Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Angin berhembus kencang dari atas timur menerpa ranting-ranting pada pohong karet dibelakang rumah, pintu belakang masih terbuka meski malam sudah larut. Raisa duduk termenung menatap dedaunan gugur yang terbawa angin hingga terjatuh diatas tanah. Sejuk, sebab perkampungan itu masih asri dan terjaga, minusnya banyak nyamuk sebab beberapa meter dibelakang rumah merupakan kebun salak milik salah satu warga disana.
"Loh, Nak. Kok duduk di luar? Ini kan sudah malam!" Tegur istri pak RT saat melihat Raisa duduk diambang pintu dapurnya.
"Ehh, Ibu belum tidur? Saya sedang menikmati anginnya, sejuk. Ditempat saya tinggal selama ini panas!" Seru Raisa tersenyum tanpa beranjak dari tempat duduknya.
Sebenarnya Raisa tidak sendiri di dapur, ada anak gadis pak RT dan istrinya yang sedang mencuci piring di kamar mandi. Disana belum menggunakan wastafel sehingga kebanyakan orang-orang mencuci piring dan pakaian di kamar mandi yang memiliki ukuran luas agar lebih leluasa beraktivitas.
"Iya, tapi ini sudah malam. Kamu harus lebih banyak beristirahat agar kamu cepat pulih. Ayo, tutup pintunya!" Titah wanita paruh baya itu, Raisa tersenyum, ia menuruti perkataan wanita paruh baya tersebut lalu mereka masuk kedalam rumah.
Mereka duduk bersama diruang tengah, berbeda dengan rumah suaminya yang serba mewah itu, setiap ruangan dirumah pak RT tampak sangat sederhana, namun hangat sebab tak ada pertikaian didalamnya. Mereka hanya duduk diatas karpet lantai biasa dan didepannya terdapat sebuah televisi tabung model lama.
"Owh iya, Nak Raisa. Sebenarnya ada masalah apa sampai kamu bisa berada di pantai, beruntung Pak Suparmin dan anaknya melihatmu waktu itu. Padahal pantai itu terkenal dengan banyaknya buaya air asinnya!" Ucap pak RT membuka pembicaraan.
"Eummm, saya tidak terlalu ingat, Pak. Seingat saya saat itu saya dan suami saya sedang liburan menggunakan perahu karet, tiba-tiba angin kencang sekali dan membuat perahu kami terbalik!" Jawab Raisa berbohong.
Pak RT diam sejenak lalu mengangguk, namun dalam hati ia berbicara "berlibur menggunakan perahu karet di pantai? Heummm, tidak masuk akal, apa hanya perasaanku saja?"
"Berarti suamimu juga ikut tenggelam saat itu?" Kini giliran istri pak RT yang bertanya.
Raisa menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak yakin, tapi suami saya pandai berenang!" Jawabnya.
"Heummm, baiklah. Ini sudah malam, sebaiknya kamu beristirahat saja, kamu bisa tidur bersama anak Bapak, Nisa!"
"Baik, Pak!"
Raisa dan Nisa kini berbaring diatas kasur, keduanya tidur dimasing-masing sisi kasur, Nisa yang sedang bermain ponsel memperhatikan Raisa yang tampak melamun menatap langit-langit kamar. Nisa meraih ponselnya yang lain dari lemari plastik usang disamping tempat tidurnya.
"Pakai ini untuk menghubungi keluarga mu, kau ingat nomor telepon mereka kan?" Tawar gadis tersebut.
Raisa segera duduk, senyum sumringah tergambar di raut wajahnya. Kedua tangannya dengan sigap menerima benda pipih itu lalu mencoba menghubungi Angga kembali.
Begitu mendengar suara dering ponselnya, Angga yang semula duduk bersandar diatas ranjangnya sembari membaca sebuah buku, segera meraih benda pipih miliknya diatas meja. Melihat nomor yang tak dikenal itu membuatnya terdiam beberapa saat hingga panggilan telepon itu berakhir. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering dari nomor yang sama.
"Siapa ini? Akan ku tunggu sekali lagi, kalau dia menghubungi ku sekali lagi berarti ada hal penting yang ingin disampaikannya" ucapnya berbicara pada dirinya sendiri.
"Tidak diangkat?" Tanya Nisa dijawab anggukan lagi oleh Raisa.
"Akan ku coba sekali lagi!"
"Tolong angkat telfonnya, Angga" batinnya penuh harap suaminya akan mengangkat panggilan itu.
Kringggg kringggg kringggg kringggg
Angga menggulir layar ponselnya dan menyalakan spiker.
"Halo, Angga ini aku Raisa!" Seru Raisa dari balik sana dengan suara gemetar menahan tangis.
Kedua bola mata Angga membulat sempurna, dalam hatinya ia mengucap syukur mengetahui bahwa istrinya masih hidup. Namun berbeda dengan hatinya, mulutnya justru berkata lain untuk menutupi rasa senangnya.
"Kamu darimana saja? Nomor siapa ini? Apa kau bermain curang dibelakang ku?"
Raisa menelan ludahnya sembari menundukkan kepalanya usai Nisa menatapnya lekat.
"Yah, memangnya apa yang kuharapkan darinya?" batin Raisa.
"Suamimu?" Tanya gadis itu dijawab anggukan pelan oleh Raisa.
Masih terdengar suara nafas berat Angga diseberang telepon, membuat dada Raisa terasa sesak.
"Apa kau sudah menemukan cincinnya? Kalau sudah, cepatlah pulang. Banyak pekerjaan yang tertunda karenamu!" Lelaki itu berbicara dengan suara dingin.
"Bisakah kau menjemputku? Aku sedang tidak baik-baik saja"
"Hah? Menjemput mu? Yang benar saja, kirimkan saja alamatmu nanti sopirku akan menjemput mu. Kalau begitu kututup telfonnya, aku sedang kelelahan"
Setelah mengatakan hal tersebut panggilan telepon tersebut tiba-tiba terputus, Raisa menatap layar ponsel ditangannya, hampir saja air matanya mengalir membasahi pipinya namun segera ia bersihkan sebelum Nisa melihatnya.
Malam semakin larut dan kini Nisa telah tertidur lelap, Raisa membuka matanya lalu berbaring menatap tembok, ia memikirkan suaminya yang telah beberapa hari ini tak bertemu dengannya. Sama halnya dengan Angga, lelaki ini juga masih berbaring menatap langit-langit kamarnya. Tak bisa ia pungkiri bahwa ia merindukan istrinya, bayang-bayang wajah Raisa selalu muncul setiap kali ia memejamkan matanya, membuat lelaki ini tak bisa tidur dengan tenang.
"Astaga, entah apa yang sudah kupikirkan. Tidak mungkin, aku tidak mungkin mencintainya, ini hanya rasa bersalah saja, iya, hanya sekedar rasa bersalah!" Serunya mencoba untuk duduk, bersusah payah ia mencoba duduk karena sebelumnya ia selalu meminta Raisa untuk membantunya duduk atau sekedar mengambilkan air minum untuknya.
"Sial, sepertinya aku sudah tergantung pada gadis sialan itu. Apa katanya tadi? Dia menyuruh ku untuk menjemputnya? Cihhh, memangnya dia pikir aku siapa?"
Ngekkkk
Suara pintu berderit membuat Angga terkejut, Laluna muncul di hadapannya sambil tersenyum. Wanita paruh baya ini duduk berhadapan dengan Angga, dengan lembut ia meraih punggung tangan anak sulungnya tersebut.
"Mama pikir kamu sudah tidur!"
"Belum, Ma. Akhir-akhir ini aku sulit tidur" jawab Angga pelan sembari menatap kedua kakinya yang kaku.
Menyadari kalau suasana hati Angga sedang tidak baik-baik saja Laluna memeluk dan mengelus pelan belakang punggung lelaki tersebut.
"Apa kakinya masih sakit?" Tanyanya.
Angga menggelengkan kepala lalu meraih pergelangan tangan wanita paruh baya tersebut, mengarahkannya ke dadanya.
"Disini, Ma. Aku merasa sakit disini!" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Laluna tersenyum getir, takut jika anak sulungnya tersebut mulai menyukai Raisa dan merasa kesepian begitu Raisa meninggalkannya. Namun karena tak ingin membuat lelaki itu tersinggung ia hanya menepuk beberapa kali dadanya seolah sedang menyuruhnya bersabar.
"Tumben Mama datang melihatku malam-malam begini. Apa Mama juga sulit tidur?"
Huffff
Laluna menarik dan membuang nafas panjang.
"Mama khawatir kau belum ikhlas melepaskan Arni pada Steven!"
"Maksud Mama apa?" Angga menaikkan kedua sudut matanya.
"Kau sudah tahu kalau Steven dan Arni akan menikah bukan? Pertunangannya akan dilakukan besok!" Jawab Laluna.
Terkejut mendengar penuturan Laluna, Angga tiba-tiba saja batuk karena tersedak oleh liurnya sendiri, wanita paruh baya ini mengambilkan air minum dari atas meja dan segera memberikannya pada Angga.
"Kenapa aku baru diberitahu? Lagipula istriku belum kembali, Ma. Apa tidak bisa ditunda dulu?"
"Tidak bisa, Nak. Arni memaksa pertunangannya harus dilakukan besok"
Laluna lalu terdiam, ia merasa bersalah dengan keputusan mereka yang terdengar tiba-tiba, terlebih lagi sepertinya Angga kurang setuju dengan perkataannya tadi.
"Angga, apa kamu yakin istrimu akan kembali?" Tanyanya.
Angga mengusap wajahnya kasar, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Aku tidak tahu!" Jawabnya berbohong.
Padahal beberapa waktu lalu ia sudah berkomunikasi dengan istrinya dan menyuruhnya pulang, dan ia yakin bahwa Raisa akan menuruti perkataannya. Namun jika Raisa pulang esok hari dan mendapati dirumah tengah terjadi pertunangan, ia merasa kalau Raisa tak akan mau kembali kepadanya, mengingat bagaimana ia sangat membenci Arni yang selalu ingin merebut kebahagiaannya.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan akan Raisa kembali tanpa bertemu dengan Arni?"
"Tapi kenapa aku memperdulikannya?"