Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pria berambut pirang itu langsung melepaskan cengkeramannya dari rambut Tata.
Ia mendorong tubuh gadis itu ke aspal dengan kasar lalu memutar badannya penuh menghadap Jarot.
"Siapa kamu? Berani mengganggu pekerjaan kami?" gertak pria itu menggunakan bahasa Indonesia yang patah-patah.
Tongkat besi di tangannya diputar-putar dengan sangat lincah membentuk formasi pertahanan ganda.
Jarot sama sekali tidak menjawab pertanyaan amatiran dari musuh asingnya itu.
Ia terus melangkah maju dengan kecepatan konstan tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin.
Pria plontos yang tadi hidungnya hancur terkena batu bata mulai bangkit berdiri dengan nafas memburu.
"Bunuh bajingan ini sekarang juga! Hidungku patah gara-gara dia!" teriak pria plontos itu menyeka darah di wajahnya.
Pria plontos itu mencabut sebilah pisau taktis militer berukuran besar dari sarung di pinggangnya.
Bilah pisau bergerigi itu berkilat tajam memantulkan cahaya matahari sore yang mulai meredup.
Wusss.
Pria plontos itu menerjang maju lebih dulu dengan niat menikam langsung ke jantung Jarot.
Langkah pria Rusia berbadan raksasa itu sangat berat dan merusak aspal jalanan di bawahnya.
Tata yang sedang terkapar menahan sakit di pinggir trotoar langsung berteriak memperingatkan Jarot.
"Hati-hati Jarot! Fisik mereka sangat keras seperti dinding beton!" jerit Tata dengan suara parau.
Namun peringatan dari gadis tomboy itu sama sekali tidak digubris oleh Jarot.
Syuuut.
Jarot menyusup ke ruang kosong di bawah ayunan pisau pria plontos itu dengan sangat mulus.
Gerakannya begitu licin hingga pria berbadan besar itu kehilangan jejak sasarannya dalam sekejap mata.
Bugh.
Jarot memukul ulu hati pria plontos itu menggunakan kepalan tangan kanannya.
Namun kali ini, pukulannya tidak menggunakan tenaga ayunan biasa dari bahu.
Jarot memusatkan seluruh daya ledak ototnya dari ujung kaki hingga ke buku-buku jarinya.
Krak.
Terdengar suara tulang rusuk yang patah berantakan dari dalam dada pria plontos tersebut.
"Ugh..." erang pria itu dengan mata membelalak lebar seperti mau keluar dari kelopaknya.
Pria Rusia bertubuh raksasa itu langsung memuntahkan darah hitam dari mulutnya dan ambruk ke aspal seperti pohon tumbang.
Bruk.
Pria itu pingsan seketika dengan nafas putus-putus menahan rasa sakit di organ dalamnya yang hancur.
Pria berambut pirang yang melihat kejadian itu langsung terpaku kaku di tempatnya berdiri.
"Tidak mungkin! Tubuh temanku itu kebal pukulan dari atlet tinju kelas berat!" gumam pria pirang itu tidak percaya.
"Teknik mengeraskan otot perut itu cuma trik murahan yang diajarkan pada penjaga pintu club malam," ucap Jarot santai merendahkan teknik musuhnya.
"Dan kamu mematahkan tangan muridku menggunakan mainan anak kecil itu?" lanjut Jarot menunjuk tongkat besi di tangan pria pirang.
Mendengar nadanya diremehkan, ego pembunuh bayaran Rusia itu langsung meledak tidak karuan.
"Mati kamu, bedebah!" teriak pria pirang itu mengayunkan tongkat besinya ke arah leher Jarot.
Ayunannya sangat cepat dan bertenaga penuh untuk memutus urat leher manusia dalam sekali serang.
Trang.
Jarot sama sekali tidak menghindar dan hanya mengangkat lengan kiri bawahnya untuk menangkis.
Tongkat besi padat itu membentur tulang lengan Jarot dengan suara nyaring yang sangat memekakkan telinga.
