Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diary Vivian
Pagi hari menyingsing dalam keheningan yang serba suram. Cahaya matahari yang temaram merayap masuk secara perlahan melalui celah ventilasi. Sinar tipis itu menerpa serakan pecahan gelas kaca yang hancur bertebaran di atas ubin kamar tamu sisa-sisa letupan amarah Radhit dari semalam.
Kaca-kaca tajam itu membiaskan pantulan cahaya pagi yang dingin dan pucat. Seolah-olah ruangan sempit itu ikut memamerkan puing-puing penderitaan yang tak pernah disaksikan oleh siapa pun di luar sana.
Vivian terbangun bukan karena tubuhnya merasa segar setelah beristirahat. Dia terbangun karena rasa nyeri yang terus-menerus menusuk ulu hatinya tanpa ampun.
Tenggorokannya terasa sangat kering dan menyengat, mirip seperti padang pasir yang tak tersentuh air bertahun-tahun. Rasa mulas di perut bawahnya masih ada, berdenyut pelan namun cukup untuk membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya.
Dengan sangat hati-hati, Vivian memindahkan kedua kakinya dari atas sofa sempit tempatnya menyandar sepanjang malam.
Setiap pergerakan kecil yang dibuatnya terasa begitu berat. Persendiannya seolah tak lagi memiliki daya untuk menyangga tubuhnya sendiri. Jiwanya yang telah hancur berkali-kali kini makin membuat fisiknya ringkih dan rentan.
Dia meluncur berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Vivian mulai memunguti pecahan kaca satu per satu dengan jemarinya yang pucat dan gemetar hebat.
Pandangannya sempat kabur oleh rasa pusing yang mendadak menyerang. Di tengah ketidakfokusannya itu, sebuah pecahan kaca yang tajam menyayat ujung ibu jari tangannya.
Darah segar berwarna merah pekat mendadak keluar, menetes perlahan ke atas lantai marmer putih yang dingin.
Namun, Vivian bahkan tidak merintih. Dia sama sekali tidak meringis kesakitan.
Rasa sakit fisik dari sayatan kecil di jarinya telah kehilangan daya menyengatnya. Rasa itu kalah jauh dibanding rasa kebas dan mati rasa yang kini telah menguasai dadanya secara penuh.
Setelah mengumpulkan seluruh sisa pecahan kaca dan membuangnya ke tempat sampah, Vivian melangkah pelan menuju meja kayu kecil di sudut ruangan.
Langkahnya terseret, menyisakan jejak penderitaan yang teramat dalam.
Dari balik tumpukan pakaian lamanya yang lusuh di dalam lemari, Vivian menarik sebuah buku catatan kecil berpenutup kulit cokelat yang sudah usang.
Buku catatan itu adalah sebuah diari lama. Dia membeli buku itu bertahun-tahun lalu, jauh sebelum pernikahan neraka ini menghancurkan seluruh impian dan masa depannya.
Vivian menarik napas panjang lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Dengan sebuah pulpen murah di genggamannya yang masih tremor, dia mulai membuka lembaran kertas yang masih bersih.
Ujung pulpennya menyentuh permukaan kertas dengan ragu. Tinta hitamnya mulai mengalir, menjadi saksi bisu dari seluruh rintihan dan keputusasaan yang tak pernah didengar oleh siapa pun.
Untuk Anakku Sayang...
Jika suatu hari nanti kamu sudah tumbuh besar dan membaca tulisan ini, Ibu ingin kamu tahu satu hal: Ibu sangat menyayangimu.
Kehadiranmu di dalam perut Ibu adalah satu-satunya alasan kenapa Ibu masih sanggup bernapas dan bertahan di dalam rumah yang sangat dingin ini.
Vivian menghentikan goresan pulpennya sejenak.
Dadanya mendadak terasa teremas sangat rapat, hingga pasokan udara ke paru-parunya seolah mendadak dihentikan.
Bulir air mata yang hangat dan pekat menetes keluar dari pelupuk matanya. Tetesan itu jatuh tepat di atas kertas tebal tersebut, membuat resapan tinta hitamnya sedikit memudar dan mengembang.
Rasa sesak yang membendung di tenggorokannya bagaikan tangan tak terlihat yang mencekik suaranya sendiri.
Vivian menggigit bibirnya yang pecah-pecah demi menahan dorongan isak tangis yang hendak meluncur keluar dari mulutnya.
Maafkan Ibu ya, Nak... Ibu tidak sanggup memberimu seorang Ayah yang mau memelukmu dengan hangat.
Ibu juga belum bisa memberikan kita tempat yang aman untuk berlindung dari makian, hinaan, dan rasa benci.
Ayahmu... dia mungkin memang tidak pernah menginginkan kita ada di dalam hidupnya.
Tapi Ibu berjanji padamu, Nak... Selama jantung Ibu masih berdetak dan napas Ibu belum dihentikan, Ibu akan melindungimu dengan seluruh sisa hidup yang Ibu miliki.
Vivian meremas buku catatan itu rapat-rapat di dadanya.
Tubuhnya melengkung ke depan saat tangisannya yang pecah tanpa suara meluap sepenuhnya di dalam kamar sempit itu.
Di dalam ruangan dingin yang selalu menjadi saksi kepahitannya, Vivian akhirnya menyadari sesuatu yang amat membakar batinnya.
Selama bertahun-tahun ini, dia bertahan hidup dan menerima segala bentuk perlakuan kasar hanya karena satu hal: dia berharap setetes kasih sayang dari Radhit.
