NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Mikha memperhatikan perubahan wajah Alena, tetapi ia memilih untuk tidak menanggapinya. Perempuan itu justru menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu tersenyum kecil seolah sedang mengingat sesuatu yang menyenangkan.

“Ngomong-ngomong, aku benar-benar bersyukur punya suami seperti Pras,” ucap Mikha tiba-tiba.

Alena yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajah.

“Maksudmu?”

Mikha tersenyum.

“Pras itu sebenarnya orang yang sangat baik. Dia perhatian, pengertian, dan selalu berusaha memenuhi apa yang aku butuhkan. Bahkan, untuk hal-hal kecil sekalipun, dia sering kali lebih dulu memikirkannya daripada aku.”

Alena terdiam.

Ia tidak menyangka Mikha justru akan membicarakan Pras dengan nada seperti itu. Bukankah seharusnya perempuan itu sedang terluka karena mengetahui hubungan suaminya dengan dirinya?

Namun, Mikha malah terlihat begitu tenang.

“Contohnya mobil itu?” tanya Alena, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman yang mulai menjalar di dadanya.

Mikha mengangguk.

“Iya. Aku sebenarnya enggak pernah benar-benar meminta mobil itu. Pras sendiri yang bilang kalau aku sudah terlalu sering kelelahan saat bepergian. Katanya, dia enggak mau aku terus-menerus bergantung pada orang lain kalau harus pergi ke suatu tempat.”

Mikha berhenti sebentar, kemudian melanjutkan dengan senyum yang tampak tulus.

“Dia bahkan mengingat hal-hal kecil yang kadang aku sendiri lupa. Kalau aku sedang enggak enak badan, dia bisa langsung tahu hanya dari melihat wajahku. Kalau aku sedang punya masalah, dia biasanya orang pertama yang bertanya apakah aku baik-baik saja.”

Alena merasakan sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Selama menjalin hubungan dengan Pras, lelaki itu memang sering bersikap manis kepadanya. Pras pandai membuatnya merasa istimewa, memberikan perhatian yang membuatnya yakin bahwa dirinya memiliki tempat khusus di hati lelaki tersebut.

Namun, mendengar Mikha menceritakan sisi Pras yang lain justru membuat Alena merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami.

“Dia memang perhatian,” sahut Alena akhirnya. “Pras juga sering begitu kepadaku.”

Mikha menoleh, lalu mengangguk pelan.

“Syukurlah kalau begitu.”

Jawaban itu membuat Alena kehilangan kata-kata.

Ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarahan Mikha. Ia bahkan sempat membayangkan perempuan itu akan menyindirnya atau sengaja menunjukkan bahwa dirinya masih menjadi istri sah Pras.

Namun, Mikha sama sekali tidak melakukan semua itu.

Sebaliknya, perempuan tersebut justru membicarakan kebaikan suaminya dengan begitu mudah, seolah tidak ada masalah apa pun di antara mereka.

“Kalau boleh tahu,” ujar Mikha kemudian, “selama ini Pras memperlakukanmu dengan baik, kan?”

Pertanyaan itu membuat Alena tertegun.

Ada jeda singkat sebelum ia mengangguk.

“Iya. Dia baik.”

“Baguslah.”

Mikha tersenyum lega.

“Aku selalu berharap Pras bisa menjadi lelaki yang baik untuk orang-orang di sekitarnya. Dia memang punya banyak kesibukan, tapi kalau sudah menyayangi seseorang, biasanya dia akan berusaha memberikan yang terbaik.”

Alena menggigit bagian dalam bibirnya.

Entah mengapa, ucapan Mikha terdengar begitu tulus hingga ia kesulitan menemukan celah untuk membalasnya.

Perempuan itu tidak tampak sedang menyombongkan diri. Tidak pula terlihat ingin membuat Alena merasa kalah.

Justru itulah yang membuat Alena semakin gelisah.

Sebab, semakin banyak Mikha menceritakan kebaikan Pras, semakin besar pula ketakutannya bahwa hubungan yang selama ini ia perjuangkan mungkin tidak sesederhana yang dibayangkannya.

