Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 8
Mas Hendra tersentak kaget, mundur setengah langkah. "Syad... ini bukan gitu maksudnya..."
"Kalian telepon aku tadi siang! Siska menangis di telepon bilang Ibu kritis! Bilang Ibu lemas sampai nggak bisa bangun!" seru Arsyad, melangkah mendekati adik dan kakaknya dengan mata merah menahan murka.
"Aku bahkan harus menunda pekerjaan yang masih banyak, rela ngebut, kepikiran sepanjang jalan, bahkan sambai berkelahi sama Zemima di telepon... dan kalian ternyata baru pulang bersenang-senang belanja?!"
"Arsyad, kamu kok malah bentak kita sih?!" sela Rika tak terima, mencoba membela diri.
"Kami itu sekalian jalan! Kan Siska butuh baju baru buat wawancara kerja, Hendra, aku dan anak-anak juga butuh..."
"Butuh belanja barang mewah pakai uang yang aku kirim buat operasional rumah utama?!" potong Arsyad tajam, napasnya memburu.
"Aku banting tulang di kantor sampai mau gila diintimidasi bos! Mas mikirin kesehatan Ibu! Tapi kalian bertiga malah manfaatin situasi buat drama?!"
Siska memucat, matanya berkaca-kaca karena kaget mendapati kakaknya yang biasa selalu membela mereka kini berbalik menyerang.
"Mas Arsyad... tapi kan Mbak Zemima juga jahat! Masa kita nggak boleh makan masakan dia?!"
"Kalian ada otak nggak sih?!" tembak Arsyad tanpa ampun, menyapu tumpukan belanjaan di sofa dengan tatapan muak.
"Kalian datang ke rumah orang tanpa salam, bawa anak-anak mengacak-acak rumah, tidak nengok Ibu sama sekali di kamar, terus nuntut dilayani seperti raja?! Kalian pikir Zemima itu pembantu kalian?!"
Mendengar itu, Mas Hendra yang merasa harga dirinya terinjak-injak ikut menyentak.
"Heh, Arsyad! Kamu kok jadi ngebela istri kamu yang kurang ajar itu?! Kamu lupa siapa yang bantu kamu dulu?!"
"Mas Hendra diam!" gertak Arsyad, memotong ucapan kakak tertuanya tanpa ragu.
"Aku capek! Aku capek harus terus menutupi gaya hidup kalian! Mas baru saja kena teguran keras di kantor, dan pulang ke rumah Aku cuma mau ketenangan! Bukan disuguhi kelakuan kalian yang nggak tahu diri begini!"
Zemima yang masih berdiri anggun memegang nampan makanan Bu Rahmi hanya memperhatikan adegan itu dengan senyum tipis yang dingin. Ia menikmati bagaimana pahlawan keluarga itu akhirnya tersadar bahwa benalu yang dibesarkannya sendiri mulai menggerogoti otaknya.
"Bagus kalau kamu akhirnya sadar, Mas," suara Zemima meluncur tenang, memecah ketegangan di antara mereka.
Arsyad membalikkan badan, menatap Zemima dengan raut wajah bercampur aduk antara malu, lelah, dan gengsi yang terpukul hebat.
"Bawa saudara-saudaramu keluar dari rumah ini malam ini juga," lanjut Zemima datar namun penuh penekanan.
"Biarkan mereka menikmati barang-barang belanjaan mereka di luar. Rumah ini butuh ketenangan untuk Ibu istirahat."
Mas Hendra dan Rika melotot, beralih menatap Arsyad dengan tatapan meminta pembelaan.
"Syad! Kamu dengar kan?! Istri kamu ngusir kita! Kamu mau membiarkan kita diusir malam-malam begini?!"
Arsyad memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut hebat. Rasa muak pada kebohongan saudaranya dan rasa malu pada Zemima menyatu menjadi keputusasaan.
"Mas Hendra, Rika, Siska... pulang sekarang," ucap Arsyad pelan, namun suaranya dingin dan tak terbantahkan.
"Arsyad?!" jerit Rika tak percaya.
"Mas bilang PULANG!" bentak Arsyad meluapkan sisa emosinya.
