NovelToon NovelToon
Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Langgur: Peti Emas Di Bawah Pohon Keramat Revan

Status: tamat
Genre:Horor / Penyelamat / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Una Lam

Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.

Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.

Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.

Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.

Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?

Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Dion Kembali Dari Penjara

Tiga bulan berlalu sejak Langgur merdeka dan Pohon Mangga Raksasa berganti nama jadi Pohon Revan.

Langgur sekarang damai sekali. Rumah-rumah yang dulu setengah hangus dibakar Dion, sekarang sudah dibangun lagi lebih bagus dari kayu baru yang diantar bantuan dari Pemda Tual karena Langgur menang di pengadilan Ambon. Anak-anak sekolah lagi dengan seragam baru, ibu-ibu jualan ikan di pasar lagi, bapak-bapak melaut lagi.

Di bawah Pohon Revan, sudah dibangun balai kecil dari bambu, tempat warga berkumpul sore-sore. Tidak ada lagi yang takut dengan peti emas di bawahnya, karena mereka percaya lima penjaga baru itu menjaga dengan baik, asal tidak diganggu.

Ara sekarang jadi seperti kepala adat muda di Langgur, semua orang kalau ada masalah datang ke Ara. Dia masih memakai jaket hitam Revan yang wangi bunga mangga itu, dan di lehernya kalung batu kecil hitam R dan A hadiah terakhir Revan. Dia sudah jarang bermimpi Revan lagi, hanya kadang-kadang Revan datang di mimpi bilang, "Jaga Langgur ya, Ra."

Hidup Langgur sempurna, sampai pagi itu.

Pagi jam tujuh, kapal kayu dari Tual merapat di pantai Langgur, tapi kapal itu bukan kapal biasa, kapal itu kapal polisi. Dari kapal itu turun dua orang polisi dan satu orang laki-laki kurus dengan baju putih lusuh, kepala plontos, wajahnya pucat.

Semua warga yang di pantai langsung kaget dan berbisik.

"Itu... itu Dion!"

Dion bebas! Setelah tiga bulan di penjara Polda Ambon!

Pak RT Unus langsung maju ke polisi. "Pak Polisi, kenapa dia dibebaskan? Dia kan pembunuh! Dia yang bakar rumah kami!"

Polisi itu membuka surat. "Maaf, Pak RT. Berkas kasus Pak Hendra dan Dion kurang bukti. Pengakuan waktu kesurupan di pengadilan tidak bisa jadi bukti sah menurut hukum negara. Dan investor Singapura cabut laporan karena anak buahnya yang lima orang itu hilang di laut, tidak ada bukti mereka ke Langgur. Jadi dengan berat hati, Dion dibebaskan dengan wajib lapor."

Warga langsung ribut marah, tapi tidak bisa apa-apa, itu hukum negara.

Dion yang kurus dan plontos itu berjalan pelan melewati warga, tidak menatap siapa-siapa, hanya menatap Pohon Revan dari jauh. Matanya yang dulu merah karena serakah, sekarang kosong, seperti orang linglung.

Dia tidak pulang ke rumah ayahnya yang sudah disita negara, dia langsung jalan ke balai bambu di bawah Pohon Revan dan duduk di situ sendirian.

Ara yang baru datang dari rumahnya, melihat Dion duduk di bawah Pohon Revan, langsung tegang. Dia pegang kalung batu kecil R dan A nya.

"Dion, ngapain kamu di sini? Kamu tidak boleh di sini! Pohon ini tidak suka kamu!"

Dion menoleh pelan ke Ara, dan saat dia menoleh, Ara kaget, wajah Dion tidak lagi wajah Dion yang dulu sombong, wajahnya penuh luka goresan, seperti dicakar dari dalam, dan di lehernya ada bekas cekikan hitam lima jari, bekas cekikan lima hantu penjaga emas waktu di peti dulu.

"Ara... aku... aku bukan mau ganggu... aku... aku disuruh kembali..." kata Dion dengan suara pelan dan gemetar, seperti orang sakit jiwa.

"Disuruh siapa?" tanya Ara waspada.

