Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8 : Bapak Penjaga Pos
Pagi.
Jam 05:30, kabut di Pos 4 masih tebal, tapi langit sudah mulai terang keabu-abuan. Api unggun di dalam pondok kayu itu sudah mati, menyisakan abu dan arang yang masih hangat.
Mereka berempat tidak tidur semalaman. Tidak ada yang berani tidur setelah teror pondok berdenyut tadi malam. Mereka duduk melingkar, punggung ketemu punggung, menutup mulut rapat-rapat, hanya bernapas pelan lewat hidung, menatap api sampai api itu mati sendiri.
Aturan baru itu masih terngiang di kepala mereka: *JANGAN BERSUARA.*
Setiap kali salah satu dari mereka mau batuk, langsung ditahan. Setiap kali mau nangis karena ingat Elina, langsung dibekap mulutnya sendiri. Diam total sampai pagi.
Begitu cahaya matahari pertama menembus kabut, Bima berdiri. Kakinya kram, matanya merah, bibirnya kering pecah-pecah karena dehidrasi.
Bima menulis lagi di debu lantai dengan jari, tanpa bersuara, karena mereka masih trauma bersuara di pondok itu.
-TURUN. CARI BAPAK POS. TANYA ATURAN JANGAN BERSUARA.-
Maira, Arga, Gilang mengangguk. Mereka mengerti. Mereka tidak boleh langsung masuk lagi ke perut untuk ngambil Elina kalau teori mereka masih dugaan. Kalau dugaan mereka salah, mereka berlima bisa mati semua di dalam. Mereka butuh kepastian dari orang yang lebih tau.
Mereka menggendong carrier mereka yang sudah ringan karena air dan makanan habis, dan berjalan keluar dari pondok Pos 4 yang tadi malam hampir menelan mereka.
Saat mereka keluar dari pondok, mereka menoleh sekali ke lantai papan pondok itu. Lantai itu sekarang terlihat normal. Kayu lapuk biasa, tidak berdenyut, tidak ada akar putih. Seolah-olah kejadian malam tadi hanya halusinasi karena lelah. Tapi bekas cakaran kuku Maira di lantai yang berdarah masih ada.
Mereka berjalan turun.
Jalur Pos 4 ke Pos 3 ke basecamp itu menanjak kalau balik, tapi mereka memilih turun terus ke arah Pos 5 sesuai papan petunjuk, karena jalur turun ke basecamp lewat Pos 5 itu lebih cepat memutar ke bawah lembah, lalu naik lagi ke basecamp. 800 meter ke Pos 5.
Perjalanan turun pagi itu hening total. Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang memanggil. Mereka berjalan dengan langkah pelan, mengatur napas lewat hidung, tidak berlari. Setiap kali daun kering berderak di bawah sepatu mereka, mereka berhenti, menahan napas, memastikan tidak ada cekungan hitam yang muncul dari balik pohon.
Rasanya aneh. Hutan pinus yang kemarin mereka anggap indah, sekarang terasa seperti lorong rumah sakit yang semua dindingnya bisa mendengar.
Jam 07:15, mereka sampai di Pos 5. Pos 5 juga kosong. Hanya ada pita kuning panitia yang sudah robek-robek. Tidak ada panitia.
Mereka lanjut turun lagi. Melewati Pos 6, Pos 7.
Jam 08:30, akhirnya mereka sampai di basecamp bawah. Basecamp pendaftaran lomba jelajah rimba.
Basecamp itu juga sudah sepi. Lomba sudah selesai kemarin sore. Tenda-tenda panitia sudah dibongkar. Hanya tersisa satu tenda besar yang masih berdiri, dan di depan tenda itu ada satu bapak tua dengan topi rimba, baju lapangan lusuh, sedang menyeduh kopi hitam di atas kompor kecil.
Bapak penjaga pos yang kemarin pagi memberi mereka peringatan: _"Jangan noleh kalau dipanggil dari belakang di jalur Pos 4..."_
Bima melihat bapak itu, kakinya yang sudah lemas karena jalan dari jam setengah 6 pagi tanpa air, langsung jatuh terduduk lemas di depan bapak itu. Maira, Arga, Gilang ikut jatuh terduduk di tanah.
Bapak itu menatap mereka berempat. Wajahnya tidak kaget. Wajahnya... sudah menebak.
Bapak itu menatap satu per satu. Menghitung. Satu, dua, tiga, empat. Lalu bapak itu menatap ke belakang mereka, ke jalur hutan di atas.
"Limanya satu lagi mana?" tanya bapak itu pelan, suaranya serak, bahasa Indonesianya dicampur bahasa Sunda.
Pertanyaan itu membuat Maira yang dari tadi nahan tangis semalaman, langsung jebol. Dia nangis keras, tapi langsung dibekap mulutnya sendiri oleh Bima karena ingat aturan jangan bersuara. Jadi tangisnya tertahan, sesenggukan tanpa suara, air matanya tumpah deras.
Bima yang menahan tangis juga, dengan suara serak pelan sekali, hampir berbisik, menjawab.
"Pak... teman kita ketinggalan... di atas... di Pos 4... di dalam tanah..."
Bapak itu menghela napas panjang, menyeruput kopi hitamnya, dan menatap bekas hitam lima jari di kening Gilang yang semakin pekat.
"Sudah bapak bilang kemarin, jangan noleh kalau dipanggil di jalur Pos 4."
Bima mengangguk, menatap tanah. "Kita noleh, Pak. Teman saya noleh."
Bapak itu berdiri, masuk ke dalam tenda, dan keluar membawa satu ember air putih dan empat gelas plastik. Dia memberikan air itu ke mereka. Mereka minum dengan rakus.
Setelah mereka agak tenang, bapak itu duduk kembali di depan mereka, menatap pondok Pos 4 yang jauh di atas bukit yang tertutup kabut.
"Kalian sudah masuk ke perutnya ya?" tanya bapak itu pelan.
Mereka berempat langsung merinding. Bima mengangguk pelan.
"Di dalam gelap,ada tanah lunak berdenyut,ada mayat Pramuka,ada anak-anak pohon,ada induk sebesar rumah dan wajahnya banyak."
Bapak itu mengangguk-angguk, tidak kaget sama sekali. Seolah sudah sering mendengar cerita itu.
"Itu Bhayavedin."
Arga yang dari tadi diam, akhirnya memberanikan diri berbisik pelan.
"Pak, kita mau tanya.Kita di dalam tadi sadar satu hal,makhluk itu buta ya, Pak? Dia nggak punya mata,dia cuma denger suara kita.Semakin kita takut dan teriak, dia semakin kuat.Bener nggak, Pak? Kita tadi malam di pondok Pos 4 hampir ketelan lagi karena kita bersuara."
Bapak itu menatap Arga dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. Wajahnya serius.
"Benar."
Bapak itu mematikan kompor kopinya, lalu berbisik pelan sekali, seolah takut hutan di atas mendengar.
"Bhayavedin itu bukan hewan. Dia hutan itu sendiri.Dia memang nggak punya mata, tapi dia punya ribuan telinga.Telinganya itu lubang-lubang kecil di mukanya dan dia dengar getaran takut."
"Jantung kalian yang deg-degan karena takut,napas kalian yang ngos-ngosan,suara kalian yang manggil teman,tangisan kalian,itu semua makanan buat dia."jelas bapak tersebut.
"Semakin kalian takut, jantung kalian semakin kenceng, suaranya semakin keras di dalam tanah. Dia semakin tau di mana kalian, semakin kuat akarnya buat narik kalian."
Bapak itu menunjuk bekas hitam di kening Gilang.
"Itu tanda. Kalian sudah ditandai.Sekali ditandai, kemanapun kalian pergi di rimba ini, dia bisa denger detak jantung kalian."
Gilang langsung memegang keningnya, ketakutan.
Bapak itu melanjutkan, suaranya semakin pelan.
"Dulu tahun 98,ada 7 orang tentara Belanda yang hilang di Pos 4.Mereka teriak-teriak minta tolong semalaman di pondok itu. Paginya, pondok itu bersih, tidak ada mayat, tidak ada darah. Hanya ada 7 topi tentara yang tertinggal di lantai pondok karena mereka bersuara."
"Makanya orang sini bikin aturan kalau masuk rimba larangan, jangan bersuara. Kalau dipanggil, jangan noleh, jangan jawab.Kalau teman hilang, jangan panggil namanya keras-keras, kalau takut, tahan di dalam hati, jangan diteriakin."
Maira yang mendengar itu langsung lemas. Dia baru sadar, Elina yang sekarang ada di dalam perut di bawah tanah Pos 4, pasti sedang ketakutan sendirian, pasti sedang teriak-teriak nangis memanggil nama mereka. Dan setiap teriakan Elina di dalam perut itu, membuat induk semakin kuat menahannya.
"Pak,terus teman kita gimana, Pak? Elina di dalam,dia pasti teriak ketakutan di dalam, apa berarti dia...."
Bapak itu menatap mereka berempat dengan tatapan kasihan.
"Kalau dia terus teriak di dalam, dia akan jadi bagian dari induk itu,wajahnya akan nempel di tubuh induk selamanya."
Hening. Hanya suara angin pagi di basecamp.
Bima menggenggam tangan Maira, Arga, Gilang erat.
"Pak, tolongin kita Pak.Gimana cara masuk lagi tanpa bersuara,gimana cara ngambil Elina balik. Kita nggak bisa biarin dia jadi bagian dari hutan itu, Pak."
Bapak itu menatap mereka lama, lalu masuk lagi ke dalam tenda dan keluar membawa sesuatu.
Sebuah bambu kecil sepanjang jengkal, yang di dalamnya ada abu hitam, dan seutas tali kain putih yang sudah lusuh.
Bapak itu memberikan bambu itu ke Bima.
"Ini abu dari pondok pertama yang dibakar tahun 70-an. Bhayavedin takut sama abu ini, karena ini abu dari induk yang dulu pernah mati dibakar. Kalau kalian mau masuk lagi,tabur abu ini di tanah tempat teman kalian hilang. Tanahnya akan tipis lagi tapi ingat..."
Bapak itu menatap mereka berempat tajam.
"Masuknya harus tanpa suara. Napas ditahan. Ritme jantung ditahan. Jangan takut. Kalau kalian takut di dalam, kalian akan jadi makanannya juga. Dan kalau sudah di dalam, jangan panggil nama teman kalian. Tepuk pundaknya saja. Bawa dia keluar diam-diam. Seperti maling."
Mereka berempat mengangguk, memegang bambu abu itu erat-erat seperti memegang nyawa terakhir.
Bima berdiri, dengan suara pelan tapi tegas, menatap teman-temannya.
"Kita balik lagi ke atas. Ke Pos 4. Ambil Elina. Tanpa suara."
" Sebaiknya kalian istirahat dulu."cegah si bapak pada Bima dan kawan-kawan.
" Lihat mata kalian sudah merah seperti orang kurang tidur. Misi kalian berat. Sebelum pergi tak ada salahnya mengisi energi. Kalian perlu rencana yang matang sebelum balik ke tempat itu."saran si bapak lagi lalu bangkit dan pergi meninggalkan anak-anak muda itu.
****
****