Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka Sang Raja dan Hukuman Manis di Kamar Utama
Suhu udara di pelataran utama Kastil Valesia mendadak anjlok drastis, berubah menjadi dingin membeku dalam sepersekian detik. Angin malam berhembus liar, meniup jubah bulu hitam Fenrir Volkov hingga berkibar bagai sayap malaikat maut.
Di hadapan mereka, dua puluh prajurit berzirah hitam milik Dewan Tetua berdiri berbaris kaku dengan tombak terangkat. Tetua Utama Valesia—pria tua berwajah licik dengan mahkota perak kecil—tersenyum culas, merasa di atas angin karena memegang gulungan perkamen berstempel darah kerajaan.
"Jadi, pilihan ada di tangan Anda, King Alpha," ucap Tetua Utama dengan nada meremehkan yang disembunyikan di balik topeng hukum purba. "Serahkan gadis pelayan pembawa sial ini ke Menara Es, atau tahta Anda—"
Belum sempat Tetua Utama menyelesaikan kalimatnya yang angkuh, Fenrir Volkov mengangkat tangan kanannya secara perlahan.
BUMMM!
Ledakan aura membunuh tingkat mutlak meledak tanpa peringatan. Gelombang sihir berwarna merah darah membumbung tinggi, menciptakan gelombang kejut dahsyat yang langsung menghantam dua puluh prajurit berzirah hitam. Tanpa sempat mengedipkan mata, tombak-tombak mereka hancur berkeping-keping, dan tubuh para prajurit itu terhempas keras ke atas tumpukan salju, seketika pingsan tak berdaya dengan darah segar mengalir dari sudut bibir mereka.
Hanya dalam waktu satu detik, pasukan pilihan Dewan Tetua diratakan begitu saja tanpa ampun.
Tetua Utama Valesia terbelalak ngeri. Wajahnya yang tadinya sombong seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat hidup. Lututnya bergetar hebat hingga ia tidak mampu lagi berdiri, lalu jatuh berlutut bersimpuh di atas salju di hadapan boot kulit Fenrir.
"K-Kekuatan ini..." cicit Tetua Utama dengan suara bergetar ketakutan, napasnya tersengal-sengal menahan teror murni dari tatapan mata merah sang Raja Serigala. "Ampuni saya, King Alpha... K-Kami hanya menjalankan—"
Fenrir melangkah maju perlahan. Bayangan tubuh jangkungnya menutupi seluruh tubuh si kakek tua yang gemetar ketakutan. Suara bariton Fenrir terdengar sangat rendah, dingin, dan mematikan, bagaikan tetesan air es dari neraka.
"Kalian menginjak wilayahku, menantangku, dan berani mengatur siapa yang boleh berada di sisiku," bisik Fenrir keji. "Pulanglah dan sampaikan pada para tetua bangka di dewan... Sekali lagi kalian mencoba mencampuri urusanku, aku tidak akan hanya meratakan prajurit kalian, tapi aku akan meruntuhkan seluruh dewan kalian sampai menjadi debu."
"B-Baik... Baik, Yang Mulia! Kami mengerti!" ratip Tetua Utama, lalu merangkak ketakutan melarikan diri terbirit-birit meninggalkan pelataran kastil.
Ceisya yang berdiri di samping Fenrir hanya bisa bertepuk tangan pelan di dalam batinnya. Wah... spill kekuatan bos besar emang gak pernah gagal! Sekali kibas langsung ciut nyalinya. Keren sih, tapi ngeri juga kalau dijadiin musuh.
Klek. Banting!
Pintu kamar utama Kastil Valesya tertutup rapat dengan dentuman keras begitu mereka masuk. Sebelum Ceisya sempat melangkah atau berbicara, Fenrir langsung mencengkeram pinggang rampingnya dan membalikkan tubuh gadis itu hingga terpojok menempel di pintu kayu yang kokoh.
"Hei! Pelan-pelan dong! Pinggangku mau copot rasanya!" protes Ceisya spontan, mencoba mendorong dada bidang Fenrir.
