NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. TAWA

Semburat jingga menghiasi langit sore ketika pintu utama kediaman Theodore terbuka. Alih-alih aura dingin dan mencekam yang biasanya menyelimuti rumah itu, kali ini lorong-lorong sepi tersebut dipecahkan oleh suara yang sangat langka. Suara tawa.

"Ahahahaha! Kak Leo lihat tidak tadi muka ikan parinya? Hidungnya pesek seperti tertabrak kaca!"

Itu suara ceria Vellora, berpadu dengan sebuah kekehan berat dan lepas yang berasal dari Leo. Ya, Leo Theodore yang terkenal berdarah dingin itu sedang tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit.

Di balik sebuah pilar kayu tak jauh dari sana, dua sosok pria dewasa sedang mengendap-endap seperti pencuri di rumah sendiri. Liam, sang penguasa keluarga yang tadinya sudah menggenggam erat tongkatnya bersiap memarahi Leo habis-habisan karena insiden di taman kanak-kanak, kini tertegun kaku. Tongkatnya perlahan turun. Di belakangnya, Bara ikut melongok dengan mata membulat.

"Aku... aku tidak pernah melihat anak itu tertawa lepas seperti itu sejak hari kematian orang tuanya," gumam Liam dengan suara bergetar. Sorot mata tuanya yang tajam mendadak meredup, menyiratkan keharuan yang mendalam.

"Mungkin kehadiran Vellora kecil membuat Tuan Muda merasa hidupnya berbeda, Kek," ujar Bara berbisik, ikut tersenyum melihat interaksi manis di ujung lorong sana.

Liam menghela napas panjang, membuang jauh-jauh amarahnya. "Gadis kecil itu... dia perlahan-lahan mencairkan es di hati Leo dan merubah sifat dinginnya," sahut Liam. Rencana omelannya soal kepala sekolah langsung menguap tak berbekas.

Di ujung lorong, Vellora masih tak henti-hentinya berceloteh. Tangan mungilnya bergerak-gerak memperagakan ikan yang ia lihat. "Akuariumnya menyenangkan sekali! Ada hiu sebesar mobil, lalu ada ubur-ubur yang menyala! Nanti kita ke sana lagi ya, Kak?" pekiknya riang sambil merapikan tas beruangnya di atas meja belajar sesampainya di kamar.

Leo bersandar di ambang pintu, melipat tangan di dada dengan senyum yang belum pudar. "Tentu saja. Apa pun yang membuatmu senang, katakan saja padaku."

Leo tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, kolam renang balon berisi bola-bola yang kau inginkan sudah Kakak pesan. Paketnya sepertinya sudah ada di ruang depan. Besok kau sudah bisa bermain dengan itu."

"Emmmm... benarkah?!" Mata bulat Vellora seketika bersinar terang bak bintang jatuh. Ia melompat kegirangan.

"Iya, anak kecil. Sekarang, cepat sana mandi yang bersih. Habis itu kita makan malam," perintah Leo.

Dengan pose tegap yang lucu, Vellora mengangkat tangannya ke dahi, memberi hormat ala militer. "Baik, Boss!" serunya mantap, lalu berlari lari kecil menuju kamar mandi.

Meninggalkan kamar Vellora, perut Leo tiba-tiba berbunyi pelan. Ia pun melangkah menuju dapur niatnya sekadar mencari camilan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat pemandangan absurd di depannya.

Liam Theodore, mantan pembuatan bayaran paling ditakuti, sedang berdiri di depan kompor. Ia memakai celemek merah muda bermotif bunga matahari, tangannya sibuk mengaduk panci besar. Bau harum rempah seketika menguar memenuhi ruangan.

Leo pura-pura tidak melihat pamandangan merusak mata itu. Ia berjalan lurus menuju kulkas dan mengambil sekaleng cola dingin. Pssssht! Suara kaleng dibuka memecah keheningan dapur.

"Jadi, Tuan Muda pembuat onar," sindir Liam tanpa menoleh, masih sibuk mengaduk kare ayamnya. "Gara-gara kelakuan bar-barmu, aku harus datang ke sekolah, dipanggil kepala sekolah, dan menundukkan kepalaku untuk minta maaf atas kelakuanmu!"

"Emmm..." Leo melirik kakeknya sekilas dari ekor mata, lalu menenggak cola-nya dengan santai. "Soal itu, tidak perlu dipikirkan. Besok aku akan memindahkan Vellora ke sekolah yang sangat dekat dari sini. Jaraknya hanya sepelemparan batu, bahkan tidak perlu naik mobil. Tidak akan ada bocah kurang ajar di sana."

