NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Let You Know

Day 3

"Ara! Sini! Gabung aja sama kita."

Ara melemparkan pandangan ke arah bangku yang berada di dekat kantin, lalu tersenyum kepada teman-temannya yang sedang memanggilnya.

Sebenarnya, hari ini mereka tetap memiliki jadwal kuliah. Hanya saja, dosen mereka mendadak izin karena harus pergi ke luar kota.

Alhasil, banyak mahasiswa yang merasa kesal. Mereka sudah susah payah datang ke kampus, tetapi ternyata perkuliahan dibatalkan.

"Kalian masih pada di sini?" Ara menghampiri mereka. "Si Yohan mana?"

"Yohan nggak berangkat."

Yuvin menggeleng.

"Itu anak berak mulu, nggak kelar-kelar. Katanya semalam dia habis makan samyang entah level berapa sampai mules-mules."

Ara langsung tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepala setelah mendengar pengakuan Yuvin yang memang tinggal di kos yang sama dengan Yohan.

Namun, tawanya perlahan mereda ketika menyadari Sora sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah penuh rasa iba.

Ara tahu alasannya. Sora ikut menemaninya ke rumah sakit kemarin. Sora juga mendengar pengakuan Bara.

Dan sahabatnya itu pula yang berusaha menenangkan Ara ketika ia menangis tanpa henti setelah meninggalkan rumah sakit.

"Lo udah nggak apa-apa, Ra?"

"Emangnya Ara kenapa?"

Yuvin langsung menatap Sora dan Ara bergantian.

"Ah, nggak apa-apa kok, Vin."

Ara tersenyum.

"Bentar."

Yuvin menyipitkan mata.

"Muka lo kok kayak sembab gitu, Ra? Lo habis nangis?"

"Gue semaleman nonton drakor 49 Days."

Ara tertawa kecil.

"Padahal gue udah berkali-kali nonton, tapi tetap aja gue nangis sampai sesenggukan."

Yuvin memandang Ara, kemudian beralih menatap Sora. Tatapannya penuh kecurigaan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan kedua sahabatnya itu.

"Gue teman lo juga, kan, Ra?"

Yuvin menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Gue ngerasa ada sesuatu yang lo tutupin dari gue."

Ara langsung mengalihkan pandangan.

"Duh, si Bara mana, sih? Lama banget."

Ia pura-pura mencari Bara, seolah lelaki itu memang menjadi satu-satunya hal yang sedang dipikirkannya. Padahal, Ara memang belum bisa menceritakan semuanya kepada teman-temannya yang lain selain Sora.

"Kenapa malah nyariin musuh lo?"

Yuvin semakin curiga.

"Lo ada apaan sama dia? Serius, ada yang nggak beres nih."

Ia mendekatkan wajahnya kepada Ara.

"Ra, lo bisa cerita ke gue. Gue orangnya bisa jaga rahasia, kok. Nggak kayak si Yohan."

"Hmm..."

Ara berpikir sejenak.

"Weekend nanti mending ngumpul aja di rumah gue. Sekalian ajak Yohan. Nanti gue bakal cerita."

"Kelamaan nunggu weekend!"

Yuvin mengeluh.

"Ya udah. Gue ogah cerita."

"Ya udah, iya!"

Yuvin akhirnya menyerah.

"Gue bakal ke rumah lo bareng Yohan nanti."

Ara hanya mengangguk. Namun, pikirannya sejak tadi hanya tertuju kepada Bara. Entah mengapa, hari ini ia merindukan lelaki itu. Ia bahkan berharap bisa bertemu dengannya.

Baru beberapa menit Ara memikirkan Bara, lelaki tersebut tiba-tiba muncul dan berjalan menghampiri mereka yang masih duduk di bangku kantin. Senyum Ara langsung mengembang ketika melihat kedatangan Bara.

"Bara! Sini, gabung aja sama kita!"

Bara berhenti di hadapan mereka.

"Yakin?"

Ia melirik Sora dan Yuvin.

"Sora sama Yuvin emangnya mau kalau gue ikut duduk bareng lo?"

Bara menatap Yuvin yang sejak tadi memberikan tatapan mengintimidasi. Sepertinya, Yuvin masih mengira Bara akan kembali mengerjai Ara.

