NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:600
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Di Bawah Lumpur Thames

Sensasi meluncur deras di dalam saluran batu yang licin oleh lumut dan cairan ozon terasa seperti terlempar langsung ke tenggorokan raksasa yang dingin. Dinding-dinding batu bata abad ke-17 menyambar pakaian mereka secara kasar, memercikkan air asin bercampur lumpur busuk dan bau minyak tanah yang menyengat. Di atas mereka, gema dentuman tembakan senapan perwira Scotland Yard memudar cepat, tergantikan oleh deru gemericik air bawah tanah yang menghantam jeram-jeram kecil.

Brak! Gebyar!

Hans Lorte menghantam genangan air setinggi lutut di dasar saluran, disusul oleh Pip yang jatuh terjerembap tepat di dekat paha kirinya. Air laut yang terperangkap di bawah tanah itu rasanya sedingin es, menusuk hingga ke dalam pori-pori kulit dan membekukan kaki mereka dalam hitungan detik.

"Tuan Lorte... kita masih hidup?" bisik Pip megap-megap. Tangannya yang gemetar memegangi rompi kusamnya yang kini basah kuyup oleh lumpur hitam.

Hans tidak langsung menjawab. Tangan kirinya dengan refleks menepuk dada mantel kusamnya—memastikan buku catatan utama milik Dr. Finch yang diselipkannya di balik rompi wol masih aman dari kebasahan. Setelah memastikan dokumen bernilai tinggi itu selamat, tangan kanannya meraba anting perak bulan sabit di telinga kiri seraya menegakkan tubuh tegapnya. Mata kelabunya beradaptasi dengan cepat di tengah kegelapan pekat yang menyelimuti lorong drainase kuno tersebut.

"Kalkulasi kecepatan luncuran kita tidak sampai mematahkan tulang, Pip," sahut Hans pelan, suaranya tetap tenang di tengah gema air yang menetes teratur dari atap batu. "Tetapi jika Inspektur Hallowell cukup nekat untuk mengarahkan anak buahnya turun lewat selokan ini, kita hanya punya waktu kurang dari lima menit sebelum mereka menyusul."

Hans merogoh saku dalam mantelnya yang terlindung, meraba pemantik kuningan milik Angkatan Laut, lalu menyalakan lentera saku kecilnya. Pendaran cahaya kuning redup seketika membelah kegelapan lorong batu Gotik tersebut.

Atap lengkung dari susunan batu bata merah buatan abad ke-17 melingkupi lorong setinggi dua meter itu. Di dinding-dinding batu yang berlumut tebal, jejak cairan fosforisens kebiruan bercampur noda darah teroksidasi terpampang makin jelas. Garis noda cair itu tidak merembes secara acak, melainkan terseret tebal menyusuri dasar aliran air—menuju ke arah timur, tepat mengarah ke kedalaman dasar Sungai Thames.

Di dekat pilar batu, mata analitis Hans menangkap sepotong kain wol cokelat milik Dr. Finch yang tersangkut di celah batu. Kain itu terkoyak kaku berbalut es, menandakan sang ilmuwan tidak berjalan sendiri melainkan terseret gaya tarik mekanis yang sangat kuat.

"Gaya tarik mekanis," sahut Hans singkat seraya melangkahi kain tersebut. "Tidak ada jejak tapak sepatu di sekitarnya. Finch tidak bergerak atas kemauannya sendiri."

Mendadak, jarum kompas pelayaran buatan Royal Navy di rantai rompi Hans kembali bergetar kencang. Putaran liar jarum kuningan itu berosilasi tanpa arah yang jelas, diiringi oleh getaran frekuensi rendah yang merayap naik dari genangan air di kaki mereka. Air keruh di dasar saluran mulai membentuk lingkaran-lingkaran gelombang konsentris yang bergetar makin cepat.

Hrrrgh... hrrrgh...

Dengusan parau tak wajar yang sebelumnya bergema dari balik jeruji laboratorium kini terdengar jauh lebih dekat dari balik bentangan lorong di hadapan mereka. Suara itu diiringi gesekan benda berat yang menyeret menyusuri lantai batu basah, beradu dengan gemeretak halus serpihan es yang membeku di dinding saluran.

Pip refleks merapat di belakang Hans, mencengkeram erat pinggiran mantel kusam sang detektif. "Tuan... suara itu... di depan kita."

"Genggam pipa besi di dekat kakimu, Pip," perintah Hans dingin tanpa memalingkan pandangannya dari belokan lorong di depan. "Tetap berada dua langkah di belakangku."

Hans melangkah tegap menembus genangan air es. Setiap pijakan sepatu boot-nya menimbulkan bunyi kepakan air yang gaungnya memantul di sepanjang lorong batu—spleesh... spleesh... Logika rasionalnya merekam setiap detail spasial lorong tersebut: lebar dua meter, kedalaman air 40 sentimeter, dan tidak ada celah untuk bersembunyi jika fenomena di hadapan mereka memicu ledakan reaksi anomali kedua.

