NovelToon NovelToon
CEO Arogan Jatuh Cinta

CEO Arogan Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.

Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.

Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.

Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.

Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.

Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 2

Emma

Meninggalkan konflik di perusahaan Avena Land. Ditengah keramaian jalan raya, seorang wanita pengantar pizza melaju lihai dengan skuter metic. Namanya Emma.

Ia sangat fasih menyalip satu persatu kendaraan. Terlihat sekali kalau ia sangat handal dalam berkendara.

Sesekali ia juga melirik ke ponsel yang tertempel di speedometer untuk melihat rute tercepat ke titik tujuan.

Emma melajukan skuternya cukup cepat. "Cepat, harus cepat," ucapnya sambil perlahan menambah kecepatan.

Tujuan pengantaran selanjutnya adalah ke The Grand Azure. Sebuah komplek apartemen yang mewah. Penghuninya kebanyakan orang pebisnis kaya yang perfeksionis. Tidak heran, jika setiap pengantaran pizza dituntut tepat waktu dan harus masih hangat.

Emma sangat benci saat harus mengirim pizza kesana. Mungkin hari ini, ia tidak beruntung. Mau tidak mau ia harus tetap mengantarkannya.

Emma langsung memarkirkan skuternya di dekat trotoar. Ia langsung melepas ponsel dari speedometer dan menggantungkannya ke lanyard yang sejak tadi ia pakai. Kemudian, membuka delivery box dibagian belakang skuter. Ia bergegas mengambil beberapa tumpuk kotak pizza yang masih hangat dan membawanya masuk.

"Ah sial," ucap Emma saat harus menunggu lift terbuka. "Cepat, cepat, cepat," gumamnya sambil menatap indikator lantai diatas lift.

Saat pintu lift terbuka ia langsung masuk kedalam. Ia cukup kesulitan ketika harus menekan tombol lantai yang dituju. Untungnya ia masuk tak sendiri. Seorang cleaning services masuk bersamanya.

Lift membawanya ke lantai dua belas. Emma segera melangkah keluar.

"Oke, pertama kamar nomor dua ratus tiga puluh empat," ucap Emma dengan berjalan menyusuri lorong. Wajahnya tampak basah berkeringat.

Tok...tok...tok..

Emma langsung mengetuk pintu unit apartemen yang dituju dengan susah payah. Ia mengatur napasnya agar tidak kelihatan terengah-engah.

Seorang perempuan paruh baya membuka pintu. "Pengiriman Hudson's Pizza," ucap Emma dengan senyuman ramah.

"Wah, akhirnya datang juga," ucap perempuan paruh baya itu. Ia kemudian mengambil kotak pizza paling atas. "Ternyata masih hangat, terima kasih ya," ucapnya lagi.

"Sama-sama, selamat menikmati," ucap Emma. Tugas pengantaran pizzanya tidak berakhir disini, masih ada beberapa kotak yang perlu diantar lagi.

Ia masih memegang empat tumpukan kotak pizza di kedua tangannya. Semuanya harus ia antarkan ke beberapa unit apartemen dilantai ini.

Cukup melelahkan untuk menyelesaikan pengantaran pizza di komplek apartemen ini. Emma menghela napas sambil berjalan menuju lift. Walaupun letih, tapi ia berhasil mengantarkan semua pizza sampai ke pembeli.

Saat berada di dalam lift yang bergerak turun, ia bersandar sebentar ke dinding. Mungkin istirahat sejenak bisa mengurangi rasa letihnya.

"Sial, sial, kenapa harus dapat pengantaran kesini." Emma masih tak terima pada nasib beruntungnya yang tidak mau memihaknya.

Cuaca semakin terasa panas. Saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri, ternyata hampir jam dua belas siang. Emma berhenti sejenak di depan lobi sambil mengisi ceklist pengantaran di ponselnya.

Tinggal empat pengiriman lagi. Setelah itu, ia dapat makan siang dengan tenang.

Emma kembali menyemangati dirinya. Ia lalu menuju skuternya dan melanjutkan pengiriman pizza.

...----------------...

Emma, sekarang tinggal disebuah apartemen yang minimalis. Harga sewanya pun cukup terjangkau.

Ia tinggal bersama dua adiknya. Namanya Luna dan Ryan. Mereka adalah anak kembar. Tidak heran jika wajahnya hampir mirip. Yang membedakan, Luna adalah perempuan sedangkan Ryan adalah laki-laki.

Kedua adiknya masih sekolah SD dan sama-sama kelas empat. Mereka juga sekolah ditempat yang sama.

Ibunya Emma telah lama meninggal. Perempuan itu tiada saat melahirkan kedua adiknya. Jika ditanya bagaimana rupa ibunya, Emma masih bisa membayangkannya dengan jelas. Namun, berbeda dengan adik-adiknya. Mereka tak mampu mendeskripsikan sosok ibu yang telah melahirkan.

Emma sangat membenci ayahnya. Ia adalah seorang pria yang membuatnya harus bekerja keras di umurnya yang masih muda—25 tahun.

Sejak masih muda ayahnya sangat suka judi. Ibunya selalu melarangnya, namun pria itu diam-diam melanggar.

