NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Permintaan Jun-seok

Setelah selesai bersiap, akhirnya Nala, Junho, dan Jun-seok sudah duduk di meja makan. Beberapa makanan yang telah dipesan Junho sudah tersaji rapi di atas meja dan, tentu saja, semuanya halal. Ada juk hangat, mandu berisi daging sapi, kimchi versi halal, semangkuk sup rumput laut yang masih mengepulkan uap tipis, serta sepiring buah potong yang ditata rapi.

Di tengah meja, sebuah botol kaca kecil berisi teh jahe mengeluarkan uap tipis seolah itu selalu jadi pilihan Junho setiap pagi. Sederhana, tetapi cukup untuk menghadirkan rasa hangat di tengah suasana pagi yang masih tenang.

Jun-seok duduk dengan punggung tegak. Rambutnya sudah rapi, begitu pula seragam sekolah yang dikenakannya. Namun, sejak tadi ia hanya mengaduk juk dengan sendok secara perlahan tanpa benar-benar menyuapkannya ke mulut.

Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Nala, kemudian beralih kepada Junho, seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia timbang dalam kepalanya.

“Kenapa tidak dimakan?” tanya Junho akhirnya. Suaranya lembut, tetapi tetap memiliki ketegasan yang biasa terdengar ketika ia berbicara kepada putranya.

Jun-seok mengangkat bahu kecilnya.

“Eum... Daddy, Seok mau bicara dulu.”

Junho menghentikan gerakan tangannya.

Anak itu terdiam cukup lama. Jemarinya memainkan ujung sendok, sementara pandangannya tertuju pada mangkuk di hadapannya. Ia tampak sedang menyusun kalimat dengan sangat hati-hati, seolah takut satu kata yang salah akan membuat kedua orang tuanya marah.

Nala yang menyadarinya segera berhenti menyuap. Ia meletakkan sendoknya perlahan, kemudian memberikan perhatian penuh kepada putranya.

“Bicara apa, sayang?” tanyanya lembut.

Jun-seok menarik napas panjang, lalu menautkan jemarinya di atas meja.

“Seok boleh minta sesuatu?”

Pertanyaan itu membuat Junho dan Nala saling berpandangan sekilas. Junho kemudian mengangguk tanpa ragu.

“Katakan,” ucapnya pelan.

Ia meletakkan sendoknya, lalu memusatkan seluruh perhatiannya kepada putranya. Jun-seok justru menatap Nala lebih dulu dalam mata itu terlihat keraguan yang tidak sepenuhnya bisa di sembunyikan.

“Mommy... besok jangan pulang malam, boleh?” Suaranya sangat pelan, hampir seperti bisikan.

Nala langsung terdiam. Tangannya yang masih memegang sendok sedikit mengendur, tetapi ia tidak segera menjawab. Tatapannya tertuju pada Jun-seok yang tampak menunggu dengan gelisah.

Jun-seok buru-buru melanjutkan, seolah takut permintaannya dianggap terlalu berlebihan.

“Tidak setiap hari... besok saja. Seok mau Mommy yang jemput dari sekolah. Seok juga mau Mommy dengar cerita Seok... langsung, bukan lewat video call.” Ia berhenti sebentar, lalu menatap kedua orang tuanya bergantian. “Lalu... Seok mau kalian datang ke sekolah.”

Ruangan mendadak sunyi dari kejauhan hanya terdengar suara pendingin udara yang berdesir halus, sementara uap tipis dari mangkuk juk perlahan menghilang di udara.

Junho menunduk sejenak, kemudian mengangkat wajah dan menatap putranya.

“Kenapa besok?” tanyanya lembut.

Jun-seok menggigit bibirnya sebentar sebelum menjawab.

“Karena besok Seok ada presentasi seni. Guru bilang orang tua boleh datang.” Ia menundukkan pandangan, jemarinya saling bertaut di atas meja. “Seok... ingin Mommy dan Daddy ada.”

Ia menarik napas kecil.

“Anak lain orang tuanya datang. Bahkan Si-an, Min-kyu, Yul, dan Seon-woo... mereka akan datang bersama orang tua mereka,” jelas Jun-seok.

Nada suaranya tetap tenang, tetapi matanya mengatakan jauh lebih banyak daripada kata-katanya, dan mungkin terlalu jujur untuk seorang anak seusianya. Nala perlahan meletakkan sendoknya. Ia kemudian meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya hangat.