Dion menunjuk ke tanah di bawah Pohon Revan, ke tempat peti emas terkubur. "Mereka... lima orang di dalam peti... mereka tidak mau aku... mereka bilang emas itu belum selesai... mereka bilang aku harus buka lagi petinya... kalau tidak, mereka akan ambil aku lagi..."

Ara mundur selangkah, merinding. Ternyata lima maling yang ditelan peti itu bukan jadi penjaga baru yang baik, tapi jadi hantu penasaran yang mau balas dendam dan pakai tubuh Dion sebagai wadah!

Malam itu, Dion tidak pulang, dia tidur di bawah Pohon Revan, di atas tanah tempat peti emas terkubur, seperti anjing menjaga tuannya.

Tengah malam, warga yang sudah tidur, dibangunkan oleh suara jeritan Dion dari arah Pohon Revan! Jeritan yang sangat keras, jeritan kesakitan!

Ara dan Jali dan Pak RT langsung berlari dengan obor ke Pohon Revan.

Di bawah Pohon Revan, Dion kejang-kejang di atas tanah! Dari mulutnya keluar darah hitam! Dan dari tanah di bawahnya, keluar lima tangan hitam! Lima tangan hitam dari dalam peti yang mencakar-cakar punggung Dion dan mau menarik Dion masuk ke dalam tanah!

"JANGAN! JANGAN TARIK AKU! AKU TIDAK MAU MASUK PETI LAGI!" teriak Dion sambil menangis darah.

Ara yang melihat itu, tanpa pikir panjang mengambil batu kecil R dan A dari kalungnya dan melemparkannya ke tanah tempat lima tangan hitam itu keluar!

"REVAN! TOLONG LAGI! VAN!"

Batu kecil itu menyentuh tanah dan pecah! Keluar cahaya emas kecil! Cahaya itu membentuk Revan lagi! Revan yang sudah tiga bulan tidak muncul!

Revan muncul dan langsung menginjak lima tangan hitam itu! Lima tangan hitam itu menjerit dan masuk lagi ke dalam tanah!

Dion yang selamat, pingsan di atas tanah dengan mulut penuh darah hitam.

Revan menoleh ke Ara, wajahnya sedih dan lelah, seperti hantu yang dipanggil terus-menerus jadi lelah.

"Ra, aku sudah tidak kuat lagi. Aku sudah pergi, tapi kalian panggil terus. Lima penjaga baru itu ternyata bukan penjaga baik, mereka penjaga jahat karena mereka mati dengan hati serakah. Mereka mau Dion jadi tumbal ke enam. Kalau Dion jadi tumbal, peti itu akan terbuka sendiri dan emasnya akan keluar dan Langgur akan jadi rebutan lagi, lebih besar dari sebelumnya."

Revan memudar lagi, tapi sebelum hilang dia berbisik terakhir, "Satu-satunya cara hentikan peti itu, kalian harus bongkar pohon ini dan pindahkan petinya ke laut. Tenggelamkan di laut dalam biar tidak ada yang bisa ambil lagi. Tapi kalau pohon ini ditebang, aku akan hilang selamanya, Ra. Tidak akan pernah bisa datang lagi, bahkan di mimpi."

Revan hilang.

Ara jatuh terduduk di tanah, menangis. Harus tebang Pohon Revan? Pohon yang adalah makam Revan? Pohon yang adalah penjaga Langgur?

Dion yang pingsan itu tiba-tiba bangun, matanya merah lagi, dia tertawa dengan suara yang bukan suara Dion, tapi suara lima orang bersamaan!

"HAHAHA! KALIAN TIDAK AKAN BISA TEBANG POHON INI! EMAS INI MILIK KAMI! KAMI AKAN BANGKIT!"

Dion kesurupan lagi! Kesurupan lima maling penjaga emas!

Dia berlari ke dalam hutan Langgur yang gelap dan menghilang!

Pagi akan datang, dan Langgur harus memutuskan, tebang Pohon Revan atau biarkan Dion jadi tumbal ke enam dan Langgur hancur lagi karena emas.

Hujan mulai turun rintik-rintik di Langgur yang baru merdeka tiga bulan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!