Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Jebakan santi
Sudah hampir dua minggu Santi mencari perhatian Arman dengan berbagai cara. Membawakan rantang berisi makanan mahal, membawakan obat dari apotek, bahkan membersihkan rumah Bu Ratna dengan karyawannya. Tapi semua itu gagal total. Arman tetap tidak mau meliriknya sama sekali. Hati Arman masih sepenuhnya untuk Alya.
Kegagalan itu membuat Santi semakin frustasi dan semakin tertantang. Sebagai janda kaya penjual emas di pasar yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan uangnya, penolakan Arman adalah penolakan pertama yang paling menyakitkan dalam hidupnya.
Malam itu, di rumah kontrakannya yang penuh dengan perhiasan, Santi duduk bersama Tante Yati dengan wajah yang murung dan penuh dengan amarah.
"Ti, aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah habis banyak uang untuk membeli makanan mahal, beli obat mahal, bayar karyawan buat bersihkan rumah Bu Ratna.Tapi sepertinya Arman tetap tidak mau melirikku. Dia masih saja suka menyebut nama Alya,jujur aku iri dengan si Alya itu padahal dibandingkan dia juga cantikan aku kan ti?"
Tante Yati yang licik itu tersenyum dan mendekati Santi sambil berbisik.
"San, kalau cara baik-baik tidak berhasil, kita harus pakai cara lain.Cara yang yang jelas akan berhasil meksipun itu beresiko."
"Jebakan? Jebakan sperti apa ti? Lalu resikonya apa?" Santi kini terdengar sangat antusias.
Yati mendekat dan membisikkan rencana jahatnya dengan begitu hati-hati dalam menyampaikan.
"Begini san,kamu kan tau Arman sedang sakit dan dia tidak berdaya.Laki-laki saat sedang sakit apa lagi dia ditinggal oleh istrinya dia akan mudah dirobohkan,kita buat dia semakin tidak berdaya jadi dari ketidakberdayaan kamu bisa mendesak dia untuk menikahi kamu."
Santi mengerutkan kening.
"Maksudnya bagaimana ti,aku benar-benar tidak paham."
Yati tersenyum licik.
"Besok kamu datang lagi ke rumah Mba Ratna, seperti biasa kamu bawa makanan untuk Arman, pisahkan antara makanan yang akan dimakan Arman dan mba Ratna.Taburkan sedikit obat tidur dimakanan arman. Tapi inget,dengan takaran dosis yang ringan saja, bagaimanapun caranya buat Arman makan makanan itu sampai habis.Otomatis nanti Arman akan tidur nah saat Arman sudah tertidur pulas, kamu masuk kamar Arman,kamu pura-pura tidur di samping Arman di dalam keadaan yang berantakan,lepas berapa kancing baju kamu atau appun itu agar Arman berfikir dia sudah melakukan yang tidak-tidak terhadap kamu."
" Terus ti trus!"
" Naah,nanti aku sama mba Ranta yang akan menggrebek kalian kita akan membuat drama dan kamu juga harus pura-pura menangis seolah kamu korban yang sudah direnggut kesuciannya.Yaa meskipun kamu memang sudah tidak suci."
" Ck! Sembarangan kamu ti!"
" Memang iya san,kan kamu janda!"
" Oh iya ti,aku lupa!"
Yati memutar bola matanya dengan malas.
"Tapi ti,em apa tidak dosa ti? Itu kan namanya fitnah ti?" tanya Santi pelan.
"Ah, mana ada dosa san,kan memang kamu berduaan didalam kamar padahal kalian bukan muhrim.Ini demi kebaikan Arman juga dan. Daripada Arman terus-terusan sakit karena mikirin Alya yang miskin itu,lebih baik dia nikah sama kamu yang kaya nanti Kamu juga bisa merawat arman. Ini demi cinta dan!"
Akhirnya Santi pun mengangguk dan setuju dengan rencana jahat itu.
Keesokan paginya, jebakan Santi dimulai.
Santi datang ke rumah Bu Ratna dengan wajah yang sangat cantik, memakai daster tipis yang agak terbuka, membawa rantang besar berisi soto ayam kesukaan Arman. Di dalam soto itu, Santi sudah mencampurkan sedikit obat tidur yang ia beli dari temannya.
"Mbak Ratna, hari ini saya bawakan soto ayam spesial buat Mas Arman ya dan rantang ini buat mba Ratna sementara yang ini special buat mas arman.Soto buatan saya sendiri loh mba."ucap Santi dengan senyum yang manis.
Bu Ratna yang tidak tahu apa-apa tentang rencana jahat itu tentu sangat senang.
"Wah, terima kasih ya Santi.Kamu memang rajin dan perhatian sekali dan.Ayo kita bawa ke kamar Arman ya."
Mereka berdua masuk ke kamar Arman yang masih terbaring lemas dengan wajah pucat.
"Man bangun man,nih liat Mbak Santi bawakan soto ayam kesukaan kamu man,Ayo makan dulu selagi hangat nanti kamu cepet sehat man."bujuk Bu Ratna.
Arman yang sudah dua hari tidak makan enak akhirnya mau bangun dan mencoba makan soto itu sedikit demi sedikit. Ia tidak tahu bahwa di dalam soto itu ada obat tidur.
Setelah makan beberapa suap, kepala Arman terasa sangat berat dan matanya mulai mengantuk.