"Tinggal duduk aja ribet banget."

Yuvin mendengus.

"Ini juga bangku umum, bukan punya gue."

"Yuvin, udah!"

Ara memandangnya kesal.

"Bara, lo duduk aja di sebelah gue."

Ara menepuk bangku kosong di sampingnya.

"Kita kan teman-teman lo juga."

Ia tersenyum.

"Dan hari ini perjanjian kita udah dimulai."

"Hah?"

Yuvin langsung menoleh.

"Perjanjian apaan? Ra, kok gue nggak dikasih tahu?"

"Dia udah minta maaf karena kejadian kemarin dan bakal jadi babu gue sekarang."

Ara menjawab santai.

"Puas lo, Vin?"

"Babu?"

Yuvin tertawa.

"Bagus. Jadiin aja dia babu selamanya. Itung-itung buat nebus semua kesalahan dia selama ini ke lo."

Ara langsung menatap Yuvin dengan tatapan datar. Entah kenapa, mendengar Yuvin terus menyudutkan Bara membuat emosinya naik. Sementara Bara yang sudah duduk di samping Ara hanya tersenyum tipis.

"Lo jangan keterlaluan gitu, dong, ngomongnya!"

Yuvin langsung menoleh kepada Sora.

"Lah! Kok lo jadi ikut-ikutan belain dia, sih, Sor? Lo nggak marah apa selama ini si Bara ngerjain Ara mulu?"

"Ya, tapi dia udah minta maaf dan udah nyesel sekarang."

Sora mengangkat bahu.

"Lagian si Ara juga biasa aja. Kok lo yang sewot, sih?"

"Kalian berdua nggak usah pada bertengkar, bisa nggak, sih?"

Ara memijat pelipisnya.

"Pusing gue dengernya."

Bara menatap Ara.

"Ara, gue pergi aja, ya?"

"Gara-gara gue, teman-teman lo malah jadi bertengkar begini."

"Nggak!"

Ara langsung menggeleng.

"Mending kita berdua yang pergi."

Ia menatap Bara.

"Lo kan udah janji harus nemenin gue terus."

Ara kemudian berdiri.

"Sora, Yuvin, gue duluan, ya? Gue udah ada janji sama Bara."

Sora langsung mengangguk paham.

"Udah, pergi sana."

Namun, Yuvin masih terlihat kebingungan dan langsung menginterogasi Sora yang juga hendak pergi. Sebelum Yuvin sempat mengejar mereka, Ara sudah lebih dulu menarik tangan Bara dan berjalan menjauh.

"Emang lo mau ngapain hari ini?"

Bara berjalan di samping Ara.

"Lo mau nonton, nggak?"

Ara menoleh.

"Ada film horor seru kayaknya. Lo tahu, kan, gue sukanya yang serem-serem."

"Boleh."

Bara mengangguk.

"Tapi habis nonton gue langsung pergi, gimana? Gue ada janji soalnya."

Ara terdiam.

Ada janji terus alasanmu. Andai aja kamu mau jujur sama aku.

"Ya udah."

Ara mengeluarkan ponselnya.

"Gue pesan taksol dulu."

Bara mengangguk. Ia memperhatikan Ara yang sedang fokus pada ponselnya. Sesekali, tangan kanannya bergerak seolah ingin merangkul gadis itu.

Namun, niat tersebut selalu ia urungkan. Bara takut Ara tidak menyukainya. Pada akhirnya, ia hanya bisa memandang Ara dari samping.

Namun, beberapa detik kemudian, keningnya berkerut. Ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh.

"Lo habis nangis?"

Ara menoleh.

"Kenapa muka lo kelihatan bengkak terus sembab gitu?"

"Ah, gara-gara nonton drama sedih semalam."

Ara tersenyum canggung.

"Kelihatan banget, ya?"

Ia segera mengalihkan pembicaraan.

"Eh, taksolnya udah datang. Kita pergi sekarang!"

Bara hanya menurut. Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Bara sesekali melirik Ara yang terlihat sedikit canggung ketika berada di dekatnya.

"Emang dramanya sesedih apa sampai lo nangis kayak gitu?"

