Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghinaan Clara
Note: Sebelumnya ada revisi ya teman teman yang sudah baca dikarenakan revisi alur THANKYOu❤️🥰
Adelia menyewa kontrakan kecil di pinggiran kota. Cahaya fajar masih malu malu menampakkan dirinya. Di atas kasur kapuk tipis tanpa sprei, Kayla masih terlelap lelap dengan wajah yang bersisa bekas air mata semalam.
Adelia melangkah perlahan menuju sudut ruangan. Di sana, koper hitamnya bersanding dengan sebuah kotak kayu berdebu yang dibawa Kenzie tadi malam.
"Udah dari tadi Bu bangunnya?" suara Kenzie terdengar dari arah pintu kamar mandi yang terbuat dari seng. Pemuda itu keluar sambil mengeringkan wajahnya memakai handuk kecil.
"Baru aja, Kenzie," sahut Adelia pelan, takut membangunkan adiknya. "Kamu kok sudah rapi pagi-pagi begini?"
Kenzie mengusap tengkuknya, meletakkan handuk di sandaran kursi. "Kenzie mau cari kerjaan, Bu. Tadi malam Kenzie jalan sebentar di depan gang, ada kedai kopi yang butuh tenaga buat cuci piring sama bantu-bantu."
Adelia menghentikan tangannya yang hendak membuka koper. Matanya menatap Kenzie dengan cemas. "Kenzie, kamu fokus persiapan kuliah saja. Soal uang biar Ibu yang pikirkan."
"Nggak bisa begitu, Bu," potong Kenzie tegas namun lembut.
"Kenzie nggak bisa diam saja lihat Ibu berjuang sendirian. Kenzie sudah minta izin sama pemilik kedai kopi itu semalam, nanti siang Kenzie mulai kerja paruh waktu di sana. Gaji harian, lumayan buat bantu bayar sekolah Kayla sama makan kita."
Adelia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa haru sekaligus sesak di dadanya. "Maafkan Ibu ya, Nak. Harusnya kamu nggak usah ikut susah seperti ini."
"Ibu nggak boleh ngomong begitu," Kenzie mendekat, merangkul bahu ibunya hangat. "Kita lewati ini bertiga, Bu. Kenzie pamit dulu ya, kebetulan Kenzie mau ikut barista buka kedai ."
Setelah Kenzie melangkah keluar dan menutup pintu kayu dengan pelan, Adelia duduk berlutut di lantai semen yang dingin. Ia membongkar barang lamanya dari dalam koper dan kotak kayu yang dibawanya. Di tumpukan paling bawah, jemarinya menyentuh permukaan besi hitam berukir emas yang sangat ia kenal.
Ia menemukan mesin jahit engkol peninggalan almarhum ibunya. Mesin jahit tua itu dulu sering ia gunakan sebelum menikah dengan Arkananta.
Lima belas tahun ia menelantarkan bakat dan hobi menjahitnya karena Arkananta selalu menuntutnya fokus menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.
Adelia memutar engkol besi itu pelan. Jarum jahitnya naik-turun dengan lancar, bunyinya ritmis dan akrab di telinganya.
"Mesin ini..." bisik Adelia. Ia mengelus kepala mesin jahit tua
Ia teringat mendiang ibunya yang sering menjahit menggunakan mesin jahit tua ini dulu meskipun hanya dibuatkan baju sederhana rasanya seneng banget
Makasih Bu Udah mewariskan mesin jahit ini buat adel
Hari berganti cepat. Ketika malam tiba dan kedua anaknya telah tertidur lelap akibat kelelahan, Adelia membentang sajadah kecil di sudut ruangan yang temaram.
Di bawah naungan atap seng tua yang sesekali berkerotok tertiup angin malam, Adelia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Adelia menangis di sujud malamnya, memohon kekuatan untuk membesarkan kedua anaknya sendirian. Air matanya menetes membasahi kain sajadah.
Tidak ada lagi ratapan atas pengkhianatan Arkananta, yang ada hanyalah doa tulus seorang ibu yang ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
"Ya Tuhan... hamba tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Engkau dan anak-anak hamba," bisik Adelia di tengah isak tangisnya.
"Kuatkan pundak hamba. Berikan hamba rezeki yang halal dari jemari hamba sendiri."
Usai berdoa, Adelia menghapus air matanya hingga tuntas. Tatapannya kini berubah tajam dan penuh keyakinan.
