Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penakut
BAB 28 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
Tuduhan Tuan Garra yang paling sombong angkuh dan arogan itu sangat tidak berdasar. Siapa yang mau melukai dirinya sendiri? Padahal Elisa sudah tahu kalau sedang hamil muda. Mana ada ibu yang tega menyakiti anaknya sendiri untuk alasan apapun itu.
Beruntung Elisa masih belum sadar sepenuhnya waktu itu, matanya masih terpejam berat karena efek obat penenang. Jika dia mendengar ucapan Garra barusan, sudah dipastikan dia akan jadi tambah stres dibuatnya dan makin benci pada pria itu.
Perawat muncul dari belakang tirai, memeriksa aliran infus dari tabung bening di atas ranjang. Memastikan cairan itu sudah benar-benar menetes sempurna, tidak tersumbat.
"Kapan dia bangun?" tanya Anggara tiba-tiba. Suaranya dalam dan berat, membuat suster itu sedikit kaget.
Suster langsung menoleh, menatap pria berpostur tegap, tampan tapi berwajah super angker yang ada di sisi ranjang pasien. Auranya membuat ruangan itu terasa sempit.
"Mungkin sebentar lagi, Pak. Pasien hanya kelelahan berat dan butuh istirahat total. Obat penenangnya memang membuat ngantuk," jawab suster itu dengan ramah berusaha menenangkan.
Suster sudah selesai mengecek tekanan darah Elisa, dia akan pergi keluar. "Ada yang yang Bapak tanyakan lagi?" tanya suster berbaju putih-putih tersebut sopan.
"Tidak," jawab Anggara singkat, dingin, tidak mau basa-basi.
"Baik, saya permisi, Pak. Pencet bel saja kalau butuh bantuan."
Tidak menunggu lama setelah dari IGD, Elisa langsung dibawa ke ruang rawat VIP paling mahal di RSCN. Di sana lebih luas dan nyaman seperti kamar hotel berbintang. Ada satu set sofa kulit, lemari es, lemari baju, TV besar, dan ada juga satu ranjang tambahan yang cukup untuk satu orang penjaga.
Bibi yang tadi ikut ke rumah sakit, dilarang pulang oleh Garra. Wanita paruh baya itu harus tetap menemani Elisa. Jika nanti gadis itu butuh sesuatu, biar ada yang mengurus.
"Selama dia di sini, Bibi tetap menemaninya! Jangan pulang dulu! Temani terus, kalau dia bangun kasih dia makan, bujuk dia makan yang banyak!" perintah Garra dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Baik, Tuan. Saya akan jaga Non Elisa," angguk Bibi patuh, meski dalam hati heran kenapa Tuannya jadi sepanik ini.
"Dan kamu, Hendra ... jaga di depan kamar. Jangan biarkan siapapun menjenguk selain dokter dan suster, siapapun tidak boleh masuk tanpa izin saya." Garra minta satu pengawal pribadinya yang paling besar untuk menjaga Elisa dengan ketat seperti tahanan VIP.
"Baik, Pak Garra!"
Semuanya keluar dari kamar, kecuali Garra dan Elisa. Gadis itu belum bangun juga. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Sudah sejam lebih mereka di rumah sakit, tapi tidak ada tanda-tanda Elisa akan membuka mata.
Garra yang biasanya paling tidak sabaran langsung memanggil salah satu Dokter Spesialis Kandungan senior di sana dengan cara membentak perawat di luar.
"Sudah satu jam! Kenapa dia belum bangun juga! Apa obat kalian palsu?!" protes Garra pada dokter yang datang dengan napas ngos-ngosan.
Dokter itu memeriksa mata Elisa dengan senter kecil, memeriksa nadi dan yang lainnya dengan teliti.
"Tenang, Pak Garra. Ini normal, Pak," jelas Dokter itu sabar, sudah hafal dengan temperamen keluarga Garra.
Secara fisik, ibu dan janinnya stabil. Tapi sepertinya secara psikis, sang pasien sangat lelah dan enggan membuka matanya. Seperti orang yang terlalu sedih sampai memilih untuk tidur terus.
Harusnya Elisa memang sudah bangun dari tadi. Mungkin hatinya terlalu capek untuk menghadapi dunia, apalagi menghadapi tuan Garra.
