Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tantangan Dari Reyhan 25.
Janji di bawah pohon mahoni malam itu tidak lantas mengubah dunia menjadi merah jambu dalam semalam.
Pagi berikutnya, Pelita Bangsa tetaplah sebuah arena yang kejam, lengkap dengan tatapan menyelidik Laura di sudut koridor dan bisik-bisik miring yang sengaja diembuskan di area loker. Namun, ada satu hal yang bergeser secara permanen: sudut di dalam dada Reyhan yang biasanya sekaku tembok beton, kini menyisakan satu ruang khusus yang berdenyut tiap kali nama Novia melintas.
Waktu demu waktu terus dilalui hingga pukul delapan malam, atmosfer di dalam unit apartemen bertipe studio itu terasa sangat kontras dengan dinginnya udara luar kota Jakarta.
Tempat ini adalah rahasia terbesar mereka—sebuah ruang isolasi berkedok "pernikahan muda" yang dipaksakan oleh ambisi dan wasiat egois orang tua, namun perlahan menjelma menjadi satu-satunya tempat di mana mereka tidak perlu memakai topeng.
Novia duduk bersila di atas karpet bulu abu-abu di depan sofa, dengan sebuah buku paket Matematika tebal yang terbuka di pangkuannya. Rambutnya dicepol asal-asalan dengan menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang mulai kembali segar. Di tangan kanannya, sebuah pulpen diketuk-ketuk ke dahi dengan ritme frustrasi.
"Rey... ini rumus integral kenapa bisa berubah jadi serumit ini sih? Ini angka atau sandi rumput?" keluh Novia setengah mengerang, menjatuhkan dahinya tepat di atas halaman buku yang terbuka.
Reyhan yang baru saja keluar dari dapur dengan kaos putih oblong dan celana training hitam, hanya melirik sekilas.
Di tangan kanannya ada secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma robusta pekat.
Dia berjalan mendekat, lalu dengan santai meletakkan cangkir itu di meja kopi sebelum mendudukkan dirinya di sofa tepat di belakang Novia.
"Buku itu dibaca, bukan buat bantalan tidur," cetus Reyhan datar. Suaranya rendah, tipikal nada bicaranya yang irit, namun tidak ada lagi nada ketus yang biasa dia gunakan di ruang OSIS.
Novia mendongak, membalikkan badannya hingga kini menghadap Reyhan yang duduk lebih tinggi di atas sofa.
Wajah gadis itu cemberut, bibirnya mengerucut sebal. "Gue udah baca tiga kali dari halaman depan, tapi otak gue tetep nolak berinteraksi sama angka-angka ini. Lo sengaja ya pilih pelajaran matematika cuma buat pamer kalau lo lebih pinter dari gue?"
Melihat ekspresi menggemaskan dengan hidung yang sedikit berkerut itu, sudut bibir Reyhan berkedut. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah tegas sang Ketua OSIS. Itu adalah senyuman pertama yang dia berikan secara sukarela untuk Novia di dalam ruangan ini.
Bukan senyum formalitas saat menyambut kepala sekolah, bukan pula senyum sarkas untuk membungkam Laura.
"Kalau gue mau pamer, gue nggak akan buang waktu duduk di sini nemenin cewek malas kayak lo," balas Reyhan, tangan kanannya terulur ke depan, mendarat di puncak kepala Novia lalu mengacak rambut yang sudah berantakan itu dengan gemas.
Novia membeku sekilas. Sentuhan tangan Reyhan yang hangat di kepalanya selalu sukses membuat dadanya berdesir aneh, memicu detak jantung yang ritmenya jauh lebih sehat daripada saat dia terkena panic attack di taman kota kemarin.
Ada rasa aman yang menjalar, sebuah kepastian bahwa cowok di depannya ini benar-benar memegang janjinya untuk tidak membiarkannya berjalan sendirian.
"Gue nggak malas! Otak gue cuma butuh asupan gula," kilat Novia membela diri. Dia segera bangkit berdiri, melangkah dengan riang menuju dapur kecil mereka dan kembali beberapa menit kemudian dengan sepiring wafel instan yang sudah dia siram sirup cokelat dengan porsi yang sangat berlebihan.
Reyhan memperhatikan gerak-gerik gadis itu.
