"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SALING LIRIK
Kalimat itu diucapkan Asmara dengan volume yang begitu pelan, nyaris seperti embusan angin yang numpang lewat. Namun di telinga Wira, kalimat itu meledak laksana petir di siang bolong.
Sampah plastik di Alun-alun kemarin???
Skakmat kedua. Wira menelan ludahnya susah payah, merasakan kerongkongannya mendadak mengering. Sindiran halus itu menembus langsung ke ulu hatinya, merobek sisa-sisa kesombongan yang baru saja ia bangun dengan susah payah sepanjang koridor tadi.
Wira menatap wajah Asmara dari samping, mencari-cari raut mengejek atau senyum merendahkan. Namun tidak ada. Gadis itu sudah kembali menghadap ke depan, menatap papan tulis dengan postur punggung tegak sempurna, seolah ia tidak baru saja menjatuhkan bom mental ke pangkuan teman sebangkunya.
Di depan kelas, Pak Budi mulai membuka buku pelajaran Sejarah, suaranya mengalun monoton menjelaskan tentang masa kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara.
Wira menggeser duduknya dengan gelisah. Ia merasa seperti cacing kepanasan. Gengsinya meronta hebat. Otaknya memerintahkan tangannya untuk tetap membiarkan kemejanya terbuka, sebagai bentuk perlawanan bahwa ia tidak peduli dengan sindiran gadis itu. Namun, alam bawah sadarnya bekerja di luar kendali.
Dengan gerakan kaku dan pelan—berharap Asmara tidak melihatnya—jemari Wira merayap naik, mengancingkan dua kancing teratas kemejanya. Ia tidak memasukkan kemejanya ke dalam celana, karena itu sama saja dengan mengibarkan bendera putih, tapi setidaknya ia tidak lagi memamerkan kaus oblongnya secara vulgar.
"Nggak usah sok kenal deh lo!" desis Wira pelan, nyaris hanya berupa gerak bibir, berusaha membalas serangan Asmara. Ia membuang muka ke arah jendela, menatap ke arah lapangan basket sekolah yang sudah mulai disengat terik matahari.
Asmara tidak menoleh, matanya tetap fokus ke papan tulis, tangannya mulai mencatat dengan gerakan gemulai. "Saya memang tidak kenal, Mas Wira," balas Asmara tak kalah pelan, nadanya tetap setenang air telaga. "Saya hanya mengenali seragamnya. Sayang kalau seragam sekolah yang dibeli dengan keringat orang tua, hanya dijadikan alat untuk mencari perhatian."
Wira mendecak kesal, rahangnya mengeras. Mulut gadis ini benar-benar tidak berpadu dengan wajah lembutnya. Setiap kata yang keluar dari bibir Asmara tertata rapi, sangat sopan, namun memiliki ketajaman yang sanggup menguliti ego Wira hidup-hidup.
Wira memutuskan untuk bungkam. Meladeni Asmara dengan kata-kata saat ini hanya akan membuatnya terlihat semakin bodoh. Ia menyilangkan tangan di dada, menyandarkan kepalanya ke dinding dekat jendela, dan pura-pura tidur.
Namun, Wira sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Dari sudut matanya, pandangan Wira terus-menerus tercuri, ditarik oleh semacam magnet tak kasat mata menuju gadis di sebelahnya.
Wira mulai menilai Asmara secara diam-diam.
Ia memperhatikan bagaimana cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden jatuh menerpa sisi wajah Asmara, membuat kulit kuning langsatnya tampak bersinar. Ia memperhatikan cara Asmara memegang pulpen—begitu rileks namun stabil.
Catatannya di buku tulis tampak sangat rapi, nyaris seperti hasil ketikan komputer, dengan huruf-huruf tegak bersambung yang mencerminkan keteraturan hidup pemiliknya. Berbeda jauh dengan tulisan Wira yang selalu miring, berantakan, dan kerap keluar dari garis buku.
Samar-samar, Wira kembali mencium aroma itu.
Aroma melati yang lembut, bercampur dengan wangi sabun mandi yang sangat natural, tidak menyengat seperti parfum-parfum manis yang biasa dipakai siswi-siswi di sekolah lamanya.
Semuanya tentang Asmara terasa... pas.
Terlalu sempurna.
Dan justru kesempurnaan itulah yang membuat Wira merasa terancam. Ia merasa seperti seonggok kekacauan yang diletakkan bersebelahan dengan sebuah mahakarya seni bernilai tinggi.
Empat puluh lima menit berlalu layaknya siksaan. Begitu bel pergantian jam berbunyi, Pak Budi menutup bukunya dan keluar dari kelas. Suasana kelas yang tadinya hening seketika mencair, digantikan oleh dengung obrolan khas anak SMA.
Wira meregangkan otot lehernya, bersiap menunjukkan eksistensinya yang sebenarnya. Ia baru saja akan berdiri untuk menyapa beberapa siswa laki-laki di bangku belakang, ketika tiba-tiba tiga orang siswi menghampiri mejanya. Lebih tepatnya, meja Asmara.
"Ra, Asmara. Aku nyuwun tulung dong, tadi catetan yang bagian Perjanjian Giyanti aku ketinggalan, boleh pinjam catetanmu nggak?" ucap salah satu siswi berambut ikal dengan nada yang sangat bersahabat, bahkan cenderung segan.
Asmara tersenyum, menghentikan aktivitasnya merapikan alat tulis. "Boleh, Nisa. Ini dipakai saja dulu, nanti pas istirahat baru dikembalikan," jawabnya seraya menyodorkan buku catatannya yang rapi itu.