Diminta menunggu, padahal menunggu itu hal yang paling dibenci Anggara di dunia ini. Ia adalah tipe orang yang semua harus cepat, instan, sekarang juga. Namun, kali ini Garra tak bisa berbuat apa-apa. Mau protes pada manajemen rumah sakit dan mengancam tutup rumah sakitnya pun percuma.
Sampai menjelang malam, sudah jam 7 lewat 15 menit. Di luar sudah gelap gulita, lampu kota sudah menyala.
Elisa tak kunjung membuka mata. Dari siang sampai malam, hanya terbaring diam seperti putri tidur.
Dokter dan perawat dipanggil lagi untuk ketiga kalinya oleh Garra yang sudah hampir gila karena cemas. Ia mondar-mandir di dalam kamar VIP itu seperti singa yang dikurung.
Denyut jantung janin masih terpantau di monitor. Tut... tut... tut... Semuanya normal dan kuat. Anehnya, sang ibu belum sadar juga. Dokter juga heran. Kondisi apa ini? Secara medis semua bagus.
"Lakukan apapun untuk membuatnya bangun! Apapun! Mau pakai alat apa, obat apa, saya bayar berapa pun! Dia harus bangun malam ini juga!" perintah Garra tegas dengan mata memerah.
Ia tidak mau tahu, Elisa harus segera bangun. Segera!
Dokter sudah melakukan yang terbaik, mereka hanya bisa menunggu dan berdoa.
"Ibu ...."
Tengah malam, Elisa akhirnya mengeluarkan suara, meskipun cuma mengigau.
"Bu ... Lisa ikut Bu..." suaranya lirih.
Bibi yang malam itu berjaga, langsung panik. Ia merinding, setau dia, Elisa cerita ibunya sudah meninggal dunia. Ini kok malah Elisa mau ikut.
Takut dan memang sedikit penakut masalah gaib, bibi langsung keluar memanggil Hendra.
"Pak Hendra! Panggil perawat atau dokter. Non Elisa mengigau terus .. manggil-manggil ibunya yang sudah meninggal."
Hendra yang tidak tidur sejak tadi, langsung bergegas. Sambil jalan, dia menoleh. "Jangan ke mana-mana! Tetap di dalam!"
Bibi mengangguk. Matanya melihat sekeliling. Tengan malam, di koridor terlihat sepi dan angker. Bibi yang suka lihat film horror di yutub, langsung inget suster ngesot dan suster gepeng.
"Aduh, kok merinding begini??"
Ia memegangi tengkuknya, langsung masuk ke dalam karena sepi dan ngeri. Baru masuk, sudah dengar suara lirih Elisa manggil-manggil ibunya lagi. Bibi jadi ketakutan.
"Kok serem sekali ... Lis ... udah Lis. Yang mati jangan dipanggil-panggil," gumam bibi takut.
PRANG!!!
Suara benda jatuh, bibi melonjak kaget. Takut, dia langsung keluar dan mau cari suster saja. Jujur, dia ini jadi penakut sekali. Gara-gara sering lihat konten aneh-aneh di tiktuk.
Beberapa saat kemudian.
Hendra sudah kembali dengan dokter jaga dan satu perawat, begitu masuk kamar VIP Elisa, di dalam ruangan itu malah kosong melompong dan bersambung.
gagal kena serangan fajar ini hampir kena serangan setelah Isya 😂Ay ga coment ahhh takut dosa ,,,Tuan lagi di bekukan agar semua kenceng biar ga berisik!!!!!!! besok bangun Bobo panggilan nya ganti ya Elisa jangan Tuan tapi Den Kang Mas Garra,,, Pembaca jangan pada Traveloka ya,,🤣🤣
PK dokter di macetin dulu aje KK dept 🤭🤣🤣🤣
hemmmm yumii🤭🤭🤭🤭
magell pingin di semai supaya tetap. waras pemiliknya ,,,siap Tuan Putri. Elisa
pakai donk. gombalan muara piye si endang kondo. sambil senyum manis tanpa biang 😂 nah kalau lagi puyeng belum tersalurkan. jadi sikap manis behhh ga enek si g ngiro. ,,,,Juragan MBG. lagi
menginginkan Apem milik Elisa jadi. ga garamg. wiss passs selak kewengen,,,
besok ga bisa bangun Lo lemes abis kena serangan tengah malam hahaha ngakak shubuh,,,🤣🤣