NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Anak Kost

Sisi Gelap Anak Kost

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin / Slice of Life
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Cerita terinspirasi kisah nyata!

Karena tak tahan dengan kerasnya didikan sang ayah, Galih nekat pergi dari rumah. Dia meninggalkan kampung halamannya hanya dengan selembar uang seratus ribu.

Galih memilih pergi ke ibukota. Di sanalah dia menemukan tempat tinggal baru yaitu sebuah kost campuran. Di sana Galih bertemu wanita cantik yang ternyata istri orang, lalu gadis pendiam misterius, serta lelaki mencurigakan yang terus menatapnya. Saat satu per satu misteri terkuak, Galih sadar, tempat yang ditinggalinya punya sisi gelap tak terduga.

Di antara sisi gelap itu, Galih berusaha keras mengejar mimpi dan memperbaiki kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Nikah Siri

Dua hari berselang, malam yang dinanti-nanti pun tiba. Di dalam kamar Indri yang telah dibersihkan dan ditata sedemikian rupa, dilangsungkan lah akad nikah siri yang sangat sederhana dan tertutup. Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada jamuan tamu undangan yang meriah, dan tidak ada senyum kebahagiaan yang berlebihan.

Pak Yono hadir sebagai wali formal lingkungan kosan sekaligus saksi utama. Sang ustaz paruh baya yang dipanggil Indri duduk bersila di atas lantai kayu, menatap Galih dan Indri dengan khidmat. Galih mengenakan kemeja putih lengan panjang agak kebesaran, sebuah kemeja pinjaman dari Pak Yono yang tampak sedikit longgar di bahunya, dipadukan dengan celana jins hitam. Sementara Indri tampak anggun dalam balutan dress putih sederhana berpotongan longgar yang menyamarkan perut buncitnya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Indri Permata binti Ahmad dengan mas kawin tersebut, tunai!" ucap Galih tegas, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun saat menjabat tangan sang ustaz.

"Sah?" tanya sang ustaz melihat ke arah Pak Yono.

"Sah," jawab Pak Yono singkat mengangguk.

Selesai doa dipanjatkan, pernikahan siri itu resmi terikat di mata agama. Pak Yono berpesan singkat agar setelah ini tidak ada lagi kehebohan atau gosip miring di kostannya, sebelum akhirnya pria tua itu berpamitan keluar kamar. Di luar jendela, malam berangsur larut, menyisakan Galih dan Indri berdua di dalam kamar berukuran sempit tersebut.

Suasana mendadak terasa agak canggung. Indri menatap Galih dengan mata berbinar haru, sementara Galih menghela napas panjang, merapikan lengan kemeja putihnya yang kepanjangan.

"Alhamdulillah... semua sudah selesai, Galih," bisik Indri pelan, memecah keheningan. "Terima kasih banyak... kamu sudah menepati janjimu."

"Sama-sama, Mbak—ah, maksudku, Indri," ralat Galih cepat, mengingat kini status mereka telah berubah meski hanya di atas kertas kontrak. "Sesuai janji kita, pernikahan ini murni kontrak dan pelindung siri. Sekarang, aku harus kembali ke kamar.

Indri mengangguk cepat. Ia menunjuk ke arah sudut kasur dan lemari plastiknya. "Tapi, Galih... Soal tempat tidur, kamu harus pindah ke kamar ini sepenuhnya. Mulai malam ini, kita harus tinggal bersama."

Galih mendadak menaikkan sebelah alisnya, kerutan samar muncul di dahinya. "Kenapa aku harus pindah ke sini?"

Indri memasang wajah memelas seraya meremas ujung gaun putihnya. "Galih, coba pakai logika. Kalau kita sudah resmi menikah siri tapi kamu masih tidur sendirian di kamar ujung, apa kata orang-orang kostan? Ifan dan yang lain pasti akan mengawasi gerak-gerik kita. Kalau mereka tahu kita pisah kamar, mereka bakal curiga kalau pernikahan ini cuma sandiwara, dan fitnah baru bakal muncul lagi. Kita harus tinggal satu kamar demi keselamatan rencana kita."

Galih terdiam seribu bahasa. Ia tahu Indri ada benarnya. Lingkungan kosan ini dipenuhi orang-orang usil seperti Ifan yang hobinya mencari-cari celah kesalahan orang lain. Jika mereka terlihat tinggal terpisah, maka seluruh pengorbanan dan status pernikahan siri ini akan sia-sia dan justru mendatangkan masalah baru yang lebih rumit.

