NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - Nadira Memperhatikan

Kalau di Darul Hikmah ada daftar santriwati yang paling sempurna di mata orang, nama Nadira pasti ada di tiga besar.

Hafalannya banyak, pidatonya bagus, kalau jadi MC haflah suaranya jelas. Bapaknya donatur tetap pesantren, yang menyumbang karpet masjid baru kemarin. Ibunya juga ustazah di pesantren putri cabang. Jadi dari kecil, Nadira sudah kenal siapa Kiai Hasyim, siapa Nyai Maryam, siapa Jay.

Bedanya dengan santri lain, Nadira tidak segan dengan Jay. Dia sudah menganggap Jay itu seperti kakak sepupu jauh yang keren.

Bukan suka yang heboh seperti anak baru. Lebih ke, "Gus Jay itu pantasnya sama yang selevel." Dan menurut Nadira, yang selevel itu ya dia.

Makanya tiga hari terakhir ini, Nadira merasa ada yang aneh.

Anehnya bukan di Jay saja, tapi di suasana pesantren putri.

Biasanya, Jay itu kalau lewat, ya sudah. Lewat saja. Tidak pernah menoleh. Sekarang? Tiba-tiba jadi pembina pramuka gabungan dari kejauhan. Tiba-tiba rajin muncul pas muhadharah putri. Padahal biasanya yang muncul Heeseung atau Jungwon.

Dan yang lebih aneh lagi, ada satu santriwati pendiam yang tiba-tiba jadi salah tingkah.

Nadira pertama kali menyadarinya waktu di aula. Waktu Jay mengisi materi adab, semua santri putri mendengarkan khusyuk. Nadira duduk di barisan kedua, catatannya rapi. Tapi dia tidak sengaja melihat ke barisan belakang, tempat gengnya Muthi'ah duduk.

Muthi'ah Azzahra.

Nadira kenal nama itu. Juara musabaqah kitab kuning. Nadira pernah sekelompok dengannya pas roan, tapi tidak pernah ngobrol panjang. Anaknya terlalu kalem untuk Nadira yang aktif.

Waktu itu, pas nama Jay disebut, Muthi'ah menunduk dalam sekali. Pulpennya menceng. Temannya yang cerewet itu, Dina, langsung berbisik heboh.

Nadira mengernyit.

"Loh, kenapa?" batinnya.

Hari berikutnya, pas roan akbar, Nadira sengaja mengambil sapu dekat kelompok Muthi'ah. Dia dengar Dina berkata pelan, "Muth, sudah biasa saja, nggak usah diliatin gitu. Nanti ketahuan."

Muthi'ah menjawab pelan, "Aku nggak ngeliatin, Din."

Nadira pura-pura menyapu, tapi telinganya mendengarkan.

Sore harinya di kantin putri, Nadira berkumpul dengan dua teman dekatnya, Lulu dan Fiza.

"Eh, kalian kenal Muthi'ah Azzahra nggak? Yang kelas 3B itu," tanya Nadira sambil membuka botol minum.

Lulu mengangguk, "Kenal lah. Yang pintar itu kan? Yang juara kitab itu. Kenapa?"

"Dia dekat sama siapa sih biasanya?" Nadira bertanya lagi, santai, seperti hanya kepo biasa.

Fiza berpikir, "Nggak dekat sama siapa-siapa. Anaknya kutu buku. Paling sama Ustazah Khadijah. Kenapa emang, Dir?"

Nadira mengaduk es tehnya, "Nggak, kepo saja. Soalnya akhir-akhir ini kok Gus Jay jadi sering di area putri ya?"

Lulu langsung menyaut, "Ih iya! Aku juga nyadar! Tadi pagi pas apel, Gus Jay yang memimpin doa. Biasanya kan Ustaz Heeseung."

Nadira tersenyum, "Iya sih. Wajar."

Tapi di dalam hatinya tidak wajar.

Dia tahu Jay. Jay itu terstruktur. Kalau dia melakukan sesuatu, pasti ada tujuannya.

Dan dia juga tahu tatapan salah tingkah itu. Karena dia pernah merasakannya. Waktu SMP dulu, tiap Jay lewat, dia juga begitu.

Malamnya pas setoran hafalan, Nadira duduk di belakang Muthi'ah. Sengaja. Dia melihat Muthi'ah setoran ke Ustazah Khadijah, lancar sekali. Ustazah sampai memuji, "MasyaAllah, Muthi'ah, lancar terus ya."

Nadira hafalannya juga lancar, tapi hari itu dia salah dua kali. Gara-gara tidak fokus.

Besoknya pas jam istirahat, Nadira melihat sesuatu yang bikin ganjalnya makin besar.

Jay lagi jalan dari ndalem ke masjid putra. Di jalan itu, dia berpapasan dengan rombongan santri putri yang mau ke kelas. Di rombongan itu ada Muthi'ah.

Jay jalannya tetap lurus, tidak menoleh. Muthi'ah jalannya juga menunduk.

Tapi... pas sudah lewat tiga langkah, Jay menoleh sedikit. Cepat sekali, hanya sepersekian detik.

Dua detik kemudian, Muthi'ah yang tidak tahan juga menoleh sedikit ke belakang.

Tidak ada yang mengobrol. Tidak ada yang senyum.

Kalau orang lain lihat, mungkin tidak akan sadar.

Tapi Nadira lihat. Jelas sekali. Karena dia sedang berdiri di depan koperasi, pas di tengah-tengah mereka.

Deg.

Rasa ganjal di dadanya tadi berubah jadi panas.

Jadi benar. Ada sesuatu.

Nadira tidak langsung marah. Dia bukan tipe yang langsung melabrak. Dia tipe yang mengumpulkan dulu. Data. Cerita. Bukti.

Dia balik ke asrama, membuka buku diary-nya. Biasanya isinya jadwal haflah dan target hafalan. Hari itu dia menulis satu baris baru.

Muthi'ah Azzahra - ada apa sama Gus Jay?

Dia garis bawahi dua kali.

Dia belum mau menyebar gosip. Belum. Dia masih mau memastikan dulu.

Dia menatap foto haflah tahun lalu yang ditempel di dinding kamarnya. Di foto itu dia berdiri sebelah Jay, jadi MC. Senyumnya lebar.

Dia ingin senyum seperti itu lagi di sebelah Jay. Bukan Muthi'ah.

"Lihat saja nanti," bisiknya pelan, sambil menutup diary.

Dari luar, suara adzan Ashar mulai terdengar. Darul Hikmah kembali ramai. Muthi'ah dan Jay masih berusaha keras untuk kelihatan biasa saja di depan semua orang.

Mereka tidak tahu, ada sepasang mata yang sudah mulai mengawasi mereka dengan teliti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!