepanikan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya langsung menyergap dada.
"Azka? Azka, Sayang!" teriak Alea seraya berlari menyusuri tiap sudut kontrakan, menatap gang sempit yang mulai meredup disapu bayang-bayang sore. Tidak ada suara tawa maupun langkah kaki mungil yang menyambutnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan napas berburu, Alea merogoh ponsel murah dari dalam tasnya. Dia kebingungan dan menelpon guru Azka, berharap ada kejelasan mengapa putra kecilnya belum tiba di rumah.
"Halo, Ibu... Maaf mengganggu, apakah Azka masih di sekolah? Saya cari di rumah tidak ada..." tutur Alea dengan suara serak, menahan tangis yang sudah mendesak di tenggorokan.
Namun, jawaban dari seberang telepon justru bagaikan petir di siang bolong. Sang guru mengatakan bahwa Azka sudah pulang sejak jam 9:15 pagi bersama teman-temannya. Sang guru juga menambahkan bahwa dari laporan anak-anak lain, sempat ada keributan kecil di dekat taman sekolah sebelum anak-anak itu berlarian pulang ke rumah masing-masing karena takut.
Ponsel di genggaman Alea hampir saja terlepas. Lututnya terasa lemas, menghantam ubin semen yang dingin. Bayangan buruk seketika menjejali pikirannya—bagaimana jika Azka diculik? Bagaimana jika anak kecilnya tersesat di jalanan pinggiran kota yang berbahaya ini?
"Tuhan... tolong jaga Azka..." bisik Alea histeris, menyapu air mata yang menetes deras di pipinya.
Saat Alea hendak keluar rumah dengan langkah terburu-buru demi mencari putranya, langkah kakinya mendadak terhenti kaku di ambang pintu. Pemandangan di halaman rumahnya membuat napasnya tertahan seketika.
Di depan halaman rumah, Azka berdiri bersama Adrian.
Bocah kecil itu sudah mengenakan pakaian bersih yang sedikit kebesaran—jaket tebal membalut tubuhnya, dan rambutnya yang sempat basah kini sudah tertata rapi. Di sampingnya, berdiri sosok pria jangkung berpakaian rapi dengan aura dominan yang amat sangat Alea kenali. Pria dari masa lalu yang selama empat tahun ini menjadi mimpi buruk sekaligus penyesalan terbesarnya.
"Ibuuuu!"
Begitu melihat sosok Alea di depan pintu, Azka langsung berlari menuju sang ibu. Langkah kaki mungilnya menepuk ubin semen halaman dengan cepat, memburu ke dalam pelukan Alea.
Alea refleks berlutut dan merengkuh tubuh Azka erat-erat ke dadanya. Tangisnya yang sejak tadi ditahan seketika pecah, membasahi puncak kepala sang putra. "Azka... Kamu dari mana saja, Sayang? Ibu takut banget... Kamu enggak apa-apa, kan?"
"Azka tadi jatuh ke kolam ikan, Bu... Tapi Azka ditolongin sama Papa," bisik Azka polos sembari menunjuk ke arah Adrian yang masih berdiri diam di tempatnya.
Alea perlahan mendongakkan kepala, mengusap air matanya yang tersisa. Matanya yang memerah kini menatap lurus ke arah Adrian. Untuk pertama kalinya setelah empat tahun lamanya terpisah oleh waktu dan takdir, tatapan mata mereka berdua akhirnya bertautan kembali di bawah temaramnya sore pinggiran kota.