Hingga suatu hari, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut. Memaksa pria itu untuk menganggur. Namun, bukannya pria itu sadar bahwa perjudian membuatnya semakin susah, ia justru menempuh cara nekat agar bisa memenuhi hasrat pertaruhannya.

Ayahnya meminjam uang ke beberapa orang hanya untuk melancarkan aksi judinya. Ia selalu mengatakan kalau keberuntungan pasti memihaknya. Nyatanya, kemalangan lah yang selalu setia menemaninya.

Semakin hari hutangnya semakin banyak dan tak mampu untuk membayarnya. Rumah pun akhirnya disita. Dari sinilah Emma sangat membenci ayahnya.

Emma harus rela pindah tempat tinggal. Ia hanya akan mengajak kedua adiknya dan tak mau menampung ayahnya. Ia sangat kecewa dan marah padanya.

...----------------...

Di pagi hari Emma bekerja sebagai kurir pengantar pizza. Ia selesai tidak mesti sore hari, tergantung seberapa banyak dan seberapa cepat pengantarannya.

Hasil gajian bulanannya dari sebagai kurir, masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah adiknya.

Di sore hari hingga malam, ia bekerja sebagai pramusaji disebuah restoran untuk bisa menambah penghasilan.

Selama ia bekerja, adiknya dititipkan ke tetangga apartemen. Mereka adalah dua orang paruh baya. Umurnya sekitar lima puluh enam keatas. Mereka tak keberatan harus menjadi tempat menitipkan adiknya, malahan mereka berdua sangat senang.

Waktu restoran tutup sudah tiba. Emma langsung membersihkan meja, kursi, dan lantai. Sesekali ia juga tampak menguap karena mengantuk.

Setelah memastikan semua pekerjaannya beres, Emma segera pulang. Ia melangkah menuju halte bus dengan mengendong tas ranselnya. Pukul sepuluh kurang lima menit saat ia menengok jam tangannya. Artinya ia masih sempat untuk bus terakhir.

"Emma," sapa seorang pria yang baru saja sampai halte. Emma langsung memalingkan wajah ke pria itu. Ternyata ayahnya berdiri sambil menatap balik dirinya.

"Emma akhirnya ayah menemukanmu. Ayah rindu," ucap ayahnya sambil berjalan mendekat ke Emma yang duduk di halte sendirian.

"Berhenti !, ayah jangan mendekat." Emma seketika berdiri. "Lebih baik ayah pergi dari sini," lanjutnya.

"Kenapa kamu mengusir ayah, Emma ?" Perlahan ayahnya kembali melangkah maju. "Maafkan ayah. Ayah menyesal," lanjutnya.

"Berhenti ayah ! Berhenti !," ucap Emma. Ia melangkah mundur untuk menjauh. "Ayah terlambat menyesal. Ayah sudah buat aku dan adik-adik aku menderita. Lebih baik ayah pergi !"

"Emma, tolong maafkan ayah," kata ayahnya sambil bersimpuh didepannya. "Ayah hanya ingin berkumpul dengan kamu dan adik-adik kamu. Tolong beri kesempatan pada ayah untuk memperbaiki semuanya."

Dari kejauhan, bus terakhir melaju kearah halte. Emma tak ingin melewatkan bus itu hanya untuk meladeni ayahnya. "Lebih baik ayah pergi. Silakan ayah lanjutkan kesenangan ayah. Aku tak sudi ayah mendekat," ucapnya.

Kini bus berhenti dihalte. Saat pintu bus otomatis terbuka, Emma langsung masuk. "Tunggu apalagi pak, ayo jalan," ucapnya.

"Sepertinya masih ada satu penumpang lagi," jawab sopir bus.

"Langsung jalan aja. Pria itu tidak menunggu bus," ucap Emma sambil memandang ayahnya yang masih bersimpuh lutut. Pria itu tertunduk lesu dan menyedihkan.

Akhirnya, perlahan bus melaju meninggalkan halte. Emma masih menatap ayahnya yang semakin jauh. Sejujurnya didalam hatinya, ia tidak tega memperlakukan ayahnya seperti itu. Namun, jauh didalam lubuk hatinya sudah terlanjur sakit.

Emma pun duduk di bangku bis sambil menghela napas. Berharap mampu menenangkan situasi emosionalnya saat ini.

1
Endah Lestary
ceritanya simpel ga ribet mikir dan ga kepanjangan pula.semoga semakin sukses 🥰
Putry Chan
jadi dia bos nya harus nungguin tanggapan orang ini dulu
@Semua orang
ya udh aku tinggal jejak di sini yah, semoga si author menepati yg di katakannya. semangat thor 💜💜💜
@Semua orang
ini pilihannya yg mana motor atau skuter
@Semua orang
hallow em.
@Semua orang
ala ebew
@Semua orang
PD banget om
@Semua orang
kayaknya ni org macam kayak aki mono itu ih.
@Semua orang
ho'oh
@Semua orang
hah cepet banget pak james, aneh. oh iya saran dari aku itu setelah tanda kutip hurufnya harus kapital udh itu aja.
@Semua orang
sekeras apapun cari duit org juga butuh rileksasi om
@Semua orang
dor
@Semua orang
di gw mah gerah bukan dingin, blm hujan lagi.
@Semua orang
hallow pak, salken pak.
Rumah Pena
lanjuuut
Rumah Pena
ceritanya seru dan menarik. lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!