Namun, bukan hanya alasan itu saja yang membuat Galih akhirnya melunak. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, bayang-bayang teror misterius beberapa hari lalu, mulai dari orang yang mengintipnya mandi di kamar mandi belakang, langkah kaki mencurigakan di depan pintu, hingga insiden aneh saat ia terbangun dalam keadaan telanjang bulat, kembali berkelebat di kepalanya. Tidur bersama di kamar Indri, setidaknya di tengah situasi psikologis yang tidak aman itu, memberikan sedikit rasa perlindungan dan kelegaan baginya dari teror tak kasat mata yang menghantui kamar ujung.

"Baiklah... Aku paham," putus Galih akhirnya dengan helaan napas pasrah. "Aku akan pindahkan kasur lantai dan barang-barangku ke sini."

Malam itu juga, Galih membawa ransel, pakaian, dan kasur tipis miliknya dari kamar ujung untuk digabungkan ke kamar Indri. Sejak saat itulah, kehidupan pernikahan kontrak mereka resmi dimulai di bawah atap bilik kayu yang sempit.

Meskipun terikat dalam status suami-istri siri kontrak, Galih adalah seorang pemuda berhati nurani bersih yang dididik penuh tanggung jawab oleh ibunya. Ia tahu betul bahwa Indri adalah seorang wanita malang yang sedang berjuang seorang diri menghadapi kehamilan di tengah terpaan caci maki dunia luar. Oleh karena itu, Galih memperlakukan Indri dengan tingkat perhatian dan kelembutan yang luar biasa.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja ke warung, Galih selalu memastikan air hangat dan teh sudah tersedia untuk Indri. Jika Indri tampak mual atau kelelahan akibat gejala hamil muda, Galih sigap memijat pelan tengkuk atau kaki wanita itu. Ia tidak pernah bersikap kasar atau menuntut haknya sebagai suami. Segala bentuk interaksi mereka berjalan dalam koridor saling menghormati dan menjaga batasan kontrak.

Perhatian tulus, ketulusan sikap, dan kedewasaan di luar usia muda yang ditunjukkan oleh Galih lama-kelamaan meresap dalam-dalam ke lubuk hati Indri. Wanita yang dulunya terbiasa dikhianati, diperdaya oleh janji manis pria berjaket jins, dan nyaris mengakhiri hidupnya itu, kini mendapati dirinya luluh sepenuhnya.

Setiap tatapan Galih, setiap gerak-gerik sigap pemuda itu dalam melindunginya dari pandangan sinis tetangga kost, membuat debaran halus bersemi di dada Indri. Tanpa bisa ia cegah, rasa kagum itu perlahan-lahan berubah menjadi benih-benih cinta yang tulus. Indri mulai menaruh hati pada suami kontraknya sendiri, sebuah ironi manis di tengah nasib hidup mereka yang kelam.

Namun, di tengah dinamika pernikahan kontrak yang mulai menemukan ritmenya, Galih juga dihadapkan pada kenyataan pahit di tempat kerjanya.

Warung Makan Bu Asih milik Pak Susilo tetap saja sepi. Hari demi hari berlalu, meja-meja kayu di depan nyaris tidak pernah tersentuh pelanggan selain satu-dua orang yang lewat kebetulan. Galih sering merasa kasihan melihat Pak Susilo yang kerap melamun menatap jalanan, serta Bu Asih yang kelelahan menyiapkan bahan masakan yang akhirnya banyak terbuang percuma karena tidak laku.

Suatu siang, saat warung sedang lengang tanpa pembeli, Galih izin masuk ke area dapur tempat Pak Susilo sedang bersiap meracik bumbu dasar di atas kompor. Pria tua itu tampak mencicipi kuah rebusan sayur buatannya sendiri, lalu mendengus kecewa sembari menggelengkan kepala pelan.

Galih mendekat secara sopan. Sejak kecil, ia sering membantu ibunya memasak di dapur desa. Bahkan selama dalam pelariannya dan membaca berbagai resep di internet lewat ponsel murahnya, Galih selalu memendam minat besar terhadap dunia kuliner dan teknik meracik rasa.

"Boleh saya coba cicipi kuahnya, Pak?" tanya Galih hati-hati.

