NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan Dan Surat Tanah

Sari tidak ingat bagaimana kakinya bisa berlari lagi.

Padahal satu jam yang lalu ia hampir pingsan di padang sabana karena kehabisan darah. Tapi saat mendengar nama Johan kecelakaan dan surat tanahnya ada di saku Johan, entah dari mana tenaganya muncul lagi.

Ia meninggalkan Bintang yang masih terpasang oksigen bersama Mama Leni dan Dokter Anya di Puskesmas, dan berlari mengikuti Pak Paulus kembali ke Padang Sabana, ke tikungan tajam tempat motor Johan selip.

Tempat kecelakaan itu sudah ramai. Warga yang tadi membubarkan diri, kini kembali berkumpul. Bau bensin bercampur tanah becek.

Motor trail Johan tergeletak di selokan, bannya masih berputar pelan. Di pinggir jalan, Johan terbaring dengan kepala berdarah. Darahnya mengalir deras dari pelipis kirinya, membasahi tanah merah. Matanya tertutup. Napasnya mengorok.

Lina duduk di sebelahnya, memeluk Kevin yang menangis kencang karena kaget. Tapi Lina tidak memeluk Johan. Ia hanya duduk dengan wajah panik, sibuk menelepon seseorang dengan HP mahalnya yang susah sinyal, berteriak, "Halo! Halo! Kecelakaan! Di padang!"

Sari berlutut di samping Johan. Tangan Sari gemetar.

Untuk sesaat, semua rasa bencinya hilang. Yang ada di depannya bukan lagi suami yang mengkhianati, bukan laki-laki yang mau merebut tanahnya, bukan bapak yang menolak anak cacatnya. Yang ada di depannya adalah manusia yang sekarat.

"Johan... Johan... bangun..." bisik Sari, menepuk pipi Johan pelan.

Johan tidak merespon. Darah dari kepalanya semakin banyak.

Pak Paulus datang dengan napas terengah-engah membawa kain sarung. "Tekan lukanya, Sari! Tekan! Jangan sampai dia mati di sini! Puskesmas jauh!"

Sari menekan luka di kepala Johan dengan kain sarung itu. Kain putih itu langsung merah.

Saat itulah, dari saku jaket Johan yang robek karena jatuh, sebuah lipatan kertas cokelat terjatuh ke tanah becek.

Sari melihatnya. Pak Paulus melihatnya. Lina juga melihatnya.

Lina dengan cepat hendak mengambilnya, tapi Sari lebih cepat. Tangan Sari yang berlumuran darah Johan meraih kertas itu.

Sari membuka lipatan kertas itu dengan tangan gemetar. Kertasnya sudah lecek dan kena sedikit darah.

Tulisannya jelas. Surat Keterangan Tanah. Atas nama: SARI BINTI MARIA. Luas: 2 hektar ladang garam dan 1 gubuk. Dan di bawahnya, ada tanda tangan palsu atas nama Sari, dan materai. Surat itu sudah disiapkan untuk dijual. Harganya tertulis: Rp 50.000.000.

Lima puluh juta.

Sari menatap kertas itu, lalu menatap Johan yang koma di pangkuannya. Air matanya yang tadi kering, kini mengalir lagi. Tapi kali ini bukan air mata sedih karena ditinggalkan. Ini air mata karena dikhianati untuk kedua kalinya, bahkan saat ia sudah di titik paling rendah.

"Jadi ini... jadi ini alasanmu pulang, Johan?" bisik Sari di telinga Johan yang tidak sadar, suaranya pecah. "Bukan karena aku... bukan karena Bintang... tapi karena tanah ini? Tanah bapakku... satu-satunya yang Ibu punya untuk hidup sama Bintang... mau kau jual juga?"

Lina yang melihat surat itu sudah di tangan Sari, wajahnya langsung berubah pucat, lalu menjadi marah.

"Eh, kasih sini! Itu bukan urusanmu! Itu surat Johan!" teriak Lina, hendak merebut.

Pak Paulus langsung berdiri di depan Sari, menghalangi Lina dengan tongkatnya. "Jangan sentuh dia! Lina! Kau dan Johan sudah keterlaluan! Selama ini kami pikir Johan merantau! Ternyata mau jual tanah istrinya sendiri yang lagi melahirkan anak cacat!"

Warga yang mendengar itu langsung ribut. "Pantas dia bawa perempuan kota! Mau jual tanah!"

"Dasar laki-laki tidak tahu diri!"

Lina yang malu dan takut karena dikepung warga, langsung menggendong Kevin dan berlari menjauh, meninggalkan Johan yang masih berdarah di pangkuan Sari. "Terserah! Urus sendiri suamimu itu! Aku mau pulang ke Waingapu!"

Dan Lina benar-benar pergi. Ia menghentikan mobil sayur yang lewat dan naik, meninggalkan Johan.

Kini, di tengah padang sabana yang luas, yang tersisa hanya Sari yang memangku Johan yang koma dengan kepala berdarah, Pak Paulus yang bingung, dan beberapa warga yang hanya menonton.

Ambulans Puskesmas yang dipanggil Dokter Anya akhirnya datang, mobil bak terbuka yang dimodifikasi. Perawat turun dengan tandu.

"Dokter Anya bilang, Bintang harus segera ke Waingapu hari ini juga! Kalau tidak, yayasannya tutup pendaftaran! Tapi..." perawat itu melihat Johan yang berdarah, "tapi Puskesmas hanya punya satu ambulans dan satu sopir! Kita tidak bisa bawa dua pasien sekaligus! Harus pilih! Bawa bayi cacat ke Waingapu, atau bawa Johan yang kecelakaan ke Waingapu! Tidak bisa dua-duanya! Bensin hanya cukup satu jalan!"

Dunia Sari runtuh untuk ketiga kalinya hari itu.

Pilihan yang tidak masuk akal.

Di Puskesmas, Bintang, anaknya, bayi perempuannya yang baru lahir semalam, yang kaki bengkoknya bisa sembuh kalau berangkat hari ini juga, sedang menunggu ambulans. Kalau tidak berangkat hari ini, Bintang akan cacat seumur hidup.

Di pangkuannya, Johan, suaminya, ayah kandung Bintang, bapak yang harus tanda tangan surat yayasan agar Bintang bisa operasi gratis, sedang sekarat kehabisan darah. Kalau tidak dibawa ke Waingapu sekarang, Johan bisa mati karena pendarahan otak. Dan kalau Johan mati, tidak ada tanda tangan, Bintang juga tidak bisa operasi.

Sari harus memilih. Menyelamatkan anaknya yang cacat, atau menyelamatkan suaminya yang mengkhianatinya dan mau menjual tanahnya.

Kalau ia pilih Bintang, Johan mati, dan tanpa tanda tangan Johan, operasi gratis Bintang tetap tidak bisa dilakukan. Bintang tetap cacat.

Kalau ia pilih Johan, Bintang akan kehilangan waktu emasnya untuk sembuh, dan bisa jadi infeksinya kambuh lagi dan mati di Puskesmas.

Pak Paulus menatap Sari dengan iba. "Sari... kau yang putuskan. Kau istrinya. Kau ibunya."

Sari menatap Johan yang wajahnya pucat dan berdarah di pangkuannya. Lalu ia menatap ke arah Puskesmas di kejauhan, tempat Bintang berada.

Air mata, darah, lumpur, dan surat tanah lima puluh juta itu ada di tangannya yang gemetar.

Dengan suara yang hampir tidak terdengar karena tertelan angin padang sabana, Sari berbisik...

"Pak... tolong... bawa..."

 

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!