NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:653
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 17

BAB 17

"Dito sudah menyiapkan seluruh dokumen legalnya," tegas Maya seraya menatap Rendra tanpa ragu. "Dan seperti yang tertulis di halaman lima belas sketsamu... aku membawakan bahan tenun terbaik untuk dicocokkan dengan presisi kerangka logammu."

Rendra tidak langsung menjawab. Ia menarik kain lap lusuh, menyapu minyak hitam yang melumuri jemarinya.

"Tapi usiran dramatis tadi tidak mengubah angka di laporan keuangan studiomu, Maya," ujar Rendra datar. "Dito meneleponku subuh tadi. Kas operasionalmu tinggal delapan belas hari, dan kau butuh stempel kemitraan penyediaan bahan baku kerajinan logam serta berkas kolaborasi dari bengkel ini untuk mencairkan dana hibah lima ratus juta dari Nusantara Craft Fund sebelum lusa."

Maya mengepalkan tangannya di samping paha, dadanya naik turun menahan harga diri yang mulai terusik oleh ucapan blak-blakan pria itu.

"Kau pikir aku ke sini hanya demi uang lima ratus juta itu?" tembak Maya sewot.

Rendra meletakkan kain lapnya ke atas landasan besi. TAP!

Langkah kakinya pelan namun terasa membebankan lantai semen saat ia mendekati Maya. Ia berhenti hanya dua jengkal dari hadapan wanita itu. Hawa panas dari tubuh Rendra yang habis menempa terasa menyengat kulit wajah Maya.

"Lalu kenapa kau ada di sini, Maya?" bisik Rendra intim dan mengintimidasi. "Kenapa membawa buku sketsaku? Kenapa membawa sampel sutramu ke tempat kotor ini?" tanyanya seraya menunjuk berkas hukum yang dipegang Nia.

"Karena kau yang memulai permainan ini!" bentak Maya seraya mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Rendra. "Bertahun-tahun kau duduk di kursi juri dan pengamat, menguliti setiap senti jahitanku! Kau sebut gaunku rapuh, kau sebut sutraku menangis di panggung, kau permalukan idealismeku di depan publik! Dan ketika aku terdesak, kau memberikan buku sketsa ini di pelataran candi kemarin sore!"

Maya merogoh tasnya dengan gerakan kasar, menarik keluar buku sketsa kulit tua milik Rendra dan membantingnya ke atas meja kerja kayu di antara mereka. Buku itu terbuka tepat di halaman lima belas.

"Katakan padaku, Rendra!" tuntut Maya dengan napas memburu. "Kenapa kau merancang harness kuningan ini? Kenapa garis potong logam ini mengapit persis siluet gaun sutra organza hitam milikku? Kau merancangnya bukan untuk Clarissa! Kau merancangnya untukku! Kenapa?!"

Suasana bengkel mendadak sunyi mencekam. Hanya ada deru blower tungku di belakang mereka yang menjadi saksi bisu pertumpahan emosi itu.

Rendra menatap lembaran sketsanya sendiri, lalu mengalihkan pandangannya pada Maya.

"Karena sutramu terlalu indah untuk dihancurkan oleh ketidakstabilan struktur, Maya," jawab Rendra dengan suara bergetar pelan. "Kau punya jiwa pada kainmu—sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh Clarissa atau perancang mana pun di kota ini. Tapi jiwa saja tidak cukup untuk bertahan di panggung yang kejam. Tanpa kerangka yang kokoh, kainmu akan selalu dirobek oleh kejamnya industri!"

"Kali ini aku sependapat dengan pemikiran Rendra, Maya," potong Nia tiba-tiba seraya melangkah maju dengan wajah cemas. "Struktur gaun itu memang rapuh kalau dipaksa berdiri tanpa beban logam yang presisi. Kita hampir gagal di tahap simulasi kemarin karena kainnya melorot! Rendra tidak sedang merusak karyamu, Maya... dia sedang menyelamatkannya dari keruntuhan di atas panggung!"

Maya menatap Nia dengan mata membelalak, dadanya naik turun oleh gejolak pertahanan diri yang tersenggol.

