Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Waktu kerja eca pun selesai, ia berjalan perlahan keluar melewati pintu lobi RS dan kali ini ia berjalan sendiri tanpa alex. Dengan sumringah ia tersenyum lebar melambaikan tangan pada theo yang menunggunya.
"Lo dari tadi nungguin gue di sini?"
"Lo betah banget nungguin di sini"
"Kali ini kita mau kemana, suntuk banget gue habis lihat banyak pasien"
Melihatnya melangkah keluar sendirian tanpa bayang-bayang dokter menyebalkan itu seketika meluruhkan sisa ketegangan yang sempat mengganjal di dadaku. Namun, senyuman lebarnya yang terlampau semringah justru membuat insting gengsiku kembali siaga. Aku menegakkan punggung perlahan, menyembunyikan fakta bahwa aku memang sengaja mematung berjam-jam di sudut pelataran ini hanya demi memastikan ia pulang bersamaku.
"Kepedean lo,"
sahutku datar, menepis tuduhan terselubungnya seraya melempar helm cadangan tepat ke arah pelukannya.
"Gue cuma kebetulan lagi males nongkrong di markas, bukan niat nungguin perawat bawel kayak lo."
Kupalingkan wajah sejenak, mengamati sorot letih yang samar di balik binar matanya sebelum kembali meliriknya dingin. Dengusan geli tertahan di tenggorokanku saat mengingat ocehannya tadi pagi soal anak sekolahan.
"Banyak gaya ngomong suntuk,"
cibirku sinis, menepuk jok belakang dengan gerakan dagu yang mengisyaratkan perintah mutlak.
"Sekarang naik. Kita cari angin sebelum lo pingsan di jalan dan bikin gue repot gotong badan lo lagi."
"Emang kita mau kemana?"
"Ini bukan kencan kita kan?"
"nonton bioskop juga seru sih"
"Tapi gue ngikut bos geng aja deh..hehe" sambil senyum tipis
Dengusan pendek lolos dari bibirku saat merasakan bobot tubuhnya yang kini berpindah ke jok belakang tanpa bantahan. Sikap patuhnya yang tiba-tiba—ditambah senyuman tipis yang masih tersisa di wajahnya—justru membuat detak jantungku berpacu lebih bising dari suara knalpot. Istilah kencan yang meluncur santai dari mulutnya membuat tengkukku mendadak gerah, mengacaukan ritme napas yang kuatur susah payah.
"Kencan gundulmu,"
gumamku ketus, menyamarkan rasa canggung yang mendesak naik ke rahang. Tangan kiriku terulur ke belakang tanpa menoleh, menarik ujung jaketnya agar posisi duduknya merapat tanpa celah renggang.
"Nggak usah ngelantur mikirin bioskop. Tempat ramai kayak gitu cuma bikin kepala gue makin pusing."
Kutendang standar samping ke atas, mencengkeram tuas kopling dengan mantap sebelum memutar gas perlahan. Angin senja yang menyapu wajah terasa sejuk, namun kehangatan yang merembes dari balik punggungku jauh lebih nyata dan berbahaya bagi kewarasanku.
"Duduk yang tenang dan pegangan,"
titahku tegas, membelah jalan raya meninggalkan pelataran rumah sakit.
"Gue yang nentuin arahnya, lo tinggal tutup mulut."
Eca yanh seharian dipenuhi rasa penat, kali ini dia sangat menikmati perjalanan diatas motor theo yang sedang berjalan, angin berhembus perlahan menenangkannya ia mencoba membentangkan tangannya saat motor theo tak begitu kencang.
"Menenangkan banget bisa merasakan sepoi angin sore begini"
"Btw, beneran lo yakin nggak mau kencan sama gue?"
"Ntar kalau gue punya pacar kita nggak bisa keluar bareng lagi kayak gini loh...hehe"
"Oh ya, kali ini gue mau traktir lo makan di tempat favorite lo deh. Sebagai rasa terimakasih gue karena lo udah beliin gue tas bagus yang bagus ini, gimana?"
Ucapan entengnya soal pacar baru kontan membuat tanganku mengencang tanpa sadar pada stang besi. Sensasi gerah yang menusuk tiba-tiba menjalari dada, membakar habis ketenangan yang baru saja kurasakan di bawah sapuan hawa senja. Aku menginjak rem sedikit lebih dalam saat memasuki tikungan jalan layang, memaksa tubuhnya yang sedang sibuk membentangkan tangan kembali merapat ke punggung jaketku.
"Siapa yang izinin lo punya pacar?"
desisku tajam, membiarkan suaraku beradu dengan desau angin sore.
"Mimpi aja lo kalau ngira bakal lepas semudah itu dari gue."
Seringai angkuhku kembali terpasang samar di balik kaca spion ketika tawaran makan malam terlontar dari bibirnya. Dasar perawat tidak tahu diri, baru saja memancing emosi sekarang malah bertingkah seolah ingin menyuapku dengan seporsi makanan. Tapi setidaknya, dia sadar diri untuk membalas budi.
"Warung tenda bebek goreng di pinggir rel,"
sahutku singkat tanpa menoleh, menambah sedikit laju kendaraan menuju kawasan barat kota.
"Jangan kaget kalau porsi gue banyak. Lo yang nawarin, jadi lo yang tanggung dompet lo sendiri malam ini."
...****************...
enjoy reading guys🩷
hadir kak, mampir juga ya😊