"Matur nuwun ya, Ra! Kamu tuh emang selalu jadi penyelamat kelas," balas Nisa kegirangan. Siswi lain di sebelahnya ikut menimpali, "Iya nih. Eh, Ra, nanti siang rapat proker OSIS jadi kan? Anak-anak nungguin arahan dari kamu lho."
"Jadi, Dinda. Insya Allah nanti sepulang sekolah di ruang sekretariat ya," jawab Asmara lembut.
Wira, yang duduk hanya berjarak beberapa jengkal, memperhatikan interaksi itu dengan kening berkerut. Matanya memindai cara teman-teman sekelas memperlakukan Asmara.
Tidak ada yang bersikap sok akrab secara berlebihan, tidak ada yang berani menepuk bahu Asmara sembarangan, namun Wira bisa melihat jelas betapa besar rasa hormat dan kasih sayang yang mereka miliki untuk gadis itu.
Di sekolah lamanya di Bogor, rasa hormat didapatkan dengan cara menunjukkan taring. Wira disegani karena ia jago berkelahi, karena ia tidak takut melanggar aturan, dan karena ia selalu punya cara untuk mengintimidasi orang lain.
Tapi Asmara?
Gadis ini memenangkan respek tanpa perlu menaikkan nada bicaranya. Otoritas Asmara lahir dari keanggunannya, dari kecerdasannya, dan dari ketenangannya.
Seorang siswa laki-laki bertubuh jangkung—kalau tidak salah dengar saat absen tadi namanya Danang—berjalan mendekat. Ia menatap Asmara dengan kikuk. "Ra, maaf ganggu. Soal iuran kas kelas bulan ini, aku baru bisa bayar setengahnya dulu, nggak apa-apa?"
Asmara menatap Danang dengan senyum maklum. "Tidak apa-apa, Danang. Dicatat saja dulu setengah. Nanti kalau ada rezeki lebih baru dilunasi. Jangan dipaksakan ya."
"Makasih banyak ya, Ra," Danang mengembuskan napas lega, sebelum akhirnya matanya beralih menatap Wira yang duduk dengan kaki dinaikkan ke palang meja. Danang tersenyum canggung ke arah Wira. "Halo, Wira. Salam kenal, aku Danang, ketua kelas di sini."
Wira menatap tangan Danang yang terulur. Gengsinya yang sempat padam kini kembali tersulut. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bukan anak baru yang bisa diremehkan.
Alih-alih menjabat tangan Danang dengan benar, Wira hanya menepuk telapak tangan Danang sekilas ala anak jalanan, lalu menarik tangannya kembali ke dalam saku.
"Danang," jawabnya singkat, wajahnya didatarkan, dagunya kembali terangkat pongah. "Lo ketua kelas? Santai aja sama gue. Kalau ada anak yang macam-macam di kelas ini, bilang aja, entar gue yang urus."
Danang tampak terkejut mendengar bahasa dan gaya preman Wira. Ia menarik tangannya dengan canggung, tertawa hambar, lalu buru-buru pamit kembali ke bangkunya.
Asmara yang menyaksikan kejadian itu hanya menggelengkan kepala samar. Ia membuka buku pelajaran selanjutnya tanpa menatap Wira.
"Di sini bukan medan perang, Mas Wira," ucap Asmara pelan, memecah kecanggungan di antara mereka berdua setelah teman-temannya pergi. "Mas tidak perlu bersikap seolah semua orang akan menyerang Mas. Danang itu baik, dia hanya mencoba ramah."
Wira menoleh cepat, merasa terhina.
"Gue nggak butuh keramahan palsu! Dan lo nggak usah sok tahu soal cara gue bergaul. Gue punya cara sendiri buat dihormati!"
Asmara akhirnya menghentikan kegiatannya.
Ia menoleh perlahan, mempertemukan sepasang mata teduhnya dengan tatapan tajam Wira yang sedang membara.
"Dihormati karena ditakuti itu melelahkan, Mas," balas Asmara dengan nada yang entah mengapa terdengar sedikit simpatik, membuat Wira semakin jengkel. "Itu artinya Mas harus terus memakai topeng kesombongan setiap hari, menjaga agar tidak ada celah yang terlihat. Apa Mas tidak capek, terus-terusan marah pada dunia?"
Skakmat ketiga.
Napas Wira tertahan di dada.
Kata-kata Asmara menusuk menembus kulitnya, mengorek isi kepalanya yang paling dalam.
Bagaimana gadis ini bisa membacanya dengan begitu akurat hanya dalam hitungan hari?
Ya, Wira memang lelah. Ia lelah menjadi pemberontak, ia lelah berpura-pura kuat, tapi hanya topeng itulah yang bisa melindunginya dari rasa asing dan kesepian sejak ia "dibuang" oleh ayahnya ke kota ini.
"Bukan urusan lo!" desis Wira tajam, membuang muka ke arah papan tulis dengan dada yang naik-turun menahan gejolak emosi. Tangannya mencengkeram pulpen di atas meja dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Asmara tidak membalas lagi. Ia membiarkan keheningan mengambil alih meja mereka seiring dengan masuknya guru mata pelajaran berikutnya.
Sepanjang sisa jam pelajaran hari itu, Wira tidak berani lagi menoleh ke sebelah kanannya.
Ia bersikap cuek, sedingin es, berpura-pura tidak peduli pada eksistensi gadis di sebelahnya.
Namun di dalam benaknya yang riuh, Wira tahu persis bahwa dinding pertahanannya sedang diuji oleh kekuatan yang tidak ia mengerti.
Ia pikir ia datang ke Jogja untuk menaklukkan kota ini.
Namun perlahan ia mulai menyadari, jika ia tidak berhati-hati, justru hatinyalah yang akan takluk pada gadis bernama Asmara ini.