Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erik Udah Gila
"Dek, kamu harus janji, jangan kasih tau semua orang kalau kak Marsya hilang"
"Iya kak, tenang aja. Semoga Kak Marsya cepat ketemu, ya"
Sudah dua puluh menit Marsya menghilang dari acara. Dikamar, kamar mandi, area kolam renang, taman belakang dan depan, Kyle, Leo dan Nathan masih belum menemukan Marsya disudut mana pun. Padahal sejak tadi Marsya bermain bersama Ivy dan keponakan lainnya. Menurut kesaksian Ivy pada Nathan, Marsya pamit membeli ice cream didepan rumah namun sampai sekarang Marsya belum juga kembali.
Sekarang, Leo dan Nathan semakin bingung harus mencari Marsya kemana lagi. Kyle pun belum memberi kabar apapun pada mereka. Ketiga laki-laki itu mencari Marsya dalam mode senyap, tidak ada satupun keluarga yang tahu kalau Marsya menghilang.
Mereka hanya tidak mau mengacaukan hari bahagia Sekar yang sedang berlangsung dan juga tidak mau membuat semua keluarga mengkhawatirkan Marsya. Khususnya Sekar dan Rianti yang riskan terkena serangan jantung bila mengetahui cucu mereka menghilang entah kemana.
Disisi lain, Kyle baru saja tiba dirumah Erik sebab menurut kecurigaan Leo, Erik lah yang membawa Marsya pergi. Tentu Leo tidak asal menaruh curiga, sebab saat dia mengajak Erik datang bersama ke ulang tahun Sekar, Erik menolak mentah-mentah undangan itu. Erik mengatakan dia hanya akan datang jika Marsya mau menemuinya, jika tidak, Erik akan datang namun dia akan membawa Marsya secara paksa.
Ucapan Erik terdengar ancaman dan Leo sudah mengingatkan untuk tidak gegabah serta tidak mencari masalah dengan Kyle. Namun Erik tetap lah Erik yang tidak akan menyerah begitu saja, dia akan bertindak nekat sesuka hatinya.
"ARGH!" Kyle berteriak, dia menendang botol minuman keras yang berserakan dilantai. Kedatangannya tidak berbuah apa-apa, dia tidak menemukan Erik atau pun Marsya disana dan itu membuatnya semakin kesal dan marah.
"Kalau Marsya ada sama lo, gue nggak akan nahan diri lagi, gue pastiin ini hari terakhir lo hidup, Rik"
Hari sudah semakin sore dan Marsya masih belum juga ditemukan. Waktu sudah berlalu cukup lama dan Nathan tidak bisa lagi menyembunyikan keadaan Marsya kepada keluarga. Nathan katakan yang sejujurnya setelah meminta maaf karena sudah menyembunyikan hal sepenting itu. Setelah mendengar kabar puterinya menghilang, Tania langsung tidak sadarkan diri, begitu pun dengan Rianti yang kesehatannya menurun seketika.
Seluruh keluarga sedih dan menangis, mereka menunggu kabar Hendry, David dan Damian yang pergi ke kantor polisi untuk mendapatkan bantuan pencarian Marsya. Sebab sudah begitu lama, mereka takut puteri mereka dalam bahaya. Karena setiap detik yang berlalu, ada Marsya yang berharap mendapat pertolongan.
Di basecamp, Leo masih terus menenangkan Kyle yang menangis sejak tadi. Keduanya sudah frustasi, mereka tidak menemukan satu pun tanda keberadaan Marsya. Entah kemana Marsya dan bersama siapa, mereka sudah seperti orang bodoh yang mencari Marsya ke semua tempat. Namun hasil yang mereka dapatkan hanya membuat keduanya sedih dan semakin terpuruk.
Terutama Kyle yang baru saja memulai lembaran baru dengan Marsya, sekarang harus tersiksa kehilangan jejak sang istri tercinta. Kyle tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena lagi-lagi dia lalai menjaga Marsya. Kyle membodohi-bodohi dirinya, dia ucapkan kata-kata kasar untuk dirinya sendiri yang tidak becus menjadi suami siaga untuk Marsya.
Disisi lain, Marsya baru terbangun setelah entah berapa lama kehilangan kesadaran. Kepalanya terasa sangat sakit, penglihatannya sedikit buram. Marsya mengerjap mata berkali-kali, dia coba cermati tempat yang dia tinggali saat ini. Sebuah kamar petak berukuran kecil, dengan kasur tipis dan pencahayaan yang minim. Marsya tidak mengenal tempat ini, tentu ini tempat yang jauh dari rumahnya.
"Erik!" Marsya menjerit, dia memanggil Erik. Ya, yang menculiknya adalah Erik. Laki-laki itu yang membawanya pergi saat hendak membeli ice cream didepan rumah. Erik memanfaatkan keadaannya yang lemah untuk mengelabui Marsya. Dia menjual kesedihan agar Marsya luluh dan mau menemaninya memeriksa kesehatan kerumah sakit. Padahal itu hanya alasan belaka. Sayangnya, Marsya yang begitu mengkhawatirkan Erik, justru masuk kedalam jebakannya.
"Hai, Sayang? Udah bangun?"
"Erik, lepasin aku sekarang!"
"Nggak akan! Kamu udah bikin aku sedih, Sya. Kamu hapus foto-foto kita dan kamu upload foto si penghianat itu!"
"Kamu bahkan kenalin dia sebagai suami kamu, aku cemburu, Sya, aku cemburu!"