“Mommy minta maaf kalau selama ini Mommy sering pulang malam,” ucap Nala lirih.

Jun-seok langsung menggeleng cepat.

“Seok tahu Mommy kerja.” Ia tersenyum kecil, berusaha terlihat baik-baik saja. “Seok hanya... rindu.”

Kata terakhir itu terdengar begitu sederhana namun justru kata itulah yang membuat dada Nala terasa perih.

“Kalau tidak boleh, tidak apa-apa. Seok bisa datang sendiri ke sana,” lanjut Jun-seok cepat, seolah ingin menarik kembali permintaannya sebelum merepotkan kedua orang tuanya.

Junho menarik napas dalam.

“Daddy bisa atur jadwal. Daddy akan datang,” ucapnya tegas.

Nala spontan mengangkat wajahnya, menatap Junho tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk menyampaikan rasa terima kasih yang tidak perlu diucapkan.

Kemudian Nala kembali menatap putranya.

“Mommy juga akan usahakan. Mommy janji, besok akan pulang lebih awal dan datang ke sana,” ucapnya sembari tersenyum lembut.

Jun-seok menatap ibunya beberapa saat sebelum senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.

“Mommy janji?” tanyanya memastikan.

Nala mengangguk.

“Janji, sayang... Ayo, cepat makan. Kita bisa terlambat nanti,” jawab Nala.

Mendengar itu, Jun-seok akhirnya menyuap juknya. Kali ini ia makan dengan lahap, seolah rasa aman yang baru saja ia dapatkan membuat makanan di hadapannya terasa jauh lebih hangat.

Junho meneguk teh jahenya sambil menatap dua orang yang paling ingin ia lindungi. Di meja makan itu, tidak ada keputusan bisnis, tidak ada grafik, tidak ada konflik besar. Hanya sebuah permintaan kecil dan kesadaran bahwa rumah, sesibuk apa pun penghuninya, harus tetap menjadi tempat untuk kembali.

“Seok, semalam kenapa?” tanya Junho pelan.

“Mimpi buruk,” jawabnya jujur.

Junho melirik Nala, seolah ingin memastikan putranya mengatakan yang sebenarnya. Nala mengangguk kecil, membenarkan ucapan Jun-seok, meskipun anak itu tidak menceritakan detail mimpinya.

“Lain kali, ajak Daddy juga. Kalian hanya tidur berdua, Daddy jadi sendirian,” ucap Junho dengan nada sedikit mengeluh.

Nala tertawa pelan, sementara Jun-seok mengangguk.

“Iya, Daddy,” jawabnya cepat.

Nala tersenyum tipis, meski matanya kembali terasa panas. Ia menunduk, menyembunyikan perasaannya di balik secangkir teh jahe yang masih hangat.

Pagi itu berjalan sederhana, tetapi di dalam kesederhanaannya, ada janji-janji kecil yang sedang berusaha mereka tepati.

Setelah sarapan selesai, pagi bergerak pelan seolah memberi ruang bagi mereka bertiga untuk benar-benar hadir satu sama lain. Junho berdiri lebih dulu, merapikan manset kemejanya dengan gerakan terukur. Nala membereskan meja tanpa tergesa, sementara Jun-seok mengambil tas sekolahnya sendiri dan memastikan kotak makan siang terselip rapi di dalamnya.

Mereka keluar hampir bersamaan.

Pintu penthouse tertutup perlahan di belakang mereka, lalu lift pribadi membawa ketiganya turun dalam suasana yang tenang. Jun-seok berdiri di antara kedua orang tuanya. Tangannya menggenggam tali tas, sementara bahunya sesekali menyentuh sisi jas Junho atau lengan Nala.

Sebuah kebetulan kecil, tetapi cukup untuk membuat anak itu merasa aman.

Di lobi, udara pagi Seoul terasa segar. Mobil hitam mereka sudah menunggu di depan dengan mesin yang menyala halus. Untuk sekali ini, tidak ada yang terburu-buru.

Junho membuka pintu belakang lebih dulu.

“Masuk,” katanya kepada Jun-seok.

Nala hendak mengikuti, tetapi Junho menahannya sejenak.

“Kamu di depan saja. Kita searah,” titahnya.

Nala terdiam sesaat, lalu mengangguk. Sebuah hal sederhana, tetapi justru menjadi sesuatu yang jarang terjadi di antara kesibukan mereka.