Liam menghentikan adukannya. "Ya sudahlah. Kalau itu memang keputusan matangmu, aku ikut saja. Asal Vellora kecil senang dan aman," sahut Liam tenang.

Leo nyaris tersedak cola. Ia menatap Liam dengan kening berkerut. "Hemmm... tumben sekali Pak Tua ini tidak meledak-ledak. Biasanya kau sudah melempar panci ke arahku," pekik Leo heran seraya menarik kursi dan duduk di samping meja pantri tempat Liam memasak.

Liam melirik sekilas cucunya, seulas senyum tipis terbit di sudut bibir keriputnya. "Untuk apa aku membuang tenagaku marah padamu? Bagaimanapun kacaunya dirimu, kau tetap cucuku," gumam Liam lembut, lalu mencicipi kuah karenya dari ujung sendok kayu.

Mendengar itu, hati Leo menghangat, meski wajahnya tetap ia buat sedatar mungkin. Liam kemudian mengangkat panci kare yang mengepulkan asap sedap itu dan memindahkannya ke tengah meja makan raksasa.

Melihat makanan sudah siap, Leo berdiri dan inisiatif mengambil nasi putih dari magic com terdekat.

"Bara! Baraaa! Waktunya makan!" teriak Liam tiba-tiba, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruang makan. Liam memang sudah menganggap pengawal itu seperti cucunya sendiri karena umurnya seumuran dengan Leo.

"Hoamm... iya, Kakek. Ada apa teriak-teriak? Aku masih mengantuk..."

Sebuah suara serak terdengar... dari arah lantai.

Leo melompat kaget saat melihat Bara merangkak keluar dari bawah meja makan, menggosok-gosok matanya seperti beruang kutub yang baru bangun dari hibernasi.

"Astaga, naga! Kenapa kau tidur di bawah meja?!" pekik Liam menggelengkan kepala. "Cepat bangun, cuci muka, lalu makan!"

Bara tertawa canggung, menarik kursi dan duduk tepat di samping Leo yang masih menatapnya dengan tatapan jijik bercampur heran.

Tepat pada saat itu, aroma sabun bayi yang wangi menyapa indra penciuman mereka. "Selamat malam semua! Ahahahaha!" tawa ceria Vellora membelah ruangan. Ia baru saja tiba dengan piyama bergambar beruangnya, rambutnya basah dan disisir rapi.

"Malam, Vellora keciiil!" sambut Liam dengan nada yang mendadak berubah 180 derajat menjadi sangat riang dan manis. Ia buru-buru mengambilkan piring, menyendokkan nasi hangat, dan menuangkan kare ayam dengan porsi daging terbanyak khusus untuk Vellora. "Ayo, duduk, Tuan Putri."

"Emmm... wangi banget! Pasti masakan Kakek, ya?" puji Vellora sambil menghirup aroma kare di depannya dengan mata terpejam.

"Tentu saja! Ayo, cepat dimakan selagi hangat," pekik Liam kegirangan, wajahnya berseri-seri.

Leo menatap piringnya sendiri yang masih kosong, lalu menatap Liam dengan tatapan datar. "Piringku tidak diambilin?" tanyanya sarkas.

Liam memutar bola matanya malas. "Kau kan sudah punya tangan dan kaki, tubuhmu juga sudah sebesar gorila! Ambil sendiri!" sungut Liam, lalu sedetik kemudian kembali tersenyum manis ke arah Vellora. Pengecualian yang sangat pilih kasih.

Leo hanya bisa mendengus pasrah. Ia menyendok kare ayam itu sendiri dan memakannya dalam diam.

"Wah! Enak sekali, Kakek! Aku suka!" puji Vellora sambil mengunyah dengan pipi menggembung.

"Tentu saja. Kakek kan jago masak dari zaman muda," bangga Liam menepuk dadanya.

Sementara itu, di seberang meja, Leo mengunyah dalam keheningan. Bumbu rempah itu meledak di lidahnya, menghantarkan kehangatan yang familiar. Masih sama. Rasanya tidak pernah berubah, batin Leo sendu. Kare ini adalah menu yang sama yang sering dibuat Liam saat orang tuanya masih hidup.

Malam itu, di tengah ruang makan bergaya klasik yang megah, empat manusia dengan latar belakang dan luka yang berbeda duduk bersama. Ditemani sepanci kare ayam dan gelak tawa seorang gadis kecil, mereka perlahan menemukan kembali arti dari kata keluarga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!