Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Jejak
Seminggu setelah mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan, akhirnya Jihan mendapatkan kabar baik. Salah satu perusahaan ternama yang dilamarnya menerima dirinya sebagai staf administrasi.
Pekerjaan itu memang jauh berbeda dari profesi yang selama ini ditekuninya. Jika sebelumnya ia merupakan seorang apoteker senior dengan tanggung jawab besar di rumah sakit, kini ia hanya menjadi staf biasa yang mengurus dokumen dan berbagai keperluan administrasi perusahaan.
Namun, Jihan tidak mempermasalahkannya. Gaji yang ditawarkan memang tidak sebesar penghasilannya dahulu, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Pagi itu menjadi hari pertamanya bekerja.
Jihan berdiri di depan cermin, merapikan blus sederhana yang dikenakannya. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia mengambil tas dan segera berangkat.
"Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya.
Di kantor barunya, Jihan disambut dengan baik oleh rekan-rekan kerja. Ia juga mendapatkan penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakannya.
Meskipun masih harus menyesuaikan diri, Jihan berusaha menjalani semuanya dengan penuh semangat.
Ia tidak lagi memikirkan jabatan, gaji besar, ataupun karier yang pernah dibangunnya di dunia farmasi. Untuk saat ini, ia hanya ingin memiliki pekerjaan yang bisa memberinya penghasilan tanpa membuat keberadaannya mudah diketahui Hansen.
Jihan tidak ingin mantan suaminya itu menemukan dirinya melalui pekerjaan dan lisensi profesinya.
Karena itulah, ia memilih memulai semuanya dari awal.
Sementara itu, di Jepang, Hansen akhirnya menyelesaikan seluruh tugasnya. Setelah memastikan kondisi pasien penting yang ditanganinya stabil, ia mendapatkan izin untuk kembali ke Indonesia.
Perjalanan pulang berlangsung cukup melelahkan. Namun, ada satu hal yang membuatnya bersemangat untuk segera kembali.
Jihan.
Selama berada di Jepang, Hansen beberapa kali teringat kepada mantan istrinya tersebut. Ia bahkan membeli sebuah kalung berlian yang ingin diberikan kepada Jihan.
Meskipun hubungan mereka sudah berakhir, entah mengapa Hansen masih ingin melakukan sesuatu untuk perempuan itu.
Keesokan harinya, Hansen tiba di Indonesia. Ia kembali ke apartemennya dan menghabiskan waktu untuk beristirahat sebelum kembali menjalankan tugas di rumah sakit.
Pagi berikutnya, Hansen datang ke rumah sakit lebih awal dari biasanya.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan di ruangannya, ia berjalan menuju instalasi farmasi. Ada keinginan untuk bertemu Jihan, meskipun ia sendiri belum tahu apa yang akan dibicarakannya.
Begitu tiba di sana, Hansen langsung mencari sosok yang dikenalnya.
Namun, Jihan tidak terlihat.
Ia kemudian menghampiri Suster Ida yang kebetulan sedang berada di dekat meja administrasi.
"Ida, Jihan mana?" tanyanya.
Suster Ida menoleh. "Bu Jihan, Dokter?"
"Iya. Dia tidak masuk hari ini?"
Ida tampak sedikit terkejut.
"Dokter belum tahu?"
Kening Hansen berkerut. "Tahu apa?"
"Bu Jihan sudah mengundurkan diri."
Hansen terdiam.
"Apa?"
"Bu Jihan sudah berhenti bekerja sekitar dua minggu yang lalu, Dokter. Waktu itu beliau sudah berpamitan kepada kami."
Hansen menatap Ida seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Sudah berhenti?"
"Iya, Dokter."
"Kenapa?"
"Setahu saya, beliau ingin beristirahat di rumah dan mengurus keluarga. Tapi saya juga tidak tahu pasti, karena beliau tidak banyak bercerita."
Hansen masih berdiri mematung.
Dua minggu lalu?
Berarti ketika dirinya masih berada di Jepang, Jihan sudah meninggalkan rumah sakit ini. Bahkan, perempuan itu sudah menyelesaikan seluruh urusan pengunduran dirinya tanpa memberitahunya sedikit pun.
"Dia tidak mengatakan akan bekerja di tempat lain?" tanyanya lagi.
Suster Ida menggeleng.
"Tidak, Dokter. Kami juga tidak tahu sekarang Bu Jihan tinggal atau bekerja di mana."
Hansen mengangguk pelan. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya, tetapi ekspresinya telanjur berubah.
"Baik. Terima kasih."
Hansen kemudian meninggalkan instalasi farmasi.
Sementara itu, beberapa staf yang menyaksikan percakapan tersebut mulai saling berbisik.
"Kenapa Dokter Hansen terlihat begitu terkejut?" tanya salah seorang staf.
"Mungkin beliau memang mencari Bu Jihan," jawab yang lain.
"Tapi, memangnya ada hubungan apa antara mereka?"
Suster Ida hanya diam. Ia sendiri tidak tahu alasan Hansen begitu ingin mengetahui keberadaan Jihan.
Di mata mereka, Jihan hanyalah rekan kerja yang sudah mengundurkan diri. Seorang apoteker senior yang cukup baik dan disukai banyak orang.
Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa perempuan itu ternyata pernah menjadi istri pemilik rumah sakit tersebut.
Sesampainya di ruangannya, Hansen langsung mengambil ponsel.
Kali ini, ia mencoba menghubungi nomor Jihan.
Panggilan pertama tidak tersambung.
Ia mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Hansen mengerutkan kening.
"Kenapa ponselmu tidak aktif, Jihan?"
Ia membuka aplikasi pesan dan mengirimkan sebuah pesan singkat.
Jihan, aku baru tahu kamu sudah berhenti bekerja. Sekarang kamu di mana?
Pesan tersebut hanya terkirim tanpa tanda diterima.
Hansen meletakkan ponselnya, lalu mengusap wajah dengan kasar.
Ia tidak habis pikir. Selama ini, Jihan memang tidak pernah banyak menuntut. Bahkan setelah perceraian mereka, perempuan itu tidak pernah mengganggunya.
Namun, ia tidak menyangka Jihan akan pergi begitu saja tanpa meninggalkan kabar.
Hansen kemudian teringat kotak kecil berisi kalung berlian yang masih tersimpan di laci apartemennya.
Ia ingin memberikannya kepada Jihan. Ia ingin melihat reaksi perempuan itu saat menerima hadiah tersebut.
Sayangnya, sekarang ia bahkan tidak bisa menghubunginya.
"Jihan, sebenarnya kamu ingin sejauh apa menjauh dariku?" gumamnya.
Untuk pertama kalinya, Hansen merasa kehilangan seseorang yang selama bertahun-tahun selalu ada dalam kehidupannya.
Ironisnya, dialah orang yang lebih dulu meminta perempuan itu pergi.
Sementara itu, Jihan sedang duduk di meja kerjanya, sibuk menyelesaikan tumpukan dokumen dari atasannya.
Ponsel barunya tergeletak di samping komputer. Tidak ada satu pun pesan dari Hansen yang masuk ke sana karena pria itu masih menghubungi nomor lamanya.
Jihan sama sekali tidak tahu bahwa Hansen sudah kembali ke Indonesia.
Ia juga tidak tahu bahwa pagi itu mantan suaminya baru saja mengetahui kepergiannya dari rumah sakit.
Bagi Jihan, kehidupannya sekarang sudah dimulai kembali. Dan ia tidak berniat menoleh ke belakang.
Bersambung...