Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK ADA DONOR
Setelah hasil 47 ribu itu, Alya masuk RS lagi. Bukan HCU, tapi bangsal hematologi biasa. Tidak pakai monitor jantung lagi, tapi pakai infus lagi.
Siklosporin dosis tinggi lagi. Antibiotik lagi. Transfusi trombosit lagi 2 kantong, karena trombositnya turun lagi jadi 28 ribu dalam 3 hari.
Arga cuti lagi. Kantor baru yang katanya pulang jam 5, baru seminggu kerja, sudah cuti.
Pak Pramono dan Bu Ratna datang dari kampung, bawa rantang. Mereka tidur di selasar RS, bukan di rumah, karena ingin dekat Alya.
Dokter datang dengan formulir transplant.
"Bu Alya, kita harus cek HLA. HLA itu sidik jari sumsum. Kalau ada yang cocok 100%, kita bisa transplant."
"Siapa yang dicek, Dok?" tanya Alya, lemas karena baru transfusi.
"Keluarga dulu. Ibu, Bapak. Kalau tidak cocok, kita cari bank donor nasional, kalau tidak ada, bank donor internasional."
Hari itu diambil darah Pak Pramono dan Bu Ratna. Hasilnya keluar 4 hari.
Tidak cocok. Orang tua hanya cocok 50% dengan anak, tidak bisa untuk aplastik anemia berat. Harus 100% atau minimal 9/10.
"Kalau saudara kandung ada, Bu?" tanya perawat.
Alya geleng. "Anak tunggal."
Perawat catat: tidak ada saudara kandung.
Maka opsi terakhir: bank donor.
Arga daftar ke bank donor Indonesia, bayar 25 juta untuk pencarian awal. Darah Alya dikirim ke Jakarta, dicocokkan dengan ribuan data donor.
Seminggu nunggu. Seminggu itu Alya di RS terus, trombosit naik turun 28 ribu - 35 ribu - 31 ribu karena transfusi, bukan karena produksi sendiri. Pabriknya benar-benar berhenti lagi.
Bunga kuning di belakang rumah, 12 kuntum yang mekar di Bab 26, sekarang layu satu per satu karena yang siram Arga, bukan Alya. Arga siram jam 5.30 pagi sebelum ke RS, tapi tidak pakai takaran, terlalu banyak air, akarnya busuk.
Tanggal 14, hasil bank donor Indonesia keluar: tidak ada yang cocok 10/10. Ada 1 yang cocok 7/10, tapi dokter bilang 7/10 terlalu berisiko, angka kematian transplant dengan 7/10 di atas 60%.
"Terus gimana, Dok?" tanya Arga di ruang dokter, tanpa Alya.
"Kita coba bank donor internasional, Pak. Taiwan, Jerman, Amerika. Tapi biayanya 350 juta hanya untuk pencarian dan pengambilan sumsumnya, belum biaya transplant 1,2 miliar. Dan waktunya 2-3 bulan. Bu Alya trombositnya 28 ribu, tidak bisa nunggu 3 bulan tanpa transfusi tiap minggu."
Arga keluar ruangan, duduk di taman bunga kuning RS, taman yang sama di Bab 24 dan 25. Taman yang jadi saksi janji.
Ia telpon kakaknya di Jakarta, pinjam uang. Telpon teman kantor lama, pinjam uang. Total terkumpul 80 juta, jauh dari 350 juta.
Malam di bangsal, Alya lihat Arga duduk di kursi dengan kepala ditundukkan, pegang HP dengan kalkulator terbuka: 80 juta - 350 juta \= minus.
"Mas," panggil Alya.
"Iya?"
"Nggak usah cari donor."
Arga kaget. "Al, jangan ngomong gitu."
"Aku capek, Mas. 8 bulan RS. Dari 16 ribu, naik 165 ribu, turun lagi 28 ribu. Disuntik, ditransfusi, di-ATG, digigil, ditusuk lagi. Aku capek."
Itu pertama kalinya Alya bilang capek, bukan takut.
Arga nangis di situ. Bukan nangis diam-diam seperti di kamar waktu baca buku biru, tapi nangis dengan suara, di bangsal dengan 4 pasien lain.
"Al, kalau transplant nggak ada, masih ada obat lain, masih ada..."
"Obat apa, Mas? ATG udah gagal. Satu-satunya transplant. Donornya nggak ada. Uangnya nggak ada."
Alya bicara pelan, tapi jelas. Hb 8,2 bikin ngos-ngosan kalau bicara panjang.
Bu Ratna yang di selasar masuk, dengar, langsung meluk Alya.
"Bu, Alya mau pulang," kata Alya ke ibunya.
"Pulang kemana, Nak?"
"Pulang ke rumah. Nggak mau di RS lagi."
Dokter malam itu visite, Alya bilang hal yang sama: "Dok, saya mau pulang. Tidak mau transplant."
Dokter diam lama. Ia sudah 8 bulan rawat Alya dari 16 ribu sampai 165 ribu sampai 28 ribu lagi.
"Bu Alya, kalau pulang, trombosit 28 ribu itu bisa perdarahan otak kapan saja. Bisa mimisan tidak berhenti."
"Iya, Dok. Saya tau. Tapi kalau di RS terus, saya juga perdarahan pelan-pelan, Dok. Perdarahan uang, perdarahan tenaga Mas Arga, perdarahan harapan Ibu saya."
Dokter akhirnya setuju pulang paksa, dengan surat penolakan tindakan medis. Alya tanda tangan dengan tangan yang ada bintik merahnya.
Pagi jam 6, Alya pulang. Bukan pakai ambulans, tapi pakai mobil Arga, seperti kontrol biasa.
Di belakang rumah, 12 kuntum bunga kuning sudah layu 7 kuntum. Sisa 5 kuntum setengah layu.
Alya lihat itu dari jendela kamar, tidak keluar untuk siram. Ia duduk di kursi roda yang dulu di Bab 24 sudah tidak dipakai.
"Mas, bunga layu ya?" tanya Alya.
"Iya. Kebanyakan air kemarin."
"Nggak apa-apa. Sama kayak aku. Kebanyakan obat."
Siang, Pak Pramono cangkul tanah belakang rumah, cabut bunga yang layu, sisain yang masih hidup 5 kuntum.
Alya lihat dari jendela, tulis di buku biru muda, halaman terakhir sebelum habis:
Hari ini 28 ribu lagi. Tidak ada donor. Tidak ada uang.
Dokter bilang bisa perdarahan otak kapan saja.
Aku mau pulang, bukan karena sembuh, tapi karena capek.
Mas Arga masih di sini, tapi kali ini aku yang kasihan sama dia, bukan dia yang kasihan sama aku.
Bunga kuning layu 7 kuntum. Sisa 5. Sama kayak trombositku.
Arga baca, tidak tulis balasan di bawahnya seperti biasa. Ia hanya tutup buku, taruh di dada Alya yang sedang tidur karena efek obat penahan nyeri.
Dan alarm jam 5.30 pagi besok, alarm siram bunga, dimatikan Arga malam itu. Tidak ada yang perlu disiram lagi.