Rasa percaya diri Refisha benar-benar hilang karena di usianya yang sudah memasuki 29 tahun, orang tuanya berkali-kali menjodohkan, tetapi banyak kendala pria menikahinya dan termasuk banyak orang tua pria yang tidak setuju menikah dengan.
Refisha juga selalu bertentangan dengan adiknya yang sudah berusia 24 tahun dan ingin secepatnya menikah. Banyak sekali permasalahan percintaan dalam hidupnya yang tidak sesuai dengan karirnya dalam dunia pekerjaan.
Sampai seketika orang tuanya kembali menjodohkannya dengan seorang Ustadz, Refisha tidak pernah menolak apapun yang dilakukan orang tuanya, dia setuju, tetapi bukannya kebahagiaan yang didapatkan justru penghinaan dari pria yang memahami permasalahan agama itu membuat kepercayaan dirinya semakin hilang.
Lalu siapa sangka Ustadz pemuka agama itu menolaknya, satu pria pria yang dia temui tidak sengaja dengan usianya yang lebih muda, justru ingin melamarnya, mengejarnya dengan cara ugal-ugalan.
Mari mengikuti ceritanya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Ajakan Suami.
Meski sudah menikah Refisha ternyata tetap melanjutkan bisnisnya. Saat ini Refisha berada di pabrik tempat pembuatan parfum produknya. Refisha terlihat menyusun dokumen di dalam ruangannya.
TOK-TOK-TOK
"Masuk!" sahut Refisha tampak melihat ke arah pintu sampai akhirnya pintu itu dibuka.
"Istriku bekerja begitu serius!" Refisha mengangkat kepala dan orang tersebut tak lain adalah Ezra.
"Kamu," sahut Refisha mengerutkan dahi.
"Kamu kenapa kaget seperti itu ketika suaminya datang? Tidak suka dengan kehadiran suaminya?" tanyanya dengan satu alis terangkat, Refisha menggelengkan kepala.
"Memang kamu tidak kekantor?" tanya Refisha.
"Masih pagi, jadi aku mampir ke tempat kamu dan ini aku bawakan kue untuk kamu," ucap Ezra memberikan kantong plastik yang berisi kotak kue.
"Terima kasih, duduklah!" Refisha mempersilahkan suaminya untuk duduk disofa yang ada di sana.
Ezra menganggukkan kepala dan langsung duduk dengan satu kakinya diletakkan di atas pahanya dan mengeluarkan ponselnya. Ezra menoleh ke arah Refisha yang ternyata tetap fokus pada pekerjaannya.
Daripada Ezra bosan dan lebih baik yang dia lakukan sekarang ini mengambil ponselnya dan terlihat bermain game. Tetapi sesekali dia masih menoleh ke arah sang istri yang benar-benar sangat fokus.
"Refisha, aku pinjam kamar mandi kamu ya," ucap Ezra berdiri dari tempat duduknya.
Refisha menganggukan kepala dengan mengarahkan matanya tertuju pada kamar mandi di ruangan itu. Ezra menghela nafas dan meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian langsung menuju kamar mandi.
Dratt-dratt-dratt, Dratt-dratt-dratt.
Mata Refisha melihat ke arah meja saat ponsel suaminya itu berdering.
"Ezra handphone kamu sejak tadi bunyi, mungkin ada penelpon yang penting!" ucap Refisha sedikit mengeraskan suaranya.
"Kamu angkat saja Refisha!" ucap Ezra.
Refisha keluar dari area tempat duduknya dan kemudian menghampiri sofa dengan melihat panggilan telepon tersebut Mama cerewet, dalam kontak nama tersebut yang tak lain adalah ibunya.
Refisha kemudian mengangkat telepon itu mulutnya bergerak yang ingin mengucapkan salam.
"Kamu di mana Ezra, papa kamu menunggu kamu sejak tadi, kamu tidak tahu pagi ini ada rapat penting dengan pengelola saham, kamu ini bagaimana sih, selalu tidak pernah peduli dengan pekerjaan dan selalu malas-malasan. Kenapa kamu tidak bisa diandalkan tentang pekerjaan!"
"Istri kamu saja baru 3 hari menikah dengan kamu dan sudah masuk kerja, kalau begini terus kamu membiarkan istri kamu sibuk dengan pekerjaannya yang adanya kalian benar-benar tidak akan diberi kesempatan untuk punya anak, kamu sudah tahu Refisha memasuki umur yang sulit hamil dan kamu tidak bisa mengendalikannya,"
Refisha benar-benar tidak sempat mengucapkan salam dan sudah semburan dari mertuanya yang memang bukan untuknya secara langsung.
"Ezra kamu dengar Mama apa tidak!" bentak Bitha.
"Ezra di kamar mandi. Ma, ini Refisha!" akhirnya Refisha mengeluarkan suara.
