Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provokasi di Antara Rak Buku
Aroma kertas tua, debu halus, dan pembersih lantai beraroma pinus memenuhi perpustakaan pusat Rexanswood Academy. Sunyi memeluk ruangan berplafon tinggi itu, hanya diselingi gesekan sapu dan denting ember plastik yang dibawakan oleh petugas kebersihan.
Clyrine menghela napas panjang, mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Seragamnya yang sudah tak rapi makin berantakan—lengan kemeja digulung hingga siku, dan dasinya sudah dilepas sejak sepuluh menit lalu. Di tangannya, sebuah kemoceng penuh debu melayang enggan menyapu jajaran buku tebal di rak kategori sejarah.
"Gue masih nggak nyangka, Cly," bisik Rebecca dari lorong sebelah, setengah berbisik agar tak ditegur penjaga perpustakaan. Gadis itu sedang menyusun kembali tumpukan ensiklopedia yang berantakan. "Gue pikir hari ini kita bakal ditinggal lo karena di-skor. Tapi cowok yang datang pagi tadi... fix keren banget. Lo kenal dari mana sih?"
Zerin yang sedang mengelap meja kayu di dekat mereka ikut menimbrung pelan. "Iya, gila. Pak Antonio Roberto yang biasanya garang kayak macan langsung mati kutu gitu. Dia kelihatan berwibawa banget, kayak pengacara papan atas."
"Dia sahabat Kak Alaric," sahut Clyrine datar, menepuk kemoceng ke rak hingga debu berterbangan. "Gue cuma beruntung aja dia mau nolongin."
Clek. Clek. Clek.
Suara ketukan tumit sepatu pantofel mahal bergema halus di lantai kayu, menginterupsi obrolan mereka. Dari balik deretan rak buku tinggi, muncul sosok Claire Elowen Rexander. Ia berjalan anggun, membawa dua buah buku tebal bersampul kulit di pelukannya, didampingi Genevieve dan Victoria di kanan-kirinya.
"Wah, rajin banget ya," cibir Genevieve pelan namun cukup tajam untuk terdengar di seluruh lorong. "Ternyata tukang pembuat onar memang tempatnya di sini—bersihin debu."
Rebecca langsung memutar bola matanya malas, sementara Zerin menghela napas seraya meremas kain lapnya. Clyrine sendiri tak bergeming, tetap mengelap punggung buku di hadapannya seolah-olah trio di depannya hanya angin lalu.
Claire melangkah lebih dekat, mengisyaratkan kedua temannya untuk diam. Senyum manis nan sempurna terukir di wajah cantiknya. "Clyrine... aku ikut senang ya, kamu nggak jadi di-skor. Tapi aku kaget banget waktu lihat pria yang datang pagi tadi."
Clyrine menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh lambat. "Mau lo apa, Claire? Gue lagi kerja, jangan bikin debu di sini tambah banyak gara-gara mulut lo."
Mata Claire berkilat dingin, tapi nada suaranya tetap selembut sutra. "Aku cuma heran aja. Sejak kapan kamu kenal Damien Vance? Dia kan sahabatnya Kak Alaric. Apa kamu minta tolong sama dia dan bohongin dia juga, kayak yang biasa kamu lakukan ke orang lain?"
"Claire," potong Victoria dengan tawa kecil yang ditahan, "mungkin dia pakai jurus melasnya. Kan Clyrine jago banget akting jadi korban di luar rumah."
Clyrine mengepalkan jemarinya di gagang kemoceng. Bayangan pesan Damien pagi tadi melintas di kepalanya: 'Setiap kali lo pakai tinju, lo ngasih dia panggung gratis buat jadi korban...'
Menghembuskan napas pelan, Clyrine justru tersenyum miring. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada, dan menatap Claire tepat di manik matanya.
"Gue nggak perlu bohong ke Kak Damien, Claire," ujar Clyrine tenang, suaranya terkontrol tanpa ada sedikit pun emosi menyala. "Dia cukup pintar buat membedakan mana orang yang beneran terluka, dan mana yang cuma jago jatuh sendiri gara-gara akting murahan."
Raut wajah Claire mendadak kaku. Senyum manisnya meluntur sejenak sebelum ia kembali menguasai diri. "Kamu ngomong apa sih, Cly? Aku beneran jatuh kemarin gara-gara kamu—"
"CCTV koridor memang lagi rusak," potong Clyrine, melangkah satu tindak mendekati saudara tirinya. "Tapi Kak Damien tahu persis kalau tuduhan lo itu nggak punya bukti. Mending lo simpan energi lo buat nanti malam di rumah, Claire. Karena makin sering lo main drama begini, makin kelihatan murahannya lo di depan orang yang benar-benar cerdas."
"Lo...!" Genevieve hendak maju melangkah, tetapi Claire menahannya dengan mengangkat tangan.
Wajah Claire memerah menahan keimbas
kekesalan yang jarang sekali terekspos. Clyrine yang biasanya langsung menyemburkan makian atau mengayunkan tangan, kini berdiri dengan tatapan dingin dan tenang—membuat provokasinya mentah tak berbekas.
"Kita lihat nanti, Clyrine," bisik Claire tajam, matanya menatap benci. "Kamu pikir pria seperti Damien bakal peduli sama sampah keluarga kayak kamu?"
