NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaman

***

"Tunggu! Kamu mau tidur di mana?" suara ketus Alana menghentikan langkah Mirza yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur busa.

Mirza menoleh santai.

"Ya tidur di ranjanglah. Memangnya mau tidur di mana lagi?"

"Saya juga tidur di sana!" tukas Alana sambil menunjuk kasur dengan raut tidak terima.

"Masa kamu mau tidur seranjang sama saya?"

Mirza menghela napas, menunjuk satu-satunya kursi bambu yang ada di sudut kamar.

"Ada kursi, tapi tidak cocok buat tidur. Itu kursi bambu keras, bisa bikin badanku pegal-pegal besok. Kasur ini muat kok buat berdua. Kalau kamu mau tidur bareng, ya silakan."

"Enak saja! Saya tidak mau tidur satu kasur sama kamu!" sentak Alana dengan wajah memerah.

"Tapi aku tidak akan pindah, Alana," balas Mirza tenang namun tertahan.

"Ini kamarku dan tempat tidurku. Aku punya hak penuh buat tidur di kasurku sendiri."

Alana membelalakkan mata, dadanya kempas-kempis menahan kemarahan.

"Kamu berani melawan saya?!"

"Aku cuma tidak mau ribut," bisik Mirza sambil mengisyaratkan Alana untuk memelankan suaranya.

"Nanti Ibu bangun dan dengar kita bertengkar, mau bilang apa?"

Mirza mengalah, mengusap tengkuknya sembari berjalan pelan menuju kursi bambu di pojokan.

"Ya sudah deh, aku tidur di kursi saja. Tapi siap-siap saja besok aku mungkin libur kerja, soalnya badanku sakit-sakit semua gara-gara tidur di bambu."

Mendengar ancaman halus itu, Alana menggeram gemas. Dia membayangkan Mirza bolos kerja dan ibunya bakal bertanya-tanya.

"Ck! Ya sudah, tidur di kasur berdua!" putus Alana akhirnya. Tapi dengan cepat dia menyambar guling tebal dan menaruhnya tepat di tengah-tengah kasur.

"Tapi pakai guling ini sebagai pembatas! Kalau sampai kamu atau anggota tubuhmu lewat dari batas guling ini, kamu dapat denda!"

"Denda apa?" tanya Mirza sambil menaikkan alisnya.

"Apa saja yang saya minta, harus kamu penuhi!" ancam Alana tegas.

"Oke, setuju," sahut Mirza pasrah lalu naik dan berbaring di sisi kanannya.

Alana ikut berbaring di sisi kiri. Namun, begitu punggungnya menyentuh kasur busa yang tipis itu, rasa tidak nyaman langsung menyergapnya. Alana mulai gelisah. Dia bolak-balik mengubah posisinya, miring ke kanan, miring ke kiri, telentang, lalu tengkurap.

Gerakan Alana yang tak kunjung berhenti membuat dipan kayu dan kasur busa milik Mirza terus bergoyang dan berderit.

"Alana, kalau kamu tidak bisa diam begini, aku tidak bisa tidur," protes Mirza yang matanya terpejam tapi kepalanya ikut bergoyang mengikuti gerakan Alana.

"Kok kamu malah melarang saya, sih?!" omset Alana berbisik tajam sambil mendelik.

"Ingat ya, saya ini bos kamu!"

"Bos atau bukan, aku merasa terganggu kalau kamu bergerak-gerak terus," sahut Mirza pelan, membalikkan badan menghadap guling pembatas.

"Aku tidak bisa tidur kalau kasurnya bergoyang terus. Nanti besok pagi bisa terlambat bangun."

"Saya mana bisa tidur kalau tempat tidurnya tidak nyaman begini!" Alana merajuk lagi, matanya menatap langit-langit kamar dengan sengit.

"Kamu ini terlalu banyak protes, Alana," desah Mirza dengan nada lelah.

"Kalau memang tidak bisa tidur di sini, ya sudah pulang saja ke rumah kamu. Biar kamu bisa tidur di tempat tidur yang empuk dan nyaman. Tidak susah, kan?"

Alana langsung menoleh patah-patah, dadanya bergejolak.

"Kamu mengusir saya lagi?! Kamu beneran mau usir saya?!"

Mirza mengusap wajahnya kasar, benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi istrinya yang terus-terusan salah paham dan serba sensitif ini.

"Terserah kamu mau mikir apa," gumam Mirza mulai memejamkan mata.

"Kalau kamu masih mau protes terus, silakan. Aku sudah mengantuk dan mau tidur."

"Mirza! Kamu menyebalkan sekali!" Alana merengek gemas sambil menghentakkan kakinya ke kasur.

"Kamu yang bikin saya harus adaptasi di sini, kamu harus tanggung jawab dong!"

Mendengar rengekan yang tak kunjung usai itu, kesabaran Mirza akhirnya habis. Dia menarik napas panjang, membuangnya perlahan, mengabaikan guling pembatas di antara mereka.

Sebelum Alana sempat bereaksi atau memprotes pelanggaran batas tersebut, tangan kekar Mirza sudah bergerak cepat. Dia menarik pelan kepala Alana dan mendaratkannya di atas lengannya yang berotot. Mirza menyambar selimut tipis, menutupi tubuh mereka berdua, lalu melingkarkan lengan satunya di pinggang Alana, memeluk wanita itu dengan erat hingga dada mereka menempel.

Alana membeku seketika. Pipinya mendadak panas membara, napasnya tertahan saat aroma maskulin khas Mirza memenuhi indra penciumannya.

