Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
Setelah seharian bekerja hari udah sore semua sudah pulang duluan dan aku bersama kak Arpan belum pulang. Dan lagi lagi kak Arpan ngajak pulang bareng sambil ngajak aku untuk makan malam. Dia yang traktir.
Namun dibalik hati yang penuh dengan keraguan, kebetulan aku juga sudah lapar dan aku memutuskan untuk pulang dengan kak Arpan lagi.
Aku bersama Arpan naik motor berdua disore hari, belum pulang. Arpan ngajak aku keliling Jakarta sebentar, katanya biar gak jenuh bekas seharian bekerja.
Motor jalan pelan, tidak seperti pagi yang macet klakson dimana-mana. Sore di Jakarta lampu mulai nyala. Angin sore agak dingin karena habis hujan.
Aku duduk sedikit jaga jarak. Seperti biasa tangan ku tidak mau pegang pinggang Arpan.
"Kita makan dulu ya, Laila. Tadi siang kamu cuma makan telur dadar separo, saya lihat," kata Arpan dari depan, tidak noleh.
Aku kaget dia perhatiin. "Iya, Kak. Tidak lapar siang."
"Bohong. Saya lihat buku stok kamu coret-coret jam 12 siang, pasti lapar tapi malu minta izin makan," jawabnya.
Motor belok ke warung. Warteg yang lampunya terang. Bukan restoran mahal. Itu yang bikin aku mau ikut. Kalau diajak ke mall mahal, aku pasti nolak.
Sesampainya ditempat makan, kami duduk. Meja plastik. Bukan meja kayu. Arpan pesan dua piring. Nasi, ayam goreng, sayur, dan teh anget dua.
Aku baru mau sendok nasi, Arpan buka suara.
"Laila, gimana? Kamu siap pindah ke Bekasi jadi kepala admin?"
Jantung ku yang tadi pagi deg-degan karena rem mendadak di perempatan Karet, sekarang deg-degan lagi karena pertanyaan ini.
Aku taruh sendok. Belum sempat jawab, Arpan lanjut lagi,"Laila ada satu hal yang aku mau kasih tau sama kamu" Suaranya lebih pelan dari tadi.
Apa kak?
"Laila, sebenarnya aku suka sama kamu ! Sejak pertama ketemu kamu, hatiku sudah ada pada kamu, kamu cantik, baik, sederhana dan apa adanya. Aku baik sama kamu, karena ingin menunjukkan rasa sayang ku ke kamu Laila. Dengan perhatian kecil itulah aku melakukannya demi kamu supaya kamu tau apa maksud ku yang sebenarnya," jawabnya.
Warteg yang lampunya terang itu tiba-tiba rasanya jadi gelap.
Sendok di tangan ku jatuh ke piring. Ting.
Jantung ku yang tadi pagi deg-degan karena rem mendadak, sekarang deg-degannya beda. Bukan karena takut jatuh dari motor. Tapi karena kalimat itu.
Aku suka sama kamu.
Tangan ku yang dingin tadi jadi gemetar. Aku tarik tas ransel hitam ku ke pangkuan.
"Kak Arpan," suara ku pelan, hampir tidak kedengaran sama kipas angin warteg. "Kak boleh aku mikir dulu."
Arpan kaget. Dia kira aku akan senyum atau malu seperti cewek lain yang biasa dia lihat.
"Kenapa, Laila? Saya salah ya bilang sekarang? Di tempat makan ini?" tanya Arpan cepat. Dia takut. Takut salah timing.
Aku geleng. Bukan soal tempat. Warteg ini malah tempat paling jujur. Bukan mall, bukan restoran mahal.
"Tapi aku butuh waktu untuk menjawab semuanya Kak. Semua. Soal kerja ke Bekasi, soal kerjaan, soal yang Kakak bilang barusan," kata ku.
Arpan angguk pelan. Dia tarik napas panjang.
"Yaudah kalau kamu belum mau jawab, aku gak maksa. Aku tunggu sampai kamu bisa menjawab dengan hati kamu yang paling dalam, Laila," katanya. "Maaf kalau aku terlalu cepat. Aku cuma tidak mau kamu kira saya baik karena mau manfaatin kamu."
Aku angguk. Lega karena dia tidak maksa.
Kami lanjut makan. Tidak banyak ngomong lagi. Hanya suara piring dan sendok. Ayam gorengnya sudah dingin tapi aku habiskan karena lapar. Teh angetnya juga sudah jadi teh dingin.
Jam 8.30 malam, warteg mau tutup. Kami bersiap pulang karena sudah larut malam.