"Jadi kamu, ya sudah nanti kamu kasih Ezra untuk segera datang ke kantor dan jangan buat papanya menunggu!" tegas Bitha.
Tut-tut-tut-tut.
Panggilan telepon itu dimatikan secara sepihak membuat Refisha tampak begitu murung.
"Siapa Refisha?" tanya Ezra sudah keluar dari kamar mandi.
"Mama," jawabnya memberikan ponselnya pada sang suami yang Ezra mengambilnya.
"Mama bilang apa?" tanya Ezra kembali duduk di sofa.
"Kamu seharusnya ke kantor ada meeting dengan pengelola saham dan Papa sudah menunggu sejak tadi, Mama marah, kamu juga tidak bisa mengendalikanku yang langsung masuk kerja dan seharusnya fokus pada pernikahan kita," ucap Refisha.
Ezra kesulitan menelan ludah, melihat ekspresi istrinya itu sepertinya sudah membuatnya mengetahui bahwa pasti ada sesuatu kata-kata dari ibunya yang menyinggung istrinya.
Refisha tidak ingin membahas apapun yang ingin kembali ke meja kerjanya tetapi tangannya ditahan Ezra, membuat Refisha menoleh.
Ezra kemudian membawa sang istri untuk duduk di sisinya dengan perlakuan yang sangat lembut.
"Maaf ya," ucap Ezra menatap sang istri begitu dalam.
"Maaf untuk apa?" tanyanya.
"Karena apa yang terjadi, Mama bicara memang sembarangan, tapi aku yakin pasti kalimat yang Mama ucapkan tidak sengaja," ucap Ezra.
"Ezra, lalu kenapa kamu tidak ke kantor?" tanya Refisha.
"Huhhhh, ini hanya pertemuan dengan pengolah saham, rapat itu menurutku tidak penting, pendapat mereka yang paling benar dan percuma keberadaanku di sana, mereka hanya meremehkan, merendahkan, lalu untuk apa membutuhkan ku," jawab Ezra yang sepertinya memang sengaja menghindari rapat tersebut.
"Sudahlah Refisha, kamu tidak perlu memikirkan itu, Papa selalu memaklumiku dan Mama saja yang terlalu cerewet," sahut Ezra.
"Sepertinya Mama keberatan jika aku tetap fokus pada perusahaanku," ucap Refisha.
"Mama tidak punya hak untuk pekerjaan kamu, Refisha kamu bukan bekerja di perusahaan orang lain, kamu bukan karyawan, tetapi kamu bekerja dengan bisnis kamu sendiri yang artinya kamu adalah pengendalinya dan mana mungkin setelah kita menikah kamu akan meninggalkan semua itu," ucap Ezra sejak awal memang tidak ingin mengganggu pekerjaan istrinya.
"Tetapi dari apa yang dikatakan Mama, dia benar-benar keberatan dan ingin aku fokus pada pernikahan kita dan apalagi karena usiaku yang mungkin memasuki dalam tahap kesulitan untuk hamil," ucap Refisha.
Ezra tersenyum dengan memegang pipi sang istri.
"Untuk hamil bukan menghentikan pekerjaan, tetapi hal yang harus dilakukan berhubungan badan terlebih dahulu, mau kamu tidak bekerja lagi, kamu juga tidak mungkin hamil jika aku tidak menyentuhmu," ucap Ezra.
Refisha seketika terdiam, perkataan suaminya itu merupakan sindiran untuknya agar melayani suami, meski Ezra sebenarnya tidak bermaksud seperti itu.
"Jadi harus ada tindakan dari kedua belah pihak dulu, dipercepat lebih baik, bukan menghentikan pekerjaan," lanjut Ezra.
"Maafkan aku Ezra, sepertinya dalam hal ini aku telah mengabaikan tugasku, sungguh aku tidak bermaksud untuk tidak menjalankan tugasku sebagai seorang istri," ucap Refisha.
"Saya tidak pernah menganggap bahwa kamu sengaja melalaikan tugas kamu, tidak apa-apa Refisha, jika kamu belum siap maka saya akan tetap menunggu," ucap Ezra.
"Insyaallah aku sudah siap," sahut Refisha benar-benar tahu diri tugasnya sebagai istri.
"Kalau begitu kita lakukan sekarang!" sahut Ezra benar-benar sangat tengil.
Refisha sampai melotot dengan jawaban cepat suaminya itu.
"Ezra ya nggak sekarang juga, masa iya mau malam pertama harus di dalam ruangan," ucap Refisha merasa aneh.
"Aku hanya bercanda agar tidak terlalu tegang," ucap Ezra.
Ezra tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, tampak kertas ukuran kecil yang memberikan Refisha.
"Aku mengundangmu untuk makan malam, datanglah!" ucapnya memberikan alamat pada kertas yang diberi pita itu.
Refisha melihat undangan pada kertas itu yang ternyata sebuah Resort.
Refisha menganggukan kepala menuruti permintaan suaminya.
Bersambung.....