NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:44k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

Begitu melangkah melewati ambang pintu ruang keluarga, Arjuna seketika menghentikan langkah kakinya. Garis wajah pria itu berubah drastis menjadi sangat dingin tanpa ampun. Sepasang mata setajam elangnya langsung menghujam tajam ke arah Arunika yang berdiri tenang mendampingi Nakula.

"Arunika!" panggil Arjuna dengan suara bariton yang menggelegar memenuhi seisi ruangan, membuat udara mendadak terasa mencekam.

Ratna dan Wina yang sejak sedari tadi menunggu di sofa langsung saling melempar lirik penuh antusiasme yang membara di dada mereka.

"Akhirnya, badai itu datang juga," batin Wina tersenyum puas penuh kemenangan.

Arunika, yang sudah memahami skenario drama ini, segera memainkan perannya dengan apik. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura ciut.

"Iya, Mas Juna?"

"Siapa yang memberimu izin lancang untuk membawa Nakula keluar dari rumah ini sembarangan?!" bentak Arjuna dengan nada tinggi.

Arunika memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat.

"Aku... aku hanya..."

"Kau baru beberapa hari resmi tinggal di rumah ini, tapi sudah berani bertindak melampaui batas dengan membawa anakku kemana-mana tanpa melapor padaku!" omel Arjuna lagi, begitu meyakinkan hingga urat di lehernya tampak menegang.

Arjuna semakin mempertegas aktingnya, menatap tajam sang istri. "Kau pikir menjadi seorang ibu itu adalah hal yang mudah, hah?! Jangan pernah bertindak sesukamu lagi di rumah ini!"

"Mas, aku kan hanya ingin–"

"Cukup!" Arjuna memotong ucapan Arunika dengan nada membentak keras. "Aku sama sekali tidak mau mendengarkan alasan omong kosong apa pun darimu lagi!"

Arunika menggigit bibir bawahnya erat-erat, setengah menahan rasa kesal karena bentakan itu terdengar terlalu nyata di telinganya, sekaligus menahan tawa melihat totalitas akting suaminya.

Ratna langsung bangkit dari duduknya, berjalan mendekat dengan pasang muka sok bijaksana palsu.

"Sudahlah, Juna, jangan terlalu emosi. Mama kan sudah memperingatkan mu sejak hari pertama. Perempuan ini memang masih belum pantas dan belum becus mengurus anak."

Wina ikut nimbrung memanasi situasi. "Benar sekali, Ma. Namanya juga perempuan baru jadi ibu kemarin sore, mana tahu aturan."

Arjuna menarik napas panjang, lalu mengangguk kaku seolah terhasut.

"Kalian benar. Mulai hari ini, aku sendiri yang akan mengawasi semuanya secara ketat."

Ucapan itu membuat Ratna dan Wina merasa di atas angin, semakin berbinar senang.

"Bagus sekali kalau begitu, Nak. Memang harus diawasi."

Arjuna menoleh tajam ke arah Nakula. "Mulai malam ini, kau harus tidur pindah ke kamar utama! Bersamaku dan Arunika."

"Hah?!" seru Ratna dan Wina berbarengan, terkejut mendengar keputusan mendadak itu. Arjuna menatap mereka berdua dengan dingin tanpa ekspresi.

"Ada masalah dengan keputusanku?"

Wina buru-buru menepis keterkejutannya dengan senyuman

"Tidak... hanya merasa heran saja, Juna. Kau baru saja memarahi mereka habis-habisan di sini, tapi kenapa sekarang malah mengajak mereka tidur sekamar?"

"Aku harus mengawasi gerak-gerik mereka berdua lebih dekat agar tidak ada lagi kejadian kabur-kaburan," dalih Arjuna beralasan logis.

Ratna langsung mengangguk cepat menyetujui. "Benar juga alasanmu. Biar si Arunika itu tidak bisa sembarangan lagi bertindak di belakang kita."

Padahal, alasan utama yang sebenarnya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Arjuna melakukan itu karena ia sama sekali tidak ingin membiarkan Nakula kembali berada di dekat jangkauan Ratna maupun Wina walau sedetik pun.

"Kalau begitu, kami ke kamar dulu," ucap Arjuna singkat.

Ia menggandeng tangan kecil Nakula dengan lembut. Arunika mengekor di belakang mereka dalam diam.

Di ruang keluarga, Ratna dan Wina saling bertukar pandang penuh seringai licik.

"Wah, ternyata benar dugaan Mama," bisik Wina girang. "Arjuna pasti memihak kita."

"Biarkan saja mereka sekamar. Sebentar lagi perempuan gendut itu pasti akan stres dan menyerah sendiri," sahut Ratna tersenyum lebar penuh kepuasan.

