Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK MAU DI SERET
"Pak Wiryo itu orang kepercayaan Ibu, Sin. Tukang urus."
Damar berbisik sambil sesekali melirik lorong kosong di belakangnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, padahal malam belum terlalu larut.
"Tukang urus apa?" tanya Sinta datar.
"Dulu waktu tanah warisan Bapak disengketakan sama paman-pamanku, Ibu panggil dia. Seminggu kemudian, semua paman mendadak menandatangani surat damai. Tanpa protes, tanpa ribut." Damar menelan ludah. "Aku pernah tanya apa yang terjadi. Ibu cuma bilang, 'Jangan tanya urusan orang tua.'"
"Jadi dia preman."
"Aku nggak tahu pasti. Tapi orang-orang kampung takut sama dia."
Sinta meletakkan taplak yang sedang dilipatnya. Gerakannya pelan, tidak terburu-buru. Dadanya berdegup kencang, tapi tidak ada gemetar di tangannya. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sejak siang tadi, sejak ia berani menatap mata Bu Retno tanpa menunduk. Rasa takut itu masih ada, tapi sudah tak lagi menjadi tuannya.
"Kapan mereka datang?"
"Aku nggak tahu. Ibu bilang 'malam ini juga'."
"Dan kamu mau bagaimana, Mas?"
Damar tertegun. "Bagaimana apanya?"
"Kamu berdiri di sini, bilang ibumu akan mengirim orang untuk menjemputku. Lalu apa? Kamu cuma mau memberi tahu, atau kamu mau melakukan sesuatu?"
"Aku..." Damar menggaruk tengkuknya gugup. "Aku nggak bisa melawan Ibu terang-terangan, Sin. Kamu tahu itu."
"Tentu aku tahu." Sinta tersenyum tipis, pahit. "Kamu tidak pernah bisa."
Kalimat itu menampar lebih keras dari tangan siapa pun. Damar membuka mulut hendak membantah, tapi tak ada kata yang keluar. Sinta menatapnya sebentar, lalu berbalik mengambil ponsel retaknya dari saku celemek.
"Kalau begitu cukup lakukan satu hal. Jangan halangi aku, jangan beri tahu Ibu kamu sudah bicara denganku. Sisanya biar jadi urusanku."
"Kamu mau apa?"
"Bertahan hidup."
---
Pukul sepuluh malam, paviliun gelap gulita. Sinta tidak tidur. Ia duduk di lantai di balik pintu, ponsel kecil pemberian Tari di tangan kiri, ponsel retaknya di tangan kanan. Layarnya menyala redup, menampilkan pesan yang sudah terkirim sepuluh menit lalu.
*Tar, keadaan darurat. Kalau dalam satu jam aku tidak kabari, telepon polisi. Alamat rumah Bu Retno kamu tahu. Jangan tanya dulu.*
Balasan Tari masuk cepat: *Aku di jalan. Parkir di ujung gang. Jangan matikan HP.*
Sinta menarik napas panjang. Ia tak akan menunggu pasrah. Selama tujuh tahun ia diajari bahwa perempuan baik itu yang sabar, yang menurut, yang menunggu dibela. Dan ia sudah membayar mahal untuk pelajaran bodoh itu.
Ia bangkit, menyalakan perekam suara di ponselnya, dan menyelipkannya di saku daster dengan mikrofon menghadap keluar. Lalu ia mengambil kayu penyangga jendela yang tergeletak di sudut dan menyandarkannya di dekat pintu. Bukan untuk memukul, tapi untuk menahan.
Ia sudah selesai menjadi korban.
Pukul sebelas lewat lima belas, terdengar bunyi mesin motor memasuki halaman belakang. Dua suara. Lalu langkah sepatu berat di atas paving, diikuti suara laki-laki yang berbisik rendah.
"Yang mana kamarnya?"
"Paviliun belakang. Pintu yang ada lampunya."
Gagang pintu paviliun bergerak pelan. Terkunci dari dalam. Sinta menahan napas.
"Terkunci, Pak."
"Dobrak."
"Nanti ribut."
"Dobrak pelan-pelan."