Dia selalu berpikiran lugu bahwa dengan mengalah, bersabar, dan menyerahkan seluruh jiwa raganya, Radhit suatu hari nanti akan membukakan pintu hati dan memandangnya sebagai seorang istri yang layak dihormati.
Namun, kenyataan demi kenyataan yang dialaminya beberapa hari belakangan ini telah membantingnya ke tanah tanpa ampun.
Mulai dari pengusiran dan penghinaan di depan para tamu pesta...
Pintu rumah yang dikunci dari luar saat dirinya terbaring sekarat dan memohon pertolongan...
Hingga hinaan paling tajam semalam yang keluar langsung dari mulut Radhit menyebut anak di dalam kandungannya tak lebih dari sekadar beban dan pembawa sial.
Semua kejadian itu akhirnya membakar habis sisa-sisa harapan yang ada di dalam dadanya. Api harapan itu kini telah padam, berubah menjadi tumpukan abu yang dingin dan mati.
Cinta tulus yang dulu pernah diagungkannya untuk Radhit kini telah berubah menjadi serpihan keputusasaan yang kelam.
Hatinya tak lagi menangis atau memohon untuk dicintai lagi.
Hati Vivian mulai membatu. Sebuah dinding pertahanan baru yang kokoh mulai terbangun di dalam jiwanya sebuah benteng terakhir demi menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh di dalam perutnya.
Klak.
Suara engsel pintu lorong yang dibuka kasar mendadak memecahkan keheningan.
Vivian terperanjat dari duduknya. Dengan gerakan refleks yang cepat, dia menyembunyikan buku diari kecil itu ke balik bantal tempat tidurnya.
Dia buru-buru usap bekas air mata di pipinya hingga tak berbekas, mencoba menetralkan raut wajahnya sejernih mungkin.
Sesosok tubuh jangkung muncul di ambang pintu kamar tamu.
Radhit berdiri di sana. Pria itu sudah rapi dan klimis dalam balutan setelan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap buatan penjahit kelas atas.
Dia tampak begitu sempurna, tampan, dan berwibawa seolah-olah tidak pernah terjadi kekejaman dan amarah hebat dari mulutnya semalam.
Tidak ada sedikit pun riak rasa bersalah di raut wajah mewahnya.
Pandangan mata Radhit saat menatap Vivian tetap sama persis seperti biasa: dingin, asing, dan dipenuhi keangkuhan mutlak yang tak tersentuh oleh emosi manusia biasa.
"Saya ada jadwal rapat dan urusan bisnis di luar kota sampai lusa," ucap Radhit dengan suara yang datar dan lugas.
Pria itu sama sekali tidak berniat bertanya tentang kondisi kesehatan istrinya yang masih pucat pasi. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah tangan Vivian yang sempat terluka.
Radhit mengangkat tangannya, merapikan letak jam tangan mewahnya dengan gerakan yang sangat teratur.
"Jangan buat masalah atau drama konyol lagi selama saya tidak ada di rumah," lanjut Radhit lagi.
Matanya menatap Vivian dari atas ke bawah dengan raut intimidasi yang sangat pekat.
"Dan pastikan seluruh sudut rumah ini sudah bersih dan rapi saat saya pulang nanti. Saya tidak suka melihat rumah saya berantakan."
Vivian tidak menjawab sepatah kata pun.
Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong pada ubin dingin di bawah kakinya. Wajahnya polos tanpa ekspresi.
Tidak ada lagi permohonan yang keluar dari bibirnya.
Tidak ada lagi panggilan "Mas" dengan nada memelas yang biasa dia gunakan untuk mengetuk hati suaminya.
Keheningan Vivian pagi ini terasa sangat berbeda dari keheningan hari-hari sebelumnya.
Ini bukan lagi keheningan akibat rasa takut atau ketundukan. Ini adalah keheningan dari sebuah jiwa yang telah benar-benar patah, mati rasa, dan menyerah secara total.
Radhit sempat terdiam di tempatnya berdiri selama beberapa detik.
Pria itu merasa ada sesuatu yang aneh dan berbeda dari respons istrinya kali ini. Vivian tidak lagi menangis, tidak merengek, dan tidak menatapnya dengan pandangan terluka seperti biasanya.
Namun, rasa gengsi dan keangkuhan yang membalut diri Radhit dengan cepat menepis rasa penasaran tipis itu.
Bagi Radhit, ketundukan dan sikap diam Vivian adalah hal yang memang sepantasnya ditunjukkan oleh wanita yang menumpang di rumahnya.
Tanpa menguarkan sepatah kata tambahan lagi, Radhit memutar tubuhnya dan melangkah pergi.
Suara ketukan sepatu kulit mewahnya memantul tegas di sepanjang dinding lorong.
Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil mewahnya terdengar menyala, melaju tenang meninggalkan area halaman rumah dan menghilang di kejauhan.
Di dalam kamar tamu yang kembali sepi dan dingin, Vivian perlahan menarik kembali diari kecilnya dari balik bantal.
Dia memeluk buku bersampul cokelat itu erat-erat di atas perutnya yang masih terasa hangat.
Dengan pandangan mata yang kini menajam dan penuh keteguhan baru, Vivian berbisik pelan pada keheningan ruangan:
"Kita cuma punya satu sama lain sekarang, Nak..."
Suaranya tidak lagi bergetar.
"Ibu janji... Ibu akan cari jalan untuk membawa kamu keluar dari neraka ini."
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian