Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bersedia Menjadi Rumahmu
Javier masih memandangi Yoselin yang tertidur pulas di kursi sebelah pengemudi. Wanita itu mendengkur halus, seolah sama sekali tidak terganggu oleh dinginnya pendingin udara atau suara bising bintik hujan yang mulai menetes di kaca depan mobil.
Ponsel di genggaman Javier bergetar pelan. Sebuah panggilan masuk dari Sergio memecah keheningan kabin. Javier segera menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga, matanya tak lepas menatap paras teduh Yoselin.
"Bicara, Sergio," bisik Javier singkat dengan nada berat.
"Tuan Javier, saya sudah mengirimkan seluruh dokumen data pribadi Nona Yoselin ke email Anda," ujar Sergio dari seberang telepon, suaranya terdengar ragu-ragu.
"Tapi... ada satu hal penting yang harus Anda ketahui sebelum membacanya."
"Katakan," perintah Javier datar.
"Nona Yoselin... sebenarnya sudah menikah, Tuan."
Bip.
Javier mematikan sambungan telepon secara sepihak. Sepasang mata abu-abunya menyipit tajam. Tanpa sadar, ia berdecak kesal.
"Sudah menikah?" batinnya menyangkal. Tangan Javier bergerak cepat membuka dokumen PDF yang baru saja dikirimkan oleh asisten pribadinya.
Ia membaca setiap baris kalimat dalam laporan itu dengan cermat. Alisnya semakin bertaut rapat saat membaca nama pria yang tertera di sana sebagai suami sah Yoselin, Edward Galvano, pengusaha di bidang textile industry.
Tidak berhenti di situ, laporan Sergio menyajikan detail yang cukup mencengangkan. Pernikahan mereka sudah berjalan selama dua tahun, namun Edward sama sekali tidak pernah menganggap keberadaan Yoselin. Bahkan publik hampir tidak mengetahui status pernikahan mereka karena Edward selalu bersikap dingin, acuh tak acuh, dan membawa wanita lain ke acara-acara resmi.
Ponselnya kembali bergetar, menampilkan panggilan dari Sergio. Javier mengangkatnya kembali.
"Mengapa laporannya seperti ini, Sergio?" tanya Javier dingin.
"Itu fakta yang saya temukan, Tuan," sahut Sergio di seberang sana.
"Pernikahan mereka didasari atas keputusan mendadak dua tahun lalu setelah pernikahan Edward dengan Angela batal. Selama dua tahun, Edward Galvano mengabaikan Nona Yoselin sepenuhnya. Nona Yoselin hidup mandiri tanpa tunjangan finansial khusus dari suaminya."
Javier melirik Yoselin yang masih terkapar lelap. Sebuah senyuman kecil, senyuman penuh kepuasan terukir di bibir tebal sang CEO.
"Kasihan sekali dirimu, Yoselin..." gumam Javier pelan pada telepon yang masih terhubung.
"Kamu diabaikan oleh suamimu sendiri."
"Tuan Javier? Anda masih di sana?" tanya Sergio panik saat mendengar bisikan atasannya.
"Saya sarankan Anda tidak terlibat lebih jauh. Nona Yoselin adalah wanita bersuami. Jika hal ini mencuat ke publik, reputasi V. Corp bisa—"
"Tutup mulutmu, Sergio," potong Javier tegas, suaranya dingin menembus sambungan telepon.
"Edward Galvano itu benar-benar pria bodoh. Dia sangat rugi mengabaikan wanita secantik, secerdas, dan sepintar Yoselin. Jika dia tidak tahu cara menghargai berlian, maka berlian itu tidak berhak berada di tangannya."
"Tuan, tapi status hukum mereka—"
"Aku tidak peduli!" tegas Javier tanpa ragu.
"Aku tidak peduli dia sudah menikah atau belum. Pernikahan tanpa cinta dan penghargaan itu hanyalah sampah. Sergio, mulai besok, atur agar seluruh proyek kerja sama dengan PT. Aura Beauty berada di bawah pengawasan langsung dariku, dan Yoselin harus menjadi perwakilan utamanya dalam proyek Beauty Habits."
"Tuan Javier, Anda benar-benar ingin merebutnya dari Edward Galvano?" tanya Sergio terpana di balik telepon.
"Aku tidak merebutnya, Sergio. Aku hanya mengambil apa yang seharunya mendapatkan tempat yang pantas," balas Javier mantap.
"Siapkan segalanya. Dan jangan berani-berani membocorkan hal ini pada siapa pun."
"Baik, Tuan Vernand," pasrah Sergio sebelum mengakhiri panggilan.
Javier meletakkan ponselnya di atas dashboard. Ia memutar tubuhnya menghadap Yoselin penuh. Ditatapnya lekat-lekat wajah mulus yang tengah terlelap itu. Binar mata abu-abu Javier memancarkan obsesi dan ketertarikan yang sangat dalam, membakar seluruh keraguan yang sempat singgah di kepalanya.
Javier perlahan memajukan tubuhnya, menopang lengan di sandaran kursi Yoselin. Ia mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya menerpa permukaan kulit dan bibir bawah bervolume milik Yoselin.
"Kalau begitu... apa aku boleh mendekatimu, Yoselin?" tanyanya serak, suaranya hampir berbisik di tengah keheningan malam.
Yoselin tidak menjawab, hanya menghembuskan napas halus dalam tidurnya.
Javier menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. "Kamu menolak pun, aku akan tetap maju, Sayang," bisiknya tepat di depan bibir wanita itu.
Tanpa mampu menahan dorongan di dadanya lagi, Javier memiringkan kepala dan mengecup lembut bibir bawah Yoselin yang sejak awal ingin ia kecup. Sentuhan hangat itu berlangsung beberapa detik, terasa begitu lembut namun sarat akan klaim kepemilikan.
Setelah melepaskan kecupan itu, jemari panjang Javier terulur, mengelus lembut bibir bawah Yoselin yang merona alami.
"Aku tidak peduli kamu sudah menikah atau tidak," tegas Javier pelan, menatap intens tiap inci wajah wanita di hadapannya.
"Pria itu tidak pernah menganggapmu ada, dan aku tidak akan membiarkan wanita berharga sepertimu terus-terusan meratapi pria yang salah."
Javier mendekatkan bibirnya ke telinga Yoselin, membiarkan bisikannya merayap halus dalam lelapnya tidur sang wanita.
"Jika suamimu tidak bisa memberikan rumah yang hangat untukmu... maka aku bersedia menjadi rumahmu, Yoselin."
Javier menarik kembali tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada kursi pengemudi. Sepasang mata abu-abunya berkilat penuh tekad. Senyuman tipis yang terukir di wajah tampannya kini berubah menjadi senyuman misterius yang sarat akan ambisi berbahaya.
"Jadi, selamat datang di duniaku, Yoselin..." ucap Javier pelan seraya menyalakan kembali mesin mobil mewahnya.
"Kedepannya, kamu harus siap menghadapi diriku. Karena aku tidak akan pernah melepaskan mu."
Bersambung...
Ngeri juga Javier ya, obsesi banget kayaknya.😱