"Hah?"

Ara menoleh.

"Oh, ya gitu."

Ia berpikir sejenak.

"Ada cewek yang kecelakaan, terus dia dikasih waktu empat puluh sembilan hari buat nemuin tiga tetes air mata ketulusan supaya dia bisa hidup lagi."

Bara mendengarkan dengan saksama.

"Jadi, dia masuk ke tubuh cewek lain yang selalu berusaha bunuh diri karena depresi setelah ditinggal mati cowoknya."

Ara menghela napas.

"Cowoknya yang mati itu jadi malaikat maut. Ah, panjang ceritanya."

Bara terdiam beberapa saat. Kemudian, ia bertanya dengan nada yang terdengar lebih serius.

"Kalau lo ada di posisi si cewek yang ditinggal mati cowoknya, gimana?"

Ara langsung menatap Bara.

"Hmm..."

Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

"Apa gue boleh jujur?"

Bara mengangguk.

"Misalnya aja gue punya cowok yang punya penyakit parah."

Ara menatap lurus ke depan.

"Terus cowok gue itu merahasiain penyakitnya dari gue sampai akhir. Bahkan dia pergi begitu aja tanpa ngucapin kata-kata perpisahan."

Bara mulai diam.

Ara melanjutkan.

"Jelas gue bakal terpuruk banget."

Tangannya perlahan meremas ujung bajunya.

"Rasanya kayak dikhianatin."

Ara menelan ludah.

"Dan menurut gue, cowok gue itu berarti nggak percaya sama gue."

Bara menatap Ara.

"Beda cerita kalau si cowok terbuka sama gue karena dia percaya kalau gue orangnya kuat."

Ara tersenyum tipis.

"Gue bakal berusaha bikin cowok gue bahagia di sisa-sisa hidupnya."

Ia menarik napas dalam-dalam.

"Seenggaknya, ada kenangan yang bisa gue simpan sebelum dia pergi."

Ara menunduk.

"Kalaupun pada akhirnya dia memang harus pergi, gue bakal berusaha ikhlas."

Suaranya mulai bergetar.

"Dan gue nggak akan membiarkan diri gue terpuruk."

Ara menahan dadanya yang mulai terasa sesak. Ia hanya berharap Bara mau meresapi setiap perkataannya. Berharap lelaki itu memahami pesan yang sebenarnya sedang ia sampaikan.

Bara, aku nggak akan pergi kalau kamu jujur sama aku. Jadi, tolong... percaya sama aku.

"Lo kenapa tanya kayak gitu ke gue?"

Ara menoleh.

"Gak apa-apa, Ra."

Bara memaksakan senyum.

"Gue cuma pengin tanya aja."

Namun, jauh di dalam hatinya, Bara ingin sekali menumpahkan semuanya kepada Ara. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Ia ingin mengatakan bahwa penyakit yang selama ini disembunyikannya perlahan menggerogoti tubuhnya. Ia ingin mengatakan bahwa sebenarnya ia takut.

Takut mati. Takut meninggalkan orang-orang yang disayanginya. Dan yang paling ia takuti, meninggalkan Ara dalam keadaan mencintainya.

Namun, Bara belum seratus persen yakin. Apakah Ara benar-benar akan kuat seperti yang baru saja dikatakannya?

"Bara..."

Ara memanggilnya pelan.

"Kalau ada yang mau lo ceritain, cerita aja ke gue."

Ara tersenyum.

"Gue siap dua puluh empat jam buat dengerin cerita lo."

Bara terdiam.

Ara kemudian memberanikan diri menggenggam tangan Bara dengan erat.

Bara sontak tersentak. Ia menatap tangan mereka yang saling bertaut. Ini pertama kalinya Ara bersikap seperti itu kepadanya. Detak jantung Bara seketika kembali berpacu.

Lebih cepat. Lebih keras. Dan semuanya hanya karena Ara.

Bara kemudian menatap wajah gadis itu. Untuk sesaat, ia ingin mengatakan semuanya. Ingin membuka seluruh rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Namun, keberanian itu kembali menghilang.

Ara, kalau aku benar-benar jujur, apa kamu masih akan tetap menggenggam tanganku seperti ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!