"Bu, kenapa kepala Arman pusing sekali Bu. Mata Arman rasanya ngantuk sekali."ucap Arman dengan suara yang pelan.
"Ya sudah man kamu istirahat saja dulu biar cepat pulih."jawab Bu Ratna sambil mengelus kepala Arman.
Tidak lama kemudian, Arman tertidur sangat pulas dengan mulut yang sedikit terbuka. Napasnya terdengar berat karena efek obat tidur.
Melihat Arman sudah tertidur pulas,Bu Ratna keluar dari kamar untuk mencuci piring soto. Kesempatan itu langsung digunakan oleh Santi.
Santi dengan cepat masuk ke dalam kamar Arman, mengunci pintu kamar dari dalam, lalu ia mulai menjalankan misinya.
Ia melepaskan kerudungnya, mengacak-acak rambutnya, membuka sedikit kancing dasternya dan pura-pura tidur di samping Arman yang masih tertidur pulas. Ia memeluk guling dan menempelkan tubuhnya di dekat tubuh Arman yang terbaring lemah.
Setelah posisinya terlihat seperti orang yang habis tidur bersama, Santi langsung berteriak dengan suara yang keras dari dalam kamar.
"Mbak Ratna! Mbak Ratna! Tolong! Mbak Ratna!"
Bu Ratna yang sedang mencuci piring di dapur langsung panik dan berlari ke kamar Arman.
"Ada apa san? Ada apa? kenapa kamu berteriak?"
Bu Ratna mencoba membuka pintu kamar, tapi pintu terkunci dari dalam.
"Santi, buka pintunya! Apa yang terjadi didalam?"
Santi pura-pura menangis sambil membuka pintu kamar dengan rambut yang berantakan dan daster yang terbuka sedikit.
"Mbak Ratna... Mbak Ratna... Tadi... Tadi saya masuk mau kasih selimut buat Mas Arman, Mbak... Tapi... Tapi Mas Arman menarik saya, Mbak... Dan... Dan kami..."
Santi tidak melanjutkan kata-katanya, ia hanya menangis dengan pura-pura malu sambil menutupi wajahnya.
Bu Ratna yang melihat pemandangan di dalam kamar melihat Arman hanya mengenakan celana boxer tanpa pakaian dan melihat kondisi Santi kemudian pingsan.
Yati yang baru saja datang pun ikut memainkan perannya,dia membuat keadaan semakin panas.
"Ya Allah, Man! Apa yang kamu lakukan, Man! Santi! Kamu... Kalian sudah... Ya Allah!" teriak Yati begitu histeris
Teriakan Yati terdengar sampai ke tetangga,memang sengaja agar tetangga mendengarnya.Beberapa tetangga mulai berdatangan ke depan rumah Bu Ratna karena mendengar teriakan itu.
Tante Yati yang memang sudah menunggu itu kembali histeris,
"Ya Allah, Mbak Ratna bangun mba bangu."
Suasana rumah Bu Ratna menjadi sangat gaduh. Para tetangga yang melihat dari pintu berbisik-bisik.
"Ya Allah, ternyata Arman dan Santi sudah kumpul kebo ya?"
"Wah, harus dinikahkan segera itu Bu, kalau tidak bisa jadi fitnah."
Bu Ratna yang panik dan malu karena sudah banyak tetangga yang melihat langsung membangunkan Arman dengan cara mengguncang tubuhnya dengan keras.
"Man! Bangun, Man! Bangun! Lihat apa yang kamu perbuat, Man!"
Arman terbangun dengan kepala yang masih sangat pusing karena efek obat tidur. Ia melihat Santi yang berantakan di sampingnya dan para tetangga yang melihat ke dalam kamarnya. Ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi.
"Bu... Ada apa, Bu? Kenapa ramai sekali? Santi... Kenapa Mbak Santi ada di kamar Arman Bu? tanya Arman dengan wajah yang bingung dan panik.
Santi langsung menangis dengan lebih keras dan memeluk kaki Bu Ratna.
"Mbak Ratna saya malu Mbak. Saya sudah tidak suci lagi mbak. Mas Arman sudah... Mas Arman harus tanggung jawab sama saya, Mbak."
Arman langsung terkejut dan berteriak.
"Tanggung jawab? Tanggung jawab apa ini? Saya kan baru bangun tidur, maksudnya apa ini mba? Jelaskan mba Santi!
Tapi tidak ada yang percaya kepada Arman. Semua tetangga sudah terlanjur melihat pemandangan itu dan menganggap Arman dan Santi sudah melakukan hal yang tidak senonoh.
Bu Ratna yang sangat malu dan takut menjadi bahan omongan kampung langsung berkata dengan tegas.
"Man kamu harus menikahi Santi secepatnya man!Kamu harus tanggung jawab man!Ibu tidak mau malu, besok kalian harus menikah.Mba Santi memang janda tapi tidak seharusnya kamu berbuat seperti itu man,ibu tau kamu sedang kalut karna ditinggal Alya tapi bukan dengan cara seperti ini man! Astaghfirullah Arman Arman!"
Arman terdiam, wajahnya pucat, air matanya jatuh. Dia tau dia dijebak, tapi dia tidak punya cukup bukti dan dia tidak mengingat apapun yang terjadi,dia hanya ingat dia mengantuk setelah makan soto.
Bersambung...