Pak Susilo menoleh, mendengus ketus seperti biasa. "Tahu apa kamu soal rasa? Silakan kalau mau cicipi. Rasanya emang kurang nendang, udah tua lidah saya."

Galih mengambil sendok kecil, mencicipi kuah sayur buatan Pak Susilo. Benar kata pria tua itu, rasanya hambar, kurang gurih, rempahnya kurang meresap, dan penyajiannya terkesan seadanya. Wajar jika para pembeli enggan mampir ke warung ini dua kali.

"Kalau menurut saya, Pak... bumbu halusnya kurang dibakar atau ditumis lebih lama biar minyaknya keluar dan aromanya wangi," usul Galih dengan sopan, sama sekali tidak bermaksud menggurui. "Terus, rempah seperti ketumbar dan kemirinya bisa ditambah sedikit lagi biar kuahnya lebih pekat dan berkaldu. Ibu saya dulu selalu bilang, rahasia masakan enak itu ada di kesabaran saat menumis bumbunya."

Pak Susilo tertegun. Pria tua itu menatap Galih tajam dengan dahi berkerut, bukan karena marah, melainkan karena kaget mendengar analisis tajam dari seorang pemuda pembantu warung.

"Kamu tahu dari mana urusan masak-memasak begini?" tanya Pak Susilo menyelidik.

"Dulu waktu di desa, saya selalu bantu ibu saya memasak setiap hari, Pak. Dan saya juga suka baca-baca resep makanan," jawab Galih jujur tersenyum tipis. "Kalau Bapak berkenan... bagaimana kalau hari ini kita coba ubah sedikit cara meracik bumbu lauk utamanya? Saya pengen bantu masak dan kasih sentuhan baru. Siapa tahu dengan rasa yang lebih enak, orang-orang di luar sana jadi penasaran dan warung kita mulai ramai lagi."

Pak Susilo terdiam menatap wajah Galih selama beberapa detik. Ia melihat kesungguhan dan binar harapan yang besar di mata pemuda itu.

"Yaudah! Serah kamu mau berkreasi kayak gimana! Asal jangan bikin bahan makanannya terbuang sia-sia!" gerutu Pak Susilo, meski di sudut bibirnya tersungging senyuman tipis tanda memberi lampu hijau.

Mendapat izin tersebut, mata Galih berbinar cerah.

1
Ardan
ingat warung pak susilo, jangan langsung ditinggalkan, kasihan ledua orang paruh baya tsb, bikin warungnya rame dan maju dulu galih
Ardan
misteri nya blm terpecahkan, antara horor atau ada orang usil nih
fara sina
lanjut kak. semangat selalu ya nulisnyaa
fara sina
ini gak adil. indri kamu bener bener jahat. padahal galih ga ada salah apa apa sama kamu. kamu memanfaatkan kebaikan galih.
fara sina
mas Adit gamau bantu?? kenapa ya🥺 inget mas Adit mas Adit 1 piring Indomie kamu ga ada niatan bantuin
fara sina
sangking baiknya kamu ya galih. padahal kenal belum ada seminggu
fara sina
galih orangnya gaenakan ya. serius jadi orang gaenakan itu gaenak. serba salah
fara sina
kenapa ga pernah akur begitu ya
fara sina
Waduh Galih, jangan senyum kecut aja dong... Hati-hati itu Fika tetangga sebelah beneran takut atau cuma modus malam-malam begini?
fara sina
gerak geriknya serem ya kaya bukan manusia
fara sina
ikutan sedih ya lih, banyak banyak berdoa biar warungnya laris manis.
fara sina
yess, cari cuan dulu ya buat modal nantinya. kalo udah ada modal tambahan juga cari kerja yang gajinya lumayan
fara sina
yuk bisa yuk galih cita citanya bisa terwujud
fara sina
tapi kayanya mba Fika bukan orang jahat ya
fara sina
duh, hati hati galih. jangan gampang menerima pemberian orang asing yang baru kenal apalagi makanan
fara sina
🥺 tetap semangat ya galih. semoga nantinya cepet dapet kerjaan
fara sina
gatau, aku bukan laki laki. kayanya gasemua sama dah
Ekka
aneh
fara sina
sekaligus baik dan pengertian. tau galih ga ada duit inisiatif ngasih duit
fara sina
keuntungan biar banyak yang kos wkwkwk pak Yono
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!