Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dalam alur cerita asli, Kaisar Lucian seharusnya datang ke ruangan ini hanya untuk memastikan kematian Selir Tingkat Enam yang tidak pernah ia pedulikan, sebelum kemudian pergi dan bertemu dengan Putri Mahkota yang sedang menangis di koridor.
Namun saat ini, Kaisar Lucian menatap pemandangan di hadapannya dengan dahi yang berkerut dalam.
Ia tidak melihat jenazah yang menyedihkan. Ia melihat seorang wanita berbalut kain kafan putih, duduk di atas meja pemotongan mayat, dengan pipi yang mengembung karena sedang mengunyah kue lapis, dan tangan yang sedang memegang setengah tangkai buah anggur.
Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan itu. Nira langsung sujud kening di lantai, gemetar ketakutan.
Elara menelan kue di mulutnya. Ia menatap Kaisar, lalu menatap kain putihnya, lalu menatap Kaisar lagi.
“Maaf, Yang Mulia,” ucap Elara datar, suaranya terdengar sangat tulus. “Kematian ternyata terlalu melelahkan. Bolehkah saya kembali tidur sekarang?”
Kaisar Lucian tidak menjawab. Matanya yang tajam menelusuri wajah Elara, mencari kebohongan, mencari ketakutan, atau mencari ambisi tersembunyi seperti yang biasa dilakukan wanita-wanita di istana ini.
Namun, yang ia temukan di mata wanita itu hanyalah satu hal yang belum pernah ia lihat di seluruh penjuru kerajaannya.
Keinginan mutlak untuk tidak melakukan apa-apa.
“Kau..” suara Kaisar Lucian terdengar rendah, berbahaya, namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada nada bingung yang samar di sana. “Kau baru saja bangkit dari kematian, dan permintaan pertamamu adalah untuk tidur?”
“Ya,” jawab Elara tanpa ragu. “Dan jika Yang Mulia mengizinkan, saya ingin pindah ke Paviliun Angin Barat. Di sana tidak ada yang akan mengganggu saya.”
Kaisar Lucian menyipitkan matanya. Di istana ini, semua orang berebut untuk berada di sisinya. Semua orang berlomba-lomba menunjukkan kesetiaan, kecantikan, dan kecerdasan mereka.
Namun wanita di hadapannya ini, yang seharusnya menjadi mayat, justru memintanya untuk dibuang ke tempat paling terpencil di istana.
“Menarik,” gumam Kaisar Lucian pelan, sebuah senyum tipis yang tidak mencapai matanya terukir di bibirnya. “Kau tidak akan pergi ke mana pun, Elara von Clervant. Kau akan tinggal di istana utamaku. Dan kau akan menjelaskannya padaku secara langsung.”
Elara menatap Kaisar, lalu menatap kue di tangannya yang tiba-tiba terasa tidak enak lagi.
*Astaga,* batin Elara pasrah. *Aku hanya ingin menjadi figuran. Kenapa alur ceritanya malah rusak begini?*
Kaisar Lucian tidak berkedip. Elara juga berusaha untuk tidak berkedip, meskipun matanya mulai perih karena sisa asap dupa kematian yang masih mengepul di sudut ruangan.
“Turun,” perintah Kaisar Lucian. Suaranya datar, namun memiliki bobot yang membuat lutut Nira yang masih bersujud di lantai tampaknya ingin menyatu dengan ubin.
Elara mengangguk patuh. “Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Ia mencoba menggeser kakinya ke tepi meja batu. Namun, tubuhnya yang baru saja "meninggal" dan kemudian "hidup kembali" ini tampaknya belum mendapatkan notifikasi bahwa gravitasi masih berlaku. Kakinya yang lemas tergelincir dari tepi meja.
*Brak!*
Elara jatuh telentang di lantai batu yang keras. Punggungnya sakit. Kepalanya berputar. Kue lapis yang masih ia pegang remuk di telapak tangannya, mengubah jari-jarinya yang lentik menjadi berwarna hijau lumut.
“Sial,” gumam Elara. “Lantainya keras. Desainer novel ini tidak punya hati.”
Nira menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kaisar Lucian menatap pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.. campuran antara jijik, bingung, dan... entahlah, mungkin sedikit terhibur?
“Kau baru saja bangkit dari kematian,” kata Kaisar Lucian, melangkah masuk ke dalam ruangan. Jubah hitamnya menyapu lantai, menghindari genangan air tumpah. “Dan hal pertama yang kau lakukan adalah makan, hal kedua adalah jatuh. Apakah ini bagian dari rencana besar seseorang?”
Elara mendongak dari lantai, menatap Kaisar yang berdiri di atasnya seperti menara kegelapan yang tampan.
“Rencana?” Elara mencoba duduk, tapi kepalanya terlalu pening. “Yang Mulia, satu-satunya rencanaku adalah tidur selama dua belas jam ke depan. Jika ada yang merencanakan sesuatu, tolong bilang pada mereka untuk melakukannya besok. Atau lusa. Aku sedang tidak mood untuk berkonspirasi.”