Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Yang Hampir Tertunda
Pagi itu langit terlihat mendung kelabu, seakan ikut merasakan kesedihan yang menyesakkan dada. Hari yang paling ditakuti akhirnya tiba yaitu hari keberangkatan Arka. Laras bangun sejak fajar menyingsing, jantungnya berdebar tidak menentu.
Dia sudah menyiapkan sebuah kotak kecil berisi kenang-kenangan untuk Arka dan sebuah lukisan pemandangan senja, persis seperti senja yang mereka lihat bersama di pinggir lapangan sekolah, dan selembar surat yang ditulisnya dengan air mata yang tak terhapus.
Sesampainya di bandara, Laras melihat mobil Arka sudah terparkir di area pemberangkatan. Dia berjalan mendekat dengan langkah yang terasa berat seakan ada beban berat di kakinya.
Arka sedang berdiri di samping koper-kopernya, menatap ke arah jalan masuk dengan tatapan yang tidak sabar sekaligus sedih. Saat melihat Laras, senyum tipis namun penuh makna terukir di wajahnya.
"Gue pikir lu nggak akan datang. Gue takut lu memilih tidak melihat gue pergi supaya tidak terlalu sedih," ucap Arka pelan saat Laras berdiri di hadapannya.
Laras tersenyum getir sambil menyodorkan kotak kecil itu. "Gue tidak akan melewatkan momen ini. Walaupun menyakitkan, lu berhak tahu bahwa kehadiran lu di hidup gue adalah hal terindah yang pernah terjadi. Baca suratnya setelah lu sampai di tempat baru ya."
Arka menerima kotak itu dengan hati-hati, seakan itu adalah benda paling berharga di dunia. Namun saat dia hendak memeluk Laras untuk terakhir kalinya, panggilan dari pengeras suara terdengar memanggil namanya, memberitahukan bahwa pesawatnya akan segera lepas landas dalam sepuluh menit lagi. Ayahnya memanggilnya dari pintu masuk, memberi isyarat agar segera masuk.
Arka menggenggam tangan Laras erat sekali. Matanya menatap tidak ingin berpisah. "Gue harus pergi sekarang. Tapi ingat, tidak ada jarak yang bisa memisahkan hati kita. Gue akan selalu kembali, secepat yang gue bisa."
Laras mengangguk sambil menahan isak tangisnya. "Hati-hati di jalan, Ka. Selamat jalan, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi di bawah langit yang sama."
Arka melepaskan genggamannya perlahan, lalu berjalan mundur sambil terus menatap Laras. Dia melambaikan tangan, dan Laras membalasnya dengan tangan yang gemetar. Dia berjalan masuk, menghilang di balik pintu pemeriksaan keamanan.
Laras berdiri di sana sendirian, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Rasanya seperti ada bagian dari dirinya yang ikut pergi bersamanya.
Namun belum lama Laras berdiri di sana, tiba-tiba dia melihat seseorang berlari keluar dari pintu keberangkatan. Itu Arka! Dia kembali berlari ke arahnya dengan napas terengah-engah. Wajahnya terlihat bingung namun ada kelegaan yang luar biasa.
"Penerbangan... penerbangan itu tertunda karena ada kerusakan kecil. Mereka memperbaikinya dan baru akan lepas landas dua jam lagi," ucap Arka sambil tersenyum lebar, senyum yang begitu tulus dan penuh harapan.
Laras tidak bisa menahan rasa bahagia yang tiba-tiba datang. Dia berlari menghampiri Arka dan memeluknya erat, air matanya kini jatuh karena kebahagiaan. "Kita punya waktu dua jam lagi. Dua jam penuh, bukan menit lagi."
Mereka menghabiskan dua jam yang berharga itu di bangku teras bandara, berbincang tentang mimpi mereka, tentang harapan, tentang janji untuk saling menulis surat dan menelepon sesering mungkin.
Tidak ada air mata kesedihan di jam-jam itu, hanya rasa syukur yang mendalam karena waktu masih memberi mereka kesempatan untuk berbicara lebih lama, untuk tersenyum satu sama lain sekali lagi, dan untuk mengukir kenangan yang lebih utuh di hati masing-masing.
Saat panggilan terakhir akhirnya terdengar, perpisahan terasa sedikit lebih ringan. Karena mereka tahu, perpisahan ini bukan akhir cerita mereka. Ini hanyalah jeda sebelum babak baru dimulai.
Arka melangkah masuk dengan senyum di wajahnya, dan Laras melambaikan tangan dengan harapan di dadanya. Dia pulang dengan hati yang penuh, bukan kosong.