Namun, mata merah Fenrir menyala penuh gairah posesif yang sudah mencapai batas puncaknya. "Kau kabur dariku, Ceisya... Kau membuatku harus meninggalkan rapat penting, mengejarmu ke Kota Bawah, dan melihat bajingan Kaelen menatapmu dengan mata penuh nafsu."
"Kan aku cuma jalan-jalan sebentar! Nggak usah baperan gitu jadi cowok!" elak Ceisya sengit, mencoba menaikkan dagunya.
Alih-alih marah, Fenrir justru menyeringai tipis. Pria itu menundukkan kepalanya secara agresif, langsung melumat bibir Ceisya dalam-dalam. Ciuman itu bukan lagi ciuman lembut, melainkan hukuman manis yang menuntut kepatuhan mutlak. Ceisya mencoba memberontak, namun kekuatan sihir Alpha yang mengunci persendiannya membuat tubuhnya lemas seketika.
Fenrir melepaskan bibir Ceisya sejenak untuk membiarkan gadis itu menarik napas, lalu menciumnya kembali.
Ciuman itu tidak memiliki ruang untuk negosiasi atau keraguan. Itu adalah sebuah klaim mutlak—seolah Arkan sedang menandai wilayahnya dan menegaskan bahwa ke mana pun Ceisya mencoba lari, ia tetaplah miliknya. Setiap sentuhan dan tekanan yang Fenrir berikan menuntut kepatuhan serta balasan penuh dari Nadine. Saat Nadine terengah dan pasrah dalam kunciannya, Fenrir justru memperdalam pagutan tersebut, menyerap seluruh atensi dan napas Ceisya hingga dunia di sekitar mereka melebur menjadi latar yang tak lagi penting. Fenrir menciumnya berkali-kali tanpa henti—turun dari bibir, rahang, hingga ke leher mulus Ceisya.
GIZ!
Gigitan protektif mendarat di atas kulit leher Ceisya, meninggalkan tanda ruam kemerahan baru yang jauh lebih pekat dan mencolok dari sebelumnya.
"Ngh... hentikan... sakit, Fenrir..." rintih Ceisya dengan suara bergetar lemah, napasnya terengah-engah dalam dekapannya.
Fenrir mengangkat wajahnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata cokelat Ceisya yang basah oleh sisa emosi. Suara baritonnya berubah menjadi bisikan ancaman paling intim dan posesif yang pernah ada di dunia:
"Dengar baik-baik, sayang..." bisik Fenrir tepat di depan bibir Ceisya, napas panas mereka saling bersentuhan. "Jika kau mencoba lari lagi dariku... atau jika aku melihat pria mana pun—termasuk Kaelen—berani menatapmu dengan tatapan lapar seperti tadi... aku tidak akan lagi menahan diri."
Fenrir mendekatkan bibirnya ke telinga Ceisya, membisikkan kalimat vulgar yang membuat sekujur tubuh gadis itu meremang panas:
"Aku akan mengurungmu di ranjang ini, menanam benihku di dalam dirimu berkali-kali selama seminggu penuh, sampai kau benar-benar tidak bisa berjalan dan hanya bisa memanggil namaku... Paham, manis?"
Mendengar ancaman gila namun sangat nyata itu, muka Ceisya memerah padam bak kepiting rebus. Jantungnya berdegup kencang bukan lagi karena takut, melainkan karena gelombang keintiman dan gairah gelap yang menguar dari tubuh sang Alpha King. Sialan... ancamannya kok serem tapi bikin jantung copot gini?! batin Ceisya mati-matian menahan suaranya agar tidak gemetar.
Ciuman itu tidak berhenti sampai Ceisya terlihat lemas dan sampai turun diatas dadanya. Ceisya berusaha menahan desahannya kekuatan Fenrir mengunci dirinya. "J- jangan Fenrir..." Desis Ceisya menahan desahan.
