NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Bayangan

Rumah itu sederhana sekali—dindingnya dari batu yang halus seperti pualam, lantainya berkilau lembut, dan jendelanya tanpa kaca, hanya tirai tipis yang bergerak pelan ditiup angin sejuk. Tidak ada lampu, tapi di setiap sudut ruangan tumbuh tanaman kecil yang memancarkan cahaya lembut, cukup untuk melihat sekeliling dengan jelas namun tidak menyilaukan.

"Siapa yang menjaganya selama kau pergi?" tanyaku sambil meletakkan tas kecilku di meja batu yang ada di ruang tengah.

Orion tersenyum tipis, menyeka debu tak terlihat dari pinggiran meja. "Elara. Dia datang sesekali, memastikan tempat ini tetap layak huni. Dia satu-satunya yang tahu aku pernah berharap suatu hari bisa pulang ke sini dengan seseorang."

Dia berhenti sejenak, lalu menunjuk ke sebuah pintu kecil di sudut ruangan. "Kamar tidur ada di sana. Dapur sederhana di sebelah kiri. Aku tidak tahu apakah makanan di sini akan cocok denganmu, tapi aku berusaha menyiapkan apa yang bisa kutemukan."

Aku melangkah mendekat ke arahnya, menyentuh lengannya pelan. "Orion, berhentilah meminta maaf. Tempat ini sempurna. Kau tidak perlu berusaha sekeras ini."

Dia menunduk, suaranya terdengar pelan dan sedikit rapuh. "Bagiku, ini bukan sekadar tempat berlindung. Ini rumah pertamaku. Dan sekarang... kau adalah bagian dari rumah itu. Aku tidak ingin kau merasa kurang dengan apa pun yang kumiliki."

Aku mengangkat tangannya, menyentuh dagunya agar dia menatapku. "Kau tidak kurang apa pun. Kau sudah memberiku sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemewahan apa pun: rasa aman. Rasa dicintai tanpa syarat."

Dia menatapku lama sekali, matanya berkilauan di bawah cahaya tanaman kecil di sudut ruangan. Perlahan dia mengusap pipiku dengan punggung jarinya.

"Kau membuatku merasa seperti pangeran sungguhan, padahal aku hanyalah seorang pembangkang yang dikutuk oleh ayahnya sendiri."

"Kau bukan pembangkang," kataku tegas. "Kau hanya tidak mau menjadi kejam seperti dia. Itu bukan kelemahan, Orion. Itu kebaikan yang bahkan tidak dimiliki oleh raja mana pun di duniamu."

Sebelum dia sempat menjawab, tiba-tiba cahaya di ruangan itu berkedip pelan. Sekali, dua kali. Lalu kembali terang seperti semula.

Orion menegang. Tangannya yang tadi menyentuh pipiku langsung turun, mencengkeram gagang pintu seolah siap menutupnya kapan saja.

"Ada yang salah?" tanyaku berbisik, ikut menegakkan badan.

Dia tidak langsung menjawab, melainkan berjalan ke jendela, menatap ke luar dengan tatapan waspada. "Cahaya di sini tidak pernah berkedip. Tidak ada badai, tidak ada angin kencang. Sesuatu sedang terjadi."

"Mungkinkah Elara datang?"

"Elara tahu cara mengetuk. Dia tidak akan menyelinap masuk tanpa pemberitahuan."

Hatiku mulai berdebar cemas. Aku melangkah mendekat ke arahnya, berdiri di samping jendela namun tetap di belakang bahunya yang lebar. "Mereka sudah menemukan kita? Padahal baru saja kita masuk?"

Orion menggeleng pelan, tapi raut wajahnya tetap serius. "Bukan pasukan. Jika ayahku datang, langit di atas sana akan berubah hitam pekat sampai tidak terlihat satu bintang pun. Ini... sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua dan lebih halus."

Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan—pelan, ritmis, tiga kali. Tidak mendesak, tapi jelas dan tegas.