"Tidur sekarang," bisik Mirza tepat di atas dahi Alana dengan suara berat yang menenangkan.

"Diam, pejamkan mata, dan kamu pasti bisa tidur."

***

Di tempat lain, sorak-sorai dan tepuk tangan riuh masih menggema memenuhai hall pertunjukan. Seorang pria bertubuh jangkung dengan paras sangat tampan baru saja melangkah keluar dari panggung besar itu.

Dia adalah Kevin, pemilik suara emas yang baru saja memukau ribuan penonton, sekaligus pria yang sampai detik ini masih bertengsem kuat di hati Alana.

Sudah beberapa tahun ini Kevin terpaksa menetap di Australia. Dia meninggalkan Indonesia dan Alana bukan karena kemauannya sendiri, melainkan atas paksaan kedua orang tua mereka. Bahkan dulu, papanya tega membuang ponsel Kevin sampai hancur. Itulah alasan utama kenapa Kevin hilang tanpa kabar, dia tidak sanggup menghubungi Alana karena sama sekali tidak menghafal nomor ponsel wanita itu di luar kepala.

Kevin melangkah mantap menuju area belakang panggung dan berhenti tepat di depan meja Bram, pria yang bertindak sebagai kakak sekaligus manajernya selama di Australia.

"Bram, aku mau pulang ke Indonesia," ujar Kevin tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan tak bisa diganggu gugat.

"Aku bisa mulai dan kembangkan karierku di Indonesia. Jadi mulai sekarang, stop terima kontrak baru di sini. Aku tidak mau lagi."

Bram meletakkan berkas di tangannya, menatap adiknya dengan kerutan dalam di dahi.

"Gila kamu, Kev? Karirmu di sini baru saja naik pesat! Aku tidak izinkan kamu pulang ke Indonesia sekarang."

Kevin terkekeh sinis, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya.

"Kedua orang tua kita sudah tidak ada, Bram," tegas Kevin menatap lurus mata kakaknya.

"Jadi tolong berhenti mengatur hidupku seperti yang Papa dan Mama lakukan dulu! Sekarang, aku cuma mau melakukan apa yang hati dan kemauanku inginkan."

Tanpa menunggu balasan dari Bram yang masih tertegun, Kevin menyambar jaketnya dan melangkah pergi.

Sesampainya di apartemen mewahnya, pintu tempat tinggalnya baru saja terbuka ketika aroma makanan hangat menyambutnya.

Hikmal, asisten pribadinya yang setia, sudah menunggu di area meja makan dengan hidangan malam yang telah disiapkan rapi.

"Malam, Mas Kevin. Makan malamnya sudah siap," sapa Hikmal berusaha tersenyum, lalu menarikkan satu kursi untuk bosnya.

"Ayo Mas, makan dulu mumpung masih hangat."

Kevin mendudukkan diri di kursi dan mengibaskan tangannya pelan.

"Duduk, Mal. Makan bareng aku di sini."

Hikmal menuruti perintah itu dan duduk di hadapan Kevin. Namun, raut wajah asistennya itu tampak mendung. Wajah cerianya yang biasa tak terlihat malam ini.

"Mas Kevin ...." panggil Hikmal pelan, suaranya sedikit bergetar karena sedih.

"Mas beneran mau balik menetap di Indonesia?"

Mendengar nada suara asistennya yang bergetar penuh kesedihan, Kevin menghentikan suapannya. Dia menatap Hikmal dengan senyum tipis. Selama bertahun-tahun hidup di negeri orang, Hikmal bukan cuma sekadar asisten pribadi, tapi sudah menjadi teman dekat yang selalu menemani dan mengurus segala kebutuhannya.

"Kenapa mukamu dilipat begitu, Mal?" tanya Kevin terkekeh pelan.

"Aku kan bilang mau pulang ke Indonesia, bukan mau memecat kamu."

Hikmal menengadah dengan mata membelalak.

"Maksud Mas Kevin ...?"

"Ya kamu ikutlah sama aku," potong Kevin santai.

"Selama ini kamu sudah bantu dan kerja sama aku, masa mau aku tinggal di sini? Kamu tetap bekerja sama aku di Indonesia nanti."

Raut kesedihan di wajah Hikmal seketika luntur, berganti pancaran lega dan binar bahagia.

"Beneran, Mas?! Wah, siap kalau begitu, Mas!"

"Sekarang kamu pesan tiket kita secepatnya," perintah Kevin tegas.

"Lebih cepat kita berangkat, lebih bagus."

"Siap, Mas! Sekarang juga saya cari tiket penerbangan paling cepat!" seru Hikmal antusias. Dia langsung bangkit dari kursi makan, menyambar ponselnya di atas meja, lalu bergegas mengecek jadwal penerbangan ke Jakarta.

Sepeninggal Hikmal yang sibuk mengoperasikan ponselnya, Kevin kembali melanjutkan makan malamnya. Dia mengunyah pelan, tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela apartemen yang menampilkan pemandangan gemerlap kota Australia di malam hari.

"Alana... tunggu aku," gumam Kevin dalam hati dengan dada bertaut rindu.

Penyesalan mendalam selalu menghantuinya setiap kali mengingat bagaimana dia terpaksa menghilang tanpa kabar bertahun-tahun lalu. Namun kini, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya.

"Aku akan kembali ke Indonesia dan langsung menemui kamu. Aku akan tebus semua kesalahanku selama ini, dan aku akan tepati janjiku untuk menikahi kamu, Alana."

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!