Naik motor berdua dengan Arpan di malam hari, dingin, dengan suasana lampu-lampu terang di tengah perkotaan Jakarta. Motor jalan pelan.
Tapi malam ini aku capek luar biasa. dijemput jam 7.30, rem mendadak , disindir Mbak Sari soal peluk-pelukan, ditawarin Bekasi gaji 5 juta, sekarang ditembak suka di warteg. Kepala ku berat sekali.
Angin malam dingin, suara motor teratur, lampu jalan lewat satu-satu.
Aku ngantuk. Sangat ngantuk dan tidak tahan.
Tanpa sadar, di atas motor, mata ku merem. Kepala ku terkantuk ke depan karena polisi tidur. Refleks, biar tidak jatuh, dan pegang jaket Arpan sebentar. Kepala ku menyandar di punggungnya karena ketiduran. Semua diluar setengah sadar ku. Bukan sengaja. Karena ngantuk berat dan takut jatuh.
Arpan diam di motor dengan melaju pelan. Dia tidak kaget, tidak ngebut. Dia malah jalan lebih pelan lagi. Pelan sekali. Seperti pagi tadi setelah rem mendadak.
Sesampainya di depan gang kos yang agak gelap dan becek sisa hujan, motor berhenti.
"Laila, sudah sampai," kata Arpan pelan.
Aku terbangun. Kaget. Langsung lepas pegangan jaket dan mundur jauh.
"Maaf Kak! Maaf saya ketiduran! Maaf ya!" kata ku cepat, turun dari motor tanpa sadar dengan apa yang telah kulakukan. Mukaku panas padahal malam dingin.
Arpan yang tersenyum yang membuat ku bingung. Senyumnya bukan senyum manager. Senyum seperti orang bahagia sedunia. Senyum lega.
"Gak apa-apa, Laila. Kamu capek seharian. Wajar ketiduran. Saya malah senang bisa antar kamu pulang dengan selamat sampai gang," katanya. "Udah masuk, kunci pintu. Besok jam 8 pagi di ruko, kita kebekasi ya.
Aku angguk, masih bingung kenapa dia senyum bahagia, lalu jalan cepat menuju kos ku yang agak gelap. Tidak berani noleh lagi.
Sesampainya di kos aku masih bingung kenapa Arpan tersenyum seperti orang bahagia sedunia padahal aku ketiduran. Apakah dia pikir aku sengaja? Apakah dia salah paham seperti Mbak Sari pagi tadi yang lihat motor oleng dikira peluk-pelukan mesra?
"Hah sudahlah, sekarang aku harus bagaimana Tuhan? Apa yang harus aku lakukan? Arpan laki-laki yang baik kepadaku ternyata mencintaiku. Tuhan kasih aku petunjuk. Apa yang harus aku lakukan," kata ku pelan di dalam kos.
Aku langsung bersiap, mandi pakai air dingin, ganti baju, ambil mukena, Mukena itu bersih.
Aku gelar sajadah. Shalat Maghrib yang tertinggal karena di warteg tadi, lanjut Shalat Isya. Lama. Sujudnya lama sekali. Aku minta ampun untuk ketiduran di motor tadi. Aku minta petunjuk untuk jawaban Bekasi dan jawaban suka.
Di buku harian halaman belakang, yang tadi siang Arpan baca 2 baris itu, aku tulis lagi malam ini.
Hari ke-19 malam di Jakarta. Tuhan, hari ini Arpan bilang suka sama aku di warteg lampu terang. Tapi kali ini dia bilang suka sambil bilang maaf sudah baca buku harian ku 2 baris. Dia tidak maksa. Dia mau dikasih waktu.
Kalau ini penjagaan Mu lewat dia, maka dekatkan dengan cara halal. Kalau ini jebakan baru Mu seperti dulu, maka jauhkan. Saya sudah jawab di warteg, tunggu aku mikir dulu.
Tadi di motor malam, aku ketiduran karena capek, tidak sengaja bersandar. Ampuni aku Tuhan, itu diluar sadar ku. Bukan niat.
Besok hari ke-20, survei Bekasi jam 8 pagi naik motor berdua lagi dengan arpan.
Aku tutup buku harian.
Di luar, motor hitam Arpan sudah pergi. Tidak ada klakson tin! seperti biasa jam 7.30 pagi.
Gang kos putri becek, sepi, hanya kucing oren yang tidur di atas keset
Besok, aku harus tatap muka lagi sama Arpan di ruko setelah pengakuan di warteg dan kejadian ketiduran di motor malam ini. Apa yang harus aku jawab kalau dia tanya jawabanku semalam?