Orion menatapku. "Tetaplah di sini. Jangan keluar, siapa pun yang memanggil namamu."

"Tapi kau sendiri?"

"Aku harus tahu siapa itu. Kau tidak perlu ikut berisiko."

Dia melangkah membuka pintu perlahan. Di ambang pintu berdiri sesosok sosok yang tidak terlalu tinggi, berpakaian jubah panjang berwarna abu-abu tua yang memudar di bagian ujungnya. Wajahnya keriput, matanya tajam namun tidak menyakitkan, dan di tangannya memegang sebuah tongkat kayu yang ujungnya bercahaya redup.

"Selamat malam, Pangeran Orion," suaranya parau namun lembut, seperti daun kering yang bergesekan. "Aku tahu kau tidak menyambut tamu saat ini. Tapi urusanku mendesak."

Orion tidak langsung menyilakannya masuk. Dia berdiri tegak di ambang pintu, tubuhnya menutupi pandangan orang itu ke arahku.

"Siapa kau? Bagaimana kau tahu aku ada di sini? Tidak ada yang tahu jalan ke lembah ini kecuali Elara dan..."

"Dan aku," potong wanita tua itu tenang. "Aku adalah penjaga sejarah yang dilupakan namanya. Aku datang bukan untuk berkelahi, bukan untuk melaporkan keberadaanmu kepada Raja Valdris. Aku datang karena ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum terlambat."

Orion terdiam sejenak, lalu perlahan melangkah ke samping, memberi jalan masuk. "Masuklah. Tapi jangan berharap aku akan percaya begitu saja."

Wanita tua itu melangkah masuk, matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti sejenak padaku. Dia tidak terkejut, tidak marah, hanya mengangguk pelan seolah sudah menduga keberadaanku.

"Duduklah," kata Orion singkat, lalu menutup pintu perlahan.

Wanita tua itu duduk di bangku batu di dekat meja, meletakkan tongkatnya di samping. Dia menatap Orion lekat-lekat, lalu menghela napas panjang.

"Kau pikir kutukanmu itu dijatuhkan hanya karena kau menolak perang? Itulah yang dikatakan Raja Valdris. Itulah yang dipercaya seluruh dunia bayangan selama ribuan tahun. Tapi kebenarannya..." Dia berhenti, menatapku sejenak seolah ragu apakah boleh melanjutkan.

"Katakan saja," kataku pelan. "Aku bagian dari ini sekarang. Rahasia Orion adalah rahasiaku juga."

Wanita tua itu mengangguk pelan. "Kebenarannya, Pangeran... kau dikutuk bukan karena menentang ayahmu. Tapi karena kau lahir sebagai ancaman baginya. Setiap pewaris takhta dunia bayangan lahir dengan kekuatan yang bisa menyaingi ayahnya. Valdris takut. Dia tahu suatu hari nanti kekuatanmu akan tumbuh lebih besar daripada kekuatannya. Jadi sebelum kau dewasa sepenuhnya, dia mengutukmu ke perbatasan—bukan untuk menghukumimu, tapi untuk mengurungmu agar kau tidak pernah menjadi ancaman baginya."

Orion berdiri mematung. Wajahnya pucat, napasnya tertahan. "Itu... tidak mungkin. Dia bilang... dia bilang aku memalukan keluarga dengan kelembutanku. Bahwa aku tidak pantas menjadi pewaris."

"Itu kebohongan untuk membuatmu merasa tidak berharga," lanjut wanita tua itu lembut namun tegas. "Semakin kau merasa rendah, semakin lemah ikatanmu dengan kekuatan aslimu. Dia sengaja membuatmu merasa sendirian, merasa tidak diinginkan, agar kekuatanmu tidak pernah bangkit sepenuhnya."

Dunia di dalam ruangan itu seolah berhenti berputar. Aku melihat Orion—tangan yang biasanya tenang kini bergetar pelan, rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke dinding batu seolah baru saja menyadari bahwa seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.