“Daddy, kita pergi bersama Mommy?” tanya Jun-seok dengan wajah berbinar.

“Uhum.”

Junho mengangguk singkat sembari masuk ke kursi pengemudi. Karena hari ini mereka pergi bersama, ia memutuskan untuk menyetir sendiri.

Mobil kemudian melaju meninggalkan kompleks apartemen dengan ritme yang tenang. Jalanan pagi Seoul belum terlalu padat. Cahaya matahari menembus kaca jendela, memantul di permukaan gedung-gedung tinggi dan trotoar yang masih menyisakan kilau embun.

Jun-seok menatap ke luar jendela selama beberapa saat. Kemudian, tiba-tiba ia bersuara.

“Mommy, Daddy. Besok Seok jadi, ya, main dengan Kiyoon samcheon?” tanyanya.

Junho mengangguk dari balik kemudi.

“Nanti mau diantar atau memang Samcheon Kiyoon yang jemput?” tanyanya lagi.

“Katanya dijemput. Imo bilang dia mau bicara sebentar dengan Mommy,” jelas Jun-seok.

Nala yang sejak tadi asyik menggulir layar ponselnya langsung terdiam. Jempolnya berhenti bergerak.

“Dengan Mommy? Ada apa?” tanyanya bingung.

“Tidak tahu... Tidak bilang,” jawab Jun-seok jujur.

Nala mengangguk kecil memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan itu. Mobil kembali dipenuhi suasana tenang. Junho dan Jun-seok terus mengobrol, sesekali diselingi tawa kecil dari keduanya.

Nala hanya mendengarkan dari kursi penumpang, ada sesuatu yang hangat memenuhi dadanya saat melihat keduanya seperti itu. Percakapan sederhana dan tawa kecil yang tidak melibatkan pekerjaan atau urusan perusahaan yang harus dikejar.

Tidak terasa, mobil mereka akhirnya berhenti di depan KIYOON International Arts School. Bangunannya berdiri megah dan cerah di bawah sinar matahari pagi, sementara area gerbang sudah dipenuhi suara anak-anak dan orang tua yang mengantar. Suasana ramai, tetapi terasa hangat.

Junho turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Jun-seok. Nala ikut turun setelahnya. Ia merapikan kerah seragam putranya dengan gerakan lembut, memastikan tidak ada bagian yang berantakan.

“Belajar yang baik,” kata Junho.

“Jangan lupa makan,” tambah Nala.

Jun-seok mengangguk, lalu memeluk mereka bergantian seperti biasanya.

“Daddy, Mommy... terima kasih. Aku sayang kalian,” ucapnya.

Setelah itu, ia berlari kecil menuju gerbang sekolah. Namun, sebelum benar-benar masuk, Jun-seok menoleh sekali lagi dan melambaikan tangan.

Nala membalasnya dengan senyum, dia terus menatap punggung putranya yang semakin jauh, hingga sosok kecil itu akhirnya menghilang di antara teman-temannya.

Nala masih berdiri di sana beberapa saat karena entah mengapa, melihat Jun-seok pergi dengan senyum di wajahnya membuat hatinya terasa sedikit lebih lega.

Tepukan ringan di bahunya membuat Nala tersentak.

“Ayo, sudah siang,” ujar Junho.

Nala menoleh. Junho kemudian menuntunnya kembali menuju mobil dan membukakan pintu untuknya seperti biasa. Dia melangkah masuk, lalu Junho menyusul ke kursi pengemudi. Mobil kembali melaju meninggalkan halaman sekolah.

Kali ini, hanya ada dua orang dewasa di dalamnya menuju arah yang berbeda, tetapi dengan hati yang sedikit lebih ringan.

Beberapa saat tidak ada percakapan hingga akhirnya Junho memecah keheningan.

“Kita antar kamu dulu,” ucapnya.

Nala menoleh.

“Aku turun di depan saja. Oppa langsung pergi saja,” jawab Nala.

Junho menggeleng.

“Tidak... Aku antar sampai sana.”

Jawabannya singkat dan mutlak, jelas seperti vonis akhir yang tidak bisa lagi diganggu gugat, kali ini Nala hanya menghela napas kecil, lalu kembali menatap ke luar jendela.

Pagi itu, jadwal yang biasanya saling bertabrakan seolah menyingkir dengan sendirinya seperti memberi mereka kesempatan meski sementara, mungkin hanya sebentar untuk berjalan berdampingan sebelum dunia kembali menuntut mereka menjalankan perannya masing-masing.

