Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mustahil!
...•••...
“Gila. Enak banget makanannya.” Sian mengunyah dengan lahap, matanya berbinar seolah baru menemukan makanan terenak di dunia.
“Kenapa nggak di makan?” tanya Sian begitu melihat piring di hadapan Jay yang bahkan belum disentuh sama sekali.
Sian lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang dengan ekspresi muak ketika melihat Jay kembali fokus pada ponselnya, terus memantau keberadaan perempuan yang dicintainya itu.
Dua hari setelah UAS selesai, keduanya langsung memutuskan untuk pulang ke kota asal Jay untuk menghadiri pernikahan ayahnya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, kini mereka sedang beristirahat di sebuah restoran sekaligus makan pagi yang dirapel menjadi makan siang.
Sian mengambil piring Jay, menyendokkan sedikit makanan, lalu mengayun-ayunkan seperti pesawat.
“Aaa…” Sian mengarahkan sendok itu ke bibir Jay. “Makan dulu nih, anak Papa,” ledeknya gemas.
Mendengar itu, Jay langsung tersenyum lebar sebelum melahap makanan yang disuapkan kepadanya. “Perhatian banget,” kekehnya sambil mengunyah.
“Makan lah anjir. Kalau lo sakit, siapa yang bawa mobil?! Gue nggak, bisa, ya!”
“Ya kalau nggak bisa, belajar, cuyy,” sahut Jay enteng.
Ia kembali membuka mulut, menunggu Sian menyuapinya lagi. “Suapin lagi~” pinta Jay begitu melihat Sian hendak menyantap makanannya sendiri.
“Makan sendiri, anjir! Lo kan punya tangan.”
“Gue maunya disuapin…” rengek Jay memasang wajah yang dibuat-buat memelas. “Buru, lah. Katanya biar gue nggak sakit?”
Sian mendengkus pelan, tetapi tetap kembali menyuapi. Mau bagaimana lagi? Kalau dibiarkan, bisa-bisa makanan Jay benar-benar tidak disentuh sama sekali.
Benar saja, tak butuh waktu lama sampai makanan di piring Jay akhirnya habis tak bersisa. Beberapa pengunjung bahkan sempat melirik ke arah mereka. pemandangan Sian yang telaten menyuapi Jay, sementara Jay menerimanya dengan sumringah tanpa sedikit pun merasa canggung, barangkali mengundang berbagai prasangka di benak orang-orang yang melihatnya.
“Jujurly, gue muak banget lihat lo kayak gitu,” kata Sian kembali bersuara.
Setelah selesai makan, keduanya kembali masuk ke dalam mobil.
"Gue punya firasat nggak enak, Cil." Jay menatap Sian dengan ekspresi seriusnya.
Selama 2 Minggu terakhir ini, "orang-orangnya" berhasil menemukan keberadaan perempuan yang dicintainya itu. Dari foto yang dikirim, perempuan itu kini tampil begitu berbeda dibandingkan ketika dulu mereka masih bersama.
Tak ada lagi rambut pendek dengan warna mencolok dan gaya berpakaian yang begitu nyentrik. Yang ada hanya seorang perempuan dewasa yang begitu elegan, dengan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat.
Jay yang melihat foto itu tentu saja merasa senang bercampur rindu, hingga benar-benar ingin merengkuh tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya saat ini juga.
Ia bersyukur kalau perempuan itu memang hidup dengan baik selama ini.
Ya… Jay bersyukur akan itu, meskipun selama ini dirinya begitu mati-matian mencari keberadaannya.
Namun, ada satu hal yang membuat perasaannya kembali tidak tenang.
“Kenapa jadi lo yang nervous dah? Kan yang nikah bokap lo?” tanya Sian heran.
“Bukan itu…”
“Terus apa?”
“Gue udah dapat kabar pastinya soal dia,” kata Jay mulai menjelaskan apa yang membuat perasaannya gundah.
“Ya bagus dong kalau gitu? Berarti bentar lagi lo bakal ketemu dia?”
“Masalahnya… selama 2 Minggu terakhir ini, dia datang ke rumah gue.”
Sian terdiam cukup lama sebelum akhirnya angkat bicara. “Ya mungkin aja dia emang rekan kerja bokap lo."
“Rekan kerja dari Hongkong!” Delik Jay malas menatap Sian. “Kan lo juga tau kalau dunia kerja mereka itu beda! Ibaratnya langit dan bumi.” Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Lima hari terakhir, dia emang nggak datang-datang lagi. Tapi sekarang, dia malah ada di rumah gue lagi." Jay menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke jok. Kepalanya benar-benar pening, begitu pula perasaannya yang semakin kacau.
“Tumben banget lo mikir negatif? Biasanya juga si paling berpikir positif kalau udah menyangkut dia.” Sian menyeringai. “Sans ajalah, bro. Nggak usah dibawa ribet. Intinya, dia di rumah lo karena diundang ke nikahan bokap lo! Udah gitu aja mikirnya.”
“Mustahil!” sanggah Jay.
“Apanya yang mustahil, sih?” Sian benar-benar heran dengan Jay. “Ya bisa aja, kan, bokap lo punya teman, nah teman bokap lo itu temenan sama dia.” Ia benar-benar berusaha menenangkan sahabatnya itu, apalagi perjalanan mereka masih lumayan jauh.
Sian hanya tidak ingin terjadi apa-apa di jalan nanti.
“Emangnya… skenario terburuk apa yang terlintas di kepala lo?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG