DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Benih Cemburu
Denting jam dinding di ruang tengah kediaman Pradipta menunjukkan pukul satu dini hari. Suasana rumah terasa sunyi mencekam.
Vino duduk di sofa kulit hitam, meremas gelas berisi air es di tangannya hingga matanya memerah. Sejak meninggalkan pesta Caren dua jam lalu, Vino tidak bisa tenang. Matanya terus melirik ke arah pintu utama yang tertutup rapat.
Suara deru mesin mobil sedan Darel yang memasuki pelataran rumah membuat Vino seketika berdiri tegak.
Pintu depan terbuka. Darel melangkah masuk lebih dulu, menahan pintu untuk Aira. Aira berjalan menunduk di belakang Darel, masih terbungkus jas hitam milik sepupunya itu. Wajah Aira pucat, dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas betapa lelahnya cewek itu.
Langkah mereka terhenti begitu melihat Vino berdiri di tengah ruangan dengan tatapan tajam.
Darel tersenyum tipis, merangkul pelan bahu Aira. "Vino? Belum tidur? Keren banget pesta Caren tadi, sayangnya kamu malah pulang duluan."
Vino mengabaikan sindiran Darel. Matanya tertuju lurus pada Aira—dan pada jas Darel yang menutupi tubuh cewek itu. Ada rasa panas yang langsung meledak di dadanya, membakar habis rasa bersalah yang sempat hinggap sepanjang malam.
"Dari mana aja kalian?" suara Vino terdengar berat dan dingin.
"Gue bawa Aira cari udara segar," jawab Darel santai, berdiri pasang badan di depan Aira. "Kasihan dia shock gara-gara kelakuan Caren. Sebagai tunangan, harusnya kamu yang ada di sana ngebela dia, Vin. Bukan malah diam aja."
Kata-kata Darel menghantam tepat di titik terlemah rasa gengsi Vino. Kepalan tangan Vino makin mengerat.
"Gak usah penceramahi gue, Darel!" desis Vino murka. Ia melangkah lebar mendekati mereka, lalu menyambar ujung jas Darel yang tersampir di bahu Aira dan menariknya kasar hingga terlepas.
"Vino!" pekik Aira kaget, refleks mundur satu langkah karena ketakutan.
Vino melempar jas mahal itu ke dada Darel dengan tatapan muak. "Lu gak usah sok pahlawan di rumah gue! Dan lu, Aira..." Vino menatap Aira tajam, napasnya memburu. "Lu punya otak dipakai! Jangan mau dibodoh-bodohi sama perhatian murahannya Darel!"
Aira menatap Vino dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa takut pada Vino kini bercampur dengan rasa kecewa yang amat sangat.
"Kak Darel cuma bantu aku, Vin..." suara Aira bergetar, namun untuk pertama kalinya ada nada perlawanan tipis di sana. "Kak Darel enggak kayak kamu yang cuma bisa bentak dan biarin Caren injak-injak aku!"
Vino tertegun. Pengakuan Aira yang terang-terangan membela Darel terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Rasa cemburu yang campur aduk dengan gengsi membuat Vino makin lepas kendali.
"Oh, jadi lu udah berani ngelawan gue sekarang?!" bentak Vino, langkahnya makin maju mengintimidasi Aira. "Lu lupa siapa yang kasih lu makan di sini?! Lu cuma cewek jaminan utang, Aira! Gak usah belagu!"
"Vino, cukup."
Darel mendorong dada Vino cukup kuat hingga Vino mundur dua langkah. Wajah Darel tidak lagi tersenyum; matanya memancarkan kegelapan yang menekan.
"Jangan berani-berani sentuh atau bentak Aira lagi di depan gue," bisik Darel dengan nada rendah yang terkesan sangat berbahaya. "Kamu udah buang kesempatan kamu buat jadi pria yang baik buat dia. Sekarang, jangan halangi orang lain yang mau menghargai dia."
Vino mengepalkan tangannya, hendak melayangkan pukulan ke wajah Darel. Namun Darel tidak bergeming sedikit pun, justru menatap Vino dengan pandangan menantang yang sangat dingin.
Aira yang panik melihat pertengkaran itu langsung memegang lengan kemeja Darel dari belakang. "Kak Darel, udah... tolong jangan berkelahi..." Isak tangis Aira pecah. "Aku mau ke kamar..."
Darel menoleh pada Aira, seketika mengubah raut wajahnya menjadi sangat lembut kembali. "Iya, Aira. Kamu masuk kamar sekarang ya. Biar saya yang urus ini."
Aira berlari kecil menuju kamarnya di belakang tanpa menoleh sedikit pun pada Vino. Pintu kamar Aira tertutup rapat dengan bunyi klik kunci.
Tinggallah Vino dan Darel yang berdiri berhadapan di ruang tengah yang hening.
Vino menatap Darel dengan tatapan penuh kebencian dan rasa curiga yang makin memuncak. "Lu punya niat busuk kan sama Aira? Lu gak bakal bisa pembodohan dia selamanya, Rel."
Darel merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, lalu tersenyum sangat tipis—sebuah senyuman kemenangan yang angkuh.
"Gue gak perlu membodohi siapa pun, Vin," bisik Darel santai seraya melangkah melewati Vino. "Kamu sendiri yang dorong Aira buat masuk ke dalam dekapan gue. Dan ingat... sekali Aira ada di tangan gue, gue gak bakal pernah balikin dia ke kamu."
Darel berjalan santai menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Vino sendirian di ruang tengah yang dingin.
Vino menjatuhkan tubuhnya di sofa, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata erat-erat. Dadanya terasa sesak luar biasa. Untuk pertama kalinya, Vino menyadari betapa besarnya penyesalan yang mulai merayapi hatinya—dan betapa berahayanya sosok Darel yang kini memegang kendali penuh atas Aira.