“Kamu yakin besok bisa cuti?” tanya Junho, membuat Nala menoleh.

“Aku usahakan, Oppa. Menurutmu, bagaimana tentang tema kehilangan yang belum selesai?” tanya Nala, meminta pendapat suaminya.

Bagaimanapun, Junho sangat memahami dunia musik, penulisan lirik, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses kreatif.

Sembilan belas tahun menjadi leader SOLIX bukanlah pengalaman yang singkat. Selama hampir dua dekade, Junho telah melewati berbagai proses; menulis, menyanyikan, sekaligus memahami bagaimana sebuah lagu dapat membawa perasaan seseorang ke permukaan.

Junho menatap lurus ke depan.

“Ada masalah dengan pekerjaan?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam.

Nala langsung menggeleng cepat.

“Tidak... Di sana ada satu anggota yang sangat sensitif dan peka, seperti dirimu. Namanya Minjae. Dia kurang setuju dengan draf ini karena bagian pre-chorus akan dinyanyikan olehnya. Dia bilang bagian itu menyentuh luka pribadinya.”

Nala berhenti sejenak tatapannya beralih kepada Junho. Wajah pria itu mungkin sudah tidak semuda dahulu, beberapa garis halus mulai terlihat di sudut matanya. Namun, aura bintang yang melekat padanya sejak bertahun-tahun lalu seolah tidak pernah benar-benar padam.

“Aku menyarankan mengganti kalimat ‘aku menunggumu’ menjadi ‘aku menunggu waktu’. Menggeser sudut pandang. Sekarang fokusnya berpindah dari seseorang kepada sebuah proses.” Nala menghela napas pelan. “Tapi... aku rasa aku sendiri tidak puas dengan keputusan itu.”

Junho mendengarkan tanpa menyela matanya tetap tertuju pada jalanan di hadapannya, tangannya mantap mengendalikan kemudi. Namun, rahangnya perlahan mengendur tanda bahwa ia benar-benar hadir dalam percakapan itu, bukan sekadar mendengarkan sambil lalu.

Beberapa detik berlalu sebelum Junho menarik napas pelan, seolah sedang menata sebuah ingatan lama yang tersimpan begitu rapi dan tidak ingin ia bongkar sepenuhnya.

“Kamu melakukan hal yang benar,” ucapnya akhirnya. “Menggeser fokus dari ‘orang’ ke ‘proses’ bukan sekadar pilihan artistik. Itu perlindungan.”

Nala mengernyit kecil.

“Perlindungan?” tanyanya.

“Untuk dia, dan untuk grupnya.” Junho terdiam sejenak, matanya masih tertuju pada jalan. “Luka yang dinyanyikan tanpa jarak akan cepat membusuk. Tapi luka yang diberi waktu...”

Ia menarik napas pendek. “Bisa berubah menjadi makna.”

Nala terdiam mendengar kalimat itu. Senyum tipis perlahan muncul di bibirnya.

“Kamu terdengar seperti produser tua yang sok bijak,” kekehnya.

Junho meliriknya sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Aku memang produser tua. Bedanya, aku berhenti sebelum menjadi pahit,” jawabnya tanpa menoleh.

“Itu karena aku, kan?” sahut Nala ringan. Nada bercandanya tipis, tetapi tepat sasaran.

Junho terkekeh geli, suara rendah yang belakangan ini jarang sekali terdengar darinya.

“Ya. Itu karena kamu. Untuk dirimu juga... dan putra kita.”

Mendengar itu, Nala menunduk. Tangannya perlahan mencari tangan Junho yang berada di dekat tuas persneling, lalu menggenggamnya erat. Jemari mereka bertaut dalam keheningan beberapa saat.

“Oppa tahu...” Nala menarik napas pelan. “Aku pikir aku tidak akan bertahan selama ini denganmu. Aku... aku pikir aku tidak akan sanggup menjadi rahasia.”

Ia terdiam sejenak. Matanya menatap tangan mereka yang saling menggenggam.

“Tapi ternyata aku tidak masalah. Bahkan jika suatu saat dunia berhenti untukku dan aku belum pernah dikenal sebagai istrimu...” Nala tersenyum kecil, meski ada getir yang bersembunyi di baliknya. “Aku akan pergi dengan bahagia.”