Sinta mundur dua langkah. Jantungnya seperti hendak meledak. Ketika engsel pintu mulai berderit karena didorong paksa, ia mengambil napas dalam-dalam dan berteriak sekeras-kerasnya, suara yang bahkan ia sendiri tak tahu dimilikinya.
"TOLOOONG! ADA MALING! ADA YANG MAU MASUK RUMAH! TOLOOONG!"
Teriakannya membelah malam, menggema di sepanjang gang sempit itu. Di luar, dua laki-laki itu membeku. Sinta menjerit lagi, lebih keras, lebih panjang.
"TOLONG! PAK RT! ADA ORANG MAU MENCULIK SAYA! TOLOOONG!"
Lampu rumah tetangga satu per satu menyala. Seekor anjing menggonggong, lalu sepuluh anjing lain menyusul. Terdengar suara pintu dibuka, teriakan sahut-menyahut dari kejauhan.
"Siapa itu?!"
"Ada apa di rumah Bu Retno?!"
"Itu suara Sinta!"
Di luar, salah satu lelaki itu mengumpat pelan. "Bangsat, perempuan ini gila!"
"Lari, Pak! Lari!"
Dua pasang kaki berlari menjauh, disusul deru motor yang meraung lalu lenyap di ujung gang. Sinta masih berdiri di tengah paviliun, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar, tapi wajahnya menyala oleh kemenangan kecil yang membuatnya nyaris menangis.
Lalu pintu utama rumah berderak terbuka. Suara Bu Retno terdengar nyaring dari kejauhan, penuh murka.
"SINTA! KAMU BIKIN APA?! MATIKAN SUARAMU!"
Sinta justru membuka pintu paviliun lebar-lebar dan melangkah keluar ke halaman, tepat saat Pak RT, Pak Karyo, dan tiga tetangga lain berdatangan sambil membawa senter dan pentungan ronda. Ia berdiri di tengah cahaya remang, rambut acak-acakan, mata berkaca-kaca, pipi masih lebam keunguan.
"Pak RT," katanya dengan suara bergetar yang kali ini setengah disengaja. "Ada dua laki-laki mencoba mendobrak pintu kamar saya. Mereka lari naik motor ke arah pasar."
"Astaga, Mbak Sinta!" Pak RT menyorotkan senter ke pintu paviliun, ke engsel yang sudah bengkok. "Ini pintunya sampai rusak! Siapa mereka?!"
"Saya tidak kenal, Pak. Tapi saya dengar mereka bilang 'dobrak pelan-pelan' dan 'tidak boleh ada yang tahu'."
Beberapa tetangga bergumam ngeri. Para ibu menutup mulut. Bu Retno yang baru muncul di teras dengan daster dan kerudung asal-asalan langsung menegang. Matanya bertemu mata Sinta, dan untuk sepersekian detik, Sinta melihat wajah itu merah padam menahan murka.
"Jeng Retno!" Bu Karyo menghampiri dengan cemas. "Rumah Jeng kemasukan maling! Untung Sinta teriak!"
"I-iya, saya kaget juga," jawab Bu Retno kaku, memaksakan senyum. "Mungkin maling kampung. Biar saya urus sendiri, Bapak-bapak. Tidak usah ribut."
"Tidak usah ribut?" Pak RT mengernyit. "Bu, ini percobaan masuk rumah pada malam hari. Harus lapor polisi."
"Jangan!" Bu Retno memotong terlalu cepat. Semua kepala menoleh. Ia berdeham, menurunkan nada. "Maksud saya, nanti urusannya panjang. Besok saja kita bicarakan."
"Tapi, Bu..."
"Pak RT," Sinta menyela lembut, melangkah maju. "Saya rasa lebih baik dilaporkan. Soalnya mereka bukan cuma ke kamar saya. Saya dengar tadi mereka menyebut-nyebut nama Pak Wiryo."
Hening mendadak menyelimuti halaman. Pak RT dan Pak Karyo saling pandang. Wajah Bu Retno berubah pucat seperti mayat.
"Pak Wiryo?" ulang Pak Karyo pelan. "Wiryo yang dari Gunung Kidul itu?"
"Sinta salah dengar!" Bu Retno hampir berteriak. "Dia syok, dia ketakutan, dia mengarang!"
