WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELINDUNGI
Kringg kringggg
Bel berbunyi menandakan semua siswa untuk istirahat, begitupun Alluna dan temannya.
"Lun mau gantian dulu atau kantin dulu?" tanya Lisa.
"Kantin aja gue lapar," jawab Luna.
Kemudian mereka menuju kantin, begitu pun dengan teman-teman kelasnya yang lain lebih memilih ke kantin terlebih dahulu.
"Biar gue mesenin," ujar Lisa yang dibalas anggukan oleh Luna.
Saat Lisa dan Alluna sedang menikmati makannya, tiba-tiba suara heboh terdengar membuat mereka berdua mengalihkan fokusnya ke arah suara itu.
Prangggg..
"Anj*ng, gunain mata lo sialan," ujar seseorang yang Alluna ketahui preman sekolah yang bernama Rafael, anak dari kalangan atas.
"M-maaf kak, tapi tadi k-kakak yang nabrak," ujar laki-laki yang tertabrak.
Tanpa mereka ketahui, seseorang sedang menggertakkan giginya mencoba menahan amarahnya melihat itu.
"Lo nyalahin gue sialan? Ingat lo cuma anak miskin yang sekolah disini karna beasiswa," teriak Rafael.
Tidak ada yang berani menghentikan laki-laki itu karna dia termasuk petarung juga di sekolah ini.
"Jilat sepatu gue sampai bersih atau lo gue buat keluar dari sekolah ini sialan," ucap Rafael sombong.
Laki-laki itu berjongkok dengan ragu, sungguh dia tidak ingin dikeluarkan dari sekolah ini, dia harus menjadi orang sukses untuk mendiang kedua orangtuanya dan untuk orang yang selalu dia tunggu.
Saat dia hendak mendekatkan wajahnya ke sepatu Rafael, seseorang menahan pergerakannya bersamaan. Alluna yang ingin berjalan ke arah laki-laki itu.
"Gak usah keterlaluan lo," ujar dingin Langit, yah Langit yang menahan pergerakan laki-laki yang akan membersihkan sepatu Rafael.
"Ini bukan urusan lo sialan," desis Rafael.
"Ini urusan gue karna lo ngelakuin itu tepat di depan gue bangs*t," ujar Langit.
"Cih, lo pikir gue takut sama lo?" ujar Rafael menantang.
"Kalo lo lupa, lo sering kalah dari gue l.o.s.e.r," ujar Langit menekan kata loser.
"Sialan, urusan kita belum selesai," ujar Rafael ke laki-laki yang dia bully tadi.
"Lun udah gak usah ikut campur, nanti kita kena masalah juga," ujar Lisa yang menarik Luna yang sempat berdiri tadi untuk duduk kembali.
Alluna duduk kembali setelah memastikan laki-laki itu baik-baik saja.
"Lo kenapa ngomong kaya gitu?" ujar Luna yang terkesan tidak suka dengan perkataan Lisa.
"Dia preman sekolah Lun, anak dari orang kaya juga, nggak ada yang berani lawan dia selain Langit, karna kita bisa dikeluarkan dari sekolah ini jika berani lawan dia, apalagi gue dan cowok tadi yang hanya anak beasiswa," ujar Lisa sendu membuat Alluna paham mengapa Lisa berbicara seperti tadi.
"Cowok yang dibully tadi siapa?" tanya Luna yang sebenernya jawabannya sudah dia ketahui, bahkan cowok tadi adalah alasan Alluna berada di sekolah ini, Adik kandung Alluna yang dulu dia tinggalkan.
"Dia Alfin, anak kelas 10 unggulan, dia juga anak beasiswa sama seperti gue, dia selalu jadi korban bullying anak-anak cowok di sekolah ini karna dia berasal dari keluarga miskin, yang gue tau dia anak yatim piatu yang sekarang hanya tinggal bersama ibu angkatnya," ujar Lisa yang masih fokus dengan makanannya.
Alluna hanya menganggukkan kepala, dia memandang datar ke arah Alfin yang sedang makan duduk sendiri di meja bagian ujung, sedangkan Langit Sedari tadi memandangi Alluna yang sedang menatap datar laki-laki yang dia tolong tadi.
"Lo suka sama dia bos?" Tanya David yang hanya dibalas Langit dengan mengangkat bahunya.
"Ga ga ga bos suka sama Luna yah," tanya David ke Arga.
"Kenapa emang?" Jawab Arga.
"Yah masa gue saingan sama bos gue sendiri sih," ujar David dengan muka yang di sedih sedihkan.
