Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Keputusan malam yang Damai
"Minggu ini ya buatnya entar aku ke rumah kamu ya, terus kita lanjutkan jalan-jalan setelah itu. Mumpung pulang sekolah ini masih agak cepat!" ucap dian
Amel dan Nayla langsung mengangguk kompak dengan mata berbinar.
"Eh, iya!" ucap Amel
Mendengar itu aku semakin cemas yang tadinya hanya letupan kecil, kini seolah siap meledak. Rumahku adalah zona nyaman yang tenang, tempat aku bisa langsung beristirahat atau belajar tanpa gangguan. Membayangkan mereka bertiga yang super heboh jika datang ke rumah itu sudah membuatku gugup. Apalagi rencana jalan-jalan setelahnya.
Jujur, isi dompet Minggu ini sedang menipis karena untuk beli buku jurnal. Ditambah lagi, aku paling tidak suka ikut-ikutan nongkrong yang sebenarnya tidak terlalu kunikmati.
aku lebih suka pulang ke rumah tepat waktu membantu ibu, mengerjakan tugas, dan tidur pastinya.
"Eh... tapi, apa tidak sebaiknya kita fokus selesaikan tugas jusnya dulu?" tanyaku ragu-ragu mencoba mencegah antusiasme mereka dengan hati-hati.
"takut nya kalau langsung direncanakan jalan-jalan, tugas kita malah enggak selesai, lagi pula bahan-bahannya belum kita bagikan mau beli apa saja?"
Dian melambaikan tangannya dengan santai
"Alah, gampang itu! Bikin juskan cuma blender doang, masalah bahan. Nanti kita patungan.
Nayla menyenggol lenganku sambil tersenyum lebar. "Kamu jangan tegang-tegang dong.
Sekali -kali ikut nongkrong, seru tau! Biar kamu nggak kuper."
Aku hanya bisa memaksakan senyuman tipis, sementara otakku berputar keras mencari cara di satu sisi, aku ingin menjadi anggota kelompok yang baik dan kompak.
namun disisi lain, aku tidak ingin memaksakan diri mengikuti gaya hidup mereka yang konsumtif dan menguras energi sosialku. aku harus menemukan cara untuk menolak ajakan nongkrong itu dengan halus, tanpa merusak kerjasama kelompok untuk tugas minggu ini.
Aku mencoba mengumpulkan keberanian yang masuk akal agar rencana mereka sedikit berubah.
"Gini, gimana kalo buahnya satu anak aja nanti? Biar enggak ikut pergi semua kan ribet.
kan cuma beli buah doang".
jawabku, mencoba memberikan alasan selogis mungkin, agar mereka tidak perlu ramai-ramai pergi sebelum ke rumah.
"nanti sisanya tinggal di blender di rumah".
Mendengar usulanku Dian, Amel dan Nayla saling berpandang sejenak. Untungnya Amel yang sejak tadi menyimak obrolan kami dari meja sebelah ikut menimpali dan memberikan solusi instan yang langsung disetujui oleh mereka.
"Ya udah, kamu ikut iuran aja, kita bertiga yang beli". Sahut Dian memotong pembicaraan.
"Nah bener juga kata riska!" ucap Amel
"kami tunggu di rumah berarti urusan bahan, buat jusnya beres, ya! Kamu tinggal bayar bagianmu aja nanti".
Nayla langsung mengeluarkan ponselnya
"oke deal ya! Jadi habis pulang sekolah, kita bertiga meluncur beli buah terus langsung
ke rumah kamu.
"kalo mau bilang lagi tinggal di grub"
Mendengar keputusan itu, perasaan cemas tadi sedikit berkurang, berganti dengan rasa lega yang cukup besar. Setidaknya, aku punya waktu pulang ke rumah membantu ibu dan lain-lain terlebih dahulu, menyiapkan ruangan, dan tidak perlu terombang-ambing mengikuti agenda jalan-jalan atau nongkrong sebelum tugas di mulai.
Pulang sekolah tiba. "bay! nanti kita kerumah mu mengambil iuran" ucap dian.
"ok" jawabku
Begitu mereka pulang aku segera melangkah pulang sepanjang perjalanan, rasa lega benar-benar memenuhi setidaknya, aku tidak perlu bingung mencari alasan untuk menolak ajakan nongkrong atau muter-muter naik motor.