"Atas dasar apa lo yakin dia nggak peduli?" balas Clyrine santai, menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Yang jelas, pagi tadi dia berdiri di depan guru buat belain gue. Bukan belain lo."
Claire mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik cepat dan melangkah pergi dari perpustakaan, diikuti Genevieve dan Victoria yang mendengus kesal.
Setelah langkah kaki mereka menghilang, Rebecca langsung menepuk bahu Clyrine keras-keras. "Gila, Cly! Muka si Claire tadi langsung ketarik banget! Lo kok bisa tenang begitu, sih?"
"Iya, asli," puji Zerin terkagum-kagum. "Biasanya lo udah melayangin kemoceng ke mukanya."
Clyrine menatap kartu nama Damien di dalam saku seragamnya. Senyum tipis yang tulus mengembang di bibirnya.
"Gue cuma lagi belajar," gumam Clyrine pelan, "cara menangin pertarungan pakai otak."
Langit sore Jakarta mulai berganti warna menjadi jingga keunguan saat Clyrine melangkah keluar dari area Rexanswood Academy. Alih-alih langsung pulang ke rumah atau menaiki bus sekolah, ia memilih berjalan ke gerai minuman manis di persimpangan jalan.
Sebagai rasa terima kasih atas bantuan besar pagi tadi, Clyrine membeli dua cup es boba gula aren dengan topping lengkap. Di dalam benaknya, ini adalah cara paling wajar yang bisa dilakukan seorang remaja 16 tahun untuk menunjukkan apresiasi pada pria yang sudah menyelamatkannya dari jeratan skorsing.
Dengan menjinjing kantong plastik berisi dua cup boba yang dingin, Clyrine menyetop taksi yang melintas dan menyerahkan alamat sasana privat yang tertera di kartu nama Damien.
Taksi membawanya berhenti di depan sebuah bangunan berdesain industrial modern di kawasan pusat kota. Dari luar, tempat itu tampak minim plang nama—hanya ada logo taring serigala minimalis di atas pintu besi hitam yang kokoh. Clyrine melangkah turun, berdiri sejenak di tepi trotoar dengan raut wajah sedikit bingung. Tempat ini kelihatan terlalu privat dan tenang untuk sebuah tempat latihan tinju.
"Cari siapa, ya?"
Suara tinggi bernada sinis menginterupsi keraguannya. Seorang wanita berparas cantik dengan pakaian olahraga ketat menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu utama. Rambut panjangnya dikuncir kuda, dan tatapan matanya meneliti penampilan Clyrine dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya dengan pandangan meremehkan.
"Anak sekolah begini ada perlu apa ke sini?" lanjut wanita itu, Kayvara Angelina, seraya melipat kedua tangan di dada.
Clyrine menaikkan sebelah alisnya, mengabaikan nada tidak bersahabat dari wanita di depannya. "Gue mau ketemu Kak Damien."
Kayvara tertawa kecil yang terdengar dingin. "Damien nggak ada. Dia lagi sibuk, dan tempat ini bukan buat tempat main anak sekolah—"
"Ada apa ini?"
Pintu besi di belakang Kayvara terdorong terbuka lebar. Damien muncul dari dalam, mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana training abu-abu. Handuk kecil tersampir di leher tegapnya, dan rambutnya tampak sedikit basah oleh keringat.
"Kak Damien!" panggil Clyrine, matanya seketika berbinar lega.
Damien menatap Clyrine sejenak, lalu melirik Kayvara. "Dia tamu gue. Masuk, Clyrine."
Kayvara sempat tertegun kaget saat Damien membiarkan gadis berseragam sekolah itu melangkah melewati mereka begitu saja. Akhirnya, mereka bertiga berjalan masuk menuju area dalam sasana yang sangat luas, lengkap dengan ring tinju profesional, sandsack berderet, dan peralatan fitness modern.
"Kak, makasih buat yang pagi tadi ya," ujar Clyrine jujur begitu mereka berdiri di tepi ring. Ia menyodorkan kantong plastik berisi minuman yang dibawanya. "Ini... gue beliin es boba buat Kakak."
Damien menerima kantong itu, menatap dua cup boba berembun di dalamnya dengan alis terangkat tipis. "Makasih, Clyrine."
Clyrine lalu melirik Kayvara yang berdiri di samping Damien dengan raut wajah cemberut. Dengan nada agak bersalah yang dibuat-buat, Clyrine menambahkan, "Maaf ya, Kak. Gue cuma beli dua... satu buat gue, satu lagi buat Kak Damien."
Kayvara mengibaskan tangannya santai, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Nggak masalah. Nanti gue bisa minta aja ke Damien."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Kayvara, menyiratkan kedekatan yang membuat Clyrine mendadak terdiam. Ada rasa berdenyut aneh dan tak nyaman yang mendadak hinggap di dada Clyrine.
Namun, sebelum rasa canggung itu makin meluas, Damien langsung mengeluarkan salah satu cup boba dari plastik dan menyodorkannya pada Kayvara.
"Nih, ambil aja," kata Damien datar tanpa keraguan. "Gue nggak suka manis."
Kayvara menerima cup itu dengan binar puas, sementara Clyrine menahan senyum tipisnya yang hampir terlepas.
Damien lalu menatap Clyrine tajam, mengalihkan fokus kembali ke tujuan utama. "Minum es boba lo cepat. Habis itu ganti baju dan siap-siap naik ke ring."