Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAGNOSIS GILA
"Maaf, Sin. Aku salah sebut tadi. Namanya dr. Hendra Santosa, bukan Wiryawan."
Tari menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya mengusap wajah. Lampu jalan melintas di kaca depan, menyapu wajahnya yang pucat berkali-kali.
"Wiryawan itu nama keluarga Damar. Aku panik, lidahku kepeleset. Tapi alamat prakteknya betul. Jalan Kenanga nomor 14. Itu rumah Pak Hendra, ayah Melia."
Sinta tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke jalan gelap di depan, tangannya meremas ponsel di pangkuan sampai layarnya berderak pelan.
"Jadi Pak Hendra itu dokter," ucapnya akhirnya.
"Dokter spesialis andrologi. Hasil lab Damar dikirim ke dia untuk dibaca, dan dia yang menandatangani kesimpulannya. Dua tahun lalu, Sin. Dua tahun sebelum ada yang bicara soal Melia."
"Berarti sejak awal."
"Sejak awal apa?"
"Sejak awal ini bukan kebetulan." Suara Sinta rendah, datar, tapi ada getar di bawahnya seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. "Bu Retno tahu Damar tidak bisa punya anak. Pak Hendra tahu. Mereka berdua duduk berdua entah di mana, dua tahun lalu, dan memutuskan apa yang harus dilakukan pada perempuan yang dianggap penghalang."
"Dan Melia?"
"Melia datang belakangan. Mungkin dia memang sudah hamil dengan lelaki lain, lalu dua orang tua itu melihat jalan keluarnya." Sinta tertawa pendek, tanpa humor. "Satu anak perempuan yang hamil di luar nikah, satu anak lelaki yang tidak bisa memberi keturunan. Cocok sekali, bukan? Tinggal satu hal yang mengganggu."
"Kamu."
"Aku."
Tari melambatkan mobil, menepi di bawah pohon trembesi dekat pos ronda yang kosong. Ia mematikan mesin dan menoleh ke sahabatnya.
"Sin, kita ke polisi sekarang. Rekaman tadi cukup untuk laporan percobaan penculikan."
"Aku tahu."
"Tapi?"
"Tapi kita harus siap, Tar." Sinta menatapnya. "Mereka tidak akan diam menunggu. Kalau Bu Retno semalam gentar, itu hanya sebentar. Dia akan bergerak lebih dulu."
"Maksudmu?"
"Maksudku, orang yang tiga puluh tahun menguasai satu kampung tidak kalah oleh satu teriakan."
---
Kantor polisi sektor itu berbau kopi basi dan debu. Seorang petugas muda berpangkat brigadir menerima mereka di meja pelayanan, matanya setengah mengantuk. Ia mencatat laporan Sinta dengan malas, mengetik dua jari di komputer tua yang berdengung.
"Jadi ada dua orang laki-laki mencoba mendobrak pintu kamar Ibu di paviliun rumah mertua," ulangnya datar. "Mereka kabur naik motor. Ibu tidak tahu identitasnya."
"Saya punya rekaman suara mereka." Sinta meletakkan ponsel di atas meja. "Mereka menyebut nama Pak Wiryo."
"Wiryo siapa?"
"Orang kepercayaan mertua saya."
Brigadir itu berhenti mengetik. Ia menatap Sinta lama, lalu menoleh sekilas pada rekan di meja sebelah yang mendadak sibuk dengan berkas. Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Sinta.
"Mertua Ibu namanya siapa?"
"Retno Wiryawan."
"Oh." Brigadir itu menggaruk tengkuk, dan nada suaranya berubah. Lebih pelan, lebih hati-hati. "Bu Retno yang di Kenanga Indah itu?"
"Ya."
"Begini, Bu Sinta." Ia menyandarkan punggung. "Ini kan urusan keluarga. Mungkin salah paham. Mertua dan menantu, biasalah, kadang suka..."
"Dua laki-laki mendobrak pintu saya tengah malam, Pak. Itu bukan salah paham."
"Tapi Ibu tidak bisa membuktikan kalau mereka disuruh Bu Retno."
"Itu tugas penyidik untuk menyelidiki, bukan?"
Brigadir itu terdiam. Rahangnya mengatup. Dari belakang Sinta, Tari menyela dengan suara tegas.
"Pak, kalau laporan ini ditolak, kami minta surat penolakannya tertulis. Biar saya bawa ke Propam."
Petugas itu menghela napas panjang, menegakkan badan, lalu kembali mengetik dengan wajah masam. "Baik, baik. Kami terima. Silakan tunggu BAP-nya dicetak."
Sinta duduk di kursi plastik, punggung tegak, jemari saling menggenggam di pangkuan. Pipinya masih nyeri, bibirnya masih perih. Tapi di dalam dadanya ada ketenangan aneh, seperti orang yang akhirnya menginjak lantai padat setelah lama mengambang.
Pukul satu dini hari, BAP selesai. Sinta menandatanganinya. Ia baru saja meraih tasnya ketika pintu kantor terbuka dengan bunyi berderit panjang.
Udara di ruangan seolah berubah.
Bu Retno berdiri di ambang pintu dengan kebaya hitam, sanggul rapi, dan wajah yang sama sekali tak menyisakan jejak panik malam tadi. Di belakangnya berdiri Damar yang menunduk, seorang lelaki paruh baya berjas rapi membawa tas kulit hitam, dan seorang pria berkacamata dengan jas putih yang langsung dikenali Sinta dari foto di ruang tamu rumah mertuanya.
Pak Hendra. Ayah Melia. Dokter yang menandatangani vonis Damar dua tahun lalu.
"Selamat malam, Pak Brigadir," sapa Bu Retno ramah, seolah datang bertamu ke rumah kerabat. "Maaf mengganggu dini hari begini. Kami hanya mau menjemput menantu kami."
Brigadir itu langsung berdiri. "Oh, Bu Retno. Silakan, Bu, silakan duduk."
"Tidak perlu, Pak. Kami tidak lama." Bu Retno melangkah masuk, matanya menyapu ruangan dan berhenti pada Sinta. Senyumnya melebar, penuh kasih sayang yang begitu palsu hingga perut Sinta terasa mual. "Ya ampun, Sinta. Kamu di sini rupanya. Kami cari ke mana-mana, Nak."
"Saya tidak hilang, Bu."
"Kamu kabur tengah malam dalam keadaan begitu." Bu Retno menggeleng sedih, lalu menoleh pada Brigadir dengan wajah penuh duka. "Pak, saya mohon pengertiannya. Menantu saya ini sedang sakit."
"Sakit?" Tari melangkah maju. "Maksud Ibu apa?"
"Kamu siapa?"
"Saya sahabatnya."
"Oh, pantas." Bu Retno menatap Tari dari ujung kepala sampai kaki, lalu kembali pada polisi. "Pak, ini dr. Hendra Santosa, dokter keluarga kami sekaligus ahli kejiwaan. Beliau sudah menangani Sinta hampir setahun."
Sinta membeku. "Apa?"
"Sudah setahun ini Sinta mengalami waham." Pak Hendra maju dengan wajah prihatin dan suara dokter yang meyakinkan. "Delusi kejar, halusinasi pendengaran. Ia sering merasa diikuti, merasa dimata-matai, bahkan menuduh keluarga ingin mencelakainya. Itu efek tekanan karena ketidakmampuan memiliki keturunan."
"Saya tidak pernah bertemu Anda sebagai pasien!" seru Sinta, berdiri dengan kursi berderit keras.
"Lihat, Pak." Pak Hendra menoleh pada Brigadir dengan tatapan sabar, seolah menunjukkan gejala. "Penyangkalan. Reaksi emosional berlebihan. Ia selalu begini ketika diingatkan tentang kondisinya."
"Pak Brigadir, ini bohong! Saya punya rekaman!"
"Rekaman?" Bu Retno tersenyum sendu. "Rekaman apa, Nak? Suara-suara di kepalamu?"
Brigadir itu menatap Sinta dengan sorot ragu, lalu ke ponsel di atas meja. Pak Hendra menyela lembut. "Boleh saya lihat ponselnya, Pak? Pasien dengan waham biasanya merekam hal-hal yang tidak ada. Saya bisa menjelaskan secara klinis."
"Jangan sentuh itu!" Sinta menyambar ponselnya.
"Ibu Sinta, tenang dulu," kata Brigadir canggung.
"Saya tenang!"
"Ibu berteriak."
Dan di situlah Sinta menyadari, pelan dan dingin, bahwa ia baru saja masuk perangkap. Setiap kata pembelaannya dibaca sebagai gejala. Setiap bantahannya dijadikan bukti. Perempuan yang berteriak karena dituduh gila akan selalu tampak lebih gila.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghitung sampai lima. Menurunkan bahunya, merapatkan genggaman di ponsel, lalu menatap Pak Hendra tanpa berkedip.
"Dokter Hendra," ucapnya dengan suara jernih dan pelan. "Sejak kapan seorang dokter andrologi menangani gangguan kejiwaan?"
Hening.
Wajah Pak Hendra tak berubah, tapi pelipisnya berkedut sedikit. "Saya punya kompetensi ganda."
"Oh ya? Kalau begitu, apa nomor SIP praktek psikiatri Anda?"
"Itu tidak relevan sekarang."
"Dan tanggal pertama kali saya konsultasi? Nomor rekam medis saya? Resep yang pernah Anda berikan?" Sinta menoleh pada Brigadir dengan tenang. "Pak, kalau saya memang pasien dokter ini selama setahun, tentu ada dokumen. Saya mau lihat sekarang juga."
Brigadir itu menggaruk kepala, bingung. "Dok, benar ada rekam mediknya?"
"Tentu ada, Pak. Tapi tersimpan di klinik. Besok pagi saya bisa..."
"Besok pagi," potong Tari. "Padahal malam ini juga Ibu bisa mengaku bahwa Sinta pasien Anda tanpa berkas satu pun?"
Pak Hendra berdeham. Bu Retno menyipit. Untuk sepersekian detik, topeng ramah di wajah keduanya bergeser. Dan Sinta, yang sudah tujuh tahun mempelajari setiap kerutan di wajah mertuanya, menangkapnya dengan jelas: kemarahan yang dibungkus senyum.
"Jangan keras kepala, Nak," kata Bu Retno lembut, mendekat dan meraih tangan Sinta. Genggamannya hangat, tapi kukunya menancap pelan ke punggung tangan Sinta, bisu dan mengancam. "Ayo pulang. Damar menunggu."
Sinta menatap tangan itu, lalu mengangkat wajahnya. Dengan gerakan perlahan, ia melepaskan genggaman itu satu jari demi satu jari.
"Saya tidak akan pulang, Bu."
"Sinta..."
"Saya tidak akan pulang ke rumah yang mengirim orang untuk mendobrak pintu saya tengah malam. Saya tidak akan pulang ke rumah yang menyebut saya gila setelah gagal membuat saya diam." Ia menoleh pada Brigadir. "Pak, saya minta salinan laporan ini dan surat keterangan bahwa saya datang atas kemauan sendiri."
Brigadir menatap Bu Retno, menatap Sinta, lalu menghela napas panjang. "Baik, Bu. Silakan."
Wajah Bu Retno kini benar-benar dingin. Ia mundur selangkah, meluruskan kebayanya, dan menatap Sinta dengan sorot yang tak lagi berpura-pura.
"Kamu akan menyesal," bisiknya, begitu pelan hingga hanya Sinta yang mendengar. "Aku bisa membuatmu kehilangan segalanya. Pekerjaan, teman, nama baik, bahkan akal sehatmu sendiri."
"Silakan coba, Bu."
"Oh, aku tidak perlu mencoba." Bu Retno tersenyum tipis. "Karena sementara kamu sibuk bermain-main di sini, Damar sudah menandatangani sesuatu."
Jantung Sinta berhenti sejenak. "Apa maksud Ibu?"
Bu Retno melirik ke belakang, ke arah Damar yang masih menunduk dengan bahu merosot, lalu kembali pada Sinta dengan senyum yang kini jelas penuh kemenangan.
"Tanya suamimu sendiri," katanya manis. "Tanya surat apa yang baru ia tanda tangani tadi sore di kantor notaris."
Dan Damar, untuk pertama kalinya malam itu, mengangkat wajah. Matanya merah, bibirnya bergetar. Ia menatap Sinta dengan tatapan orang yang sudah tahu betapa besar kesalahannya, dan terlalu terlambat untuk memperbaikinya.
"Sin," bisiknya parau. "Aku... aku nggak tahu isinya apa. Ibu bilang itu cuma surat tanah."