Esok harinya, Adelia berjalan ke pasar kaget di ujung gang kontrakan. Dengan sisa uang tabungan simpanan pribadinya yang tidak seberapa, ia mendatangi lapak penjual kain bekas dan bahan sisa produksi garmen.
"Mbak, kain perca yang di karung ini berapa harganya?" tanya Adelia pada penjual kain.
"Satu karung kecil dua puluh ribu, Mbak. Sisa-sisa potongan kain katun sama motif bunga," jawab si penjual.
Adelia mengangguk mantap. "Saya beli dua karung, Mas."
Adelia membawa dua karung kain perca itu kembali ke kontrakannya. Tanpa menunda waktu, Adelia mengumpulkan sisa kain perca untuk dibuat pakaian anak-anak setempat.
Ia memilah warna, memotong kain perca yang berserakan menjadi potongan melengkung yang simetris, lalu menyambungkannya dengan teknik jahitan patchwork yang sangat rapi.
Suara kayu engkol mesin jahit tua berderit ritmis sepanjang siang. Dalam beberapa jam, tangan terampil Adelia berhasil menyulap tumpukan potongan kain tak terpakai menjadi tiga stel gaun anak-anak yang unik, paduan warna yang manis, dan jahitan yang sangat presisi.
"Ibu... wah, bajunya cantik sekali!" puji Kayla yang baru pulang sekolah, memegangi gaun anak bermotif kombinasi bunga dan garis biru.
"Ibu mau coba jual ini esok pagi ke pasar kaget, Kayla," jawab Adelia tersenyum bangga pada hasil karyanya. "Semoga ada yang mau beli."
Malam harinya, Adelia melipat rapi baju-baju hasil jahitannya ke dalam tas belanja sederhana. Ia tertidur dengan perasaan mantap, siap menghadapi esok hari.
Ketika matahari pagi baru saja muncul, Adelia sudah berada di pinggir jalan pasar kaget lokal, membentangkan kain terpal kecil sebagai alas untuk menjajakan baju-baju buatan tangannya.
"Mari Ibu-ibu, baju anak bahannya adem, desainnya unik cuma ada satu tiap modelnya!" seru Adelia ramah.
Beberapa warga dan pembeli pasar mulai mengerumuni lapak kecilnya. Keunikan gabungan kain perca dan kerapian jahitan Adelia langsung menarik perhatian orang-orang yang melintas.
Namun, di tengah keriuhan pasar kaget tersebut, sebuah suara derum mesin mobil yang gahar mendadak berhenti tepat di pinggir jalan, tak jauh dari lapak Adelia. Sebuah mobil sedan mewah berwarna putih mengilap yang masih sangat baru berhenti menepi.
Kaca mobil perlahan turun. Dari dalam, Clara bersandar santai di kemudi sambil mengenakan kacamata hitam. Sorot matanya dipenuhi kejengkelan sekaligus senyum ejekan yang sangat puas saat matanya menangkap sosok Adelia yang berdiri di atas terpal.
Clara sengaja menginjak gas mobilnya hingga suara knalpotnya meraung nyaring di dekat lapak Adelia, lalu ia sengaja turun membuka pintu mobil mewahnya.
Clara melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang berdenting nyaring di atas jalanan semen basah. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap baju-baju jahitan Adelia di atas terpal dengan pandangan penuh jijik.
"Aduh, Mbak Adelia..." ledek Clara dengan nada suara yang sengaja dikencangkan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar. "Jadi begini Kerjaan kamu setelah Dibuang mas Arkan?,Jualan baju dari kain sampah di pinggir jalan?"
Adelia menghentikan kegiatannya melipat kain. Ia berdiri tegak, memutar tubuhnya tepat menghadap Clara.
Clara melepas kacamata hitamnya, lalu terkekeh sinis. "Kasihan banget ya. liat Mbak,Mas Arkan baru saja beliin aku mobil mewah baru ini kemarin dari bonus kantornya, sedangkan kamu... sekarang cuma jadi tukang jahit kelas bawah yang jualan kain perca."
Suasana pasar mendadak hening. Beberapa tetangga dan pembeli menatap Clara dan Adelia bergantian.
Adelia menatap mata Clara dengan tenang tanpa rasa gentar sedikit pun. Tidak ada gemetar di tubuhnya, tidak ada air mata di matanya. Adelia merapikan kerah bajunya sendiri, lalu melangkah lebih dekat ke arah Clara.
"Kain perca ini dibeli dari uang halalku sendiri, Clara," ucap Adelia dengan suara yang begitu tenang namun tajam menghujam. "Bukan dari hasil mengemis suami orang lain."
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel