Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: TURUN GUNUNG
Sementara itu, jauh di dimensi lain, di Perguruan Anggrek Putih, Desa Ngargoyoso.
Orang-orang masih berdiri mematung di halaman istana baru, bersedih menatap pusaran angin cahaya yang perlahan-lahan menghilang di langit, tempat dimana Bima Samudra baru saja pergi meninggalkan mereka.
Tangisan pelan dari tujuh istrinya masih terdengar, Amelia memeluk Intania yang terisak di bahunya.
Sementara itu, Bima Samudra yang berada di dalam lorong teleportasi lintas waktu dan ruang, merasakan tubuhnya melayang dengan sangat cepat di antara cahaya-cahaya bintang yang berkelebat seperti komet.
Angin kosmik yang dingin berdesir di telinganya, namun di dalam hatinya terasa hangat, karena dia sudah mulai melihat sebuah titik cahaya kecil yang terang di ujung lorong yang gelap itu, cahaya itu semakin membesar, menandakan dia sudah sangat dekat dengan tujuan akhirnya.
Tak selang berapa lama,
"Wuuussssst..."
Dengan suara desiran yang halus, Bima keluar dengan selamat dari pusaran angin yang merupakan jalur teleportasi lintas waktu yang dibuat oleh Eyang Jagat Buana.
Setelah keluar dan kakinya kembali menginjak tanah yang kokoh, Bima tertegun sejenak.
Dia berada tepat di depan sebuah air terjun yang alirannya sangat deras dan terasa sangat tidak asing di hatinya. Kabut tipis menari-nari di permukaan air.
Yah, itu adalah Air Terjun Tujuh Warna, atau yang oleh warga sekitar Gunung Lawu sering disebut sebagai Grojogan Sewu, tempat awal mula Bima tersedot masuk ke dalam dunia kultivasi beberapa bulan yang lalu.
Udara di sini begitu sejuk, aroma pinus dan tanah basah yang sangat dia rindukan.
Sesampainya di sana, dengan rasa gembira yang meluap-luap, Bima langsung memanggil-manggil nama gurunya dengan lantang, suaranya menggema di antara tebing-tebing batu.
"Guru...! Ratu Ayu Kirana...! Bima sudah pulang, Guru...!"
Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Hanya suara gemuruh air terjun yang menjawab panggilannya. Lembah itu sunyi dan kosong.
Setelah mencari ke setiap sudut, ke balik batu-batu besar dan ke dalam gua kecil tempat dia dulu bermeditasi, namun tak ada hasil sama sekali, tidak ada jejak gurunya.
Tatapan Bima yang tadinya penuh harap perlahan-lahan tertuju pada sebuah tugu batu kuno yang berdiri tegak di dekat pohon beringin besar, di atas tugu batu itu, tertulis dengan ukiran cahaya sebuah nama yang sangat dia kenal, namanya sendiri.
"Bima Samudra"
"Haaa... itu pasti pesan yang ditinggalkan oleh Guru untuk ku," gumam Bima dengan gembira, hatinya kembali berdebar.
Setelah sampai di depan tugu batu itu, Bima tanpa ragu meneteskan sedikit darah segar dari ujung jarinya untuk membuka segel pesan yang ditinggalkan oleh gurunya, sesuai dengan ajaran yang dulu pernah diajarkan.
Setelah tetesan darah itu diserap dengan cepat oleh tugu batu yang bercahaya, tiba-tiba,
"Wuuung..."
Sesosok jiwa yang sangat dia kenal, yang sangat dia rindukan, muncul dengan perlahan dari dalam tugu batu itu, sosoknya anggun, cantik, dan berwibawa, dengan selendang putih yang berkibar.
Yang tak lain adalah gurunya sendiri, Ratu Ayu Kirana.
"Bima, murid ku yang terkasih, jika kamu melihat pesan bayangan jiwa ini, itu berarti kamu telah berhasil menyelesaikan tugas pertama mu di dunia lain dan telah kembali dengan selamat. Guru sangat bangga dan percaya kepada mu," kata bayangan jiwa Ratu Ayu Kirana dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, seperti seorang ibu.
"Pergilah, Nak, turunlah dari Gunung Lawu sekarang. Bantulah ketujuh kakak seperguruan mu. Mereka sudah menunggumu di bawah sana. Dan jangan lupa satu hal, rahasiakan kekuatan mu yang sebenarnya. Di dunia bawah, dunia manusia modern, terkadang ada beberapa hal yang harus kita tutupi dan kita simpan rapat-rapat untuk keamanan diri kita dan keluarga kita."
"Carilah ketujuh kakak seperguruan mu, mereka sekarang berada dan bernaung di sebuah organisasi yang mereka bangun sendiri, organisasi itu bernama Tujuh Bidadari. Mereka semua ada di sana menanti mu."
"Sampai jumpa lagi, murid ku tersayang, jagalah diri mu baik-baik di luar sana. Guru selalu mendoakan mu."
Setelah menyampaikan pesan terakhir itu dengan senyum yang penuh cinta, sosok bayangan jiwa Ratu Ayu Kirana itu pun langsung menghilang tanpa jejak, menjadi butiran-butiran cahaya yang beterbangan dan menyatu dengan kabut air terjun.
Bima berdiri terdiam cukup lama di depan tugu itu, hatinya terasa hangat sekaligus sesak karena rindu.
Tanpa membuang-buang waktu lebih lama lagi, Bima langsung berteleportasi menuju ke kota terdekat di bawah kaki Gunung Lawu.
Setelah berada di kota, yaitu Kota Solo yang ramai, Bima berjalan dengan santai di trotoar Jalan Slamet Riyadi. Dia melihat gedung-gedung tinggi, mobil-mobil yang berlalu lalang, dan orang-orang dengan pakaian modern yang belum pernah dia lihat selama berbulan-bulan.
Dia bingung harus mencari markas Organisasi Tujuh Bidadari itu kemana di kota sebesar ini, dia sama sekali tidak memiliki alamat.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran mewah yang terlihat ramai untuk makan siang sekaligus mencari informasi dari orang-orang di sana.
Tapi saat baru saja berada di depan pintu masuk restoran padang yang megah itu, Bima langsung diusir dengan kasar oleh dua orang satpam berbadan besar karena penampilannya yang masih sangat aneh, karena dia masih menggunakan pakaian beskap Jawa kuno berwarna hitam emas dari pernikahannya, yang terlihat sangat tidak cocok di zaman modern.
"Hei, Mas, mau kemana...? Pengemis dilarang masuk ke restoran ini...! Sana pergi...!" kata satpam itu dengan nada merendahkan.
Orang-orang yang sedang makan di dalam restoran pun banyak yang menoleh dan menertawakannya.
"Sayang sekali, masih muda, tampan, gagah, tapi sudah gila, pakaiannya seperti pemain kethoprak yang nyasar," begitulah cibiran orang-orang di sana terhadap Bima.
Di dalam hatinya, Bima berpikir, dengan satu kibasan tangannya saja, dia bisa memusnahkan seluruh restoran ini menjadi debu jika dia mau.
Tapi Bima memilih untuk diam dan menahan diri, dia teringat pesan gurunya untuk merahasiakan kekuatannya. Dia tidak ingin membuat keributan di hari pertamanya kembali.
Dengan tatapan yang dingin, Bima pun pergi dengan menggunakan teknik teleportasi kecilnya.
"Wusssst..."
Melihat Bima yang tiba-tiba menghilang begitu saja di depan mata mereka seperti ditelan angin, orang-orang yang tadi mengejeknya seketika jadi pucat pasi ketakutan, piring mereka sampai terjatuh, mereka mengira baru saja melihat hantu atau makhluk halus dari Gunung Lawu.
Sementara itu, Bima sendiri sudah pergi jauh, dia sengaja pergi ke pusat toko emas terbesar yang ada di negara ini, dia sengaja memilih untuk pergi ke sebuah negara tetangga yang jauh, yaitu ke Singapura, untuk menjual sebagian emasnya, karena di dunia modern ini dia sadar dia harus punya uang kartal agar bisa bertahan hidup.
Setelah sampai di depan toko emas raksasa yang berkilauan di Orchard Road, lagi-lagi Bima dicegat dan dipandang sebelah mata oleh penjaga toko karena penampilannya.
Tapi dengan tenang, Bima mengeluarkan sebatang emas murni seberat satu kilogram dari dalam Alam Jiwanya, dari simpanan warisan Eyang Jagat Buana.
"Aku ingin bertemu dengan pemilik toko ini, aku ingin menjual ini," kata Bima sambil menunjukkan emas batangan yang berkilau terang di tangannya.
Melihat itu, para penjaga yang tadinya angkuh langsung kaget setengah mati melihat ukuran dan kemurnian emas yang dipegang Bima, emas itu berkilau jauh lebih terang dari emas biasa.
Akhirnya dengan sopan, penjaga itu mengantar Bima masuk ke dalam ruangan VIP, dia berpikir orang di depannya ini mungkin adalah seorang sultan atau anak dari konglomerat yang beruntung menemukan harta karun.
Setelah sampai di dalam ruangan ber-AC yang mewah, seorang pelayan toko yang terlihat ragu-ragu segera memanggil bos besarnya, yang tak lain adalah pemilik toko emas terbesar di Singapura itu, seorang pria tua keturunan Tionghoa yang bijak.
Setelah bertemu dan berjabat tangan dengan Bima, tanpa basa-basi yang panjang, Bima pun bertanya dengan santai,
"Berapa harga benda ini per gram nya di sini, Paman...?"
Pemilik toko itu lalu memeriksa emas itu dengan alat khusus dan kaca pembesar, matanya langsung membelalak kaget.
"Wah, Anak Muda, ini... ini sangat murni...! Kemurniannya 99,99 persen, ini emas murni kualitas kerajaan...! Saya belum pernah melihat emas semurni ini selama 40 tahun saya berbisnis...! Saya berani beli dengan harga satu juta lima ratus ribu rupiah per gram nya...!"
"Oke, deal," kata Bima tanpa berpikir panjang, karena dia tidak terlalu mengerti nilai tukar uang modern.
Karena berat emas yang dia bawa itu ada sepuluh kilogram, yang berarti sepuluh ribu gram, jadi totalnya adalah lima belas miliar rupiah.
"Mau ditransfer kemana uangnya, Tuan Muda...? Ke rekening bank mana...?" tanya pemilik toko itu dengan hormat.
"Saya mau tunai saja, Paman," kata Bima dengan santai.
"Bukankah kamu akan kesulitan membawa uang sebanyak itu jika tunai, Tuan Muda...? Dan juga tidak aman membawa uang tunai sebanyak itu di jalan, bisa dirampok orang," kata pemilik toko itu dengan tulus khawatir.
"Terima kasih banyak atas kepedulian mu, Paman. Tapi saya tetap ingin tunai saja, saya ada keperluan mendesak," jawab Bima.
"Baiklah jika itu memang keinginan mu, Tuan Muda."
Sang pemilik toko lalu masuk ke dalam brankas rahasianya dan keluar dengan membawa sepuluh koper besar yang berisi uang, bersama dengan empat orang pelayannya yang mengangkatnya dengan susah payah.
"Ini uangnya, Tuan, lima belas miliar, silakan dihitung dulu," kata pemilik toko.
Bima yang sudah memeriksa keaslian uang itu dengan menggunakan akal ilahi dan mata batinnya pun berkata dengan tenang,
"Tidak perlu dihitung, Paman, saya percaya kepada Anda, orang jujur seperti Anda jarang ada."
"Wusssst..."
Dalam sekejap, di depan mata kepala pemilik toko itu, semua tumpukan uang yang menggunung itu menghilang begitu saja ke dalam Alam Jiwa milik Bima yang berbentuk cincin giok di jarinya, yang hanya menyisakan sepuluh koper kosong yang terbuka.
"Terima kasih banyak, Paman, aku pergi dulu," kata Bima sambil tersenyum, yang membuat pemilik toko yang masih kebingungan dan menggosok-gosok matanya karena mengira dia sedang bermimpi.
"Lain kali jika punya emas murni seperti ini lagi, jangan lupa kembali kesini ya, Tuan Muda...!" teriak pemilik toko itu kepada Bima yang telah berjalan pergi jauh dan menghilang di keramaian.
Setelah mendapatkan cukup banyak uang tunai di dalam Alam Jiwanya, Bima kembali berteleportasi ke Kota Solo, dia pergi ke sebuah pusat perbelanjaan pakaian mewah terbesar di Solo Paragon Mall.
Sama seperti sebelumnya, di depan pintu masuk butik mewah itu, dia tetap dicegat oleh penjaga toko yang melihat penampilannya yang aneh.
Karena tak mau repot berdebat lagi, Bima dengan santai mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan dari sakunya.
"Aku mau beli baju yang bagus di sini, jangan halangi aku," kata Bima.
Melihat Bima memegang uang tunai yang banyak, penjaga itu pun dengan wajah yang langsung berubah ramah mengizinkan nya masuk sambil membungkuk.
Setelah berada di dalam butik yang harum dan mewah itu, Bima langsung mengambil begitu banyak pakaian yang cocok dengan tubuhnya yang atletis dan gagah, ada kemeja, celana jeans, jaket kulit, dan sepatu, lalu segera membawanya ke kasir.
"Hei, Nak, apa kau sadar apa yang kau lakukan...? Kau mengambil hampir seluruh koleksi terbaru kami...!" kata seorang kasir wanita dengan tampang yang sangat merendahkan dan sinis kepada Bima.
"Sudah, jangan banyak bicara, cepat hitung semuanya, biar aku yang membayarnya," kata Bima dengan sedikit kesal.