Sesampainya di rumah, aroma masakan dari dapur langsung menyambutku. Aku meletakkan tas ke kamar, mengganti pakaian, lalu menghampiri ibu yang sedang ada di dapur.
"Ehh, sudah pulang," sapa ibu hangat sambil tersenyum. "gimana sekolahnya hari ini?"
"Lancar, oh iya nanti sore teman-teman mau datang untuk ambil iuran buat tugas membuat jus buah" kataku sambil mengupas bawang.
"tapi ibu tentang saja, aku enggak ikut pergi beli buahnya kok, aku cuma ikut iurannya aja.
Dian, Amel, dan Nayla pergi beli buah sekarang sambil mau jalan-jalan, nanti mereka kesini ambil iuran doang."
Mendengar penjelasanku, ibu menghentikan aktivitasnya sejenak. Ibu mengangguk, setuju dengan raut wajah yang sangat puas.
"Nah bagus kalo begitu" ucap ibu dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.
"ibu memang paling tidak suka apalagi bapakmu kalau melihat kamu keluyuran, boncengan naik motor kesana kemarin, dijalan itu ramai banyak motor, jatuh itu sakit."
Ibu mengusap punggungku lembut.
"lebih baik uangnya buat iuran begitu, jadi adil, kamunya juga aman langsung pulang ke rumah. Mumpung belum datang makan dulu ini sudah matang"
Aku tersenyum lebar dan mengangguk. Rasa cemas yang sempat menggelayuti pikiranku sejak siang tadi ini benar-benar hilang tanpa bekas.
Tepat pukul tiga lewat seperempat sore, suara tawa dan ketukan pintu terdengar dari teras rumah. aku segera beranjak dari kursi untuk membukakan pintu Dian, Amel, Nayla mereka datang dengan wajah ceria setelah selesai berkeliling membeli buah untuk tugas kelompok kami.
"Ini iurannya, ya," kataku sambil menyerahkan uang yang sudah aku siapkan di meja.
Setelah menerima uang itu dan basa-basi sebentar tentang rencana pembuatan jus nanti, mereka pamit pulang ke rumah masing-masing dan buah yang dibeli, di bawah oleh Nayla untuk di blender di rumahnya.
Ibu yang melihat dari balik jendela tampak mengangguk puas karena aku menepati janji untuk tetap aman di rumah.
Tak lama setelah teman-temanku pergi pulang, suara langkah di halaman depan rumah, kakak pulang dari sekolah SMA nya dengan seragam yang tampak rapi meski sedikit lelah. ia melangkah masuk, lalu melepaskan sepatu nya, dan meletakkan nya di sudut ruang.
Sekitar pukul lima sore, terdengar suara motor bapak memasuki halaman rumah. Aku dan kakak yang sedang bersantai di ruang tengah langsung menoleh ke arah pintu.
bapak masuk dengan wajah lelah khas pulang berkerja, namun langsung tersenyum begitu masuk ke rumah. Ibu yang sedang masak langsung merebus air untuk membuat teh hangat, lalu mereka mengobrol di dapur sembari ibu merebus air dan memasak untuk makan malam.
Melihat bapak ibu sedang asyik bertukar cerita, aku dan kakak memilih untuk tidak menganggu mereka kami berdua beranjak ke ruang tengah untuk melanjutkan aktivitas kami sendiri.
Kakak menyalakan TV menonton acara favoritnya sambil rebahan setelah seharian belajar di sekolah, aku duduk di dekatnya sambil mengecek ponsel di grup, menanyakan untuk membuat jus besok. Suasana rumah sore itu terasa sangat hangat, tentang, dan damai.
Aroma masakan ibu yang menggugah selera perlahan mulai tercium hingga ke ruang tengah, membuat aku dan kakak ingin langsung makan.
Begitu matang, terdengar suara ibu memangil kami dengan nada lantang dari arah dapur.
"makanan sudah matang cepat ke sini mumpung masih panas!"
Aku yang sedang duduk langsung bangkit dari kursi, kakak bangun dan kami berjalan menuju dapur. di sana bapak, ibu, kakak, dan aku semua berkumpul menikmati makan malam dengan lahap diiringi obrolan-obrolan ringan yang santai.
Rasa cemas yang sempat kurasakan sejak siang benar-benar oleh makan malam bersama keluarga.
pokoknya harus Sampek ending