Fenrir menatap wajah Ceisya yang telihat begitu seksi di matanya. Gairahnya sangat besar tapi dia menahannya. Dia memas salah satu dada Ceisya dengan lembut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Ceisya yang sedikit basah dengan gerakan posesif. "Aku akan menahan gairah ini, Sayang. Tapi ingat kata-kataku di saat kamu melanggar apa yang aku ucapkan maka disaat itu, kamu tidak ada kata jangan ketika kamu berada di bawahku."
Fenrir menatap lurus ke dalam manik mata Ceisya yang masih tampak gemetar menahan desahan, mata Fenrir mengirimkan pesan tanpa kata bahwa mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun atau pria manapun yang boleh berdiri di antara mereka.
Namun, begitu hukuman intim itu selesai dan malam berganti hari-hari berikutnya, perlakuan Fenrir berubah 180 derajat menjadi sangat kontras.
Sesuai dengan janji posesifnya untuk memanjakan Ceisya, kamar utama sang Alpha King mendadak disulap menjadi tempat perlindungan paling mewah di Valesia.
Setiap pagi, para koki istana terbaik berbaris membawa nampan berisi hidangan lezat kelas Ratu—mulai dari sup jamur truffle salju, daging panggang madu pegunungan, hingga buah-buahan segar langka yang diimpor langsung dari kerajaan selatan. Gaun-gaun sutra terbaik berwêrna zamrud dan safir dengan sulaman benang emas dikirimkan khusus ke lemari Ceisya.
Di atas tempat tidur besar berbulu angsa, Ceisya duduk bersandar mengenakan gaun sutra mewah, menyantap hidangan lezat menggunakan garpu perak, sementara Fenrir duduk di sisi ranjang dengan setia mengupas buah untuknya.
"Makan lagi, sayang," ucap Fenrir lembut, menyuapkan potongan buah apel manis ke bibir Ceisya.
Ceisya mengunyah makanan itu dengan pipi menggembung, lalu menatap Fenrir dengan tatapan jengkel bercampur geli.
"King Alpha yang terhormat..." omel Ceisya sambil mengunyah, melambaikan garpu peraknya ke udara. "Anda ini sebenarnya lagi melindungiku atau lagi memperlakukan aku kayak boneka porselen mahal di dalam etalase toko sih?! Dikasih makan enak terus, dipakaikan baju mewah, tapi disuruh jalan keluar kamar aja nggak boleh! Rasanya aku kayak ayam broiler yang digemukin sebelum dijual!"
Fenrir terkekeh rendah—suara tawa yang begitu hangat, sangat kontras dengan sifat kejamnya di hadapan Dewan Tetua tempo hari. Pria itu mengelus pelan pipi Ceisya dengan penuh kasih sayang yang posesif.
"Kau bukan ayam, Manis. Kau adalah ratu di kastil ini," balas Fenrir tenang. "Dan boneka mahal pun tidak akan kubiarkan disentuh oleh siapa pun selain aku."
Meskipun di luar Ceisya terus-menerus mengomel dan protes merasa terkekang layaknya boneka istana, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam... batin Ceisya diam-diam menikmati pelayanan tingkat dewa tersebut.
Ya mau gimana lagi... Makanannya enak, tempat tidurnya empuk, nggak perlu capek-capek nyuci piring atau mikirin skripsi, plus dilayanin sama cowok terganteng sekotamadya walau agak psikopat posesif dan pemaksa, batin Ceisya ngedumel pasrah sambil menelan suapan makanan terakhirnya dengan senyuman kecil yang ia sembunyikan. Kalau aku kabur, dan tertangkap lagi... Maka aku pasti di miliki sesuai ucapannya. tapi, aku akan mencoba lagi jika ada kesempatan. Untuk sekarang nikmati dulu..."
Dinamika slow-burn di antara mereka kian mengental. Di balik jeratan sangkar emas dan sikap posesif gila sang Raja Serigala, benih-benih cinta yang gelap, intim, dan manis perlahan-lahan tumbuh merayap, menyatukan dua jiwa yang awalnya berada di dua dunia yang sangat berbeda.
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