Kalimat terakhir itu membuat Junho perlahan menginjak rem, saat itu mobil berhenti di sisi jalan yang cukup lengang. Junho menoleh dan menatap Nala lama tatapannya berubah, ada sesuatu yang tertahan di sana, sesuatu yang seolah ingin ia katakan tetapi terlalu berat untuk dikeluarkan.

“Jangan bicara seperti itu...” katanya pelan, dia menggeleng cepat. “Jangan pernah.”

Pandangan Junho kemudian turun kepada tangan mereka yang masih bertaut.

“Aku pasti akan mengenalkanmu... pasti.” Suaranya terdengar lebih lirih. “Tapi ketakutanku masih sama. Bagaimana jika dunia menyerangmu lagi?”

Ia menarik napas panjang. “Aku tidak ingin dunia menyentuh sesuatu yang aku lindungi, Nala. Aku tidak ingin.”

Nala tersenyum tipis seolah ada sedikit lelah saat mendengar kata 'pasti'. Kata yang sudah diucapkan Junho berulang kali hingga Nala sendiri tidak pernah tahu berapa banyak jumlahnya.

Namun, seperti sebelumnya, kata itu belum juga benar-benar datang bersama kenyataan. Nala mengangguk kecil, menahan segala suara yang bergema di dalam pikirannya. Ia kemudian mengangkat tangannya, meraih wajah Junho dengan lembut, membuat pria itu kembali menatapnya.

“Tidak perlu tunjukkan aku sebagai istrimu,” ucap Nala pelan. “Tunjukkan saja Jun-seok. Dia putramu.”

Tatapan Junho berubah.

“Aku tidak masalah menjadi bayanganmu,” lanjut Nala. “Tapi Jun-seok tidak boleh menjadi bayangan ayahnya sendiri.”

Nala mengusap pipi Junho perlahan.

“Kalau nanti kamu sudah siap, tunjukkan Jun-seok kepada dunia. Tunjukkan bahwa dia putramu.”

Tidak ada jawaban dari Junho pria itu hanya diam selama beberapa saat, seolah kalimat itu baru saja membuka ruang yang selama ini sengaja ia kunci rapat-rapat.

Nala akhirnya melepaskan tangannya dari wajah Junho.

“Oppa, ayo. Kita bisa terlambat,” katanya lembut.

Junho tersadar. Ia menghela napas pendek sebelum kembali memegang kemudi dan menyalakan mobil.

Mesin kembali berdengung pelan, dan mobil melaju lagi. Namun kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Di antara suara kendaraan yang berlalu dan gemerisik angin di balik kaca jendela, satu permintaan Nala masih menggantung di udara: Tunjukkan bahwa dia putramu.

Cahaya matahari menyentuh sisi wajah Nala, menampakkan garis lelah yang tidak ia sembunyikan, tetapi juga keteguhan yang seolah tidak pernah benar-benar padam.

Junho kembali meliriknya dan kali ini lebih lama.

“Kali ini aku akan melakukannya... Tunggu aku,” ucapnya pelan.

Nala mengangguk.

“Minjae, anak seperti itu biasanya tidak menolak karena tidak mau. Mereka menolak karena terlalu mau,” ucap Junho, kembali pada topik pembicaraan mereka sebelumnya.

Nala mengangguk pelan.

“Aku tahu. Itu yang membuatku ragu. Aku takut jika dipaksakan, dia akan kehilangan pijakan,” jawab Nala lirih.

“Kalau begitu, beri dia pilihan. Bukan keputusan.” Junho tetap menatap jalan di hadapannya. “Biarkan dia memilih jarak yang sanggup ia hadapi. Seorang artis harus belajar mengendalikan jarak dengan lukanya sendiri.”

Nala menatap suaminya mata mereka bertemu sejenak sebelum Junho kembali memusatkan perhatian pada jalan.

“Kamu bicara seperti sedang menasihati dirimu yang dulu... atau mungkin dirimu yang sampai sekarang,” kekeh Nala pelan.

Junho tidak menyangkal.

“Mungkin aku memang sedang menasihati diriku yang terlambat,” jawabnya.

Keheningan kembali turun di antara mereka namun kali ini, keheningan itu tidak terasa berat. Ada sesuatu yang hangat di antara keduanya; sebuah kesepahaman yang lahir dari luka yang berbeda, tetapi mampu saling mengenali.