"Nia! Kau membelanya?!" seru Maya tidak percaya. "Kau tahu berapa minggu aku menenun serat itu? Menggabungkan logam ke dalam lekuk kain murni bukan sekadar masalah teknik, ini soal menjaga keaslian rasa! Kalau kerangkanya terlalu dominan, elastisitas sutranya mati!"

"Tapi kalau sutramu jatuh di tengah catwalk, rasa itu tidak ada artinya lagi, Maya!" potong Rendra menyambar, menatap tepat ke manik mata Maya tanpa kompromi.

Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia hendak membalas, argumennya sudah sampai di ujung lidah untuk mempertahankan idealisme karyanya. Namun, pandangannya beralih pada draf sketsa di meja—garis-garis tegas buatan Rendra yang presisi, menopang kelembutan sutranya tanpa sedikit pun merusak estetika bentuknya. Logika dingin Rendra dan ucapan jujur Nia perlahan meruntuhkan benteng gengsinya. Amarahnya meluruh, menyisakan kepasrahan yang rasional. Rendra tidak sedang bertindak sebagai musuh, melainkan penopang.

Dada Maya berdesir hebat. Kata-kata Rendra menyerang seluruh dinding pertahanan emosinya. Pria yang selama ini ia anggap sebagai pengkritik paling tajam, ternyata adalah satu-satunya manusia yang mampu melihat kedalaman jiwanya secara utuh.

"Kalau begitu, bantu aku menempa perisai ini," bisik Maya seraya menyodorkan draf perjanjian kolaborasi di samping buku sketsa. "Kita punya waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Aku tidak akan membiarkan Victor menang, dan aku tidak akan membiarkan karya ini mati di atas kertas."

Rendra menatap berkas dokumen di hadapannya, lalu melirik pulpen hitam yang disodorkan Maya. Ia tidak langsung mengambilnya. Sebaliknya, ia melangkah ke meja tempa, meraih pahat baja kecil yang panas, lalu menggoreskan satu garis tebal di permukaan kayu mejanya hingga menyebarkan bau kayu terbakar.

Asap tipis membubung dari bekas goresan api itu, mengunci janji yang tak tersampaikan. Rendra membalik tubuhnya, menatap Maya dengan sepasang mata yang berpendar garang di bawah remang lampu bengkel. Di mata pria itu, tidak ada lagi keraguan—yang tersisa hanyalah gairah seorang pembuat karya yang siap membakar batas-batas idealismenya.

Rendra kembali, mengambil pulpen dari tangan Maya, dan menandatangani berkas itu dengan satu tarikan garis yang sangat tegas. Tinta hitam meluncur cepat di atas kertas legal, mengesahkan persekutuan dua raga yang pernah berseberangan.

"Aturan di bengkel ini sepenuhnya milikku, Maya," tegas Rendra dengan tatapan intens yang menusuk lurus ke manik mata Maya. "Kau tidak boleh mengeluh saat tanganku menyentuh kainmu, dan aku tidak akan campur tangan saat jarummu menembus sutramu. Di sini, logam dan kain kita punya kedudukan yang sama: tak boleh ada yang mengalah, tak boleh ada yang cacat."

Maya meraih celemek kanvas kasar yang dilemparkan Rendra padanya, lalu mengikatnya di pinggang dengan jemari yang mantap. Aroma jelaga dan arang menempel seketika di pakaian elegannya, namun Maya tak sedikit pun mengernyit.

"Kita mulai sekarang," jawab Maya mantap, menyambut tatapan Rendra dengan pendar keberanian yang membakar.

Usai urusan penandatanganan berkas di bengkel Pencagai, Nia bergegas menyetor berkas kemitraan tersebut ke sekretariat untuk memproses pencairan hibah Nusantara Craft Fund.

Siang harinya, Maya dan Rendra melangkah bersama menuju hall utama kompetisi nasional untuk menghadiri sesi tinjauan kurasi fisik babak 5 Besar.

Namun, saat mereka melangkah melewati ambang pintu arena kompetisi, papan pengumuman digital raksasa di tengah hall mendadak menyala benderang. Skor akumulatif babak lima besar terpampang jelas di hadapan ratusan pasang mata—menampilkan nama REN di posisi puncak dan Studio Nilakandi tepat di bawahnya, memicu kasak-kusuk panas di antara para juri dan penonton yang bersiap menyaksikan Rendra membedah karya mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!