“Mikha,” panggil Alena pelan.

“Hm?”

“Kamu benar-benar bahagia sama Pras?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, bahkan sebelum Alena sempat mempertimbangkan apakah dirinya pantas menanyakannya.

Mikha terdiam beberapa saat.

Pandangannya beralih ke kotak kue di atas meja, lalu kembali kepada Alena.

“Tentu saja.”

Ia menjawab tanpa ragu.

“Pras suami yang baik. Selama ini, aku enggak pernah merasa kekurangan kasih sayang darinya. Dia selalu berusaha membuatku bahagia, bahkan ketika aku sendiri enggak tahu bagaimana cara meminta sesuatu kepadanya.”

Alena merasakan jemarinya mulai dingin.

“Lalu, kenapa kalian bisa sampai punya masalah?”

Senyum Mikha sedikit memudar.

Untuk sesaat, bayangan tentang semua yang telah terjadi kembali memenuhi pikirannya. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, banyak sikap Pras yang belakangan terasa berbeda, dan ada sesuatu yang perlahan membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap lelaki itu.

Namun, Mikha tidak ingin membicarakan semua itu kepada Alena.

Setidaknya, bukan sekarang.

Ia menghela napas pelan sebelum kembali tersenyum.

“Setiap rumah tangga pasti punya masalah, Alena. Enggak ada pernikahan yang selalu berjalan mulus. Kadang ada perbedaan pendapat, kadang ada hal-hal yang membuat kita kecewa. Tapi selama dua orang masih mau saling memahami, aku percaya semuanya bisa dibicarakan.”

Alena menunduk.

Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Mikha di balik jawaban itu. Akan tetapi, ia tidak tahu apa.

Yang lebih membuatnya gelisah, Mikha sama sekali tidak terlihat seperti perempuan yang sedang kehilangan suaminya.

Tidak ada tangisan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada pula permintaan agar Alena segera menjauh dari Pras.

Seolah-olah perempuan itu masih memiliki keyakinan penuh terhadap lelaki yang selama ini juga dicintainya.

“Kalau begitu, kamu masih ingin mempertahankan pernikahan kalian?” tanya Alena hati-hati.

Mikha menatapnya cukup lama sebelum menjawab.

“Kenapa aku harus melepaskan sesuatu yang selama ini aku perjuangkan?”

Alena terdiam.

Mikha tersenyum tipis, lalu melanjutkan, “Aku menikah dengan Pras bukan untuk berpisah setiap kali ada masalah. Aku menikah dengannya karena aku percaya dia bisa menjadi teman hidupku. Dan sampai sekarang, aku masih mengingat alasan itu.”

Jawaban tersebut membuat Alena merasa seolah-olah sedang berdiri di tempat yang salah.

Ia datang ke dalam kehidupan Pras dengan keyakinan bahwa lelaki itu hanya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan urusan rumah tangganya. Pras berkali-kali mengatakan bahwa keadaan akan menjadi lebih mudah setelah semuanya selesai.

Alena mempercayainya.

Ia bahkan rela menunggu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti Pras akan benar-benar menjadi miliknya.

Namun, di hadapannya sekarang, Mikha justru berbicara tentang pernikahan mereka seolah ikatan itu masih begitu kuat.

Dan yang paling menyakitkan, Mikha tidak terlihat sedang berpura-pura.

Perempuan itu benar-benar percaya bahwa Pras adalah suami yang baik.

Setelah percakapan mereka berlangsung cukup lama, Mikha akhirnya berpamitan.

Alena mengantarnya sampai ke depan pintu. Sebelum masuk kembali ke rumah, ia sempat memperhatikan mobil yang terparkir di halaman.

Mobil yang dibelikan Pras untuk Mikha.

Benda yang sejak kemarin terus mengusik pikirannya.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Alena, berusaha tersenyum.

“Sama-sama. Nanti kalau ada waktu, kita mengobrol lagi.”

Mikha melambaikan tangan sebelum masuk ke mobilnya.

