“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana di ruang tamu itu masih dipenuhi hawa panas yang belum juga mereda. Ketegangan menggantung di udara seperti awan gelap yang siap menurunkan badai kapan saja.
Eyang Narti berdiri tegak di tengah ruangan. Wajahnya masih keras, rahangnya mengatup kuat menahan emosi yang sejak tadi berkecamuk. Namun sorot matanya sudah menunjukkan satu hal yang pasti keputusan beliau tidak akan berubah.
Perlahan beliau menarik napas panjang, lalu menatap Damar dan Desi dengan dingin.
“Lebih baik kalian pulang,” usir Eyang Narti datar.
Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara tinggi, tetapi justru terasa jauh lebih menusuk.
Damar langsung menatap ibunya dengan tidak percaya.
“Bu!” protesnya, nada suaranya terdengar tertahan.
Namun Eyang Narti sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin, seolah yang berdiri di hadapannya bukan lagi anaknya sendiri.
“Kalau kamu kesini hanya untuk nyakitin Kayla,” lanjut beliau pelan namun tegas, “lebih baik kamu gak usah kesini lagi, Mar.”
Ruangan kembali sunyi. Kayla yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang semula kosong kini tertuju pada sosok ayahnya.
Damar juga menoleh kepadanya.
“Kayla…” panggilnya lirih.
Ada sesuatu dalam suara itu. Seperti keraguan… atau mungkin sisa-sisa perasaan seorang ayah yang masih ada di dalam dirinya.
Namun wajah Kayla tidak menunjukkan emosi apa pun. Tatapannya datar.
“Eyang benar, Pa,” jawab Kayla pelan.
Kalimat sederhana itu terasa seperti tamparan bagi Damar. Pria itu terdiam. Rahangnya menegang, matanya berkedip sekali seolah tidak menyangka putrinya sendiri akan berkata seperti itu.
Di sisi lain, Eyang Narti melangkah sedikit lebih maju, seolah ingin memastikan keputusan ini benar-benar jelas.
“Besok,” kata beliau tegas, “keluarga Ustadz Hanan akan datang kesini untuk mengkhitbah Kayla.”
Kayla sedikit menegang mendengar itu. Dadanya kembali berdebar, meskipun ia berusaha tetap terlihat tenang. Namun Eyang Narti melanjutkan kalimatnya tanpa ragu.
“Kalau kamu masih mau jadi orang tua yang bertanggung jawab, datanglah.”
Tatapan beliau menancap tajam ke wajah Damar.
“Tapi jika hanya ingin mengacaukan semuanya…” suara beliau berubah semakin dingin, “mending biar peranmu digantikan oleh Arman.”
Ucapan itu benar-benar membuat wajah Damar mengeras. Tangannya mengepal di samping tubuh. Amarah jelas terlihat di wajahnya, tetapi untuk beberapa saat ia hanya bisa berdiri membeku.
Sementara itu Desi yang sejak tadi menahan kekesalan kini benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikannya.
Wajahnya memerah. Bibirnya mengatup rapat menahan emosi. Rencananya benar-benar gagal. Semua usahanya agar Kayla meminta maaf pada Chandra… hancur begitu saja.
Bahkan rencananya menjodohkan dengan keluarga Brata juga terancam batal. Dengan gerakan kesal, ia langsung menarik tangan Damar.
“Ayo kita pulang!” katanya tajam.
Damar sempat menatap ibunya sekali lagi, lalu menghela napas berat sebelum akhirnya mengikuti langkah istrinya menuju pintu.
Suara langkah mereka menggema di lantai rumah yang luas itu. Namun sebelum benar-benar keluar, Desi tiba-tiba berhenti. Ia menoleh kembali ke dalam ruangan. Tatapannya langsung mencari satu orang.
“Arfin, pulang!” ucapnya tajam.
Suasana kembali menegang. Arfin yang sejak tadi berdiri di dekat Kayla langsung mengangkat kepala. Wajah remaja itu terlihat ragu sesaat, lalu ia menggeleng kuat.
“Enggak!” jawabnya keras. “Arfin mau sama kakak!”
Desi langsung melotot.
“Arfinnnn!” teriaknya dengan nada marah yang melengking.
Namun Arfin malah melengos ke arah lain. Ia pura-pura memperhatikan lukisan di dinding, seolah tidak melihat ataupun mendengar panggilan ibunya.
Sikap itu membuat Desi semakin murka.
“Arfin!” serunya lagi.
Namun remaja itu tetap diam saja. Bahkan kini ia berdiri di samping Kayla, seperti ingin menunjukkan bahwa ia memang tidak berniat pergi.
Kayla melirik adiknya sekilas. Meski wajahnya masih pucat dan lelah, ada sedikit kelembutan muncul di matanya.
Arfin menunduk sedikit, tetapi tetap bertahan di tempatnya. Sementara di dekat pintu, Desi terlihat hampir meledak karena marah.