"Jadi..." suaranya bergetar, rendah namun penuh kemarahan yang tertahan, "selama ini aku membenci diriku sendiri karena dia menyuruhku melakukannya? Ribuan tahun aku merasa tidak berharga... dan itu semua hanya karena dia takut kehilangan kekuasaannya?"

"Benar," jawab wanita tua itu pelan. "Dan sekarang... ikatanmu dengan Aruna justru membangkitkan kembali kekuatan yang coba dia kubur sejak dulu. Cintamu pada Aruna adalah kunci yang membuka kembali pintu itu. Itulah sebabnya dia begitu mendesak ingin menangkapmu—atau menghancurkanmu. Dia tahu jika kekuatanmu bangkit sepenuhnya, takhtanya akan runtuh."

Orion terdiam lama sekali. Napasnya berat, teratur, seolah dia sedang menahan badai yang mengamuk di dalam dadanya. Aku melangkah mendekat, meletakkan tanganku di punggungnya yang kaku.

"Orion..." bisikku lembut.

Dia menoleh perlahan, dan di matanya aku melihat perubahan—bukan kelemahan, tapi keteguhan yang baru.

"Jadi dia tidak mengutukku karena aku salah," ucapnya pelan tapi tegas. "Dia mengutukku karena aku berbahaya baginya. Karena aku lebih kuat dari yang dia mau aku jadi."

"Persis begitu," kata wanita tua itu. "Dan ada satu hal lagi. Kekuatan itu tidak akan datang sendiri. Ia butuh waktu untuk tumbuh. Selama itu terjadi, kau harus melindungi Aruna. Dan melindungi dirimu sendiri. Valdris tidak akan menunggu lama sampai dia menyadari kekuatanmu mulai bangkit."

Dia berdiri perlahan, mengambil tongkatnya. "Aku sudah menyampaikan apa yang harus kukatakan. Sisanya terserah kalian. Bersiaplah. Waktu tenang kalian mungkin tidak akan lama lagi."

Sebelum pergi, dia berhenti di ambang pintu, menatapku sekali lagi. "Jaga dia, gadis cahaya. Bukan hanya dari musuh di luar sana... tapi juga dari kekuatan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Kekuatan itu bisa menakutkan jika tidak dipahami."

Pintu tertutup. Hening kembali menyelimuti ruangan, tapi tidak lagi damai. Ada sesuatu yang berubah di antara kami—sekarang kami tahu musuh kami bukan sekadar raja yang kejam, tapi seseorang yang hidup di atas kebohongan yang menelan ribuan tahun hidup anaknya sendiri.

Orion berbalik, menarikku ke dalam pelukannya erat sekali, seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskan sedikit saja. Dia tidak menangis, tapi tubuhnya bergetar pelan.

"Selama ini..." suaranya tertahan di bahuku, "aku pikir aku pantas dikutuk. Aku pikir kelembutanku adalah aib. Ternyata... ternyata aku hanya terlalu baik untuk dunianya yang kejam."

"Kau tidak pernah salah, Orion," bisikku ke telinganya, mengusap punggungnya dengan lembut. "Kebaikanmu bukan kelemahan. Itulah yang membuatmu lebih hebat darinya."

Dia melepaskan pelukan sedikit, menatap mataku dalam-dalam. Cahaya di matanya kini tampak berbeda—lebih terang, lebih hidup.

"Terima kasih, Aruna. Kau tidak hanya menyelamatkanku dari kesepian. Kau juga menyelamatkanku dari kebohongan yang aku yakini selama ribuan tahun."

"Kita hadapi semuanya berdua," janjiku. "Apa pun yang terjadi."

"Berdua," gumamnya, lalu mencium keningku lembut. "Selamanya."

Di luar sana, di antara lembah yang tenang itu, aku tahu badai sedang bersiap. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut menghadapinya. Karena di sampingku berdiri bukan lagi seorang pangeran yang dikutuk dan merasa tidak berharga—melainkan seseorang yang akhirnya tahu siapa dirinya sebenarnya. Dan itu adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dimiliki Raja Valdris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!