Shen Ruozi, mahasiswi kedokteran modern yang super judes dan matre, terlempar ke zaman kuno dan terpaksa tinggal di gua. Ogah hidup miskin, ia berniat menjadi juragan obat kaya raya memanfaatkan ilmu medis abad ke-21 miliknya.
Takdirnya berubah kocak saat ia menyelamatkan Long Tianxu, Jenderal Besar berwajah kaku seperti papan tripleks yang sekarat karena racun kronis. Bukannya tunduk pada wibawa sang Dewa Perang, Ruozi malah menjadikannya asisten magang tanpa gaji, buruh numbuk jamu, hingga investor paksaan untuk mendanai apotek barunya di ibu kota!
Menghadapi musuh politik kekaisaran dengan modal lencana emas Jenderal, tabib matre yang tidak pernah mau rugi ini siap mengguncang dunia medis kuno!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19: Senggol pertama birokrasi kuno
Pagi hari pertama rencana pembukaan Apotek Ruozi Jaya Medika disambut Ruozi dengan senyum selebar samudra. Ruko tiga lantai itu sudah berdiri megah dengan papan nama kayu jati yang kinclong.
Di dalam toko, ratusan botol obat herbal dan alat-alat laboratorium kuno sudah tertata rapi di atas rak-rak kayu yang wangi. Sepuluh peti emas dari Long Tianxu terikat aman di ruang belakang, dijaga oleh empat pengawal elit berzirah hitam yang berdiri tegap bagaikan patung bernyawa.
Ruozi yang hari itu memakai jubah tabib baru berwarna hijau toska tampak sibuk menata ulang beberapa kuas di atas meja kasir tingginya. "Nah, begini baru mantap! Hari ini kita resmi jadi juragan apotek paling hits di ibu kota," gumamnya penuh kepuasan.
Namun, baru saja Ruozi hendak melangkah ke depan untuk membuka pintu utama ruko, BRAK! Pintu kayu tebal itu mendadak ditendang kasar dari luar hingga berderit nyaring.
Sesosok pria paruh baya berjubah sutra megah dengan kumis tipis yang melengkung angkuh masuk dengan langkah besar, diikuti oleh sekelompok pria berbadan kekar yang membawa tongkat kayu besar berlogo resmi kerajaan.
Pria itu adalah Tabib Istana Liu, pengawas tunggal asosiasi tabib kekaisaran yang terkenal korup dan suka memonopoli pasar obat.
"Toko obat tidak tahu aturan mana yang berani melakukan persiapan buka tanpa stempel resmi dariku?!" bentak Tabib Liu dengan suara melengking berwibawa. Mata sipitnya menatap sekeliling ruko dengan pandangan meremehkan. "Sita semua ramuan ini! Segel pintunya sekarang juga! Siapa pun pemiliknya, dia harus didenda seratus tael emas dan dijebloskan ke penjara karena membuka praktik medis ilegal!"
Para algojo di belakangnya langsung merangsek maju, bersiap menyentuh rak obat kaca milik Ruozi. Mendengar kata "sita" dan "denda seratus tael emas", sumbu pendek di kepala Shen Ruozi langsung meledak seketika. Duit hasil perasannya yang susah payah dari Dewa Perang mau dirampas oleh birokrat kumis lele ini? Langkah pertamanya jadi orang kaya mau dihancurkan sebelum dimulai? Enak saja!
Ruozi langsung melompat dari balik meja kasir dan berdiri menghadang di depan rak obatnya dengan wajah judes andalannya. "Eh, Pak Tua berkumis tipis! Datang-datang gak permisi malah mau menyita barang orang. Surat izin apa maksudmu? Toko ini bahkan belum resmi melayani satu pasien pun hari ini!" semprot Ruozi galak, sama sekali tidak gentar dengan belasan tongkat kayu di depannya.
Tabib Liu mendengus jijik menatap Ruozi yang berpakaian pelayan namun berani membentaknya. "Gadis ingusan tidak tahu tata krama! Aku adalah Tabib Istana Liu! Tanpa tanda tanganku, jangankan menjual obat, memajang botol kosong pun haram hukumnya di kota ini! Cepat serahkan uang dendanya, atau para algojoku akan menyeretmu ke penjara bawah tanah sekarang juga!"
Mendengar keributan di area depan, empat pengawal elit berzirah hitam yang tadinya berjaga di ruang belakang langsung melangkah keluar. Aura membunuh yang mereka pancarkan begitu dingin dan pekat, membuat para algojo Tabib Liu spontan ciut dan mundur tiga langkah hingga menabrak pintu ruko.
Ruozi tersenyum licik melihat perubahan drastis dari nyali musuhnya. Ia bersedekap dengan santai. "Oh, jadi kamu mau main ancam penjara dan denda ya? Nih, kenalin, empat asisten baruku yang bertugas di bagian keamanan toko. Mereka ini punya hobi sampingan memotong kepala pejabat yang suka mempersulit perizinan usaha tahu!"
Salah satu pengawal elit kemudian maju satu langkah, dengan gerakan tegas ia mengangkat dan menunjukkan lencana emas murni berbentuk kepala naga milik Long Tianxu tepat di depan hidung Tabib Liu.