*

*

*

Begitu daun pintu kamar tertutup rapat dan dikunci dari dalam, suasana mendadak hening selama beberapa detik.

Lalu, Arjuna mengembuskan napas panjang selebar-lebarnya, melepas topeng dinginnya.

"Maafkan aku."

Arunika mengangkat sebelah alisnya heran. "Maaf untuk apa, Mas?"

"Tadi aku terpaksa harus membentak dan berpura-pura memarahi mu terlalu keras di depan mereka."

Arunika justru terkekeh pelan, melempar senyum jenaka. "Tidak apa-apa. Aktingmu tadi luar biasa, Mas. Keren sekali."

Arjuna mengernyitkan dahi. "Keren?"

"Iya, aktingmu sebagai suami diktator itu bagus juga."

Sudut bibir Arjuna terangkat membentuk senyuman tipis.

"Aktingmu juga tidak kalah hebat. Kau bahkan kelihatan benar-benar tertunduk takut."

"Ya ampun, kau sampai membuatku hampir percaya kalau kau benar-benar marah padaku tadi," aku Arunika jujur sambil mengelus dadanya.

"Itu karena kau terlalu menghayati peran sebagai tertuduh," balas Arjuna tenang.

"Habisnya suara bariton Jenderal kalau sedang membentak itu seram sekali, tahu!"

Arjuna terkekeh kecil untuk pertama kalinya. "Apa itu sebuah pujian?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Sebuah bentuk ancaman halus."

Kini, alih-alih ketegangan, di dalam kamar itu mereka berdua justru saling melempar senyuman kecil tanpa sadar. Arjuna sendiri baru menyadari bahwa hari itu ia sudah tersenyum lebih dari biasanya, sesuatu yang sangat langka terjadi dalam kamus hidup seorang jenderal militer.

Di sisi lain, Arunika diam-diam mencuri pandang menatap wajah suaminya lekat-lekat.

"Kalau wajahnya tidak memasang ekspresi dingin terus-menerus, ternyata suamiku ini lumayan tampan juga saat tersenyum," batinnya menilai.

Sementara Arjuna di dalam hatinya berpikir, "Perempuan ini, ternyata jauh lebih cerewet dan pemberani daripada bayanganku semula."

"Ehem..."

Suara deheman kecil membuat keduanya langsung menoleh serentak. Nakula sedang duduk bersila di atas ranjang empuk sambil memandangi mereka berdua bergantian dengan mata mengerjap polos kebingungan.

"Kalian berdua tadi bertengkar, kan?" tanya bocah itu.

"Iya," jawab Arunika.

"Terus sekarang kenapa malah senyum-senyum sendiri?"

Arjuna dan Arunika saling berpandangan canggung, lalu sama-sama salah tingkah tertangkap basah.

Arjuna buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca. "Itu semua murni bagian dari strategi akting profesional."

"Betul sekali!" sambung Arunika menimpali. "Kalau pemeran utamanya tidak latihan serius, nanti sandiwaranya malah ketahuan sama Nenek."

Nakula mengangguk pelan, meski keningnya masih berkerut seolah belum sepenuhnya percaya pada penjelasan itu.

"Oh, begitu ya."

Melihat ekspresi polos dan menggemaskan dari bocah itu, Arjuna dan Arunika kompak menahan tawa bersamaan.

"Kemari Ma, Pa, kita tidur bersama," ajak Nakula sembari menepuk sisi kanan kiri ranjangnya.

"Tidur bersama?" gumam Arjuna dan Arunika bersamaan.

1
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😅😅😅😀😀😌😌😫😫😫😫
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda SalVa
dari kasihan lama2 jadi bucin ya Jun 🤭🤭
Sri Rahayu
hahaha. bu Ratna....senjata makan tuan.... bukan Arunika yg hrs makan didapur...tp Ratna Wina dan Damar 🤩🤩🤩🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Bunda SalVa
empuk banget kayak donat ya Nakula 😄😄
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 arunika😍
Endang Sulistiyowati
senjata makan tuan, rasain tuh. Arunika di lawan
Mundri Astuti
ampun dah si arunika jangan keluarin bar"nya klo di kamar arun😂😂😂
Maria Lina
bagus juna jgn ngalah lgi ok..lanju lgi thor ya ya
dyah EkaPratiwi
gengsinya gede amat jendral
Mundri Astuti
😂😂😂
Sri Rahayu
walah Jendral ga usah malu2 gengsi ngakuin mulai tertarik dgn Arunika... pura2 hanya merasa kasihan 🤪🤪🤪🤩🤩🤩... lanjut Thorf😘😘😘
Endang Sulistiyowati
Rasa kasian yang di tumbuhi bunga2 cinta 🤭
Maria Lina
dsr sunderu li arjuna tar jatuh cintro lo wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!