Alena membalas dengan gerakan kecil, kemudian berdiri memandangi kendaraan itu sampai menghilang dari pandangannya.

Entah mengapa, ia justru merasa semakin tidak tenang.

Selama ini, ia selalu menganggap bahwa dirinya mengenal Pras dengan baik. Lelaki itu sering bercerita tentang pekerjaannya, mengeluhkan kesibukannya, bahkan mengungkapkan betapa sulitnya mempertahankan pernikahan yang menurutnya sudah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Dari semua cerita itu, Alena menyimpulkan bahwa Pras dan Mikha hanya tinggal menunggu waktu untuk berpisah.

Namun, mengapa Mikha justru menceritakan hal-hal yang bertolak belakang dengan semua yang pernah dikatakan Pras?

Apakah lelaki itu memang sebaik yang digambarkan istrinya?

Atau justru selama ini ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan Pras kepadanya?

Alena menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran-pikiran tersebut.

Ia tidak ingin meragukan lelaki yang dicintainya hanya karena percakapan singkat dengan Mikha.

Bagaimanapun, Pras sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya.

Dan Alena memilih untuk memercayai janji itu.

Sementara itu, di dalam mobil, Mikha menatap jalanan yang terbentang di hadapannya.

Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

Ia baru saja mengatakan kepada Alena bahwa Pras adalah suami yang baik. Lelaki yang perhatian, pengertian, dan selalu berusaha membuatnya bahagia.

Semua itu bukan kebohongan.

Pras memang pernah menjadi lelaki seperti itu.

Mikha masih mengingat bagaimana suaminya dahulu selalu menyempatkan diri untuk menghubunginya di tengah kesibukan. Bagaimana Pras bisa menyadari perubahan kecil pada dirinya, bahkan ketika ia berusaha menyembunyikan kesedihan. Bagaimana lelaki itu membuatnya merasa dicintai tanpa harus meminta.

Bahkan, ketika Pras membelikan mobil itu, Mikha sempat merasa bahwa dirinya adalah perempuan paling beruntung di dunia.

Ia mengira suaminya masih memikirkan kenyamanan dan kebahagiaannya.

Ia mengira perhatian itu merupakan bukti bahwa Pras masih menyayanginya.

Mikha tidak pernah menyangka bahwa di balik semua kebaikan tersebut, ada rahasia besar yang perlahan menghancurkan kepercayaannya.

Rahasia yang belum sepenuhnya ia ketahui.

Rahasia yang membuat setiap perhatian Pras belakangan ini terasa seperti sesuatu yang menyimpan maksud lain.

Mikha menggenggam kemudi lebih erat.

Ia belum tahu apa yang sebenarnya sedang disembunyikan suaminya. Ia juga belum tahu sampai sejauh mana Pras telah berbohong kepadanya.

Namun, satu hal mulai ia sadari.

Kebaikan seseorang tidak selalu berarti bahwa ia telah mengatakan seluruh kebenaran.

Dan terkadang, justru orang yang paling kita percaya adalah orang yang paling pandai menyembunyikan sesuatu dari kita.

Mikha mengembuskan napas panjang.

Ia masih ingin percaya kepada Pras.

Barangkali karena terlalu banyak kenangan yang telah mereka bangun bersama. Barangkali karena sebagian dirinya masih berharap bahwa semua kecurigaan itu hanyalah kesalahpahaman.

Atau mungkin, karena ia belum siap menerima kenyataan bahwa lelaki yang selama ini dianggapnya sebagai rumah justru sedang menyembunyikan sesuatu yang bisa menghancurkan seluruh kehidupan mereka.

Mikha kembali menatap jalanan.

Untuk saat ini, ia memilih diam.

Ia akan membiarkan Pras terus bersikap seperti biasa.

Membiarkan lelaki itu tersenyum, memberikan perhatian, dan berpura-pura bahwa tidak ada sesuatu pun yang berubah di antara mereka.

Sebab, jika memang ada rahasia besar yang sedang disembunyikan Pras, Mikha ingin mengetahui semuanya dengan mata kepalanya sendiri.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!