Dengan kesal dan menggerutu, kasir itu menghitung semuanya dengan kasar,
"Totalnya ada tiga ratus dua puluh satu juta rupiah...!" kata kasir itu yang terus ngomel dengan angkuh, "Kau pasti tak akan sanggup membayarnya, kau hanya membuang-buang waktu ku saja untuk menghitung semua ini, dasar anak kampung...!"
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang tegas, itu adalah seorang wanita cantik yang sangat anggun, berusia sekitar tiga puluhan, menggunakan jas blazer hitam yang elegan, dia berjalan dengan sangat anggun dan berwibawa, ternyata dia adalah pemilik dari butik mewah itu.
"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut di sini...?" tanya wanita cantik itu dengan suara yang tegas.
"Maaf, Bu, orang gila ini mengambil begitu banyak pakaian mahal yang membuat waktu ku terbuang percuma untuk menghitung nya, padahal dia jelas tidak mampu bayar," lapor kasir itu dengan mengadu.
"Nona, aku akan membayar semuanya," kata Bima dengan tenang.
"Diam...!" bentak kasir itu dengan angkuh kepada Bima, karena dia yakin orang di depannya ini tak mungkin sanggup membayar tiga ratus juta.
"Wuuussssst..."
Bima dengan santai mengeluarkan tiga tumpuk besar uang tunai dengan jumlah tiga ratus dua puluh satu juta rupiah dari dalam Alam Jiwanya dan meletakkannya di atas meja kasir dengan suara yang keras.
"Silakan dihitung kembali, Nona, dan jangan menilai orang dari penampilannya saja," kata Bima.
Wanita pemilik butik dan kasir yang angkuh itu pun kaget setengah mati melihat Bima benar-benar membayar nya secara tunai dengan uang sebanyak itu, mata mereka terbelalak tidak percaya.
"Hitung sendiri dengan teliti," kata Bima dengan acuh tak acuh.
Setelah dihitung dengan tangan gemetar oleh kasir itu, uangnya ternyata sangat pas, tidak kurang sepeser pun.
Bima lalu masuk ke ruang ganti dengan membawa beberapa setel pakaian baru.
Setelah beberapa menit kemudian, Bima keluar dari ruang ganti dengan penampilan barunya.
Dengan kemeja putih yang pas di badan, celana jeans hitam, dan jaket kulit yang gagah, ditambah dengan wajahnya yang tampan alami dan rambutnya yang sedikit panjang tergerai, Bima terlihat begitu tampan, gagah, dan karismatik seperti seorang aktor film Hollywood. Aura pendekar dari Gunung Lawu nya membuat penampilannya semakin memikat.
Sehingga semua orang yang ada di dalam butik itu, para pramuniaga dan para pembeli wanita yang melihat nya, langsung terpesona dan terdiam menatapnya dengan kagum.
"Tuan, saya sebagai pemilik butik ini, saya atas nama Sinta Maharani, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian dan ketidaksopanan pegawai kami terhadap Tuan," kata wanita cantik pemilik butik itu sambil membungkuk dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Nona Sinta, tapi tolong pastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi kepada orang lain di butik Anda. Jangan pernah memandang dan menilai orang hanya dari luarnya saja," kata Bima sambil menatap tajam kepada sang kasir yang tadi angkuh.
Melihat tatapan mata Bima yang tajam dan dalam seperti mata elang itu, kasir yang angkuh itu seketika merasa lemas dan seperti dicekik, kakinya gemetar.
"Tuan, kami pastikan hal yang memalukan ini tidak akan pernah terjadi lagi di masa depan," janji pemilik butik itu. Lalu dengan lantang dan tegas, di depan semua orang, pemilik butik itu langsung memecat kasir yang angkuh itu dari pekerjaannya.
Melihat itu, Bima hanya tersenyum tipis dengan rasa puas, dalam hatinya dia berpikir, semuanya di dunia modern ini ternyata hanya dilihat dari uang, sungguh sebuah pemandangan yang menjijikkan, tapi itulah kenyataannya.
Tanpa basa-basi lagi, setelah memasukkan semua kantong belanjaannya ke dalam Alam Jiwa nya yang berbentuk cincin, Bima langsung menghilang dari butik itu dengan teknik gerak cepatnya.
Dan dalam sekejap, dia sudah kembali lagi ke depan restoran padang mewah yang tadi mengusirnya di Jalan Slamet Riyadi.
Melihat penampilan Bima yang sekarang sudah sangat keren, gagah, dan berwibawa dengan pakaian mahal yang harganya ratusan juta, para satpam yang tadi mengusirnya langsung menyambutnya dengan sangat ramah, dengan membungkukkan badan sampai 90 derajat, tanpa mereka sadari sama sekali bahwa pemuda tampan di depan mereka itu adalah orang aneh yang sama yang baru saja mereka usir dengan hinaan tadi pagi.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?