NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Keberuntungan di tengah kesialan

Di dalam air, Chongyue mendengarkan dengan seksama setiap suara dari luar. Dia ingin memastikan tidak ada lagi ancaman yang tersisa. 

Setelah beberapa saat tidak mendengar pergerakan apapun, dia akhirnya mengangkat kepalanya ke permukaan. Pandangannya segera tertuju pada harimau yang kini telah tergeletak tak bernyawa di tepi mata air.

Chongyue menghela nafas lega. 

Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, dia berenang menuju tepian dan segera naik ke daratan. 

Pandangannya kemudian beralih kepada Bei Mingye yang masih berlutut di tanah.

Dia tersenyum dan berjalan menghampiri pria itu dan menepuk bahunya. "Terima kasih sudah membunuh harimau ini. Aku pergi dulu!"

Namun, baru saja hendak melangkah, pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkram erat.

Sentuhan itu terasa sangat dingin.

Chongyue menoleh dan mendapati Bei Mingye sedang menatapnya tajam. Wajah pria itu terlihat pucat, tetapi sorot matanya masih menyimpan ancaman.

"Coba saja kalau kau berani melarikan diri," ucap Bei Mingye dengan gigi terkatup rapat.

Sesaat kemudian, tenaga yang menopang tubuhnya seolah menghilang. Dia akhirnya jatuh ke tanah.

Chongyue hanya memandangnya sekilas sebelum kembali melangkah pergi. Menurutnya, setelah bahaya berlalu, pria itu sudah tidak memiliki alasan untuk menahannya lagi.

Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Bei Mingye terdengar dari belakang.

"Dasar wanita sialan!"

Langkah Chongyue langsung terhenti.

Dia berbalik dengan wajah kesal, berniat membalas makian pria itu. Namun, kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya seketika tertahan ketika melihat Bei Mingye telah terbaring di tanah tanpa bergerak.

Dia mengerutkan kening.

Mengingat suhu tubuh Bei Mingye yang tadi terasa begitu dingin, tiba-tiba muncul keraguan dalam benaknya. 

Mungkinkah dia benar-benar mati?

Chongyue menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali menghampirinya.

Bagaimanapun juga, pria ini telah menyelamatkannya tadi. Meskipun pada saat yang sama, dia juga yang membuatnya ikut terjatuh ke dalam jurang.

Dia berjongkok di samping tubuh pria itu, lalu mengulurkan tangan dan menepuk pipinya pelan.

"Hei."

Tidak ada tanggapan.

Chongyue kembali menepuk pipinya beberapa kali. Namun Bei Mingye tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.

Kali ini, Chongyue mulai merasa ada yang tidak beres.

Dia meletakkan telapak tangan di dahi Bei Mingye untuk memeriksa suhu tubuhnya. Ekspresinya seketika berubah ketika merasakan suhu tubuh pria itu justru jauh lebih dingin daripada sebelumnya.

"Mungkinkah dia terkena racun?"

Begitu memikirkan kemungkinan tersebut, Chongyue segera meraih pergelangan tangan Bei Mingye untuk memeriksa denyut nadinya.

Beberapa saat kemudian, dia menarik tangannya dan mengerutkan kening.

Dia memang tidak mengetahui racun apa yang sedang diderita tubuh Bei Mingye, tetapi dari kondisi denyut nadinya, dia bisa merasakan bahwa racun itu sangat kuat.

Jika dibiarkan, keadaan pria itu jelas akan semakin buruk.

Tanpa berpikir panjang, Chongyue mengangkat tubuh Bei Mingye dan membopongnya menuju mata air panas.

Tubuh pria itu terasa sangat berat. Dia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk memindahkannya hingga ke tepi kolam.

Setelah akhirnya berhasil membawanya ke sana, Chonyue menceburkan tubuh Bei Mingye kembali ke dalam mata air panas.

Namun, dia segera menyadari bahwa dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti itu, Bei Mingye pasti akan tenggelam jika dibiarkan begitu saja.

Chongyue dengan terpaksa ikut masuk ke dalam kolam. Dia menopang tubuh pria itu dan memastikan kepalanya tetap berada di atas permukaan air.

Untungnya, mata air ini memiliki suhu hangat. Setelah berendam selama beberapa waktu, tubuh Bei Mingye yang sebelumnya terasa sangat dingin perlahan mulai mendapatkan sedikit kehangatan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Chongyue akhirnya menarik Bei Mingye keluar dari mata air dengan susah payah.

Begitu berhasil menyeret tubuhnya ke tepian, dia langsung jatuh terduduk di atas rumput karena kelelahan.

Tubuhnya memang sudah lemah sejak awal. Setelah beberapa hari melakukan perjalanan jauh di pegunungan, tenaganya hampir benar-benar terkuras.

Membopong seorang pria dewasa dalam keadaan seperti ini terasa jauh lebih berat daripada yang dia bayangkan.

Chongyue berbaring sejenak di atas rumput sambil mengatur napas. Setelah merasa sedikit pulih, dia memaksakan diri untuk bangkit.

Hari sudah mulai beranjak sore. Sebelum malam tiba, mereka harus menemukan tempat berlindung.

Awalnya Chongyue berniat mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api. Namun, dia segera mengurungkan niatnya setelah menyadari bahwa meninggalkan Bei Mingye sendirian di area terbuka bukanlah pilihan yang aman. Masih ada kemungkinan binatang spiritual lain datang ke tempat ini.