"Bawa anak-anak kalian! Bereskan semua barang belanjaan kalian! Aku mau istirahat!"
Tanpa sanggup berkata-kata lagi, dengan wajah merah padam bercampur malu dan kesal, Mas Hendra, Rika, dan Siska buru-buru menyambar tas belanjaan mereka. Mereka menarik anak-anak mereka yang menangis dan melangkah pergi keluar dari rumah dengan kekalahan telak.
Suara pintu depan tertutup keras. Dapur besar itu mendadak hening mencekam.
Arsyad menyandarkan tubuhnya ke konter dapur, menghela napas panjang dan berat seraya menatap lantai. Ia melirik Zemima dengan raut penuh penyesalan yang tertahan.
"Zemima... Mas..." Arsyad bersuara lirih, suaranya bergetar.
"Mas minta maaf... Mas nggak tahu kalau mereka..."
Zemima menatap suaminya dari atas ke bawah tanpa rasa iba sedikit pun.
"Simpan permintaan maafmu untuk besok pagi, Mas," bisik Zemima dingin seraya memperbaiki pegangannya pada nampan Bu Rahmi.
Zemima berbalik dan melangkah anggun menuju kamar Bu Rahmi, meninggalkan Arsyad yang berdiri mematung sendirian di tengah dapur yang sunyi, diselimuti firasat buruk yang kian mencekik dadanya.
Suara dentum pintu depan yang ditutup kasar masih menyisakan gema pelan di area ruang tengah yang luas. Rumah megah itu mendadak hening, hanya tersisa suara pendingin udara dan detak jarum jam dinding yang ketat.
Arsyad masih berdiri mematung di sisi konter dapur. Jas kerjanya yang mahal terkulai begitu saja di atas lantai marmer, terlupakan. Rasa bersalah yang mendalam, malu yang meremas ulu hati, serta kekesalan pada saudara-saudaranya merobohkan seluruh keangkuhan pria itu.
Zemima tidak mengacuhkannya. Ia meletakkan kembali nampan berisi bubur halus dan sup bening di atas meja makan kayu jati, merapikan letak mangkuk porselen itu dengan ketenangan yang luar biasa, ketenangan yang justru membuat Arsyad makin merasa kerdil.
"Dek..." suara Arsyad terdengar parau, pecah di tenggorokan.
Pria itu melangkah maju. Langkah kakinya begitu pelan dan ragu, tidak ada lagi pijakan tegas penuh kesombongan seperti biasanya. Arsyad mendekati Zemima yang sedang membelakanginya, lalu dengan perlahan menyentuh lembut pergelangan tangan istrinya.
"Zemima... tolong lihat Mas," bisik Arsyad penuh penyesalan.
Zemima membalikkan badan perlahan, menepis halus genggaman tangan Arsyad tanpa emosi yang meledak-ledak. Pandangan matanya lurus dan dingin.
"Mau bicara apa lagi, Mas? Bukannya kamu lapar? Makanannya sudah ada di meja. Cuma dua porsi, tidak ada lagi saudara-saudaramu yang akan merebutnya malam ini," ucap Zemima datar.
"Makan dan setelah itu kamu mandi! Bukannya kamu ada banyak pekerjaan di kantor besok! Aku juga harus bekerja lebih pagi, karena hari ini aku menunda pekerjaan aku. Dan ibu juga sudah sehat! Sudah tidak demam dan bahkan sudah tidak apa-apa seperti yang kamu katakan. Kalau kamu mau antar ibu pulang besok pagi sudah bisa,"
"Dek... Terima kasih, dan maafkan atas ucapan mas padamu... Mas tidak tahu kalau..."
"Sudahlah, Mas! Aku capek. Aku hanya mau makan dan juga istirahat. Aku lelah dengan drama yang di buat saudara-saudara tercintamu! Jangan sampai kamu sakit dan tak bisa memberi mereka uang. Yang ada mereka akan tantrum dan ngamuk! Bahkan untuk bayar token rumah kita saja kamu sampai tidak ada uang!"
"Dek... Maaf..." Hanya dua kata yang keluar dari mulut Arsyad.