Langit hanya menatap tajam David yang si balas kekehan oleh laki-laki itu.
"Heheehh canda bos yaelah serius amat," ujar David.
Alfin dengan cepat menyelesaikan makannya karena dia tidak nyaman berada di tempat ramai seperti ini, apalagi sebagian besar orang-orang di kantin ini suka membullynya.
Alfin meninggalkan kantin dan menuju ke kelas melewati lapangan basket outdoor, namun saat pertengahan jalan dia dihadang oleh anak buah Rafael, mereka menarik Alfin ke tengah lapangan.
"Buka bajunya," perintah Rafael ke anak buahnya.
"Jangan kak aku mohon," ujar Alfin sungguh dia ingin melawan sekarang, tapi bagaimana kalau dia dikeluarkan dari sekolah ini.
Setelah baju seragam Alfin terlepas sehingga dia bertelanjang dada, siswa siswi yang berada disana sempat dibuat terkejut dengan bentuk badan Alfin yang sangat sempurna, abs dan ototnya terpampang jelas.
Membuat sekian detik sebagian besar siswi disana mengaguminya, namun setelah sadar bahwa dia laki-laki miskin mereka segera menghempas pikirannya itu.
"Berdiri lo disana dan jangan bergerak, ini balasan buat sampah kaya lo," ujar Rafael membuat keenam anak buahnya tertawa remeh.
Mereka melempari Alfin dengan telur dan tomat yang sudah mulai busuk entah dari mana mereka mendapatkannya.
Salah satu siswa berteriak membuat siswa yang juga berdiri di dekatnya menatap dirinya aneh.
Alluna maju dengan santai ke tengah lapangan, tempat dimana Alfin berada, tatapan tajamnya tidak lepas dari Alfin, saat telah sampai Alluna langsung berdiri tepat di depan Alfin membuat dirinya terkena telur dan tomat yang akan dilemparkan ke Alfin.
Langit akan segera maju untuk menghentikan itu tapi pergerakannya ditahan oleh Arga yang dibalas tatapan tak suka oleh Langit.
"Lihatin aja dulu, perempuan itu bukan cewek biasa, kita harus tau sampai mana dia berani," ujar Arga pelan.
Langit menyetujui perkataan Arga, dia juga penasaran dengan perempuan sedingin es itu.
"Bos murid baru yang cantik itu, yang punya mobil sport keluaran terbaru," ujar anak buah Rafael.
"Hei cantik, kenapa kesini? Jadi kena kan?" ujar Rafael mendekati Alluna.
Alluna hanya menatap datar Rafael dengan mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya kenapa.
"Jangan lindungi dia cantik, atau lo ingin jadi mainan gue hm?" ujar Rafael mengelus pipi Alluna.
Langit yang melihat itu sudah terpancing emosi namun lagi-lagi Arga masih menahannya.
Alluna memejamkan matanya saat Rafael mengelus pipinya, membuat Rafael tersenyum, namun itu tidak bertahan lama saat Alluna membuka matanya dan tersenyum miring menatap Rafael.
Plaaakkkk
Tamparan Alluna sangat keras sampai mampu membuat Rafael terhuyung, semua siswa siswi sangat terkejut, termasuk Langit.
Rafael kembali berdiri menatap nyalang Alluna.
"LO!" ucapan Rafael terhenti saat dirinya kembali di tampar sangat kuat sampai ujung bibirnya berdarah.
Plakkkkk
"Cuih serang perempuan itu," perintah Rafael ke anak buahnya.
Alluna hanya tersenyum miring.
Bugghhh
Bughhh
Gerakan Alluna sangat tidak bisa terbaca membuat anak buah Rafael lelah pasalnya mereka sudah babak belur sedangkan Alluna hanya mendapat luka kecil di bibirnya itupun karna dia melindungi Alfin yang akan dipukul oleh si pria botak anak buah Rafael.
Semua anak buah Rafael telah tumbang menyisakan Rafael dengan si botak itu.
"Bos gue gak bisa lagi, dia sadis, lihat yang lain pasti bakalan masuk rumah sakit," ujar si botak.
Alluna mendekati laki-laki botak itu menarik kerah bajunya dan...
Bughhhhhh
Laki-laki itu pingsan.
"Itu balasan buat lo atas luka di wajah gue sialan," ujar dingin Alluna membuat semua siswa membeku dan berpikir Alluna bukan cewek biasa.
Bahkan Naumi dan anak buahnya merinding melihat brutalnya Alluna.
Sedangkan Langit tersenyum miring melihat Alluna.
"Sangat menarik," ucap Langit yang hanya didengar Arga dan David.