Setelah berpikir sejenak, dia kembali menghampiri Bei Mingye. Dia membantu pria itu berdiri, lalu menopang tubuhnya dan membawanya menuju kawasan hutan di depan.

Hal paling mendesak saat ini adalah menemukan tempat yang aman untuk beristirahat.

Mereka berjalan cukup jauh sebelum Chongyue tiba-tiba memperhatikan sesuatu.

Area di sekitar mereka dipenuhi berbagai tumbuhan obat yang tumbuh subur di bawah rimbunnya tanaman merambat.

Chongyue langsung berhenti.

Matanya perlahan membesar.

Setelah berhari-hari mencari tanaman obat yang dibutuhkannya, akhirnya dia menemukan semuanya di tempat yang sama.

Tujuh jenis tanaman obat yang masih harus dicarinya ternyata tumbuh subur di kawasan ini.

Chongyue hampir tidak percaya pada keberuntungannya sendiri.

Dia segera menyandarkan Bei Mingye pada sebuah pohon dan menurunkan tubuh pria itu perlahan. Setelah memastikan dia tidak akan jatuh, Chongyue langsung beranjak untuk mengumpulkan tanaman obat tersebut satu per satu.

Setelah mencabut tanaman obat terakhir, dia melirik ke samping.

Di balik tanaman merambat yang tumbuh lebat, dia melihat sesuatu berwarna gelap. Bentuknya juga tidak menyerupai batu biasa.

Dia mengamati benda itu selama beberapa saat.

"Mungkinkah itu sesuatu yang berbahaya?"

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan kewaspadaannya. Chongyue mengulurkan tangan dan menyibakkan tanaman merambat yang menutupi benda tersebut.

Di baliknya ternyata terdapat sebuah lubang gelap.

Sebuah gua?

Chongyue terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil.

Harus diakui, ketika nasibnya sedang buruk, kesialan yang datang kepadanya memang tidak main-main. Namun ketika keberuntungan datang, semuanya juga seolah diberikan sekaligus.

Beberapa saat yang lalu dia atuh ke dasar jurang. Sekarang, bukan hanya seluruh tanaman obat yang dibutuhkannya berhasil ditemukan, tetapi dia juga mendapatkan sebuah gua yang dapat digunakan sebagai tempat berlindung.

"Sepertinya aku memang sedang beruntung."

Setelah menyingkirkan tanaman merambat yang menutupi mulut gua, Chongyue kembali menghampiri Bei Mingye. dia membantu pria itu masuk ke dalam gua dan membawanya menuju bagian yang lebih dalam.

Ukuran gua tersebut memang tidak terlalu besar, tetapi lebih dari cukup untuk menampung mereka berdua.

Setelah membaringkan Bei Mingye di tempat yang cukup datar, Chongyue kembali keluar untuk mengumpulkan kayu bakar.

Tidak lama kemudian, dia kembali membawa seikat besar ranting kering di tangannya. Sebuah bungkusan kain juga tersampir di punggungnya.

Bungkusan itu tidak lain adalah barang-barangnya yang sebelumnya terjatuh lebih dahulu sebelum tubuhnya menyusul masuk ke dalam jurang.

Chongyue segera memeriksa isinya dan memastikan tidak ada barang yang hilang. Setelah itu, dia mulai menyiapkan perapian.

Dia mematahkan ranting-ranting yang terlalu panjang, kemudian mengumpulkan beberapa ranting kecil yang lebih mudah terbakar.

Ranting-ranting itu disusun di atas tumpukan kayu yang lebih besar, lalu beberapa lembar daun kering diletakkan di bagian bawah sebagai pemantik.

Setelah semuanya siap, Chongyue mengeluarkan dua buah batu dan mulai menggesekkan keduanya.

Dia mencoba beberapa kali, kemudian percikan kecil akhirnya muncul.

Daun-daun kering mulai terbakar. Chongyue segera menambahkan ranting-ranting kecil ke atasnya, lalu perlahan api memperbesar. Dia terus memasukkan kayu sedikit demi sedikit agar nyala api tetap bertahan.

Setelah nyala api stabil, Chongyue membuka bungkusan kain yang dibawanya dan mengeluarkan gaun putih.

Pakaian yang dikenakannya basah akibat terjatuh ke kolam tadi. Karena itu, dia segera berganti pakaian dan menggantung pakaian basahnya pada ranting di dekat perapian agar cepat kering.

Setelah selesai berganti pakaian, pandangannya beralih kepada Bei Mingye yang masih belum sadarkan diri.

Chongyue berjalan menghampirinya, kemudian melepas jubah luar pria itu dan menggantungkannya di dekat api agar ikut mengering.

Persediaan kayu bakar yang dimilikinya tidak terlalu banyak. Sementara itu, hari sudah mulai gelap dan Bei Mingye masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.

Chongyue tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.

Dia kembali keluar dari gua dan mengumpulkan lebih banyak kayu bakar. Kali ini, dia membawa cukup banyak agar api dapat bertahan sepanjang malam.

Meskipun sudah menemukan tempat berlindung di dalam gua, Chongyue tetap tidak berani memejamkan mata.

Bau tubuh mereka, darah dari bangkai harimau yang masih berada di luar, bahkan asap api bisa saja menarik perhatian binatang liar pada malam hari.

Karena itu, sepanjang malam Chongyue hanya bersandar pada dinding gua sambil sesekali menambahkan ranting ke dalam perapian.

Nyala api terus berkelap-kelip di hadapannya, sementara di sisi lain, Bei Mingye masih terbaring tidak sadarkan diri.

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!