Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 TANGAN YANG MENYEMBUHKAN
Matahari pagi di Kota Bandung perlahan-lahan merayap naik, memantulkan sinarnya di atas genangan air sisa hujan semalam. Di bawah naungan tenda biru sederhana milik Bu Darmi yang kini berdiri tegak kembali di sudut Jalan Cicaheum, Raka Ardian tampak sibuk menata kursi-kursi plastik kecil. Pergelangan kaki Bu Darmi sudah jauh membaik berkat baluran ramuan tumbukan daun puser bumi dan pijatan tenaga dalam yang Raka berikan semalam.
Wanita paruh baya itu kini sudah bisa berjalan pincang sambil tersenyum lebar, menyambut para pelanggan pagi yang datang mencari sarapan.
Bantu Raka menjaga warung hingga larut malam ternyata membawa berkah tersendiri. Bu Darmi, yang merasa berhutang budi sekaligus kagum pada ketulusan dan ketrampilan pemuda itu, tidak hanya memberikan upah harian yang layak, tetapi juga mengizinkan Raka menempati sebuah kamar gudang kecil di belakang warungnya secara cuma-cuma. Masalah tempat tinggal dan perut lapar yang sempat menghimpitnya kini teratasi untuk sementara waktu.
Namun, Raka tahu persis bahwa tujuannya datang ke kota besar ini bukanlah sekadar menjadi penjaga warung nasi liwet. Misi utamanya tetap membayangi pikirannya: membongkar konspirasi PT Cimanuk Perkasa dan melindungi tanah leluhurnya di Desa Ciherang.
Peluang itu datang lebih cepat dari yang ia duga.
Menjelang tengah hari, ketika aktivitas di sekitar jalan raya mulai padat, suasana di dekat kawasan terminal Cicaheum mendadak ricuh. Suara benturan benda keras dan teriakan histeris seorang wanita memecah kebisingan lalu lintas.
"Tolong! Jambret! Tas saya diambil!" teriak seorang wanita paruh baya berbusana rapi sambil menunjuk ke arah seorang pemuda bertubuh kurus berjaket kulit usang yang berlari kencang menerobos kerumunan orang, membawa sebuah tas tangan wanita berwarna cokelat tua.
Para pejalan kaki di trotoar hanya bisa berteriak dan menghindar, tidak ada yang berani mencoba menghentikan penjambret itu karena di tangan sang maling tergenggam sebilah pisau lipat kecil yang berkilau di bawah terik matahari.
Raka, yang sedang membereskan meja di depan warung Bu Darmi, langsung mendongak. Tanpa ragu sedetik pun, ia melesat meninggalkan pekerjaannya.
Mengandalkan kelincahan fisik serta teknik pernapasan Welingan Sejati, langkah kaki Raka meluncur bagaikan bayangan angin. Dalam hitungan detik, ia berhasil memotong jalur pelarian sang penjambret yang hendak melompat ke atas sebuah sepeda motor yang sudah menantinya di ujung gang.
"Jangan ikut campur, bocah! Minggir kalau tidak mau ususmu terburai!" bentak si penjambret beringas sambil mengayunkan pisau lipatnya secara membabi buta ke arah dada Raka.
Bagi mata orang awam, tusukan pisau itu tampak cepat dan mematikan. Namun bagi Raka, gerakan preman jalanan itu terbaca sangat lambat dan penuh celah. Dengan tenang, Raka melangkah ke samping, membiarkan mata pisau melesat lewat begitu saja di samping rusuknya. Sebelum sang penjambret sempat menarik kembali tangannya, Raka melayangkan sebuah tepukan bertenaga tepat di titik syaraf pergelangan tangan pria itu.
Prang!
Pisau lipat tersebut terlepas dari genggaman dan jatuh terpental ke atas aspal. Belum sempat si penjambret memulihkan keterkejutannya, Raka memutar tubuhnya dengan cepat, melayangkan tendangan ringan yang menghantam tepat di lutut lawannya.
Bruk!
Si penjambret langsung tersungkur berlutut di atas tanah dengan wajah meringis kesakitan, tak berdaya melawan tekanan tenaga dalam yang mengunci pergerakannya seketika. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, insiden itu berhasil diselesaikan tanpa ada pertumpahan darah yang berarti.
Kerumunan warga yang sedari tadi menonton langsung bersorak kagum. Tak lama kemudian, wanita paruh baya korban penjambretan tersebut datang tergopoh-gopoh menghampiri Raka dengan napas tersengal-sengal.
"Ya ampun, Nak... terima kasih banyak! Tas saya... semua dokumen penting dan uang berharga ada di dalamnya," ucap wanita itu dengan tangan gemetar, menerima kembali tas cokelatnya dari tangan Raka.
Saat wanita itu mendongak, Raka tertegun sejenak. Meskipun wajah wanita itu tampak lelah dan cemas, garis-garis kecantikan dan wibawa masa lalunya masih sangat jelas terlihat. Wanita itu mengenakan cincin berlian berukir unik di jari manisnya—sebuah lambang keluarga terpandang yang langsung menarik perhatian Raka.
Wanita itu memperhatikan Raka lebih dekat, matanya menyipit kagum melihat bagaimana pemuda di hadapannya berdiri tegak tanpa goresan sedikit pun setelah melumpuhkan seorang penjahat bersenjata. "Anak muda, kau hebat sekali. Ilmu bela dirimu luar biasa. Siapa namamu?"
"Nama saya Raka, Bu," jawab Raka sopan sambil mengangguk hormat.
Wanita itu tersenyum hangat, meskipun sorot matanya masih menyimpan beban kesedihan yang mendalam. "Nama yang bagus. Panggil saya Ibu Sinta. Sebenarnya... selain berterima kasih karena sudah menyelamatkan tas saya, saya ingin meminta tolong satu hal lagi padamu, Raka."
"Pertolongan seperti apa, Bu Sinta?" tanya Raka penuh perhatian.
Ibu Sinta menghela napas panjang, matanya menerawang jauh. "Suami saya sedang menderita sakit parah yang tidak kunjung sembuh oleh dokter mana pun di kota ini. Tubuhnya terus melemah setiap hari, dan keluarganya hampir putus asa. Melihat ketenangan dan ketegasanmu tadi... entah kenapa, insting saya mengatakan bahwa kau memiliki keahlian lain yang bisa menolongnya."
Raka terdiam sejenak. Ia menatap mata Ibu Sinta yang penuh permohonan tulus. Di tengah pencariannya terhadap jaringan korporasi PT Cimanuk Perkasa, takdir kembali mempertemukannya dengan sebuah pintu pengobatan—sebuah kesempatan untuk menggunakan keahlian tabib warisan leluhurnya di tengah rimba beton Kota Bandung.
"Baiklah, Bu Sinta," jawab Raka mantap. "Bawa saya melihat keadaan suami Anda."