"Mungkin saja saya salah dengar, Bu," jawab Sinta lembut. "Tapi kalau polisi yang menyelidiki, kan semuanya bisa dibuktikan. Siapa tahu ada CCTV warung depan yang merekam motor mereka."
Tetangga mulai berbisik-bisik. Seorang bapak di belakang berkata lantang, "Betul, Pak RT. Warung saya ada CCTV, mengarah ke gang."
"Nah, itu dia!" Pak RT menepuk tangan. "Kita lapor sekarang!"
"Pak RT, tunggu!" Suara Bu Retno pecah, nyaris memohon. "Baik, baik. Lapor saja besok pagi. Sekarang sudah malam, anak-anak mau tidur."
"Kenapa tidak malam ini, Bu?"
"Saya... saya tidak enak badan."
Sinta menahan seringai di balik wajah ketakutan palsunya. Satu serangan balik, satu kemenangan. Bu Retno yang selama ini berkuasa mutlak, malam ini terpojok di hadapan seluruh tetangga oleh perempuan yang ia sebut mandul dan tak berguna.
Tapi kemenangan itu belum selesai.
Di ujung gang, sebuah mobil kecil berhenti. Pintunya terbuka, dan Tari muncul dengan jaket hitam dan wajah panik, berlari menembus kerumunan.
"Sinta! Kamu nggak apa-apa?!"
"Aku baik-baik saja, Tar."
Tari memeluk Sinta erat. Dan di antara bahu mereka yang bersentuhan, Sinta berbisik cepat, "Rekamannya ada di saku. Suara mereka jelas. Simpan."
Tari mengangguk nyaris tak terlihat, tangannya meraba saku daster Sinta dengan gerakan cepat dan menarik keluar ponsel kecil itu tanpa seorang pun menyadari. Lalu ia melepas pelukan, menoleh pada Pak RT dengan wajah tegas.
"Pak RT, saya temannya. Saya yang akan antar Sinta ke kantor polisi malam ini juga. Percobaan penculikan itu kasus serius."
"Penculikan?!" Bu Retno melengking. "Siapa bilang penculikan?!"
"Saya dengar sendiri rekamannya tadi, Bu," jawab Tari tenang, dusta kecil yang meluncur halus. "Mereka bilang 'bawa dia ke tempat Pak Wiryo'. Itu sudah cukup untuk dijadikan laporan."
Wajah Bu Retno kini benar-benar putih. Bibirnya bergetar, tangannya mencengkeram kusen pintu sampai buku-bukunya memutih. Sinta menatapnya lurus dan, untuk pertama kalinya, tak ada rasa takut tersisa. Hanya dingin yang tenang.
"Bu," katanya pelan. "Kalau Ibu memang tidak ada hubungannya dengan semua ini, Ibu tidak perlu cemas. Benar kan?"
Bu Retno tidak menjawab. Ia hanya menatap balik dengan sorot mata yang nyaris membunuh.
Mobil Tari melaju meninggalkan gang menjelang tengah malam, membawa Sinta di kursi penumpang dengan tangan terkepal di pangkuan. Lampu jalan melintas satu per satu di wajahnya yang lelah tapi tegak. Tari menyetir diam, sesekali melirik sahabatnya dengan cemas.
"Sin," katanya akhirnya. "Kamu sadar kan, mulai malam ini mereka tidak akan berhenti?"
"Aku sadar."
"Mereka akan mencarimu. Mereka akan menghancurkanmu."
"Biar saja." Sinta menatap jalanan gelap di depan. "Aku sudah cukup lama dihancurkan. Sekarang giliran mereka belajar rasanya."
Tari menghela napas. Lalu, dengan suara berat dan hati-hati, ia berkata, "Ada satu hal yang belum kubilang padamu soal hasil lab itu."
Sinta menoleh. "Apa lagi?"
Tari mencengkeram setir lebih erat, matanya lurus ke depan, dan ketika ia bicara, suaranya nyaris tak terdengar.
"Dokter yang menandatangani hasil itu... bukan dokter klinik kami, Sin. Namanya Dokter Hendra Wiryawan. Dan alamat prakteknya, ternyata, sama dengan alamat rumah ayah Melia."