Begitu kilatan emas dari lencana eksklusif sang Dewa Perang itu memantul di matanya, lutut Tabib Liu mendadak lemas bagaikan jeli yang mencair. Kumis tipisnya mulai bergetar hebat karena syok yang luar biasa.
Jangankan menyita toko ini, mendengar nama Jenderal Besar Long Tianxu saja sudah cukup membuat para menteri kerajaan gemetar ketakutan, apalagi melihat lencana pribadi yang menandakan toko ini berada di bawah perlindungan mutlak sang Dewa Perang. "L-Lencana... Yang Mulia Jenderal Besar?!" bisik Tabib Liu dengan wajah pucat pasi layaknya kain kafan.
Melihat perubahan drastis dari wajah Tabib Liu yang tadinya garang menjadi seputih kertas, senyum rubah licik langsung terkembang sempurna di bibir Shen Ruozi. Ia melangkah mendekat, sengaja mengetuk-ngetuk lencana emas naga di tangan pengawalnya dengan ujung kuku. "Bagaimana, Pak Tua berkumis lele? Masih mau menyita tokomu ini? Masih mau menyeret aku ke penjara bawah tanah?" tanya Ruozi dengan nada yang sengaja dibuat manis namun menusuk.
Tabib Liu menelan ludahnya yang terasa sekeras batu. Tubuhnya gemetar hebat sampai jubah sutra megahnya ikut berkibar panik. "T-Tentu saja tidak, Nona Tabib yang Bijaksana! Hamba... hamba hanyalah anjing kecil yang salah menggonggong! Mohon ampun atas kelancangan hamba yang buta ini!" ujarnya terbata-bata, bahkan sampai membungkuk sembilan puluh derajat di depan Ruozi.
Ruozi bersedekap, menatap pria tua itu dari atas ke bawah dengan pandangan judes andalannya. "Enak saja minta maaf begitu saja. Kamu tahu tidak, tendangan mautmu di pintu depan tadi sudah merusak estetika gerbang apotekku? Belum lagi kedatangan rombongan sirkusmu ini bikin aku trauma psikologis dan hampir kena serangan jantung!" dusta Ruozi dengan wajah lempeng tanpa dosa, padahal mentalnya sekeras baja abad ke-21.
Tabib Liu yang panik setengah mati langsung meraba-raba kantong jubahnya dengan cepat. Ia mengeluarkan sebuah gulungan kain sutra kosong berstempel resmi kerajaan beserta sebuah kantong kulit yang berbunyi klinting padat. "Ini! Ini adalah surat izin praktik resmi seumur hidup yang sudah dicap oleh dinas kesehatan kekaisaran, Nona bisa menulis nama apotek Nona sendiri di sini. Dan... dan ini ada sedikit uang kompensasi sebesar lima puluh tael emas untuk biaya kebersihan pintu!" ucap Tabib Liu pasrah menyerahkan hartanya demi menyelamatkan kepalanya dari tebasan Dewa Perang.
Ruozi dengan gerakan secepat kilat langsung menyambar kantong emas dan gulungan surat izin tersebut, lalu mengintip isinya dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan. "Nah, begini baru namanya birokrasi yang sehat dan solutif! Surat izin dapat, modal tambahan juga cair," gumam Ruozi dalam hati, menahan tawa bahagianya agar tidak pecah di depan musuh.
Sambil melambaikan tangan dengan santai, Ruozi mengusir rombongan pejabat korup itu dari rukonya. "Ya sudah, sana pergi! Hus! Bawa pulang semua algojomu sebelum asisten zirah hitamku ini menjadikan tongkat kayu kalian sebagai tusuk gigi," ancam Ruozi galak. Tabib Liu dan anak buahnya tidak butuh dua kali perintah; mereka langsung berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari ruko bagaikan dikejar setan, menyisakan debu jalanan yang beterbangan.
Malam harinya, setelah kehebohan birokrasi itu reda dan ruko sudah ditutup rapat, suasana di lantai tiga berubah menjadi tenang namun sedikit mencekam.
Ruozi sedang asyik menghitung ulang emas hasil perasannya di dekat meja lilin ketika jendela besar di belakangnya tiba-tiba terbuka tanpa suara. Sesosok pria bertubuh tinggi tegap dengan jubah hitam bordir naga mendarat dengan anggun di dalam ruangan. Long Tianxu telah datang untuk menagih janji terapi penawar racun pertamanya.
Ruozi sama sekali tidak terkejut, ia hanya melirik pria itu sekilas lewat sudut matanya tanpa niat untuk berdiri menyambut. "Datang-datang lewat jendela lagi. Lama-lama aku cas biaya sewa engsel jendela ya, Mas Jenderal," ketus Ruozi sambil meletakkan emasnya dengan enggan. Namun, begitu melihat napas Tianxu yang tampak agak pendek dan rona dadanya yang sedikit menegang di balik jubah, Ruozi langsung berubah ke mode tabib serius.
"Sudah, jangan banyak bicara kita. Cepat buka jubahmu dan berbaring telungkup di atas ranjang sana. Malam ini, saatnya kamu merasakan keajaiban terapi bekam dan akupunktur ekstrem dari abad modern!"