Ada kehangatan aneh yang merayap di hatinya melihat bagaimana Novia mulai bisa mengekspresikan dirinya tanpa ketakutan di apartemen ini.
Sifat pemberontak dan keras kepala yang biasa Novia tunjukkan di sekolah, di sini berubah menjadi tingkah konyol yang menghibur.
Novia sering kali bernyanyi dengan suara sumbang saat mencuci piring, atau salah memasukkan garam ke dalam masakan yang berakhir membuat mereka berdua terbatuk-batuk.
Namun, kedamaian domestik itu mendadak terasa sedikit goyah ketika ponsel Reyhan yang tergeletak di atas meja bergetar, menampilkan sebuah notifikasi kalender akademik sekolah.
Senin depan: Ujian Tengah Semester (UTS).
Reyhan mengambil ponselnya, menatap layar dengan kening berkerut, lalu mengalihkan pandangan tajamnya pada piring wafel di tangan Novia dan buku Matematika yang masih telungkup di lantai.
Sifat kedisiplinan tingkat dewa sang Ketua OSIS seketika aktif.
"Novia," panggil Reyhan, suaranya mendadak berubah menjadi bariton yang penuh wibawa, persis seperti saat dia sedang menginterogasi anggota OSIS yang melanggar aturan.
Novia yang baru saja hendak menyuapkan potongan wafel ke mulutnya terhenti.
Dia mengerjapkan mata, mendadak merasa aura di dalam apartemen berubah menjadi ruang BK portabel. "Kenapa? Lo mau wafel juga? Nggak boleh, ini jatah gue."
"Senin depan UTS," kata Reyhan tanpa basa-basi. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam manik mata Novia dengan pandangan mengintimidasi yang sangat efektif. "Dan gue udah lihat rekam jejak nilai lo semester lalu. Merah di tiga mata pelajaran utama. Kimia, Fisika, Matematika."
Novia menelan ludahnya susah payah. Rasa manis cokelat di lidahnya mendadak hambar. "Ya... ya kan itu semester lalu, kenapa harus stres mikirin matematika lintas minat sih?"
"Nggak ada alasan," potong Reyhan cepat, tegas, dan mutlak. Dia berdiri dari sofa, berjalan menuju meja konter dapur tempat dia biasa menaruh dompet dan kartu-kartu penting.
Reyhan mengambil sebuah kartu debit berwarna hitam dari dalam dompetnya, lalu menggoyang-goyangkannya di udara, memamerkannya di depan mata Novia yang langsung melebar.
Itu adalah kartu tunjangan bulanan yang diberikan oleh keluarga besar Reyhan untuk operasional apartemen dan uang jajan tambahan, yang seluruh kendalinya dipegang penuh oleh Reyhan sebagai kepala keluarga legal.
"Peraturan baru untuk minggu ini sampai UTS selesai," ucap Reyhan dengan senyum penuh kemenangan yang terlihat sangat menyebalkan di mata Novia. "Kalau sampai ada satu saja nilai lo yang dapet angka di bawah KKM, atau ada laporan lagi dari guru piket kalau lo bolos kelas intensif..."
Reyhan memasukkan kembali kartu itu ke dalam saku celananya dengan gerakan lambat yang dramatis.
"...gue sita kartu ini. Dan itu artinya, nggak ada jatah jajan boba, nggak ada wafel instan, dan lo nggak akan dapet uang saku sepeser pun selama satu bulan penuh. Paham?"
Mata Novia membulat sempurna. Ancaman itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman skorsing dari Pak Baskoro. "Reyhan! Lo nggak bisa diktator kayak gini ya! Ini pelanggaran hak asasi istri bayangan!"
Reyhan hanya menaikkan satu alisnya, berbalik menuju kamarnya sambil membawa cangkir kopinya yang sudah kosong.
Sebelum menutup pintu, dia menoleh sekilas dengan tatapan dinginnya yang khas. "Waktu belajar lo dimulai dari sekarang, Novia. Silakan pilih: integral, atau dompet kosong."
Brak.
Pintu kamar tertutup rapat, meninggalkan Novia yang melongo di tengah ruangan dengan wafel yang separuh digigit dan masa depan keuangannya yang kini berada di ujung tanduk.
"DASAR SUAMI DIKTATOOOOOOOR!!" Jerit Novia.
......................
...****************...
Tbc,