"Aku nggak peduli, Rik. Aku cuma mau pulang"
"Pulang? Pulang ke laki-laki penghianat itu? Yang udah ngerebut kamu dari aku?"
"Rik, kita udah nggak ada hubungan apa-apa, jadi lepasin aku. Kalau Kyle tau, dia-"
"KYLE! KYLE! KYLE! Apa hebatnya Kyle, ha? Apa?!"
"Dia nggak lebih dari penghianat, Sya. Dia pakai cara kotor buat nikahin kamu, iya kan?"
"Erik..." Marsya memejamkan matanya, tenggorokannya terasa sangat sakit sebab dia tidak minum sejak tadi. Yang Marsya ingat, Erik hanya mencekokinya dengan minuman keras sampai Marsya kehilangan kesadaran. Dan sekarang, saat bicara tenggorokannya begitu tajam seakan menelan pecahan kaca.
"Erik, aku mau minum"
"Iya, tunggu ya, Sayang" Erik melenggang meninggalkan kamar, tidak butuh lama dia sudah kembali membawa gelas berisi air minum.
Erik tidak memberikan gelas itu pada Marsya karena dia tahu Marsya tidak bisa memegang dengan tangan yang diikat kebelakangnya. Dan juga, Erik tidak bersedia menyuapi gelas itu untuk Marsya. Alhasil, Erik keluarkan idenya yang licik, dia teguk air mineral itu kedalam mulutnya dan dia berikan kepada Marsya lewat bibirnya. Marsya meneguknya dengan rakus karena tenggorokannya semakin sakit dan panas.
"Aku mau lagi"
"Uh, Sayangku, aku tau kamu kangen ciuman aku kan?"
"Aku mau minum, Rik"
"Haha, iya iya, Sayang" Erik lakukan hal yang sama, meneguk minuman itu dan dia berikan lewat bibir Marsya. Beberapa kali, sampai Marsya merasa cukup.
"Sya, jujur, bibir kamu masih enak seperti biasa. Kalau kamu masih suka bibir aku, kan?"
"Aku lebih suka bibir Kyle, rasanya jauh lebih enak punya Kyle"
"Marsya!" Erik berteriak, dia jepit kedua pipi Marsya cukup kencang, "Kamu bikin aku marah"
"Aku nggak akan maafin kamu, Sya"
"Ck, kamu curang, Rik. Kamu nggak gentleman, kamu nggak berani ngadepin Kyle makanya kamu culik aku, kan? Pengecut"
"MARSYA!"
"Apa?! Aku nggak takut sama pengecut kayak ka- hmph..." Marsya kehilangan suaranya, Erik membungkamnya dengan ciuman. Marsya berusaha memberontak dengan tangan dan kaki yang terikat. Tentu sangat sulit, keadaannya sekarang tidak bisa membuatnya bergerak bebas.
Jangankan menyingkirkan Erik, Marsya saja tidak bisa menghindari ciumannya. Erik begitu kuat, dia menahan tengkuk Marsya agar ciumannya tidak terlepas. Namun Marsya tidak bisa menerimanya terus-menerus, dia harus melawan Erik.
"Akh!" Erik menjerit kesakitan, dia seka bibirnya yang mengeluarkan darah karena gigitan Marsya.
"Sya, selama tiga tahun pacaran, kamu nggak pernah cium aku sampai kayak gini, kamu selalu lembut"
"Kamu pikir aja kenapa aku kayak gini, dasar bodoh"
"Marsya!" Erik kembali berteriak, kali ini dia mencengkram rambut Marsya, tatapannya menusuk dan matanya memerah, Erik sudah mencapai batas kesabarannya.
"Lepasin aku, Rik"
"Nggak semudah itu, Sya. Kamu harus ikutin syarat dari aku"
"Apa?"
"Tidur sama aku, malam ini aja"
"Erik! Kamu jangan kurang ajar!"
"Hahaha, jangan panik, Sayang, kita pelan-pelan aja" Erik mulai beraksi, dia turunkan satu persatu dress dari bahu Marsya sampai terlihat satu-satunya tali bra tipis dibahunya yang putih
"Rik, jangan kayak gini, kamu pernah janji nggak akan nyentuh aku"
"Janji hanyalah janji, Sayang. Kamu juga janji nggak akan ninggalin aku, tapi nyatanya? Kamu nikah sama penghianat itu"
"Nikmatin dulu malam indah sama aku, kita bercinta sambil dengerin lagu dan mengingat masa-masa bahagia kita"
"Dan besok aku balikin kamu kerumah dengan selamat"
"Cih, aku lebih baik mati disini dari pada serahin diri aku ke kamu, nggak sudi"
"Udah cukup, Marsya! Berhenti sok jual mahal!"
Glek
Glek
Glek
Lagi-lagi Erik cekoki Marsya dengan minuman keras. Marsya yang tidak bisa melawan, terpaksa menerima lagi minuman sampai terbatuk-batuk. Marsya mengumpat, dia berjanji tidak akan melepaskan Erik begitu saja, Erik harus menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya ini.
...•••••...
To be continued guyyss
Gimana bab kali ini?? Jangan lupa komen yaa, ceritanya makin seru nih.....
Kira-kira, Marsya bisa melarikan diri gak yaa? atau Kyle datang diwaktu yang tepat nih???
Buat yg penasaran, jgn lupa dukungannya yaaaaa