Tata menutup kedua matanya karena tidak sanggup melihat lengan gurunya patah seperti miliknya.
Namun saat ia membuka mata kembali, pemandangan mustahil tersaji jelas di depan wajahnya.
Lengan Jarot sama sekali tidak bengkok atau berdarah akibat hantaman senjata tumpul tersebut.
Sebaliknya, tongkat besi milik pria Rusia itulah yang terlihat penyok dan melengkung akibat membentur lengan Jarot.
"M-Monster..." bisik pria berambut pirang itu menatap tongkatnya yang rusak dengan tangan gemetar.
Sret.
Tanpa basa-basi lagi, Jarot langsung mencengkeram kerah jaket pria pirang itu dengan tangan kanannya.
"Kamu suka mematahkan tulang anak perempuan ya? Coba rasakan sensasi yang sama di lenganmu sendiri," bisik Jarot dengan senyum mematikan.
Krak. Krak.
Jarot memelintir lengan kanan pria Rusia itu hingga berputar seratus delapan puluh derajat ke arah belakang.
"Aaaaaaargh!" jerit pria pirang itu melolong sangat keras menahan rasa sakit yang merobek kewarasannya.
Tulang lengan atas dan siku pria itu patah berkeping-keping mencuat keluar menembus daging dan jaketnya.
Darah segar langsung menyembur deras membasahi aspal jalanan di bawah kaki mereka.
Jarot kemudian melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tubuh pria itu jatuh terkapar di trotoar.
Kedua pembunuh bayaran asing yang ditakuti itu kini terkapar tidak berdaya layaknya serangga mati di jalanan.
"Selesai, pemanasannya lumayan juga buat sore hari yang membosankan ini," gumam Jarot mengelap sedikit darah di tangannya ke celana musuhnya.
Jarot berjalan santai menghampiri Tata yang masih duduk berlutut memegangi lengannya yang patah.
Gadis berambut pendek itu menatap Jarot dengan tatapan campuran antara rasa takut, bersalah, dan kekaguman yang mutlak.
"Jarot... Maafkan aku, aku sangat bodoh dan keras kepala karena melanggar aturanmu," ucap Tata sambil menangis terisak-isak.
"Memang bodoh dan keras kepala," jawab Jarot membenarkan perkataan Tata tanpa ada niat menghibur sedikit pun.
Jarot berjongkok di hadapan muridnya itu dan memeriksa kondisi lengan kirinya yang bengkak parah.
"Tulang pengumpilmu patah bersih, untungnya tidak sampai menembus daging keluar," diagnosis Jarot memegang lengan Tata dengan sangat hati-hati.
"Sakit sekali rasanya... Apakah tanganku ini harus diamputasi?" tanya Tata mulai panik membayangkan masa depan bela dirinya hancur.
"Tidak perlu amputasi, tapi aku harus menyambungnya secara manual sekarang juga sebelum darahnya membeku," jawab Jarot tegas.
Tata menelan ludahnya membayangkan proses penyambungan tulang patah tanpa obat bius di pinggir jalan.
"Gigi gigimu yang kuat, Mbak Tata. Rasanya ini bakal seperti disengat listrik ribuan volt," peringat Jarot sebelum bertindak.
"Lakukan saja, Jarot. Aku pantas menerima rasa sakit ini sebagai hukumanku," balas Tata memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
Krek. Krak.
Jarot menarik telapak tangan Tata dengan kuat lalu menekan tulang lengannya yang patah secara paksa ke posisi semula.
"Aaaaaaaaakh!" teriak Tata melengking keras hingga suaranya serak sebelum akhirnya pingsan karena menahan sakit yang tidak manusiawi.
Tubuh lemas gadis itu langsung jatuh ke dalam pelukan Jarot.
"Gadis bodoh ini benar-benar tidak kenal rasa takut," gumam Jarot memuji ketahanan mental muridnya yang rela disakiti demi kesembuhan.
Jarot menggendong tubuh Tata dengan sangat hati-hati agar posisi lengan yang baru disambungnya tidak bergeser lagi.