Sepuluh meter di hadapan mereka, lorong batu itu membelok tajam ke kanan, menuju jaringan bawah tanah kuno yang membentang di bawah kawasan Greenwich. Di belokan itulah pendaran cahaya kebiruan memancar paling terang, memantulkan bayangan-bayangan melengkung yang aneh pada dinding batu bata.

Di atas permukaan air yang tergenang, belasan kelereng cairan bening tampak mengapung melayang di udara—melawan gaya gravitasi persis seperti fenomena tinta di laboratorium Finch. Tetesan-tetesan air itu berputar pelan di udara, memancarkan pendaran kebiruan yang menyilaukan.

Hans menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan belokan lorong. Tangan kanannya mencengkeram erat pegangan tongkat besi, sementara mata kelabunya memicing tajam menembus uap beku yang merayap rendah di permukaan air.

Di balik sudut belokan batu, sesosok bayangan raksasa yang terdistorsi tampak bersandar di dinding. Bayangan itu bergerak lambat, disertai dengusan parau yang memutus napas.

"Dr. Finch?" panggil Hans dengan suara lantang dan tegas yang menghentikan gema air di saluran tersebut.

Gerakan bayangan di balik belokan seketika terhenti. Dengusan parau itu mendadak surut, menyisakan keheningan malam yang begitu mencekam.

Dari balik sudut dinding batu, sepotong tangan manusia terulur lambat merayap di atas permukaan air yang membeku. Tangan itu mengenakan sisa jas wol cokelat yang terkoyak, namun kulit jarinya tidak lagi berwarna merah muda. Seluruh permukaan kulit tangan itu telah melapis kristal es kebiruan, dengan pembuluh darah yang menonjol berwarna hitam pekat.

Di antara jemari yang membeku tersebut, sosok itu memegang erat sebuah kompas pelayaran berukuran raksasa buatan abad ke-17—sebuah artefak kuningan berukir simbol gelombang laut dan mata terbuka milik The Abyssal Order.

"L... Lorte..." sebuah suara parau yang pecah menyerupai derak kayu terbakar terucap dari balik belokan dinding.

Sosok Dr. Finch beringsut keluar dari bayangan. Paruh wajah kirinya telah tertutup lapisan es kebiruan tebal, sementara mata kirinya memancarkan pendaran cahaya asing yang tak lagi manusiawi.

"Jangan... jangan dekatkan cahaya itu..." rintih Finch, napasnya menghembuskan uap beku yang membekukan permukaan air di sekitarnya. "Mata itu... mata itu sedang mengukur massa ruangan ini... Jika kau melangkah satu tapak lagi, retakan ini akan menelan seluruh drainase Greenwich..."

Hans tidak menyurutkan pandangannya, namun otaknya dengan cepat merekam penderitaan sang ilmuwan. Finch berusaha keras mempertahankan kesadarannya demi menahan pemicu anomali agar tidak meledak kembali.

"Siapa yang mengaktifkan artefak itu di laboratorium Anda, Finch?" tanya Hans, suaranya tenang namun menekan.

"Sterling..." bisik Finch dengan jemari gemetar yang mencengkeram artefak kuningan itu hingga retak. "Dia... dia menggunakan frekuensi pemanggil dari dasar laut... Selamatkan... selamatkan putriku..."

Sebelum Hans sempat mengambil keputusan untuk mengamankan ilmuwan itu, gema benturan keras mendadak meledak dari saluran air di belakang mereka.

CRACK... BLAASSHH!

Gelombang air dingin menyembur hebat dari arah lorong atas. Pasukan Scotland Yard baru saja menerobos sisa jeruji yang hancur tempat Hans dan Pip meluncur turun tadi. Derak sepatu boot tebal berpelat besi mulai bergema menuruni saluran batu dengan kecepatan tinggi.

"Cari mereka sampai ke ujung selokan ini!" raungan Inspektur Hallowell bergema keras menembus lorong. "Siapa pun yang membawa catatan Finch atau menyentuh barang bukti, tembak di tempat!"

Hans meraba anting perak bulan sabitnya seraya menatap dua ancaman yang kini mengapit mereka dari depan dan belakang. Di belakang mereka, pasukan bersenjata Scotland Yard bergerak cepat dengan senapan teracung. Di depan mereka, Dr. Finch yang terdistorsi memegang artefak utama yang siap memicu retakan ruang dalam frekuensi kritis.

"Pip," ujar Hans pelan, senyuman tipis yang dingin terbit di sudut bibirnya saat kepalanya menghitung sudut pembelokan energi. "Eksperimen malam ini baru saja dimulai."

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!