Tangannya mengepal, napasnya naik turun menahan emosi. Namun sebelum ia sempat kembali berteriak, Damar sudah menarik lengannya pelan.
“Sudah,” ucapnya pendek.
Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu akhirnya membawa Desi keluar dari rumah itu.
Pintu depan tertutup dengan suara cukup keras. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka datang…
Beberapa saat kemudian, suasana rumah yang semula tegang perlahan berubah menjadi lebih tenang setelah kepergian Damar dan Desi. Meski demikian, bekas emosi yang tertinggal masih terasa di udara.
Kayla duduk di sofa ruang keluarga dengan tubuh sedikit membungkuk. Wajahnya pucat, matanya terlihat lelah, seolah semua peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir benar-benar menguras tenaga dan perasaannya.
Di depannya, Eyang Narti duduk dengan tongkat yang bersandar di samping kursinya. Wanita tua itu menatap cucunya lama, penuh kasih, tapi juga dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
Akhirnya Eyang Narti membuka suara dengan lembut.
“Nduk, kamu benar sudah yakin kan?” tanya Eyang Narti pelan.
Suara itu tidak menekan, tidak memaksa. Hanya sebuah pertanyaan tulus dari seorang nenek yang ingin memastikan kebahagiaan cucunya.
Kayla menunduk. Jemarinya saling bertaut di pangkuannya. Ia terlihat ragu, bahkan napasnya sedikit tertahan sebelum akhirnya menjawab.
“Eyang… jujur aja Kayla takut,” ucapnya lirih. “Kayla benar-benar merasa gak pantas buat dia, Eyang.”
Ucapan itu keluar seperti pengakuan yang selama ini ia pendam.
Eyang Narti menghela napas pelan. Hatinya terasa nyeri mendengar kalimat itu. Ia tahu betul luka yang selama ini dipikul Kayla membuat cucunya selalu merasa rendah diri.
“Nduk,” kata Eyang dengan suara lembut, “bukankah Hanan sudah mengatakan kemarin. Dia anak baik, dia serius sama kamu.”
Kayla menggigit bibir bawahnya. “Justru karena dia baik, Eyang… Kayla jadi—”
Kalimatnya terhenti. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan yang bercampur di dalam dadanya. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara Om Arman tiba-tiba terdengar dari kursi seberang.
“Kay,” ucapnya santai namun tegas. Kayla menoleh ke arah pamannya.
“Kalau kamu merasa tidak baik buat dia, jangan insecure,” lanjut Arman. “Tapi usaha.”
Ucapan itu membuat Kayla terdiam. Arman menatapnya serius, tetapi ada senyum tipis di wajah pria itu.
“Belajar lagi ya Kay,” katanya lembut. “Om yakin, Hanan bisa bimbing kamu ke jalan yang lebih baik lagi.”
Kayla masih terlihat ragu. “Tapi Om—”
“Om kamu benar, nduk,” potong Eyang Narti sambil mengangguk. “Kamu harus belajar, menjadi lebih baik lagi ya nduk. Biar Hanan bantu kamu berubah, insyaallah, Hanan pasti akan sabar mengajari kamu.’’
Kalimat itu membuat Kayla terdiam cukup lama.
Ia menarik napas panjang, seolah mencoba menenangkan hatinya sendiri. Banyak pikiran yang berputar di kepalanya tentang masa lalu, tentang dirinya, tentang Hanan yang begitu berbeda dari dunia yang selama ini ia jalani.
Namun perlahan ia mengangkat wajahnya. Kayla menatap neneknya, lalu pamannya.
Akhirnya ia mengangguk pelan. Keputusan itu mungkin belum sepenuhnya membuatnya tenang… tapi setidaknya ia mencoba percaya.
Tiba-tiba—
“Wait!”
Suara Arfin memotong pembicaraan mereka dengan nada dramatis. Semua kepala langsung menoleh ke arahnya. Remaja itu berdiri di dekat meja dengan ekspresi tercengang.
“Eyang… ini serius kakak mau menikah?” tanyanya dengan mata membulat.
Ia pikir, ucapan eyang nya tadi hanya ancaman pada sang ayah agar Kayla tidak di jodohkan dengan keluarga Brata. Tapi sepertinya ia salah, ucapan eyang nya benar.
Eyang Narti menatapnya dengan wajah datar.
“Iya,” jawab beliau singkat. “Besok keluarga Ustadz Hanan akan datang.”
Arfin langsung menganga.
“Ustadz? Beneran ustadz?”
Satu detik hening. Lalu—
Puk!
Sebuah bantal sofa melayang tepat mengenai kepala Arfin.
“Mbok pikir ada ustadz gadungan, hah!” omel Eyang Narti kesal.
“Banyak, Eyang!” celetuknya spontan sambil memegangi kepalanya sambil meringis.
Dan tentu saja, kalimat itu membuat ruangan seketika hening. Eyang Narti langsung melotot.
“Arfin!”
Remaja itu langsung mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya iya Eyang maaf!”
apa aj umi.... Kayla pasti ikut aj