Nala menyandarkan punggungnya lebih dalam ke kursi. Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya menikmati perjalanan tanpa memikirkan terlalu banyak hal.

“Kalau begitu, aku akan bilang kepada Minjae kalau mantan leader legendaris menyetujui revisiku,” katanya akhirnya. Nada suaranya kembali ringan.

Junho menghela napas pendek.

“Jangan sebut ‘legendaris’. Itu membuatku terdengar seperti fosil,” ucapnya datar dan serius. Justru itu yang membuat Nala tertawa kecil.

“Baik. Aku akan bilang, ‘CEO dingin yang diam-diam puitis’. Bagaimana?” tanyanya dengan senyum geli.

Junho kembali memasang wajah masam.

“Lebih buruk,” balasnya cepat.

Tawa Nala kembali memenuhi kabin mobil.

“Baiklah... Ini opsi terakhir. Aku akan bilang suamiku yang menyetujui revisiku,” lanjut Nala.

Junho menggeleng, tetapi kali ini senyumnya bertahan sedikit lebih lama di sudut bibirnya.

Mobil mulai melambat, mendekati gedung ORIONA bangunan modern dengan fasad kaca yang memantulkan langit siang. Deretan kendaraan bergerak perlahan di sekitar area gedung, sementara pantulan cahaya matahari menari di permukaan kaca.

Sebelum mobil berhenti sepenuhnya, Junho kembali bicara. Suaranya lebih rendah, seolah kalimat berikutnya hanya ditujukan untuk Nala.

“Yeobo.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah tidak menyerah dengan caramu sendiri. Dan terima kasih sudah tidak menyerah pada kita.” Junho terdiam sesaat, matanya tetap tertuju ke depan. “Aku tidak memberikan janji kosong, Nala. Aku sedang menunggu waktu yang tepat. Tolong berikan kepercayaanmu kepadaku sekali lagi.”

Nala menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk kecil.

“Selalu aku berikan... Terima kasih untuk semalam.”

Mata Junho langsung membulat. Ia sama sekali tidak menyangka Nala akan membalasnya dengan kalimat itu.

“Kim Nala... Astaga.” Junho memejamkan mata, seolah sedang berusaha menahan sesuatu yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

“Aku cinta Oppa,” ucap Nala sembari meraih handle pintu mobil.

Namun, sebelum sempat membukanya, tangan Nala terhenti, Junho telah lebih dahulu meraih tangannya dan menariknya kembali hingga tubuh Nala berbalik menghadapnya.

“Bisa-bisanya kau menggodaku pagi-pagi seperti ini,” gumam Junho. Tangannya terangkat, meraih dagu Nala dengan lembut, kemudian ia mengecup bibir istrinya perlahan, ciuman itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Nala menepuk lengan Junho ketika napasnya mulai menipis.

“Oppa...” gumamnya tertahan.

Junho akhirnya melepaskannya.

“Manis sekali,” ucapnya sembari mengusap bibir Nala dengan ibu jarinya, senyum kecil terukir di wajahnya.

“Menyebalkan sekali,” gerutu Nala, tetapi senyum manis tetap menghiasi wajahnya. Ia kembali meraih handle pintu, lalu menoleh kepada Junho.

“Dengar, jangan terlalu keras pada dirimu hari ini. Dan... jangan lupa makan. Tunggu aku pulang, oke?”

Junho mengangguk.

“Oke.”

Nala tersenyum kecil sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Namun, sebelum benar-benar turun, ia sempat menatap Junho sekali lagi.

Tatapan mereka bertemu seolah memahami sesuatu yang tidak sempat diucapkan, Junho mengangguk pelan, lalu berkata,

“Kamu juga. Jangan menyelamatkan semua orang sendirian.”

Kalimat sederhana itu membuat senyum Nala kembali mengembang. Ia mengangguk kecil sebelum akhirnya menutup pintu mobil.

Langkahnya kemudian mantap menuju pintu masuk ORIONA. Sepatu haknya mengetuk permukaan trotoar dengan ritme teratur, sementara sinar matahari siang jatuh di bahunya.

Junho masih berada di dalam mobil dia menatap punggung Nala selama beberapa detik, cukup lama untuk mengingat bahwa di tengah dunia yang terus menuntut mereka menjalankan peran masing-masing, masih ada ruang kecil untuk menjadi sekadar dua manusia yang saling menguatkan.

Dan percakapan pagi itu membuat segalanya terasa sedikit lebih mungkin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!